Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Akhir Bahagia Part 1


__ADS_3

Pernah ujian yang datang begitu sangat berat, dan kita merasa tidak lagi mampu melaluinya. Percayalah, semua akan baik-baik saja kita hanya perlu bertahan dan terus melaluinya. Waktu akan membantu kita melewati itu, bukankah setelah badai berlalu pasti akan ada pelangi yang indah. Begitupun kehidupan, setiap hal yang datang menyapa dalam hidup, semua ujian yang datang selalu ada kebahagiaan yang tersip disana.


Keyla kini kembali terlelap dalam pelukan Gerry. Pelukan yang selalu saja tidak bisa menhannya untuk terjaga terlalu lama, pelukan yang seperti mengandung obat tidur untuknya. Pelukan hangat dari laki-laki yang mencintainya dengan tulus, dan tidak pernah seharipun dia lewatkan untuk selalu bersyukur karena bisa menikmati pelukan hangat ini.


Gerry masih berada di ranjang yang sama dengan istrinya, memeluk tubuh istrinya erat. Tubuh yang sangat dia rindukan hampir dua bulan ini. Tubuh yang hampir membuatnya gila karena putus asa kini di rengkuhnya dengan begitu erat. Berharap tubuh ini tidak akan lagi merasakan kesakitan seperti yang sudah-sudah. Gerry mengelus punggung Keyla dengan sayang, mengecup puncak kepala milik wanita yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan dalan hidup.


Setelah memastikan Keyla tertidur dengan nyaman, Gerry beranjak perlahan dari bed pasien lalu memilih duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Menatap wajah wanitanya dengan begitu lekat. Sudah setahun berlalu mereka lalu bersama, namun wajah ini selalu saja membuatnya berdebar.


Gadis satu malam menjadi wanita seumur hidupnya, terkadang takdir mempertemukan jodoh melalui hal yang tidak terduga. Siapa yang akan menduga jika dia akan jatuh cinta dengan begitu dalam pada gadis yang datang menjual keperawanan hanya demi uang yang tidak begitu banyak jumlahnya. Siapa yang tahu jika dia akan menghabiskan sisa waktunya bersama gadia yang datang menyerahkan harga dirinya untuk menukarnya dengan sebuah kehidupan yang lebih baik, semua sudah ditakdirkan dengan baik oleh Tuhan. Hanya perlu untuk selalu bersyukur dan menikmatinya.


Cinta, tidak akan ada yang tahu pada siapa berlabuh. Namun Gerry begitu sangat beruntung karena Tuhan begitu baik padanya. Cintanya berlabuh pada wanita yang dia inginkan, pun di balas dengan hal yang sama oleh wanita itu dan tidak semua orang bisa merasakan keberuntungan itu.


Gerry masih duduk diam disamping ranjang, tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. ciuman kembali mendarat di dahi, hidung hingga kini kecupan itu berlama-lama di bibir pucat tanpa polesan milik istrinya. Mulai menyesap perlahan agar tidak menggangguk tidur nyenyak Keyla. Bibir yang sudah menjadi candunya ini begitu sangat menggoda meskipun tidak teroles pelembab bibir atau sejenisnya.


"Love you Key." Bisik Gerry di depan bibir istrinya.


Dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur lelap Keyla, Gerry beranjak dari kursi lalu melangkah menuju sofa yang ada di dalan ruangan. Karena begitu bahagia, Gerry bahkan belum mengabarkan siapapun mengenai Keyla.


"Iya Nak." Jawab laki-laki paruh bayah di ujung ponselnya.


"Keyla sudah sadar Ayah." Ucap Gerry pelan namun tetap bisa di dengar jelas oleh Ayah mertuanya.


"Benarkah ? Ayah dan Bunda akan segera kesana." Jawab Ayah Han lalu di panggilan telepon tersebut di akhiri oleh Gerry.


Tidak hanya Ayah Han, kini Gerry kembali menekan nama kontak lalu menghubunginya.


"Mam Keyla sudah sadar." Ucap Gerry saat panggilannya tersambung dengan wanita terbaik pertama dalam hidupnya.


"Iya sayang, Anggun sudah mengabari mama dan sekarang mama sedang menuju rumah sakit bersama putra kalian." Ujar Mama Nia.

__ADS_1


" Baik mam, hati-hati di jalan." Ucap Gerry lalu mengakhiri pembicaraan itu.


Gerry bersandar di sofa ruangan, perasaannya begitu lega sekarang. Mereka akan kembali berkumpul di rumah, menikmati kehidupan dengan putra kecil mereka.


Baru saja matanya ingin terlelap, seorang suster datang mengantar makanan juga obat untuk Keyla.


