
** Mampir ke ceritaku "Everything About You" Othor promo 😁😁 Selamat membaca 😚😚 **
"Apa yang kamu lakukan brensek." Teriak Briana dengan sisa-sisa tenaganya saat Irfan menyeret tubuh lemasnya ke dalam mobil. Sungguh dia tidak lagi memiliki banyak kekuatan saat papa sambungnya ini menyeret tubuh yang sama sekali belum terisi nutrisi sejak pagi.
"Diam ******." Bentak Irfan lalu menyumpal mulut dan hidung Briana dengan sepotong kain dan akhirnya perlahan mata gadis itu tertutup.
Irfan membiarkan tubuh kecil Briana yang tidak lagi sadar ke kursi penumpang. Dengan keceapatn tinggi, papa sambung yang sudah kehilangan akal sehatnya itu memacu mobil meninggalkan pemukiman kumuh menuju tempat yang sudah di janjikan dengan mucikari yang akan memberinya uang banyak yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi dari petugas kepolisian.
"Sialan, brengsek.. Sampai mati wanita itu selalu saja menyusahkan." Maki Irfan masih terus melajukan mobilnya di tengah-tengah jalanan Bali.
Di dalan sebuah resort, Kevin sedang menikmati acara dengan para klien dari luar negri yang sudah menjalin kerja sama dengan perusahaanya sejak lama.
Investasi besar-besaran selalu orang-orang putih ini luncurkan untuk hotel dan reaort-resort milik keluarga Sanjaya di bali.
"Nyonya, gadis itu sudah tiba." Ucap seseorang yang kini mendekat ke arah wanita bule yang duduk di depan Kevin.
"Siapkan gadis itu." Balas wanita bule itu pada asistennya.
Kevin masih terus menikmati hidangan di atas meja dengan Diandra sang sekertaris yang berdiri diam di belakangnya. Tidak memperdulikan apa yang sedang di rencanakan oleh klien di hadapannya ini.
Wanita bule ini kembali fokus dengan pembahasan mereka sambil menyuapkan sedikit demi sedikit makanan mewah yang terhidang di hadapannya. Dia berencana memberikan hadiah untuk laki-laki mudah di hadapannya ini, karena sudah memberinya banyak keuntungan dari kerja sama mereka.
"Semoga kerja sama ini akan selalu berjalan dengan baik tuan Kevin Alexander." Ucap Wanita yang kini sidah berdiri dari tempat duduknya. Pembahasan mereka sudah selesai.
"Senang bekerja sama denganmu Nyonya." Balas Kevin sambil menundukkan kepalanya saat wanita yang tidak lagi mudah itu berlalu dari sana.
Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah laki-laki mudah yang begitu handal dalam bisnis di hadapannya ini.
"Selamat menikmati, saya menyiapkan hadiah untukmu." Ucap Wanita itu lalu berlalu dari ruangan tempat mereka mengadakan pertemuan.
Levin berjalan menuju kamar yang terdapat hadiah untuknya dari wanita itu. Penasaran seperti apakah hadiah seperti apa yang kali ini di siapkan wanita itu untuknya.
Diandara menahan lengan Kevinsaat mereka sudah berada di depan pintu kamar.
"Lepaskan tangan kotormu Diandra." Ucap Kevin dingin.
"Vin..."
"Srahkan surat pengunduran dirimu jika tidak lagi ingin bekerja denganku." Ucap Kevin sebelum Diandra melanjutkan kalimatnya.
Gadis itu terdiam sebentar lalu dengan menahan kesal dia membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Kevin masuk kedalam.
Kevin bejalannke arah ranjang di mana hadiahnya berada.
__ADS_1
Deg...
" Briana ?" Lirih Kevin.
Gadis yang baru saja berduka kehilangan sang ibu pagi tadi kini tidak sadarkan diri di ranjang dan menjadi hadiah yang di persembahkan untuknya. Lebih membuatnya meringis, gadis yang mati-matian di dekati adiknya ini, sudah polos hanya dengan pakaian dalam yang menutupi.
Dengan perlahan Kevin menarik selimut putih untuk menutupi tubuh gadis itu. Dadanya berhemuruh, merasa begitu prihatin dengan nasih gadis yang sudah tidak sadarkan diri di atas ranjang ini.
"Masuk Diandra." Perintah Kevin lalu mendudukkan tububnya di sofa yang ada di dalam kamar.
Diandra masuk kedalam kamar lalu berdiri di dekat pintu.
"Kenakan kembali pakaian gadis itu" Perintah Kevin masih dengan suara dingin.
Meskipun merasa heran, namun Diandra bernafas lega, Kevin tidak jadi menikmati hadiah yang di tawarkan kliennya.
Meskipun dia hanya sebatas pemuas ***** atasannya ini, namun tetap saja dia tidak bisa menerima saat Kevin mendapat hadiah dari para klien dan menikmatinya. Hari ini pertama kalinya Kevin menolak untuk meniduri gadis yang di berikan oleh kliennya.
Siandra sudah selesai memakaikan dress ke tubuh Briana yang masih belum sadarkan diri lalu keluar dari dalam kamar. Sebelum meraih handel pintu dan membukanya suara Kevin kembali terdengar.
"Siapkan mobil, aku akan kembali ke apartemen malam ini." Perintah Kevin sambil melangkah menuju ke arah ranjang.
