
Jangan terjebak dengan awan putih yang terlihat begitu indah, percayalah dari sanalah tercipta mendung yang akan menutupi sinar matahari lalu hujan yang akan membasahi bumi. Namun jangan lupa pula, dari hujan itulah pelangi tercipta. Dan karena hujanlah tumbuhan yang bermanfaat untuk manusia tumbuh dengan suburnya di atas bumi. Sesulit apapun kehidupan yang kita jalani, jangan pernah melupakan bawah Tuhan akan menguji setiap manusia hanya sebatas kemampuan. Dan setelah cobaan yang begitu membuat kita terpuruk, akan ada kebahagiaannya setelahnya, juga pembelajaran hidup yang berharga yang dapat kita ambil.
Setelah hampir dua bulan penantian, akhirnya mata indah Keyla mulai terbuka perlahan. Dada Gerry berdebar sama seperti saat mereka kembali bertemu di acara keluarganya lebih dari satu tahun yang lalu. Penantian dua hampir dua bulan ini hasilnya tidak mengecewakan, wanita terbaik ini kembali kedalam hidupnya.
"Hei." Ucap Gerry saat mata indah itu terbuka sempurnah.
Keyla mengerjapkan matanya perlahan, lalu bibir pucatnya tertariku untuk tersenyum manis kearah suaminya. Keyla mengelus pelan rahang Gerry yang tidak lagi sebersih dulu, bulu halus tidak terawat mulai tumbuh disana. Gerry membawa tangan yang kini mengelus pipinya, lalu mengecup tangan kurus itu berulang kali.
"Aku harus memeriksanya sebentar Gerry." Ucap Anggun memutus kemesraan suami istri di hadapannya ini.
Keyla tersenyum malu menatap ke arah Anggun. Keadaan seperti ini kembali mengingatkannya pada kejadian setahun yang lalu.
Cup.... Gerry mengecup pipi istrinya yang sudah terlihat merona.
Keyla semakin tidak nyaman dengan kaka iparnya karena perbuatan suaminya yang urat malunya sudah terputus ini.
"Jangan memerah Key, bikin gemas." Ujar Gerry sambil memberikan ruang untuk kakanya agar segera memeriksa istrinya. Gerry hanya tersenyum karena mendapat tatapan tajam dari istrinya. wajah cantik yang sudah mengaktifkan kembali mode datarnya kini kembali dia nikmati.
Setelah Anggun kembali memeriksa alat vital keyla, dan semuanya tidak lagi bermasalah, dokter wanita kebanggaan Gerry itu keluar dari ruangan untuk memberikan waktu pada sepasang suami istri itu bercengkrama melepas rindu.
Setelah kepergian kaka kesayangannya, Gerry tidak henti-hentinya menghujani ciuman di mata indah istrinya. Keyla bahkan berulang kali mendorong kepala suaminya itu dari atas wajahnya namun bukan Gerry namanya jika tidak akan memaksakan semua yang dia inginkan.
"Hentikan Gerry, apa kamu sudah kemasukan jin penyuka mata manusia ?" Ucap Keyla pelan namun bibir pucatnya cemberut kesal.
Gerry tertawa mendengar suara ketus istrinya ini. Kini bukan mata indah yang menjadi sasaran dari bibir Gerry, tapi bibir pucat istrinya di kecupnya berulang kali.
"Aku rindu, sangat rindu Key. Hampir dua bulan kamu terlelap di dalam ruangan yang paling aku benci ini." Lirih Gerry.
__ADS_1
"Maafkan aku sudah menjadi begitu egois, dan membuatmu tidak lagi setampan dulu." Ujar Keyla sambil tersenyum lucu ketika melihat wajah kesal suaminya. "Mau peluk Gerry, ayo sini kamu tiduran di samping aku." Sambung Keyla sambil menepuk bagaian ranjang yang kosong di sampingnya.
"Ranjangnya terlalu kecil, ga akan muat sama badan aku." Ucap Gerry. Bukan itu masalahnya, dia hanya tidak ingin Keyla tidak nyaman nanti. "Cepatlah sembuh agar aku bisa segera membawamu pulang dan memelukmu sepuasnya di ranjang besar kita." Sambung Gerry lagi dengan kelipan mata menggoda istrinya.
"Cih,, mode mesumnya kambuh." Ujar Keyla dan Gerry tertawa senang.
"Iyalah, kamu ngga tau aja gimana rindunya aku selama dua bulan ini." Ucap Gerry sambil mencium tangan yang masih terpasang selang infus milik istrinya. "Aku rindu Key, sungguh sangat rindu." Ucap Gerry lagi dan kini dia sudah beranjak dari kursi lalu ikut berbaring di ranjang yang sama dengan istrinya.
Keyla tersenyum lalu membawa tubuhnya menghadap kearah suaminya. "Aku juga rindu, sangat rindu bukan padamu tapi pada pelukan nyaman ini." Ujar Keyla dengan wajah yang terbenam di dada bidang suaminya. Menghirup dalam-dalam wangi maskulin yang sudah melekat di indra penciumannya.
