
*** Maaf baru bisa update, Hari pertama tutup buku di kantor pekerjaan lagi banyak-banyaknya membuatku lelah dan memilih untuk beristirahat, dan akhirnya baru bisa nulis selesai subuh hari ini. Maaf ya semoga teman-teman semua tetap suka, dan selamat membaca
ππΌπ**
****
Waktu terus berlalu, kini beberapa bulan telah terlewati dengan perjuangan yang tidak ada habisnya. Seluruh keluarga berusaha untuk kesembuhan Keyla, namun semakin hari kesehatan Keyla semakin menurun. Kandungannya semakin membesar, duka dan bahagia masih mengiringi biduk rumah tangganya.
Yah semua orang punya cobaan dan ujian masing-masih di dalama rumah tangga, dan inilah ujian yang sudah Tuhan persiapkan untuknya. Hari ini keadaan terasa dingin, air mata semakin membanjiri pipi Keyla menemani perjalanan mereka kembali ke rumah mereka.
Gerry tidak lagi memikirkan tentang apapun bahkan perusahaan sudah tidak pagi dia pedulikan bagaiman keadaannya. Papa Sanjaya harus kembali membantu putranya untuk mengurus perusahaan, karena waktu Gerry hampir semua tersita untuk istrinya.
Sore itu mobil terus melaju pelan di jalanan ibu kota. Kenderaan milik orang-orang yang baru kembali dari tempat mereka mengais rezeki seakan berebutan untuk segera sampai ke rumah mereka masing-masing.
Keyla masih memandangi jalanan di depannya dengan pikiran kalut juga dada yang sesak sambil menyapu butiran bening yang membasahi pipinya. Kesediahan menyelimutinya lagi hari ini, kabar duka kembali terdengar. Salah satu bayi dalam kandungannya tidak bisa bertahan di tengah kehidupan tragisnya.
Tidak lagi ada yang berbicara hingga mobil sudah terparkir rapi di halaman rumah mereka berdua. Gerry segera meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan lalu membawa tubuh yang semakin hari semakin kurus itu masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar mereka.
Dia meletakkan tubuh Keyla dengan hati-hari di atas ranjang lalu menarik selimut putih itu untuk menutupi tubuh Keyla, lalu ikut duduk di sisi ranjang di samping Keyla.
"Kita harus ke rumah sakit Keyla." Ucap Gerry sambil beranjak menuju lemari pakaian mereka yang ada di dalam ruangan ganti. Lalu keluar dari ruangan itu sambil menjinjing tas kecil yang sudah Keyla sediakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tas yang sudah di isi dengan keperluan bayi juga keperluan Keyla. Permintaan Gerry untuk segera membawa istrinya ke rumah sakit ini sudah terdengar saat mereka baru meninggalkan pelataran klinik dari kaka iparnya dan hanya penolakan tegas yang keluar dari mulut istrinya.
__ADS_1
Hari ini mereka kembali memeriksakan kesehatan Keyla seperti biasa, dan Gerry semakin kalut ketika Dokter Robby menjelaskan bahwa bayi perempuan yang masih berada di kandungan Keyla tidak bisa bertahan dan di nyatakan sudah meninggal sejak dua hari yang lalu. Dokter pribadi istrinya itu meminta Gerry agar segera membawa Keyla ke rumah sakit. Dia sudah menghubungi istrinya, dan team Dokter yang di sediakan Bagas di Rumah Sakit untuk menangani Keyla. Dan mereka sudah bersiap menunggu kedatangan Keyla di sana.
"Aku tidak mau jika mereka tidak bisa menjamin keselamatan putraku." Ujar Keyla tegas sambil mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang mereka. Dia masih bisa mendengar dengan jelas, jika kemungkinan itu sangat kecil di tambah lagi usia kandungannya yang belum cukup bulan.
"Jangan keras kepala Keyla, kamu harus segera di operasi, setidaknya penyakit sialan itu tidak lagi bersarang ditubuhmu dan kamu bisa di selamatkan." Suara Gerry mulai meninggi.
"Aku bilang tidak, tetap tidak Gerry. Putriku sudah pergi sebelum aku membawanya melihat dunia, dan aku tidak akan mengizinkan mereka merenggut putraku juga hanya demi kehidupanku." Ucap Keyla tidak mau kalah.
