
** Gerry Pov's **
" Gerry kamu baik - baik saja ? mama sangat mengkhawatirkan kamu Gerry. Kenapa selalu saja mengabaikan panggilanku." yah seperti inilah dia. Entah dari mana dia dapatkan cerewetnya yang di atas rata - rata ini.
" Pelan - pelan kak ngerocosnya, aku baik - baik saja hanya sedikit tamparan dipipi tadi karena membuat papa murka." Kataku santai.
"Gerry apa kau punya hubungan dengan Keyla ?" Tanya ka Anggun serius.
"hm." aku mengangguk seolah kak Anggun bisa melihatku.
"Sejak kapa Gerry ? Jangan katakan sudah sejak lama sebelum dia ke Paris." Tanya kakaku yang sudah seperti cenayang yang bisa menebak semuanya.
"Ka Anggun tahu dari mana ? apa Keyla yamg menceritakannya ?" Tanyaku antusias. Aku berfikir mungkin saja saat di Paris Keyla juga masih mengingatju seperti apa yang aku lakukan di Inggris.
"Ya Tuhan Gerry,, aku sungguh akan membunuhmu kali ini. Jadi benar anak yang di kandung Keyla adalah anakmu ? Gerry kau hampir saja membunuhnya, jika kak Roby tidak bisa menyelamatkannya saat itu entah apa yang akan terjadi dengan keluarganya." kata Kak Anggu sudah sesegukan di sana, juga suara kak Roby yang sedang menenangkan kakaku.
Sedangkan Aku diam, seperti sebilah pisau menghantam jantungku, sakit. Aku membuatnya menderita, apa mungkin karena itu dia meragukan aku ? Beberapa fikiran datang berkecamuk di dalam otakku.
Mungkin karena tidak bisa lagi menahan kesedihannya kak Anggun mengakhiri percakapan kami, dan beberapa saat kemudian satu pesan masuk dari kak Anggun untuk memintaku bertemu dengnnya di Rumah sakit besok...
Beberapa saat aku termenung di sofa ruang tamu rumahku, masih terus berfikir bagaimana aku menghadapi gadis yang sama sekali tidak membenciku walau aku sudah merusak kehidupannya karena keegoisanku.
Perlahan bangkit dari sofa ruang tamu, tidak lupa juga aku meraih kotak paket yang dari pagi tadi berada di atas meja ruang tamu dan membawanya kedalam kamar.. Stelan yang aku pesan untuk Keyla pagi ini namun lagi - lagi aku tidak mendapatinya di ranjang milikku saat aku bangun tadi pagi.
Perlahan aku menekan handel pintu kamarku kemudian masuk. tujuanku adalah sofa di kamarku. Membuka paket yang berisi stelan kantor wanita juga dalaman yang sedikit membuatku kikuk.
Shit, kenapa aku jadi mesum gini sih, sampai membayangkan tubuhnya memakai dalaman ini. "Sialan Gerry sempat - sempatnya berfikiran jorok dengan masalah yang bahkan sudah tidak lagi bisa di tampung di dalam kepalamu." Omelku pada diri sendiri.
Aku membiarkan pakaian itu di atas sofa kemudian naik keatas ranjang dimana Keyla berada.. Memakai selimut yang sama dan memeluknya seperti ini setiap hari, ah aku sangat menginginkannya.
Entah jam berapa aku terlelap, bangun dari tidurku lagi - lagi tidak mendapatinya di ranjang milikku. Aku ingin sekali saat bangun dia masih berada di ranjang yang sama dan mengucapkan selamat pagi padanya..
" Ck gadis itu suka sekali meninggalkan aku di tempat tidur." Rutukku. Meski aku tahu dia masih berada di dalam rumahku, karena melihat hels yang dia pakai kemarin masih ada di lantai dekat ranjangku juga tas di atas nakas samping tempat tidurku, namun tetap saja aku kesal..
Tidak lagi menghiraukan bajuku yang berantakkan, aku segera keluar dari kamar menuju dapur, karena dirumahku selain kamar, dapur adalah tempat favoritenya. Dan itu dia, stelan formal yang aku pesan kemarin sudah melekat rapi di tubuhnya juga rambut yang sedikit basah terurai cantik di bahunya. Sedang berdiri di samping meja makan mengoleskan selai di roti yang sudah terlihat renyah..
__ADS_1
Dia melihatku berdiri di pintu pembatas dapur dan ruang keluarga yang sedang menatapnya..
"Mau kopi atau teh ?" Tanyanya sambil tersenyum manis padaku.
"Berperan sebagai istri yang baik nona ?" Tanyaku menggodanya. Dan yah seperti biasa, dia hanya tersenyum santai dengan godaanku, namun rona merah di wajahnya jika dia senang dengan godaanku.
"Aku lebih suka kopi." Kataku.
"Baklah suami yang baik, cepatlah mandi sekarang terus kita sarapan bersama. Aku harus segera ke kantor pagi ini, Bram sudah menungguku sejak lima menit yang lalu." Katanya sambil melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Memangnya jam berapa sekarang Key ?" Tanyaku.
"Setenga jam lagi pukul tujuh." Jawabnya lalu segera datang kearahku dan mendorong tubuhku hingga ke depan pintu kamar.
"Baiklah aku akan bersiap dengan cepat." Kataku.
dan cup.. "Selamat pagi Keyla" Bibirku mendarat di pipinya kemudian aku berlalu dari sana masuk keadalam kamar langsung menuju kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap aku keluar dari kamar menuju dapur lalu duduk di kursi di samping Keyla..