Gerry segera bangun dari sofa, karena ingin memeluk tubuh Keyla dia bahkan melupakan jika istrinya itu sama sekali belum makan apapun sejak sadar dari komanya.


"Biar aku aja sus." Ucap Gerry. Suster itu mengangguk lalu menyerakan makanan juga obat yang ada di tanganya pada Gerry.


Suster kembali melangkah menuju pintu keluar, sedangkan Gerry kembali melangkah menuju ranjang tempat istrinya berada.


"Key, " Panggil Gerry pelan.


Keyla menggeliat namun belum membuka matanya. Ciuman sudah mulai Gerry hujamkan di wajah istrinya.


"Kamu menggangguku Gerry." Ucap Keyla dengan suara serak khas bangun tidur.


Keyla sudah bangkit dari berbaringnya dan Gerry membantu Keyla agar bersandar dengan nyaman di atas ranjang.


Dengan telaten dan hati-hati, Gerry mulai menyuapkan makanan itu sedikit demi sedikit ke mulut Keyla. Sesekali tangan Gerry mengelus pipi istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa ?" Tanya Keyla karena Gerry menatapnya begitu lekat.


Gerry menggeleng lalu mengecup bibir yang kini sedang mengunyah makanan yang tadi dia suapkan. Keyla merasa heran sekaligus merona dengan perlakuan suaminya ini. Jantungnya seperti anak remaja yangbsedang kasmaran. Dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya, Gerry kembali mengecup pipi merona Keyla.


"Berhenti Gerry, kamu akan membuatku tersedak nanti." Ujar Keyla. Laki-laki di depannya ini seperti orang gila saja.


Gerry semakin tersenyum lebar ketika melihat wajah datar yang memerah Keyla, saat dia kembali mendaratkan kecupannya di bibir istrinya.

__ADS_1


"Kamu benar-benar harus di pukul dulu kayaknya." Sambung Keyla kesal.


Gerry hanya semakin tertawa gemas dengan tingkah judes salah tingkah istrinyan.


"Kamu menggemaskan Key, seperti anak remaja yang sedang di goda pacarnya." Ucap Gerry sambil terkekeh.


Keyla cemberut namun tetap membuka mulutnya saat suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya hingga makanan yang ada di piring hanya tersisa sedikit. Obat yang di berikan suster tadipun kini ikut masuk melalui tenggorokannya bersamaan dengan air putih.


Gerry sudah meletakkan piring juga gelas ke atas nakas yang ada di samping ranjang tempat Keyla terbaring, lalu mendudukan tubuhnya di sisi ranjang di samping Keyla. Tangannya kembali terulur untuk mengelus dengan sayang wajah istrinya, dan Keyla meraih tangan yang ada di pipinya lalu menggenggamnya erat. Mata indahnya mulai tertutup menikmati elusan penuh kasih sayang dari suaminya.


Cupp.. kecup Gerry lagi di atas bibir yang masih pucat milik istrinya.


"Aku cinta kamu Key." Ucap Gerry lalu kembali mengecup bibir yang selalu dia rindukan itu.


Keyla membalas kecupan di atas bibirnya, membuka mulutnya memberi akses pada suaminya untuk lebih memperdalam ciuman mereka. Yang tadinya hanya sebuah kecupan kini mulai berubah menjadi ******* pelan. Tangan Keyla yang masih terpasang infus sudah melingkar di leher Gerry, menikmati setiap ******* pelan itu.


Keyla menatap ke arah Gerry sambil menghirup nafas dalam saat suaminya itu memutuskan ciuman mereka.


"Kenapa ?" Tanya Keyla. Sungguh dia masih ingin menikmati sentuhan suaminya itu, namun lelaki di hadapannya ini mengehentikannya.


"Tidak sekarang, kamu tahu aku paling tidak bisa menahan diri jika itu menyangkut kamu." Ujar Gerry. "Aku tidak bisa melanjutkannya, dan berakhir menidurimu di ranjang ini. kamu masih sakit." Sambungnya lagi.


Keyla tersentak, bola matanya membulat dengan wajah yang semakin memerah. Dia hanya ingin berciuman dan belum ingin lebih dari itu. lagi pula mereka masih berada di rumah sakit sekarang.


"Siapa juga yang mau kamu tiduri di ranjang ini, nanti semua pasien disini akan terganggu karena bunyi ranjang yang bergoyang nanti." Ucap Keyla frontal.


Gerry semakin terkekeh lalu meraoh tubuh istrinya untuk di dekapnya dengan begitu erat.


"Terimakasih sudah kembali." Ujar Gerry pelan.

__ADS_1


Keylanya benar-benar sudah kembali.


__ADS_2