
** Selamat membaca **
**Selamat pagi semuanya, aku kembali lagi dengan Bab bonus. Terimakasih para reader yang masih stay disini, jangan lupa tinggalkan like dan komentar dukungan biar jari dan otak si othor amatiran ini tambah semangat. Selamat membaca semuanya 😊🤗 **
Waktu terasa begitu cepat berlalu, bayi laki-laki yang terlahir prematur tujuh belas tahun yang lalu kini sudah mulai beranjak remaja. Timbuh dengan sehat dan begitu banyak cinta di sekelilingnya.
Gamaliel, hadiah terindah dari Tuhan. Begitulah jika sang mama menyebutnya. Putra dari Keyla dan Gerry itu kini sedang mengemban sekolah menengah atas di salah satu sekolah terfavorit di kota wisata, Bali.
"Gama cepat, nanti terlambat." Teriakan yang setiap pagi akan menggema di kediaman sepasang suami istri dengan profesi termulia itu kembali menembis di indra pendengarannya
"Iya bu, sebentar lagi." Jawab Gama dari kamar yang berada di lantai dua rumah mewah di pusat kota Bali sambil memasukkan bebrapa barang ke dalam tas punggung mahalnya.
Ibu, begitulah panggilan yang di sematkan Gama pada wanita yang berulang kali menyelamtakan sang mama. Wanita yang selalu dia hormati sama seperti dia menghormati mama Keyla.
Dengan langkah cepat, Gama keluar dari kamarnya menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang makan. Berharap abang kesayangannya masih ada disana, agar dia bisa menumpang ke sekolah hari ini dan memamerkan Abang gantengnya itu pada teman-teman cewe di sekolahnya.
"Bang nupang ya ?" Ucap Gama yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya sambil melangkah memasuki ruang makan lalu duduk di samping kaka sepupunya itu.
" Bang abang, kamu fikir aku abang tukang bakso." Kesal laki-laki tampan yang sudah dengan stelan jas yang melekat di tubuhnya. "Tumben numpang, memangnya moge kesayangan kamu kemana ?" Tanya kevin pada adik sepupunya.
"Lagi di servis bang." Ucap Gama.
"Berhenti bicara, habiskan dulu sarapannya nak." Ucap Anggun. "Jika mama kamu ada disini sudah di pastikan tangannya sudah melayang di kepala kalian berdua." Sambungnya.
Gama tersenyum, dia merindukan sosok wanita yang selalu menghabiskan waktunya mengikuti papa Gerry kemana-mana itu. Ah dia menjadi nomor dua di kehidupan wanita terbaik dalam hidupnya itu.
Meja makan sudah kembali hening, Anggun sudah duduk di samping suaminya dengan jas dokter sudah melekat di tubuh keduanya sambil menyuapkan sedikit demi sedikit nasi goreng buatannya kedalam mulut. Tidak ada lagi yang bersuara, Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di dalam ruangan.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Anggun segera beranjak dari tempat duduk menuju kamar tidur untuk mengambil semua keperluan yang akan dia bawa ke rumah sakit hari ini. Rumah sakit milik keluarga Adiwarman yang sudah lima tahun ini dia pimpin.
"Gimana sama perusahaan ?" Tanya Robby saat mereka sudah selesai sarapan dan melihat istrinya sudah keluar dari dalam ruangan makan.
__ADS_1
"Baik Yah, tidak ada yang perlu di khawatirkan." jawab Kevin lugas.
"Jangan mengecewakan Om Gerry." Ujar Robby memperingati putranya. "Dan sekertarismu, jangan membawa hubungan pribadi di dalam kantor, itu akan merusak reputasimu. Kamu sangat tahu, Ayah paling tidak bisa menolerir siapapun yang akan mengacaukan keluarga kita. Pekerjaan ini kamu yang memilih, kamu yang memutuskan untuk masuk ke dunia bisnis jadi jangan mencoreng nama baik keluarga." Sambungnya dengan nada tegas kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu pembatas dapur menyusul sang istri.
Kevin hanya terdiam, dia tidak lagi bersuara. Dia tahu bagaimana kerasnya sang Ayah jika menyangkut keluarga. Laki-laki yang tidak lagi mudah itu akan melakukan apa saja untuk menjaga nama baik keluarga ibunya ini.
"Ayo Bang, aku sudah selesai." Ucap Gama menyadarkan keterdiaman kaka sepupunya.
"Sekali lagi kamu panggil aku Abang, ngga akan aku beri tumpangan." Kesal Kevin. Masih sepagi ini dan moodnya sudah begitu berantakan.
"Jangan ngambek-ngambek bang, kaya gadis yang lagi PMs aja." Ledek Gama. Dan akhirnya ringisan meluncur dari mulutnya saat kepalan tangan Kevin mendarat di kepalanya.
"Jangan tabok bang, nanti bego. Mau punya adik bego ?" Ujar Gama kesal.
"Ngga usah banyak bacot, masuk sana. Mau aku antarin ngga ?" Kevin menyolot.