Hanya demi kehidupannya ? Apa Keyla tidak tahu jika kehidupannya begitu sangat berharga untuk Gerry. Gerry semakin gusar dengan emosi yang mulai tidak terbendung.
"Terserah padamu dan lakukan saja sesukamu." Teriak Gerry lalu meninggalkan istrinya yang kini sudah duduk diam menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Selama tujuh bulan lebih ini, yang ada di fikirkan Keyla hanya membawa anak mereka selamat kedunia, namun Gerry takut jika wanitanya itu justru akan meninggalkannya demi anak mereka. Sungguh dia tidak ingin itu terjadi. Keyla adalah kehidupannya, tidak ada yang dia inginkan di dunia ini sebanyak dia menginginkan Keyla agar bisa menua bersamanya.
Kini Gerry sudah terduduk lesu di atas sofa ruang tamu sambil memijat pelipisnya. Meredam emosinya hari ini yang begitu memuncak. Selama pernikahan mereka, dia selalu mengalah pada istrinya itu, meskipun sesuatu yang tidak dia inginkan akan tetap dia usahakan jika itu bisa membuat Keyla merasa lebih baik.
Beberapa menit dia berada di ruang tamu rumahnya ini dan kini hati dan fikirannya sudah merasa jauh lebih tenang. Gerry segera beranjak dari tempat dia duduk, dan kembali melangkah menuju kamar untuk meminta maaf pada Keyla lalu membujuk istrinya itu untuk mau di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan di dalam kamar yang di tinggalkan Gerry tadi, Keyla sudah terbaring lemah di atas ranjang. Dia kembali merasa kesakitan, hal ini memang sudah biasa dia rasakan namun kali ini darah segar ikut merembet keluar melalui paha bagian dalam dan mengotori dress dan selimut yang terbalut di tubuhnya hingga ke ranjang tempat dia duduk.
"Gerry tolong aku." Ucap Keyla lirih.
__ADS_1
Ini sangat sakit, namun dia tidak pernah merasa setakut seperti hari ini. Baru beberapa jam yang lalu dia mendengar berita buruk tentang bayi perempuan yang masih ada dalam kandungannya, dan kini darah sudah mengalir deras melalui pahanya.
"Kumohon Gerry maafkan aku, tolong aku. Tolong selmaatkan anak kita." Ucapnya lagi. Namun suaranya tidak bisa menembus kamar yang di pasang alat kedap suara itu. Keyla sudah terbaring di atas ranjang, pucat di wajahnya semakin bertambah, seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di wajah cantiknya itu.
Pintu kamar terbuka, Gerry terbelalak dengan tubuh yang sudah melemas ketika melihat tubuh istrinya yang sudah terbaring memucat di tempat tidur mereka dengan banyak darah yang sudah mengotori ranjang mereka.
Meskipun persendiannya seperti sudah tidak lagi terpasang di tubuhnya, namun Gerry tetap memaksakan diri membawa istrinya itu keluar dari dalam kamar mereka.
"Key, maafkan aku." Ucap Gerry sambil membawa tubuh lemas istrinya menuju pintu keluar.
"Pak tolong saya," Teriak Gerry pada petugas keamanan yang sedang menjaga di pos satpam saat dia sudah berada di samping mobil. Dengan cepat satpam itu berlari menuju mobil lalu membuka pintu mobil dengan lebar.
"Tetap sadar Key, aku mohon." Air matanya begitu deras membasahi rahang tegasnya hingga menetes membasahi tubuh istrinya, saat Gerry mendudukkan tubuh Keyla di kursi penumpang yang ada di depan.
Mobil yang membawa Keyla sudah melaju cepat di jalanan Jakarta yang masih padat. Bunyi klakson terus saja dia teriakkan di tengah jalan membuat pengguna jalan yang lain tidak merasa nyaman, namun dia tidak memperdulikan itu.
"Kak Keyla drop. Ada banyak darah, dan aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit." Ucap Gerry gemetar di balik ponsel yang kenempel di telingannya lalu kembali meletakkan benda pipih itu sembarangan.
"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus menyelamatkan anak kita." Ucap Keyla lemah namun masih dengan intonasi tegasnya.
Gerry hanya diam dan masih terus fokus dengan jalanan di depannya agar mobil yang dia kendarai segera sampai di rumah sakit. Dia menginginkan bayi itu namun dia tetap akan mementingkan kesehatan Keyla dari apapun.
__ADS_1