Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Bagas ^ Rachel ( Perlahan Tapi Pasti )


__ADS_3

Sangri La Restaurant



Tidak ada yang tahu kemana hati kita berlabuh.


Tidak ada yang bisa mengatur kepada siapa hati kita terpaut.


Namun bukankah kita juga harus sadar diri ketika orang yang ingin menjadi tempat hati kita berlabuh, kini sudah memulai perjalanannya dengan orang lain. Dan Rachel memilih untuk memulai perjalanannya meskipun dia belum tahu bagaimana akhir dari perjalanannya ini. Memilih melakukan perjalanan dengan orang yang bukan tempat hatinya berlabuh.


Rachel sedang menikmati makan siang berdua dengan Bagas, yang tidak jauh dari tempat Gerry dan Keyla juga kedua orang tua mereka duduk. Tatapan sendu Rachel dengan hati masih terasa perih sesekali melihat wajah Gerry yang begitu bahagia dengan senyum yang tidak surut ketika laki-laki itu menatap Keyla. Tatapan hangat Gerry yang dia harapkan akan selalu tertuju padanya, kini tidak lagi. Laki-laki yang selalu memperlakukannya dengan baik, kini akan memiliki kehidupan baru dengan wanita yang dia cintai.


Lalu bagaimana dengannya ? Sebentar lagi dia juga akan memiliki kehidupan baru dengan laki-laki yang sedang menikmati makan siang di hadapannya. Sama seperti Gerry, laki-laki yang katanya bersedia menikah dengannya ini selalu menatap hangat pada Keyla namun tidak dengannya. Wajah datar dan dingin selalu dia dapati hampir dua minggu ini. Tetapi apalah daya, dia tidak lagi memiliki pilihan selain menikah dengan Bagas dari pada harus besusah payah mengumpulkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit sang ibu yang sudah satu minggu lalu berpulang ke pangkuan Tuhan. Biaya yang mungkin sudah menghabiskan ratusan juta bahkan mungkin miliaran selama delapan bulan ini. Perawatan intensif dengan alat yang begitu memadai akhirnya di izinkan Rachel untuk di lepaskan sekaligus melepas kepergian sang ibu. Dan semenjak kejadian di Rumah Sakit yang hampir membuat pernikahan Keyla dan Gerry di batalkan, Rachel sudah memutuskan untuk tidak lagi kembali ke perusahaan itu. Jadi untuk mendapatkan uang sebanyak itu, rasanya sangat mustahil ketika dia belum menemukan pekerjaan baru.


"Jangan terus memandangi calon suami orang." Suara dingin itu menyadarkan lamunan Rachel dari kehidupan malangnya. Tatapannya beralih menatap pada laki-laki yang sedang duduk dihadapannya. Dan lagi-lagi tatapan dingin itu yang Keyla dapati dari wajah tampan itu.

__ADS_1


Tidak ingin menjawab apapun yang terlontar dari laki-laki seperti es di hadapannya, Rachel kembali mengalihkan pandangannya pada makanan di atas meja. Dengan diam menikmati makanan hingga tidak lagi tersisa di piringnya.


"Jika sudah selesai makan, ayo ke kamar aku mau istirahat." Ucap Bagas dan Rachel mengangguk patuh.


Sebelum kembali ke kamar Bagas terlebih dahulu berpamitan pada papi dan maminya juga orang-orang yang masih berada disana termasuk Keyla dan Gerry, Rachel yang berada di belakang Bagas melakukan hal yang sama, berpamitan pada semua orang kemudian mengikuti Bagas dari belakang menuju kamar mereka.


Yang lainpun ikut beranjak dari Restoran hotel dan menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh yang terlalu lelah dengan penerbangan panjang mereka. Keyla dan Gerry juga ikut berpamitan dan langsung kembali ke Hotel tempat mereka menginap.



"Apa tidak sebaiknya aku menyewa kamar sendiri saja ?" Tanya Rachel ketika mereka sudah berada di dalam kamar dan Bagas sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Rachel menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Tidak ingin terpancing dengan kata-kata ketus yang selalu terlontar dari mulut Bagas.


