
Dua hari telah berlalu setelah kejadian di Rumah Sakit saat itu. Gerry belum mengunjungi Keyla sama sekali, bukan karena tidak berniat untuk menjelaskan apapun namun Gerry sengaja memberikan waktu lebih untuk Keyla bisa menenangkan dirinya. Lagipula jadawal pekerjaanya terlalu padat, belum lagi harus menebus kemarahan klien yang dia batalkan pertemuan secara sepihak dua hari yang lalu.
Rachel untuk sementra waktu di gantikan oleh salah satu kariyawan yang sudah terbiasa membantu Rachel mengurus segala keperluan atasan mereka karena kesehatan ibunya yang semakin menurun.
Siang itu begitu cerah, berbeda dengan wajah gadis yang baru saja selesai menikmati makan siangnya di sebuah cafe yang tidak jauh dari HG Group dengan fikirannya yang sedang berkecamuk.
Dia yang memilih untuk tidak mendengarkan penjelasan apapun , tapi dia juga yang merasa sesak karena egonya sendiri. Bimbang, ragu terus datang bergentayangan di otaknya. Hati yang menjerit meminta untuk tetap bersama, namun ketakutan yang memenuhi logikanya juga terus meronta.
Keyla masih memandang kosong keluar kafe dengan wajah sendu sesekali menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Hatinya semakin gelisah, ketika Gerry sama sekali tidak menghubunginya. Laki-laki itu menghilang begitu saja sejak pertemuan mereka di tempat parkir Rumah sakit.
Di luar Cafe Gerry masih setia memandangi Keyla dari kejauhan. Beberapa saat lalu Bram menghubunginya, memeberitahu jika Keyla ada di Cafe ini dan memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan tentang Rachel, namun Gerry masih belum punya keberanian untuk menampakan wajahnya di hadapan Keyla, apalagi dia masih belum memutuskan untuk mengeluarkan Rachel dari perusahaan karena gadis itu sangat membutuhkan pekerjaan untuk biaya kesehatan sang ibu.
Terlihat Keyla yang masih menggunakan stelan kantornya berjalan keluar dari Cafe menuju mobil sport miliknya. Gadis yang hampir saja membuatnya gila karena begitu merindu. Masih dari dalam mobil, Gerry terus memperhatikan hingga mobil mewah milik Keyla berlalu dari tempat parkir Cafe.
"Aku rindu Key." Lirih Gerry.
Sudah dua hari ini dia tidak melihat wajah cantik Keyla, sudah dua hari ini pula dia sama sekali belum mendengar suara Keyla. Dia sungguh merindukannya, rindu yang lebih menyiksa daripada lima tahun penantiannya.
Mobil mewah yang di kendarai Keyla kini sudah terparkir rapi di halaman rumah mewah keluarga Handoko, mobil Gerry juga sudah berhenti di luar gerbang kini mulai beranjak pergi dengan rindu yang masih menghimpit dada. Sungguh dia ingin sekali masuk dan menyapa gadisnya itu namun kembali mengurungkannya karena tidak ingin masalah semakin bertambah runyam.
__ADS_1
*********
"Sudah pulang sayang ?" Tanya Ratih sambil tersenyum hangat pada Keyla. Wanita paruh baya yang selalu saja antusias menyambut kedatangan putrinya.
"Iya Bunda." Jawab Keyla dengan membalas senyuman hangat sang Bunda yang selalu membuatnya merasa lebih baik. "Oh iya Bun, apa Rosa sudah kembali ?" Tanya Keyla.
"Sudah, sepertinya dia sedang berada di kamar Flora." Jawab Ratih. Keyla kemudian meminta izin pada Bundanya untuk menemui Rosa terlebih dahulu dan Ratih mengangguk mengiyakan.
"Hii aunti.... Flo lindu." Teriak gadis kecil sambil berlari menuruni satu persatu anak tangga membuat Keyla seketika melepaskan tas tangannya ikut menaiki tangga dengan terburu-terburu menyusul gadis kecil itu, takut keponakannya itu jatuh.
"Ya Tuhan Flo,, jangan lari-lari sayang, bahaya. Kalau jatuh gimana ? " Kata Keyla ketika tubuh mungil itu sudah berada di dalam pelukannya.
"Aku sudah besal aunti, ngga bakal jatuh lagi." Jawab Flora gemas dan langsung mendapatkan ciuman bertubi-tubi di pipi gembulnya.
