
Di sebuah rumah sakit, seorang gadis sedang sesegukan di samping ranjang seorang pasien wanita paruh baya. Baru saja akan berencana pulang ke rumah kecil yang sudah beberapa bulan ini dia tempati, seorang perawat menghubunginya memeberitahu bahwa ibunya kembali drop.
Rachel bersyukur pimpinan Rumah Sakit ini berbaik hati untuk menanggung semua pengobatan sang ibu, sehingga dia tidak terlalu di pusingkan dengan biaya yang entah sudah berapa ratus juta yang terpakai karena sudah hampir delapan bulan ini ibunya terus saja terlelap dalam mimpi panjangnya. Alat-alat yang tertancap di beberapa bagian tubuh sang ibu membuat Rachel ingin menyudahi semuanya karena merasa tidak tega melihat ibunya terus menerus seperti ini tanpa ada kemajuan. Namun dia belum berani melangkah seorang diri di dunia ini. Selama ini hanya sang ibu yang dia miliki, dia tidak memiliki siapapun lagi selain ibunya.
Sudah beberapa kali seorang dokter yang menangani ibunya memberikan saran untuk mengikhlaskan, namun Rachel masih merasa berat melakukan itu semua. Selama ini hanyalah ibu satu-satunya orang yang mencintainya. Kini ada laki-laki yang baik padanya kembali mematahkan hatinya yang sudah terpatri dengan baik.
Setelah beberapa jam yang lalau team dokter selesai melakukan pemeriksaan, Rachel masih duduk di smping ranjang dengan terus menyeka air mata yang terus saja meluncur di wajahnya. Bukan hanya kesehatan sang ibu yang terus menurun membuatnya sedih tetapi juga cintanya yang belum tersampaikan namun sudah lebih dulu di patahkan oleh laki-laki yang dia suka juga ikut membuat air matanya kini terus mengalir sejak di kantor tadi.
"Ibu harus sehat, jangan tinggalkan aku sendiri, jika ibu pergi aku benar -benar tidak punya siapapun lagi. Laki-laki baik yang selalu aku ceritakan pada ibu selama sebulan ini akan menikahi kekasihnya bu. Ku mohon jangan tinggalkan aku." Rachel masih terus saja terisak meratapi nasibnya.
"Permisi Nona, saya harus memriksa ibumu sebelum kembali kerumah." Bagas yang menangani langsung ibu dari Rachel masuk kedalam ruangan dimana wanita paruh baya itu. Dia sudah melakukan rutinitasnya ini selama hampir satu bulan ini. Karena besok pagi papinya akan menanyakan perkembangan kesehatan istri dari sahabatnya yang Bagas tidak tahu siapa dan dia tidak ingin mencari tahu yang bukan urusannya.
Bagas tidak lagi heran selalu mendapati gadis masih dengan stelan kantornya berada di ruangan perawatan ibu Mala, pasien yang sejak tujuh bulan ini di tangani langsung oleh papinya. Dan sejak sebulan ini dia yang mengambil alih karena permintaan sang papi untuk memastikan pasien ini bisa di selamatkan.
Beberapa kali Bagas menjelaskan pada Rachel untuk mengikhlaskan, karena jika bukan karena alat yang masih terpasang di tubuh ibu Mala, sudah tidak ada lagi harapan apapun, namun gadis yang berada di dalam ruangan ini hanya akan terisak jika Bagas menjelaskan semua alat ini hanya akan semakin menyakiti ibunya.
Setelah selesai memeriksa pasien khusus papinya ini, Bagas keluar dari ruangan itu tanpa ingin berkata apapun lagi meninggalkan gadis yang masih terus saja sesegulan sendirian di dalam ruangan ini. Sejujurnya dia ingin menyapa namun dia ingin segera pulang kerumah dan beristirahat. Beberapa hari ini sibuk dengan Rumah sakit baru yang di Bali membuat waktu istirahtnya berkurang.
****
__ADS_1
Pagi hari di kediaman keluarga Manaf Adiwarman tampak terlihat seperti biasanya. Sang istri yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di atas meja di di bantu beberapa pelayan.
Bagas bergegas ke ruangan makan, sebentar lagi dia akan berangkat ke Rumah Sakit setelah sarapan dengan mami, papi juga sang Oma.
" Bagaimana perkembangan ibu Mala nak ? " Tanya Manaf pada sang putra.
