
Percayalah tertidur dalam dekapan orang yang kita cintai, nyamannya akan mengalahkan selimut mewah dengan harga puluhan juta sekalipun.
Keyla masih bergelut dengan mimpi indahnya. Mimpi indah yang selalu dia harapkan untuk menjadi kenyataan di setiap harinya. Tertidur dan bangun dalam dekapan nyaman ini, sungguh ini terasa seperti nyata dan membuat Keyla tidak ingin bangun dari tidurnya. Ingin terus merasakan dada bidang yang entah sudah berapa kali mendekapnya, juga bau maskulin yang tidak pernah berubah sejak lima tahun lalu ini terasa begitu nyata. Sayangnya sang surya musim panas di kota mode ini menembus tirai tipis penutup kaca besar yang menyuguhkan pemandangan kota Paris dari kamar hotel tempatnya menginap beberapa minggu ini, membuat Keyla terpaksa mengakhiri mimpi indahnya.
Dengan perlahan mata indah yang selalu membuat Gerry jatuh cinta itu terbuka perlahan. Sedikit tebelalak kaget ketika melihat dirinya berada dalam dekapan laki-laki yang membuatnya gila dua minggu ini. "Apa aku masih bermimpi ?" Gumamnya dan membuat Gerry terkekeh. Jadi si galak kesayangannya sedang bermimpi..
"Morning Sayang," Kecup Gerry pada mata yang selalu membuatnya jatuh hati. Seakan memeberi tahu pada Keyla jika dia tidak sedang bermimpi.
Keyla yang masih kaget dengan kenyataan pagi ini hanya terdiam kaku. Beberapa kali dia kembali mengerjapkan matanya, takut jika ini hanyalah halusinasinya semata, namun senyum yang selalu membuatnya jatuh hati dan kesal dalam waktu bersamaan menyadarkan Keyla jika ini nyata. Laki-laki dengan senyuman menyebalkan yang selalu membuatnya jatuh cinta berulangkali ini benar-benar berada di ranjang yang sama dengannya.. Memeluk tubuhnya nyaman di dalam selimut yang sama.
Keyla mengangkat tangannya untuk mengelus pipi milik laki-laki yang sangat dia rindukan, mata teduh Gerry tertutup seakan menikmati tangan halus Keyla yang menyentuh wajahnya. Keyla semakin terperangah ketika mendapati cincin emas putih dengan berlian diatasnya kini sudah tersemat di jari manisnya. Dan ini benar-benar nyata. Dia tidak sedang bermimpi, laki-laki yang sudah hampir tiga minggu ini dia tinggalkan kini berada di kamar juga ranjang yang sama dengannya.
" Ayo menua bersama hingga salah satu dari kita terlebih dahulu pergi dan akan menunggu dengan setia di kehidupan selanjutnya." Ucap Gerry pelan di depan wajah gadis yang masih kaget dengan kenyatan yang menyapanya pagi ini.
Keyla masih terdiam seribu bahasa, berusaha melepaskan diri dari dekapan laki-laki yang membuatmya kesal namun juga merindu ini. Tapi Gerry semakin mengeratkan pelukannya hingga tidak lagi memiliki jarak di tubuh mereka.
Keyla tidak lagi berusaha melepaskan diri dari laki-laki itu, kini dia memukul kuat dada bidang yang sialnya selalu membuatnya nyaman ini dengan kepalan tangannya keras.
"Key sakit, kalau aku mati gimana." Keluh Gerry masih terus mendekap erat tubuh Keyla sesekali mengecup mata yang sudah berair milik Keyla.
"Mati saja Gerry, aku ngga peduli lagi. Aku akan membunuhmu hari ini." Ucap Keyla terbata di sela isak tangisnya.
"Maafkan aku, maafkan aku Key." Kata Gerry pelan sambil mencium puncak kepala Keyla ketika wajah gadis kesayangannya sudah terbenam di dada bidangnya.
Keyla kembali menatap wajah Gerry sendu, keraguan yang sudah hampir tiga minggu ini menggeluti rongga dadanya kembali menyeruak.
"Kamu belum memilih Gerry." Kata Keyla yang sudah mau mengeluarkan cincin yang berada di jari manisnya namun dengan cepat Gerry menahannya.
" Dan kamu berfikir aku akan memilih siapa hm ? Dengan papa saja aku tetap memilihmu Key." Ucap Gerry sambil meraih tangan Keyla, kembali memperbaiki cincin yang hampir terlepas dari jari manis Keyla dan memberikan kecupan di tangan itu. "Ku mohon jangan meragukanku. Dan aku tidak akan pernah bosan mengatakan ini, aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu. Kamu adalah wanita terbaik ketiga di hidupku setelah mama dan ka Anggun." Sambung Gerry.
