
** Karena kemarin tidak sempat up hari ini aku up dua episode 😊 Selamatembaca semuanya jangn lupa tinggalkan like dan komentarnya ya 🤗🤗 **
Sudah empat buah contoh gaun yang di coba oleh Keyla, semuanya elegan dan pas di tubuhnya namun tidak ada satupun yang di setujui oleh Gerry membuat Keyla kesal dan sekarang dirinya sudah duduk bersandar di sofa di ruang kerja tante Meyke. Tidak lagi ingin melakukan apapun, membiarkan lelakinya itu berbicara dengan tante Meyke ngenai gaun yang akan di rancangnya.
"Kalau bisa jangan terlalu terbuka di bagian pundaknya tante," Sesekali Keyla masih bisa mendengar apa yang sedang Gerry katakan pada sang designer dan Keyla memilih membiarkan saja apa yang di mau laki-laki bodoh itu.
Sudah berapa jam waktu yang mereka habiskan disini hanya untuk sebuah gaun pengantin membuat Keyla mendesah kesal. Laki-laki yang sedang berdiri di dekat meja kerja tante Meyke ini membuat semuanya jadi lama. Beberapa contoh gaun yang sudah di rekomendasikan oleh tante Meyke tidak ada satu pun yang di setujuinya. Dan membuat Keyla greget bukan karena gaunnya tidak bagus, alasannya gaun pengantin itu terlalu terbuka.
"Ck, namanya juga gaun pengantin modelnya begitu semua bodoh." Omel Keyla pelan agar tidak bisa di dengar oleh laki-laki yang sedang sibuk memberikan arahan pada tante Meyke. Entahlah kini dia sudah terkihat seperti designer saja karena terua prote dengan ide yang di katakan oleh tante Meyke.
"Sayang.. udah dong serahin semuanya sama tante Mey, aku yakin dia akan menyiapkan gaun terbaik buat aku pakai biar kamu pangling nanti." Kata Keyla dengan jurus andalannya. Jika dia sudah seperti ini, Gerry pasti akan segera menghentikan kelakuan bodohnya itu. Jika bukan karena ingin menyudahi ini, dia tidak akan mau merengek manja seperti ini apalagi masih ada orang lain di dalam ruangan ini.
Gerry tersenyum mendengarkan rengekan manja yang jarang bahkan hampir tidak pernah terdengar keluar dari mulut Keyla. Kini Gerry sudah menyerah dan membiarkan semua tante Mey yang akan mengurusnya.
" Mau pulang ?" Tanya Gerry. Keyla mengangguk mengiyakan sambil tersenyum manis karena berhasil menyudahi aksi protes calon suami yang sudah seperti ibu-ibu rempong yang ada di apartemennya dulu.
__ADS_1
Sebelum benar-benar pulang, Gerry dan Keyla kembali membicarakan bebrapa hal penting dengan tante Meyke dan Alvin. Gerry memberitahukan sang mama akan segera mengirimkan undangan jika sudah siap di edarkan kemudian berpamitan untuk pulang.
Alvin masih terus menatap ke arah Keyla, ada sedikit rasa kecewa mendapati Keyla akan menikah. Dia serius ingin mendekati Keyla saat itu, wajah cantik yang selalu saja terlihat datar itu menyita perhatiannya. Beberapa kali mencoba mendekati, namun Keyla seakan memasang sekat yang tidak bosa di tembus oleh siapapun juga Bram yang selalu saja terlihat ikut campur dengan sekertarisnya membuatnya berfikir saat itu mungkin saja Keyla punya hubungan gelap dengan Bram. Namun setelah mendengar cerita Gerry tadi ada sedikit penyesalan di dada, harusnya dia berjuang lebih keras lagi.
Mobil yang di kendarai Gerry sudah keluar dari gerbang. Meyke masih terus melambaikan tangan pada kliennya juga sang putra masih setia berdiri mematung di sampingnya.
"Jangan menatap calon istri orang seperti itu Vin, dapat bogem mentah dari Gerry baru tahu kamu." Kata Meyke karena beberapa kali mendapati sang anak sedang menatap lekat pada klien juga calon menantu sahabatnya itu. Yah dia mengakui aura yang terpancar dari gadis itu sungguh luar biasa. Tidak banyak gadis yang akan tetap terlihat cantik meskipun sudah memasang wajah datar tanpa expresi seperti Keyla.
"Mom kalau aku tahu dia adiknya Bram, mungkin aku berjuang lebih keras buat dapatin dia." Kata Alvin pada sang mama. Entahlah ada rasa aneh ikut menggelitik di dalam hatinya. Perasaan tidak rela juga menyesal karena sudah menyerah padahal belum benar-benar berjuang. Sudah lebih dulu percaya dengan gosip omong kosong tentang hubungan gelap Bram dan Keyla.