Gerry mencium puncak kepala istrinya berulang hingga pintu ruangan ICU terbuka dan bebrapa orang suster sudah berada di sana dengan tatapan terkejut.
"Aduuhh..." Keluh Gerry saat ada tangan yang memukul kuat punggungnya. "kak Anggun apa-apaan sih, sakit ini." Ujar Gerry kesal saat melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya hari ini. Keyla terkejut lalu menarik tubuhnya dari dekapan suaminya.
"Kamu tuh ngga sabaran banget, alat-alat masih terpasang di tubuh istri kamu loh Gerry, dan kamu sudah memeluknya erat. Bahaya bego." Omel Anggun pada adiknya.
Keyla tersenyum manis ke arah suaminya, dan Gerry kembali mendekat kearah istrinya lalu menggenggam tangan wanita berharga itu erat.
Suster yang berdiri kikuk di dekat pintu melangkah menuju ranjang Keyla saat Anggun meminta mereka untuk mengganti seragam pasien yang melekat di tubuh Keyla dengan seragam pasien yang baru.
Anggun menoleh ke arah adiknya, menatap heran karena adiknya ini masih berada di dalam ruangan.
"Kamu hanya akan berdiri di sana ? suster mau mengganti pakaiannya." Ujar Anggun pada adiknya.
"Loh kenapa ? ngga masalahkan aku tetap disini, Keyla istri aku kalau kaka lupa. Aku sudah melihat semua bagian tubuhnya jadi buat apa lagi aku kelaur dari ruangan ini." Ujar Gerry tidak mau kalah.
Bughh... Kepalan tangan kurus menghantam lengan Gerry, sungguh Keyla merasa ingin memakan suaminya ini hidup-hidup. Mulut yang dari dulu tidak pernah di ajak kursus itu sudah mulai mengucapkan kata-kata frontal padahal masih ada orang lain di dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Key, kalian ini kenapa sih suka sekali memukulku." Ujar Gerry kesal.
Brakk,, berkas laporan kesehatan Keyla yang ada di tangan Anggun mendarat sempurnah di kepala Gerry membuat si empunya meringis.
"Karena kamu tuh harus di pukul dulu biar empedu kamu kembali." Ujar Anggun lalu keluar dari ruangan setelah memerintahkan suster untuk memindahkan Keyla ke ruangan perawatan. Keyla hanya tertawa lucu melihat kekesalan di wajah suaminya.
Suster-suster yang membantu Keyla berpakaian kini mendorong bed pasien ke ruangan yang sudah di siapkan khusus untuk Keyla. Gerry ikut membantu mendorong bed tersebut sampai ke dalam ruangan luas dengan sofa juga fasilitas lainnya sudah tersedia di sana.
Ranjang besar yang tidak seperti ranjang pasien pada umumnya juga sudah ada di dalam ruangan ini. Gerry mengangkat tubuh istrinya lalu di memindahkan ke atas ranjang yang ada disana. Para suster memilih keluar dari dalam ruangan luas itu sambil mendorong kembali bed yang di bawa dari ruangan Intensif Care.
Gerry ikut naik ke atas ranjang lalu membawa tubuh kurus Keyla kembali kedalam pelukannya.
"Apa Gama baik-baik saja ? Tanya Keyla saat wajahnya sudah terbenam di dada suaminya. Gerry melepaskan pelukannya, lalu menatap istrinya lekat. "Putra kita Gamaliel apa dia baik-baik saja ?" Tanya Keyla lagi.
" Dia harus baik-baik saja, karena dia yang harus memastikan kebahagiaanmu kelak." Ucap Gerry kembali merengkuh tubuh istrinya. Mengucapkan banyak terimakasih karena sudah memberinya kehidupan yang begitu sempurnah. "Jadi namanya Gamaliel ?" Tanya Gerry.
"Hm. Dia hadiah terindah dari Tuhan untuk kehidupan tragisku, jadi aku memberinya nama Gamaliel yang berarti hadiah dari Tuhan." Jawab Keyla.
"Baiklah, kami pun belum memberinya nama. Dan mulai sekarang kamu harus menuruti semua yang aku katakan, jangan membuatku tersiksa karena mengkhawatirkanmu" Ucap Gerry pelan kembali memeluk erat tubuh Keyla.
Keyla mengangguk patuh, kehidupannya sudah sempurnah. Punya satu orang anak dan juga Gerry sudah lebih dari cukup.
"Maafkan aku membuatmu menunggu, aku cinta kamu Gerry." Ucap Keyla membalas pelukan erat suaminya.
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu."
***
__ADS_1
Yang mencintai Keyla dan Gerry tolong tinggalkan like dan komentar dukungannya yaa 😚😚 Satu Bab lagi akan tamat, tapi tenang saja akan ada Bab bonus 🤗🤗