" Tidak ada perkembangan Pi." Kata Bagas menggeleng karena memang tidak ada perkembangan sama sekali justru semakin hari semakin menurun kesehatannya. " Semalam beliau drop, namun sudah kembali stabil." Sambungnya.
"Papi akan membujuk Rachel untuk melepaskan alat itu, tapi boleh Papi meminta sesuatu darimu ?" Tanya Manaf pada putranya. "Kamu pernah berjanji, jika papi mengijinkan kamu ke Jerman kamu akan mengabulkan satu permintaan papi." Sambungnya.
Bagas menghentikan sarapannya menatap papinya yang juga menatapnya.
"Sepertinya ini permintaan yang cukup serius Pi, jika aku bisa pasti akan aku penuhi." Jawab Bagas yakin.
"Aku tidak bisa pi, Papi, mami dan Oma sudah tahu siapa gadis yang ingin aku nikahi. Aku mencintai Keyla Pi." Jawab Bagas memelas, karena dia sungguh tidak bisa mengingkari janjinya pada sang papi, tapi juga dia mencintai Keyla, hanya Keyla yang ingin dia nikahi.
"Lima hari lagi Keyla akan bertunangan, untuk itu papi meminta ini padamu, fikirkanlah nak. Rachel gadis yang baik, dia juga peekrja keras seperti Keyla." Kata Manaf yang seketika membuat Bagas menegang. Lima hari lagi pertunangan Keyla dan dia sama sekali todak mengetahui hal ini. Baik Rosa atau Bram sama sekali belum memberi tahu apapun padanya.
"Aku akan menanyakan ini pada Keyla dulu Pi, jika memang benar dia akan menikah dengan orang lain aku akan memikirkan permintaan papi. Tapi papi juga harus janji tidak akan menuntut banyak hal padaku." Kata Bagas dan di angguki oleh papinya. " kalau begitu alu harus pergi sekarang. Oma aku pamit ke Rumah Sakit." Bagas mengecup kepala sang oma juga pipi maminya lalu keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Mobil kini melaju di jalanan Jakarta yang sudah mulai nampak mobil-mobil saling mengejar untuk segera sampai di tujuan masing-masing. Bagas memutar arah, dia ingin mengunjungi kediaman Handoko terlebih dahulu. Dia ingin mendengar semuanya langsung dari Keyla.
Kini mobil Bagas sudah terparkir di halaman rumah Bram, beberapa kali Bagas menekan bel dan akhirnya wanita seumuran maminya membukakan pintu dan menyuryhnya masuk.
" Selamat pagi Tante,maaf bertamu sepagi ini." Sapa Bagas.
" Masuk nak Bagas, Bram dan Rosa masih sarapan." Jawab tante Ratih heran. Tidak biasanya keponakan dari sahabatnya ini bertamu sepagi ini. "Ayo nak, langsung kedapur biar ikut sarapan bersama." sambung Ratih.
"Aku sudah sarapan, hanya ingin ketemu Keyla sebentar." Kata Bagas. Tante Ratih mengangguki, mempersilahkan Bagas untuk duduk di sofa ruang tamu karean Keyla masih sarapan.
Ratih meninggalkan Bagas di ruang tamu dan kembali lagi ke ruangan makan.
" Siapa Bund ? " Tanya Rosa pada mertuanya.
"Bagas, ingin bertemu Keyla." Kata Ratih yang kini sudah menatap kearah putrinya yang masih tetap memakan sarapannya tanpa terpengaruhi obrolannya dengan Rosa.
Setelah sarapan yang ada dipiringnya habis, barulah Keyla meminta izin untuk menemui Bagas.
"Wah putrimu mirip sekali dengan Ayahmu dulu jika sedang makan, dia tidak akan peduli dengan apapun di sekitarnya." Kata Ratih pada suaminya yang tersenyum miris mengingat kebiasaan Ayah mertuanya yang menurun pada cucu yang tidak di akuinya.
__ADS_1
Han menatap istrinya, menggenggam tangan wanita yang dulu sempat di bencinya. "Ayah pasti menyesalinya sekarang," Kata Han. "Jangan mengingatnya lagi, mulai sekarang kita hanya fokus untuk memberi Keyla bahagia." Sambungnya.
Ratih mengangguk patuh pada suaminya, harusnya memang seperti ini. Jangan ada lagi kesedihan seperti dulu, hanya terus membuat Keyla bahagia.