Membawa tubuh lemas Briana masuk kedalam pelukannya. Dengan pintu yang masih di buka lebar oleh Diandra, Kevin membawa gadis yang di sukai adiknya itu keluar dari dalam kamar menuju mobilnya.
Diandra menatap nanar mobil yang kini sudah berlalu dari hadapannya, dia berfikir laki-laki yang selalu dia layani di atas ranjang itu tidak tertarik dengan hadiah yang di tawarkan oleh klien tadi. Namun sepertinya hadiah itu terlalu istimewah, hingga laki-laki itu tidak ingin menikamtinya di resort lalu meninggalkan seperti biasanya yang dia lakukan pada wanita-wanita lainnya.
Mobil yang melaju di jalanan, kini sudah berhenti di depan bangunan dengan puluhan lantai.
Dengan hati-hati, Kevin membawa tubuh itu keluar dari dalam mobil lalu masuk kedalam lift menuju apartemenya berada.
Pintu partemen yang sangat jarang dia gunakan itu sudah terbuka lebar, dengan langkah cepat Kevin membawa tubuh kecil Briana masuk dan langsung menuju kamar lalu membaringakan gadis itu di ranjang miliknya.
"Cepat kemari." Ucap Kevin saat sambungan ponsel yang menempel di telingannya sudah di jawab.
tut..tut..tut...
Di sebuah apartemen, seorang gadis yang berprofesi dokter itu mengumpat pada sahabatnya. Kata - kata mutiara yang ingin dia keluarkan belum sempat tersampaikan, dan laki-laki brengsek yang sayanganya menjadi sahabat terbaiknya itu sudah memutuskan sambungan telepon mereka.
Meskipun dengan penuh kekesalan, Gina tetap saja melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air agar bisa mengurangi kantuknya.
Dengan langkah malas, gadis cantik itu meraih semua peralatannya lalu keluar dari dalam apartemennya menuju pintu apartemen lain yang ada di gedung ini.
"Apa dia tidak tahu undang-undang yang mengatur tentang pekerja apa ?." Omelan kesal dari bibir mungil itu terus meluncur mengiringi langkahnya menuju apartemen sahabatnya berada.
__ADS_1
Tinggg...
Bunyi bel menggema di dalam apartemen.
Kevin membuka pintunya, dan brak...
Sebuah tas yang berisi peralatan medis itu menghantam lengannya.
"Sialan, brengsek.. aku sangat ngantuk. Belum satu jam aku terlelap dan kamu sudah menggangguku." Maki Gina sambil memukul tubuh sahabatnya itu.
Kevin hanya tertawa, lalu mendorong tubuh sahabatnya untuk masuk kedalam kamarnya.
Gina tidak lagi terkejut saat melihat gadia cantik nan seksi terlelap di ranjang sahabatnya, dia selalu di minta laki-laki brengsek ini untuk memeriksa tubuh gadis yang selesai di pakainya. Meskipun ini pertama kalinya dia melakukannya di apartemen.
"Kenapa lagi ? kamu memuntahkan laharmu di dalam ?" Tanya Gina frontal sambil menatap lekat pada manik yang selalu saja dingin sekaligus menyimpan kesedihan itu.
"Ck... otakmu itu perlu di cuci biar bisa berfikir sedikit positif padaku." Ujar kevin "Ayo periksa gadis itu, sejak tadi dia tidak sadarkan diri." Sambungnya.
Gina memutuskan tatapannya lalu melangkah menuju ranjang dimana Briana berada. Memeriksa semua alat vital gadis itu, dan dokter cantik itu bernafas lega semua masih normal.
"Dia baik-baik saja, hanya kekurangan banyak cairan." Ucap Gina lalu mulai mengeluarkan peralatan dari dalam tasnya.
Infus sudah terpasang di tangan Briana, namun gadia itu belum juga sadarkan diri.
"Siapa gadis ini ?" Tanya Gina. Tidak ada tanda-tanda kekerasan seksual di sana. Itu berarti sahabat maniaknya ini sama sekali belum menyentuh gadis ini.
"Pacar Gama." Jawab Kevin singkat.
"Wah pantas saja, meskipun terlihat cantik dan seksi, namun tetap terlihat belia." Ucap Gina. "Gadis ini kekurangan banyak cairan, mungkin saja belum ada makanan atau minuman yang masuk ke adalam tubuhnya sejak pagi." Sambungnya.
Kevin mengangguk lalu mengantar sahabatnya itu untuk keluar dari apartemennya.
"Vin.." Panggil Gina sambil kembali membalik tubuhnya saat sudah berada di luar apartemen.
"Hm..." Kevin masih diam menunggu apa yang ingin di katakan sahabatnya ini.
"Beberapa hari lalu aku bertemu dengannya di seminar kedokteran..."
"Jangan lagi membahasnya." Sela Kevin sebelum Gina melanjutkan kalimatnya yang. sudah Kevin tahu siapa yang ingin di bicarakan sagabatnya. "Terimakasih untuk malam ini." Sambungnya lalu menutup pintu apartemen dengan perlahan.
Kevin masuk kedalam kamarnya, lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Kevin menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu menutup matanya. Menahan gemuruh saat ada seseorang yang membahas wanita yang mati-matian ingin dia hapus dari kehidupannya.
__ADS_1
Cara yang paling ampuh untuk melupakan seseorang adalah menghindari pembahasaan apapun tentang orang itu.