__ADS_1
Keyla tidak lagi berkata apapun setelah mendengar permohonan yang entah sudah keberapa kalinya saat pertemuan mereka di acara keluarga Gerry beberapa bulan lalu. Dengan cepat Keyla membawa tubuhnya untuk terbenam dalam dekapan hangat Gerry. Tangannya melingkar di bahu dengan wajah yang berada tepat di dada laki-laki itu.
"Cinta kamu juga Gerry, dadaku sampai terasa sakit karena merindukanmu." Bisik Keyla pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh Gerry.
krruukk... kruukk...
Bunyi alarm dari cacing di perut Keyla membuat Gerry terkekeh. Keyla mengangkat wajahnya yang sudah memerah malu karena perutnya yang memanag tidak sempat diisi sejak semalam memngganggu keromantisan pagi ini.
"Ayo bangun, kita mandi lalu sarapan setelah itu kita ke Bandara." Ajak Gerry.
"Maksudmu kita mandi bersama ?" Tanya Keyla sudah menatap tajam dengan pipi semakin memerah.
Gerry semakin terkekeh dengan sifat gadis di hadapannya ini.
Cup.. Kecup Gerry di pipi merona Keyla
"Kok gemesin sih Key," Kata Gerry kembali mencium pipi sebelahnya lagi. "Kalau kamu mau mandi bareng, aku ngga akan nolak, mumpung Bram ngga ada disini kita bebas sekarang." Sambung Gerry sambil terkekeh menggoda, membuat Keyla semakin salah tingkah.
Shit ! Umpat Gerry frustasi. Piyama tipis yang mengekspos paha mulus Keyla membuat panas menjalar di tubuh Gerry dan membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya. Apalagi dengan pembahasan mandi bareng pagi ini membuat Gerry membayankan sesuatu yang terjadi di dalam kamar mandi dan ingin sekali menerkam gadis itu sekarang juga.
"Sabar Gerry, dua hari lagi pernikahan kalian setelah itu kamu bebas ngapain aja." Ucap Gerry memberi semangat pada dirinya sendiri.
Tidak berapa lama Keyla keluar dari dalam kamar mandi dengan bathrobe berwarna putih membalut tubuhnya juga handuk kecil yang membungkus rambut basah miliknya.
Keyla mengambil dress dari dalam lemari di dalam kamarnya.
"Kamu ngga mau mandi ?" Tanya Keyla heran. Gerry hanya terus menatap padanya dengan tatapan yang entahlah.
"Mau mandi kok, aku mandi sekarang." Jawab Gerry kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk meredamkan gairah yang entah mengapa sudah memuncak. Bukan kali ini saja dia melihat Keyla seperti ini, bahkan mereka sudah dua kali tidur di kamar yang sama sejak pertemuan kembali beberapa bulan lalu tapi dia tidak sebergairah ini.
__ADS_1
Sial ! Gerry terus mengumpat karena inti tubuhnya yang susah di ajak bekerja sama pagi ini. Dengan terpaksa Gerry harus menuntaskannya sendiri di dalam kamar mandi.
"Gerry kamu ga apa -apa kan ?" Tanya Keyla ketika mendengar suara aneh dari dalam kamar mandi.
" Aku baik-baik saja Key." Jawab Gerry segera berdiri di bawa kucuran air shower untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Gerry keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit sebatas pingangnya dan berjalan menuju pintu kamar. Keyla masih duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang masih sedikit basah seketika menoleh pada laki-laki yang hendak meraih handel pintu.
" Mau kemana ? " Tanya Keyla heran.
"Mau ke kamar sebelah, koperku ada di sana." Jawab Gerry
"Dengan handuk itu ?" Tanya Keyla lagi kini sudah beranjak dari duduknya mendekati Gerry.
"Sial, aku lupa tidak membawa baju ganti kesini." Jawab Gerry.
"Kamar nomor berapa ? Tunggu disini aku akan mengambilnya." Ucap Keyla segera berlalu setelah mengetahui nomor kamar juga menerima cardkey dari Gerry.
Kamar yang di sewa Gerry hanya berjarak dua kamar dari kamar Keyla. Drngan cepat Keyla membuka pintu kamar tersebut lemudian membawa barang-barang penting milik Gerry dari kakar itu menuju kamarnya.
" Nona Keyla kan ?" Tanya seorang gadis yang membuat Keyla terpaku di tempatnya.
" Siapa sayang ? " Tanya laki-laki yang segera menyusul Alisa ysng sudah lebih dulu sampai dan kini sedang berdiri di depan kamar Gerry.
Reyhan yang kini beralih menatap pada Keyla langsung terkejut. "Wah si brengsek itu cepat banget meluluhkan anak orang" Batin Reyhan.
"Kami mau bertemu Gerry, apa dia ada di dalam ?" Tanya Reyhan.
Keyla menggeleng.
__ADS_1
" Dia ada di kamarku," Jawab Keyla masih dengan wajah datarnya lalu kembali melnajutkan langkahnya juga mengajak Alisa dan pria yang dia tidak tahu siapa ikut menuju kekamarnya.