Keyla menyodorkan sepiring roti yang sudah di olesi selai dan secangkir kopi kehadapanku kemudian kembali melanjutkan sarapannya dengan diam, dan aku pun segera menikmati sarapanku tanpa bersuara...
Setelah menyelesaikan sarapan kami, aku menahan tangan Keyla untuk membersihkan pirin kotor bekas kami sarapan..
"Kamu akan terlambat, biarkan saja bi Sati yang akan melakukannya." Kataku dan dia mengangguk kemudian mengikutiku keluar dari dapur menuju depan rumah.
Setelah membuka pintu rumahku, aku sangat kesal ketika melihat mobil papa juga sedang terparkir di halaman rumahku.
Jantungku terus berdetak, sungguh aku akan benar - benar mengamuk jika papa berani keluar dari mobil itu dan memaki Keyla sekarang. Untung saja kaca jendela mobil papa tidak tembus pandang jika dilihat dari luar, tapi aku tahu papa ada di dalam mobil.
" Sepertinya kamu punya tamu." Kata Keyla ketika menyadari ada mobil lain yang terparkir dekat mobilnya. Juga Sopir papa yang sedang berdiri di samping mobil membungkuk ketika melihatku..
"Itu mobil papa, mungkin ada pesan yang ingin papa sampaikan padaku lewat sopirnya. Maaf aku belum bisa mengantarmu ke kantor pagi ini." Jawabku.
Dia mengangguk dan masuk kedalam mobil sport miliknya kemudian berlalu dari halaman rumahku.. Setelah pintu gerbang kembali di tutup oleh petugas keamanan, ku lihat papa keluar dari mobilnya dan aku segera masuk kembali kedalam rumah tanpa nemperdulikan papa yang juga ikut melangkahkan kakinya ikut masuk kedalam rumahku.
__ADS_1
"Buah memang tidak akan jatu jauh dari pohonnya." Kata papa sarkas.
Aku diam saja tidak menanggapi, karena akan sangat percuma..
"Huh Ibu dan anak sama jalangnya." Kata papa lagi dan kali ini semakin membuat emosiku memuncak.. kepalan tanganku sudah memutih menahan agar tempramenku tidak kumat. Seburuk apappun papa di mataku, aku sama sekali tidak ingin menyakitinya apalagi sampai melukainya.
"Apa ada yang ingin papa bicarakan ? jangan menghina Keylaku ! Aku yang mencintainya, aku yang menahannya untuk tetap tinggal disisku jika papa tidak suka dengan ini semua maka menjauhlah. Tinggalkan aku sendiri dengan kehidupan yang ku mau." kataku mencoba untuk tetap tenang.
"Tidur saja dengan gadis itu sepuas yang kau mau, bermain rumah- rumahan dengannya dirumah ini sesukamu. Namun tetap papa tidak akan membiarkan kamu menikahinya." Kata papa tegas kemudian beranjak dari tempatnya duduk kemudian menuju pintu rumahku.
Deg.. Seketika aku menegang melihat siapa yang sedang berdiri dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata di balik pintu yang baru saja papa buka dengan lebar.
"Keyla." Lirihku.
Keyla mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan air mata menatap tajam pada papa yang masih dengan angkuhnya berdiri dihadapannya tanpa rasa bersalah.
"Aku memang jalang seperti yang anda sebutkan tadi pak Sanjaya yang terhormat, aku memang datang menawarkan tubuhku pada Putramu namun anda jangan berani menghina mendiang ibuku. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang berani membicarakan ibu yang bahkan tidak sempat aku lihat." Kata Keyla tenang seperti biasanya meskipun dengan mata yang masih sedikit berair.
setelah itu Keyla masuk kedalam rumah menuju kamar tidurku, papa masih tetap berdiri di pintu depan rumahku. Aku ingat tas dan helsnya masih ada di kamarku.. aku ingin mengikutinya kedalam kamar namun kali ini aku sungguh tidak punya keberanian untuk melakukannya.
Keyla keluar dari kamar tidurku melewati ruangan tempatku berdiri, dia melewatiku yang masih berdiri ditempatku begitu saja, sama sekali tidak melihatku.
Ku lihat Keyla berhenti di depan papa yang masih berdiri didepan pintu, tidak ada sapaan sopan basa basi yang biasa Keyla ucapkan ketika bertemu dengan kolega.
"Sepertinya aku harus mengadakan pertemuan kembali untuk membicarakan inventasiku dan semoga anda juga tidak melupakan 2 % sahamku." Kata Keyla sinis.
"Siapkan saja berapa dana yang harus anda transfer ke akun bank pribadiku setelah pertemuan nanti. Jika tidak aku akan menjualnya pada orang lain." Sambungnya kemudian berlalu dari hadapan papa menuju mobil sport miliknya.
Kali ini papa sudah menyadari apa kesalahannya. Bukan saja Keyla yang membatalkan inventasi pribadinya, tapi juga HG Group pasti akan segera memutuskan kerja sama dengan perusahaan papa.
Tidak ada tatapan kesedihan sama sekali, sinis dan tajam itu yang aku lihat dari Keyla membuat hatiku serasa diremas kuat..
Aku tidak berniat mencegahnya ketika dia sudah masuk kedalam mobil sport miliknya dan berlalu dari halaman rumahku.
Aaarggghh... Aku menendang meja kaca di hadapanku hingga hancur berhambur di lantai.
__ADS_1
" Aku membencimu !" Kataku pada papa kemudian berlalu dari sana memacu mobilku tujuanku Rumah Sakit tempat kak Anggun bekerja.