Meyke menatap sejenak pada sang anak, melihat keseriusan di mata sang anak dan itu benar ada di sana.
"Iya sebelum aku tahu dia calon istri orang, namun sekarang sepertinya aku harus benar-benar merelakan dia." Jawab Alvin santai kemudian membalik tubuhnya untuk melanjutkan persiapannya kembali ke Bali. "Do'ain Mom semoga akan ada gadis seperti Keyla lagi di luar sana biar secepatnya bisa aku bawa untuk ketemu momy." Kata Alvin dari jarak yang sudah semakin menjauh untuk masuk kedalam rumah.
Meyke tersenyum dengan sang putra, biasanya dia selalu melakukan apa saja untuk sesuatu yang dia sukai namun kali ini dia dengan cepat dia merelakan. Merasa bersyukur karena putranya tidak gampang terjebak dengan racun sebuah hubungan. Obsesi pada seseorang padahal orang itu sudah menjadi milik orang lain itu adalah racun yang bisa membunuh diri sendiri.
__ADS_1
****
Beberapa jam sudah berlalu, Gerry mengajak Keyla untuk mampir terlebih dulu ke kantornya sebelum mengantar gadis itu kembali ke kediaman Handoko. Ada yang harus dia selesaikan terlebih dahulu dan Keyla menyetujuinya.
Kini mereka sedang berada di dalam lift dengan Gerry masih menggenggam erat tangan Keyla. Beberapa kali Keyla memandang ke arah tangan yang tidak terlepas sejak mereka masuk kedalam lobi perusahaan meskipun banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka tadi.
Lift yang membawa mereka kini berada di lantai dimana ruangan Gerry berada. Sudah terlihat Rachel yang masih fokus dengan layar juga keyboard di depannya.
Melihat Gerry sudah mendekat ke pintu masuk, Rachel sigap berdiri dari tempat duduknya untuk membuka pintu ruangan kemudian mempersilahkan atasannya itu masuk. Gerry mengajak Keyla ikut masuk kedalam ruangannya dengan jemari Keyla masih berada di dalam genggamannya.
Tautan tangan itu membuat perih di relung hati terdalam Rachel. Hati yang tidak ada seorangpun yang tahu kini seakan di remas kuat ketika melihat atasan yang sedang dia perjuangkan untuk membuka hati padanya sedang bersama sekertaris yang terus gencar di bicarakan beberapa pegawai kantor ini. Sekertaris yang sama derajatnya dengan dia berhasil menjerat satu-satunya laki-laki yang baik padanya selama ini. Laki-laki yang menghargai semua kerja kerasnya, satu -satunya laki-laki yang baru kali ini membuatnya merasa di hargai. Gerry yang selalu mengapresiasi setiap pekerjaan yang dia lakukan kini semakin sulit untuk dia raih.
Dia masih terus saja menyangkal di dalam hatinya berita pertunangan Gerry yang memang sudah dia ketahui. Dia sudah mengosongkan beberapa jadwal Gerry minggu depan, karena bosnya ini akan bertunangan dengan calon istrinya. Namun kini setelah mendapati Gerry membawa Keyla dengan menggenggam erat tangan gadis itu erat, membuat Rachel merintih perih di dalam hatinya. Hati yang belum tersampaikan kini sudah mendapati kenyataan sesakit ini. Gerry akan bertunangan dan setelah itu pasti akan segera menikah, apakah setelah itu Gerry masih akan perhatian padanya seperti satu bulan ini. Apakah setelah menikah Gerry masih akan mengajaknya makan siang bersama, berbagai pertanyaan kini berkecamuk di dalam kepalanya.
Ah bukankah dia masih punya kesempatan ? Selama pernikahan itu belum terjadi bukankah dia masih punya kesempatan yang sama untuk terus berusaha agar bisa mendekatkan Gerry. Mereka akan selalu bersama selama jam kerja dan pastinya dia punya kesempatan untuk menarik perhatian Gerry.
__ADS_1
Hanya terus melakukan dengan diam-diam dan perlahan agar tidak mengusik Gerry secara langsung. Lagipula dia juga cantik dan Kerjanya juga baik selama ini, jadi masih punya kesempatan untuk tetap memperjuangkan perasaannya.
Beberapa menit sudah berlalu, Rachel masih berdiri di depan pintu yang kembali tertutup rapat dengan hati yang sudah berkecamuk perih. Kini Rachel kembali ke tempat duduknya dan kembali mengerjakan tugasnya dengan baik, karena dengan bekerja dengan baik Rachel akan semakin mendapatkan kesempatan untuk menarik perhatian Gerry bukan ? " Ayo bekerja keras" Batin Rachel menyemangati dirinya sendiri..