"Hentikan aunti. Aunti bau belum mandi." Cebik Flora dan membuat Keyla semakin menghujami ciuman bertubi-tubi pada tubuh wangi khas balita milik Flora.
"Kenapa sudah pulang ?" Tanya Rosa pada adik iparnya ketika mereka mulai menuruni anak tangga dengan Flora masih berada dalam gendongan Keyla.
"Mau bersiap. Aku akan berangakat ke Prancis dengan penerbangan malam. Satu bulan cuti dan Bram sudah mengurusnya, tiket dan akomodasinya sudah di siapkan semuanya." Jawab Keyla santai, seketika membuat Rosa berhenti melangkah.
__ADS_1
"Jangan asal ngomong Key, dua hari lagi pertunanganmu dan kurang dari dua bulan lagi kamu akan jadi seorang istri." Kata Rosa masih menatap punggung Keyla yang terus melangkah menuruni anak tangga menuju ruang keluarga.
"Aku ngga ngasal Sa, aku sudah membicarakan ini dengan Bram kok, dan dia mengizinkan aku untuk beristirahat sejenak. Lagipula aku dan Gerry masih butuh waktu untuk saling mengerti. Kami masih membutuhkan waktu untuk bisa saling memahami." Jawab Keyla tenang ketika tubuhnya sudah mendarat di sofa.
"Aku ngerti dengan kekesalan kamu, tapi jangan seperti ini. Ini hanyalah ujian sebelum pernikahan dan semua orang mengalami hal seperti ini. Lagi pula pertunangan dan pernikahan kalian ini sudah melibatkan dua bela pihak keluarga jadi jangan mengambil keputusan sendiri Key." Rosa kembali menjelaskan agar gadis keras kepala dengan ego setinggi langit ini mengerti. Jika ini bukan hanya tentang dia dan Gerry, tetapi Bunda Ayah juga tante Nia sudah berada di dalam hubungan mereka.
"Aku menunggunya Sa, aku menunggu dia datang dan menjelaskan tapi dia ngga datang menemui aku sama sekali. Aku hanya meminta agar perempuan itu tidak lagi bekerja dengannya namun sepertinya dia sulit untuk melepaskan gadis itu. Aku hanya tidak ingin setelah menikah nanti akan banyak drama cemburu dengan sekertaris suamiku apalagi aku tahu jika sekertarianya memang memiliki perasaan lebih pada suamiku. Aku sudah memberinya pilihan namun sampai hari ini dia belum memutuskan apapun." Jelas Keyla.
Rosa tidak bisa lagi berkata apapun karena dia tahu semuanya akan sangat percuma jika gadis keras kepala di sampingnya ini sudah memutuskan semuanya.
"Aku harus bersiap, sebulan bukan waktu yang singkat. Aku membutuhkan banyak persiapan yan akan aku bawa nanti." Kata Keyla yang sudah akan beranjak dari sofa yang juga di duduki oleh Rosa.
"Aku hanya ingin kamu bahagia, Gerry mencintaimu. Mungkin dia masih mempertahankan Rachel karena hanya rasa kemanusiaan. Ibu gadis itu sedang kritis dan dia membutuhkan biaya untuk perawatan ibunya juga hidupnya sehari-hari. Om Manaf meminta Bagas untuk menikahi gadis itu jika terjadi sesuatu dengan ibunya dan Bagas sudah menyetujui itu. Oma sudah mengundang Mama dan Papa aku untuk membicarakan ini." Kata Rosa menjelaskan.
Keyla kembali berbalik menatap pada sahabatnya, mencari kejujuran disana. Dan selalu seperti itu, mata yang selalu menatapnya penuh kasih tidak pernah membohonginya dari sejak dulu.
" Terimakasih untuk informasi ini, aku sedikit lega mendengarnya. Tapi aku akan tetap pergi Sa, inikan bayaran malam minggu yang kamu rengut sebulan yang lalu." Rengek Keyla.
"Huh, dan jangan sampai kamu lupa juga, karena malam minggu yang aku renggut itu membuatmu kembali bertemu dengannya bukan ? sini aku mau peluk." Kata Rosa dan segera membawa tubuh Keyla kedalam pelukannya. "Tapi harus janji kamu akan baik-baik saja disana." Sambung rosa lagi.
__ADS_1
"Tentu Nyonya Bramantyo." Jawab Keyla. "Aku akan selau baik-baik saja." Sambungnya.