Dia membawa tubuhnya keluar dan duduk di sofa yang berada dalam ruangan mewah dan luas. Lalu meraih remot yang berada di atas meja dan memilih menatap pada TV plat lebar yang tertancap di dinding kamar. Hampir setengah jam Rachel duduk di sofa dengan pandangan kosong menatap TV. Drama yang sedang tanyang di TV tidak bisa mengalihkan fikirannya yang begitu rumit.

__ADS_1


Rachel melirik kearah Bagas, dan laki-laki itu sudah terlelap dengan sepatu yang masih terpasang di kakinya. Sebenarnya Rachel juga merasa sangat lelah karena penerbangan yang memakan waktu kurang lebih 17 jam membuat tubuhnya terasa sedikit tidak nyaman. Namun masih sangat canggung jika harus merebahkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Bagas.


Dengan langkah perlahan Rachel mendekat ke arah tempat tidur kemudian melepas sepatu yang masih melekat di kaki Bagas dengan sangat hati-hati.


Setelah meletakkan sepatu Bagas, Keyla mengambil pakaian gantinya dari dalam koper kemudian masuk kedalam kamar.


Setelah terdengar bunyi gemercik air shower dari dalam kamar mandi, Bagas bangun dan duduk di sisi ranjang. Mengusap kepalanya gusar, dia sangat kesal ketika terus mendapati Rachel yang masih menatap penuh cinta pada Gerry. Dari Bandara sampai di restoran hotel tadi Bagas terus memeperhatikan Rachel yang tatapannya selalu tertuju pada calon suami dari wanita yang pernah bertahta di hatinya.


Pernah, namun hampir dua minggu ini nama Keyla mulai tergantikan di hatinya. Puncaknya seminggu yang lalu setelah mendapati Rachel bersembunyi menumpahkan tangisannya, sungguh dia ikut merasa perih melihat Rachel menangis sendirian di dalam kamar di rumah orang tuannya setelah pemakaman ibu Mala. Ingin sekali Bagas membawa gadis itu kedalam pelukannya, namun dia merasa tidak berani melakukannya.


"Sialan." Umpat Bagas kesal pada dirinya sendiri. Selalu saja seperti ini jika menyangkut wanita yang sudah mulai memasuki relung hati terdalamnya. Dia bahkan tidak punya keberanian untuk melakukan pendekatan.


Bunyi air dari dalam kamar mandi sudah tidak terdengar lagi, Bagas segara merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang dan berpura-pura tertidur lelap.


Rachel masih menatap kearah Bagas yang tetap terlelap di atas ranjang. Perlahan Rachel membawa tubuhnya duduk di sisi lain ranjang, setelah melihat Bagas yang sama sekali tidak terganggu dengan kehadirannya, Rachel ikut merebahkan tubuhnya di sampin Bagas. Sungguh dia juga ingin beristirahat, dan tidak membutuhkan waktu lama Rachel sudah masuk ke alam mimpi yang selalu mempertemukan dia dengan sang Ibu.

__ADS_1


"Maafkan sikap kasarku." Ucap Bagas pelan. Suara nafas teratur yang berhembus dari hidung Rachel menerpa wajahnya. Tubuh mungil yang sama dengan tubuh Keyla kini tertidur nyenyak menghadap padanya. Bagas mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya ini dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur lelapnya. Tanpa terasa dia ikut benar-benar terlelap dengan bayangan wajah Rachel di alam bawa sadarnya.


Wajah sendu dengan netra penuh kesedihan selalu datang di dalam pelupuk matanya. Jatuh cinta, tidak mungkin secepat itu mengingat Keyla yang sudah menetap di hatinya hampir lima tahun lamanya. Namun tidak bisa dia pungkiri, rasa yang selalu dia rasakan untuk Keyla kini tidak lagi. Rasa itu mulai berpaling pada gadis yang kini terlelap di ranjang yang sama dengannya.


__ADS_2