Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Salah Paham


__ADS_3

** Aku senang semakin hari semakin banyak yang mampir ke cerita receh aku ini. Kumohon jangan lupa untuk meninggalkan jejak. 😟😟😁 dan selamat membaca semuanya 🤗🤗 terimakasih sudah mampir 😊😊**


Keyla memasuki ruangan di mana Bagas berada kemudian memilih duduk tidak jauh dari laki-laki yang sejak tadi terus menatap teduh seperti biasa padanya.


Bagas tersenyum melihat wajah datar namun tetap terlihat cantik milik Keyla. Wajah yang selalu dia harapkan bisa dia lihat setiap hari selama hidupnya. Wajah datar yang ingin selalu dia lihat sebelum tidur dan sesudah bangun tidurnya. Keyla membalas senyuman Bagas lalu duduk di sofa yang sama dengan laki-laki itu.


" Sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan denganku Gas ?" Keyla memilih bertanya terlebih dahulu karena Bagas masih diam dan hanya terus menatap lekat padanya.


"Kata papi lima hari lagi kamu akan bertunangan Key, aku hanya ingin memastikan ini." Jawab Bagas.


" Iya Gas," Jawab Keyla. Bagas menundukkan kepalanya, hatinya terasa sesak saat ini. Semuanya akan berhenti disini, Keyla sudah memilih, dan pilihan itu bukan jatuh padanya.


"Aku terlambat, harusnya aku lebih berani untuk mengatakan ingin menikmati sisa hidupku denganmu. Aku terlambat mengatakan bahwa aku mencintaimu sejak lama Key." Kata Bagas lirih.


"Mungkin kita memang tidak di takdirkan untuk menghabiskan sisa hidup bersama lebih dari teman Gas. Aku beruntung punya kamu, Bram dan Rosa dalam hidup aku. Aku bersyukur karena kalian mencintaiku dengan begitu baik. Selama ini aku selalu membatasi diri untuk tidak terlalu dekat denganmu karena hal ini, aku sudah mencintainya sejak lima tahun yang lalu. Maafkan aku." Kata Keyla tidak kalah lirih. Sungguh dia merasa bersalah dengan laki -laki yang duduk disampingnya dan kini kembali menatap kearahnya.


"Bukan masalah Key, jangan terlalu di fikirkan. Lagi pula selama ini kamu memang tidak pernah memberikan aku harapan lebih, jadi tidak perlu merasa bersalah padaku. Aku hanya ingin memastikan hal ini darimu langsung agar bisa kembali melangkah menjemput takdirku." Kata Bagas yakin.


"Butuh pelukan ?" Tanya Keyla sambil tersenyum ke arah Bagas. Berusaha mencairkan kembali suasana yang semakin terasa sesak.


"Apa boleh memeluk calon istri orang ?" Tanya Bagas tersenyum juga. Baru kali ini Keyla bersikap seperti ini padanya dan mungkin dia tidak akan pernah lagi mendapati hal ini kedepannya.


Tanpa menunggu apapun lagi, Keyla sudah masuk kedalam dekapan hangat Bagas. Laki-laki yang selalu menatapnya hangat sama seperti Bram, laki-laki yang selalu melakukan apa saja untuk memastikan dia baik-baik saja sama seperti Bram.


" Terimakasih sudah mencintaiku Gas, aku bersyukur bisa menerima banyak cinta dari kalian." Kata Keyla pelan namun bisa di dengar oleh Bagas.


" Berbahagialah Key, bahagialah agar aku bisa benar-benar ikhlas melepasmu." Kata Bagas pelan.


"Nanti calon suaminya murka baru tahu kamu Gas." Ejek Rosa yang kini sudah berdiri tidak jauh dari Keyla dan Bagas berada untuk mengantarkan suaminya pergi bekerja.


"Kalian berdua berhutang padaku soal ini." Kata Bagas tegas pada sepasang suami istri yang semakin melangkah mendekat kearahnya dan perlahan melepaskan tubuh mungil Keyla yang berada dalam dekapnnya.


Bram duduk di sofa di hadapan Keyla dan Bagas diikuti istrinya yang juga ikut duduk di sampingnya. Mengucapkan permohonan maaf pada Bagas karena belum sempat mengatakan hal ini, karena lamaran dadakan dua hari yang lalu. Bram tahu Bagas sangat mencintai Keyla sejak dulu, meskipun adiknya itu tidak pernah membuka dirinya pada laki -laki selain dirinya.

__ADS_1


Setelah perbincangan yang memakan waktu hampir setengah jam, terpaksa harus di hentikan karena Bagas mendapat telephone darurat dari Rumah sakit. Kini Bagas sudah akan berangkat menuju Rumah Sakit tempat dia bekerja, begitupun dengan Bram dan Keyla yang sudah beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Rosa yang ikut mengantarkan kaka beradik menuju perusahaan.


Meskipun Bunda Ratih merengek belum mengizinkan Keyla bekerja sejak pagi tadi, namun akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan Keyla yang akan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Putrinya itu sama keras kepala dan acuhnya dengan sang suami, jadi mau tidak mau dia harus mengalah.


Mobil yang di kendarai Bram dan Keyla yang sedang duduk diam di sampingnya melaju di jalanan Jakarta yang semakin ramai, masih terus mengikuti mobil putih milik Bagas. Tujuan mereka hari ini adalah Rumah Sakit untuk melakukan cekup terakhir Keyla, memastikan Keyla benar-benar sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.