"Iya Bang, iya. Ih sensitif amat jadi laki." Ucap Gama lalu ikut masuk kedalam mobil.
Kota Bali, banyak yang ingin berkunjung di kota ini. Wisatawan dari berbagai kota hingga mancanegara hampir setiap hari akan terlihat di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Orang-orang dengan kulit putih bak cat tembok juga tinggi yang hampir mencapai dua meter itu akan telihat hampir di setiap jalanan Kota Bali yang kini di lewati oleh mobil yang sedang di kendarai oleh Kevin.
"Turun sana." Ujar Kevin ketus saat mobilnya sudah berhenti di sisi jalan di depan sekolah Gama.
"Jangan marah-marah Bang, nanti mukanya cepat tua dan sekertaris Abang itu akan mencari laki-laki lain." Ejek Gama lalu segera keluar dari dalam mobil Kevin sebelum tangan kaka sepupunya itu kembali menabok kepalanya.
"Sekolah yang pintar, jangan pacaran terus." Teriak Kevin dari dalam mobil.
"Jangan membicarakan diri sendiri Bang." Ujar Gama sambil menjulurkan lidanya meledek kaka sepupunya.
"Udah ngga usah ngeles, aku lihat gadis cantik yang ada di layar komputer kamu kok." Kekeh Kevin kemudian segera berlalu dari depan gerbang sekolah.
Gama masih berdiri di tempatnya seakan tidak memperdulikan ledekan kaka sepupunya yang baru saja berlalu dari hadapannya itu. Dia masih menunggu gadis yang wajahnya menghiasi layar komputernya di rumah.
__ADS_1
Deg..
Tatapanya kini mengarah pada gadis yang berjalan menundukkan kepala. Gadis dengan rambut panjangnya menutupi pipi yang Gama tebak akan ada banyak memar disana seperti hari-hari biasanya.
Sungguh dia ingin mendekat dan bertanya, siapa yang selalu melakukan itu pada gadis misterius yang membuatnya penasaran namun dia tidak punya keberanian sebanyak itu.
Dia hanya bisa melakukan ini setiap pagi, langkahnya hanya akan terus mengikuti dari belakang gadis itu. biarkan saja orang-orang akan menganggapnya penguntit, yang terpenting saat ini dia bisa memastikan gadis itu akan sampai ke loker dengan selamat setiap pagi tanpa ada yang mengganggu.
"Gama.." Teriak laki-laki tengil kesukaanya dari depan gadis yang sedang dia ikuti. Randi yang menuruni sikat tengil sang papa itu kini berhenti di jalan yang akan di lalu oleh gadis yang sedang di ikuti Gama.
"Sialan... " Umpat Gama saat sahabat tengilnya itu kini merentangkan tangnya dan membuat gadis di depannya berhenti melangkah.
"Selamat pagi Briana." Sapa Randi santai membuat sambil menundukkan tubuhnya untuk melihat wajah cantik yang selalu di sembunyikan dari orang-orang di sekolah.
Dan gadis yang sedang di sapa hanya terdiam di tempatnya, langkahnya terhenti dan kepalnya semakin tertunduk seakan tidak ingin laki-laki di hadapannya ini melihat wajahnya. Meminta pertolongan di dalam hati, setidaknya bisa menikamti kehidupan tentram walau hanya di sekolah.
"Sialan Randi." Umpat Gama kesal lalu segera menarik sahabatnya itu menjauh dari gadis misterius yang membuatnya penasaran itu.
Gadis itu bernafas lega, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kotak-kotak besi yang berjejer di sebuah ruangan. Loker tempat penyimpanan barang-barang pribadi setiap siswa itu sudah di penuhi banyak siswa lain disana termasuk Sasa, gadis tomboi yang akan selalu menunggu Briana di sana.
"Hei kamu di pukuli lagi ?" Tanya Sasa sambil merapikan rambut panjang Briana yang sengaja di gunakan untuk menutupi memar di pipi gadis itu. Gadis dengan dengan rambut tomboi itu satu-satunya siswa yang bisa masuk kedalam kehidupan Briana.
"Aku ngga apa-apa Sa." Ucapan yang selalu Sasa dengar itu membuat gadis tomboi itu semakin kesal.
"Kenapa ngga kamu laporin aja ke polisi biar si brengsek itu di penjara." Kesal Sasa. "Aku akan minta papa aku buat bantu kamu Ana." Sambung Sasa memohon agar sahabatnya ini mau mengikuti saranya.
"Selagi mama aku baik-baik saja, ini bukanlah masalah Sa." jawab Briana sambil tersenyum kearah sahabatnya.
Briana kembali merapikan surai hitam panjang itu agar kembali menutupi memar-memar di pipinya, lalu melangkah menuju ruang kelas bersama Sasa.
Gama yang juga berada di ruangan itu menarik nafasnya kesal, lagi-lagi mendapati banyak memar di wajah Briana seperti yang selalu dia lihat hampir setiap pagi selama dua tahun ini.
__ADS_1
Jika saja dia bisa dekat dengan gadis itu, sungguh dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Briana.