*******


Pagi hari di SN Company terlihat seperti biasanya. Gerry keluar dari kapsul besi yang berhenti tepat di lantai dimana ruangannya berada. Mengernyitkan dahi heran, gadis yang biasanya sudah berada di kantor sebelum dirinya tiba, belum terlihat di tempat dia bekerja seperti biasanya.


Gerry terus melewati meja dimana Rachel biasanya duduk, masuk kedalam ruangan untuk meneyelesaikan bebrapa pekerjaan yang belum sempat dia selesaikan semalam.


ddrrrttt..ddrrttt


"Maaf pak hari ini mungkin saya akan sedikit terlambat. Saya sedang berada di Rumah Sakit, ibu saya kritis." Kata Rachel setelah Gerry mengangkat panggilan dari sekertarisnya itu.


" Oh baiklah Rachel, aku hanya perlu berkas yang akan di bawa untuk pertemuan dengan klien hari ini. Apa berkas itu ada di meja kerjamu ?" Tanya Gerry.


"Semalam saya membawanya pulang pak, dan berkas itu ada di rumah sakit Medika Permata. Maafkan saya pak." Rachel semakin gusar.


"Baik pak." Jawab Rachel.


Gerry kembali turun menuju lantai dasar perusahaannya, Masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan oleh petugas kemanan di halamn kantor kemudian berlalu dari sana.


Cukup banyak waktu yang terbuang di jalan, karena ibu kota yang penghuninya seakan tidak pernah tidur. Semakin hari semakin padat, namun Gerry tetap saja melanjutkan perjalanannya meskipun sesekali umpatan keluar dari mulutnya karena beberapa pengendara yang tidak bisa menaati aturan untuk menjaga keselamatan bersama.


Di halaman sebuah Rumah Sakit, Bram sudah memarkirkan mobilnya dan membawa Keyla menuju ruangan Dokter Spesialis Ortopedi yang sudah di rekomendasikan Anggun untuk memeriksakan beberapa ruas tulang kaki juga lengan bagian kiri Keyla.


Tidak membutuhkan waktu lama, Keyla dan Bram kini sudah masuk kedalam ruangan yang sudah dua kali ini mereka kunjungi. Pemeriksaan pertama domter mengatakan tidak ada kerusakan di tulang Keyla, namun karena Keyla masih merasa nyeri dokter cantik tersebut meminta Keyla untuk kembali memeriksakan diri sebelum melakukan aktivitas padatnya.


"Apa semua baik-baik saja Dok ?" Tanya Bram


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Pak, Nona Keyla sudah bisa beraktifitas seperti biasanya." Jawab Dokter wanita yang masih fokus dengan layar di hadapannya.

__ADS_1


Setelah menerima resep juga mengucapkan terimakasih pada Dokter tersebut, Bram membawa adiknya keluar dari ruangan pemeriksaan untuk menemui Bagas terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor.


Namun Bagas tidak berada di ruangannya, sang asisten mengarahkan Bram ke arah ruangan ICCU tempat Bagas sedang menangani pasiennya.


Keyla membeku dintempatnya, laki -laki yang berdiri dengan wanita memeluk erat tubuhnya di depan ruangan yang menjadi tujuannya dengan Bram sungguh sangat dikenalnya.


"Gerry." Lirih Keyla.


Bram melihat ke arah adiknya yang sudah mematung tidak lagi melanjutkan langkahnya lalu mengikuti arah pandangan Keyla.


"Brengsek." Kata Bram geram dengan pemandangan di depannya. Laki-laki yang sedang berusaha menenangkan gadis di dekapannya adalah laki-laki yang bermohon-mohon untuk meminta adiknya.


Tidak lagi berfikir ini tempat umum atau apapun, sumpah dia akan membunuh laki-laki sialan itu sekarang juga karena sudah mengingkari janjinya.


"Sialan Gerry." Kepalan tangan Bram menghantam wajah Gerry membuat Gerry terhuyung dan jatuh di lantai rumah sakit. Begitupula dengan tubuh gadis yang berada di pelukan Gerry ikut terbawa menghempas di lantai.


Keyla berbalik pergi ketika melihat Gerry justru membantu gadis yang berada dalam pelukannya tadi berdiri. Sungguh dia belum siap tersakiti lagi. Seharusnya dia tidak terlalu cepat terbawa perasaanya sendiri dan dalam waktu singkat sudah memilih melangkah sejauh ini dengan laki-laki yang dulu sempat membuatnya menderita. Sekuat tenaga Keyla menahan air matanya untuk tidak keluar dari tempatnya, tidak ingin lagi ada air mata dengan perasaan bodoh ini.


Keyla sudah bersandar di pintu mobil di tempat parkir menunggu Bram kembali. Tidak ingin lagi menangis atau apapun, dia yang sudah salah memilih langkah, jadi tidak ada yang perlu dia tangisi lagi. Harusnya dia lebih dulu mengenal Gerry, mereka bahkan belum memiliki waktu untuk saling mengenal dan dia sudah memantapkan hatinya untuk menerima laki-laki itu melangakah bersama menuju puncak dari sebuah hubungan yaitu pernikahan.


Di depan ruangan dimana Bagas berada, Bram semakin murka karena Gerry seakan tidak perduli dengannya dan hanya membantu gadis yang ikut terjatuh karena hantamannya tadi.


Belum sempat Gerry berdiri dengan gadis itu Bram kembali meraih kerah dari kemeja laki-laki itu dan memukulnya beserata umpatan yang keluar dari mulutnya memenuhi lorong itu.


Gadis yang masih terduduk di lantai hanya terus menangis histeris, karena tidak tahu apapun yang sedang terjadi. Bagas sudah berdiri di depan pintu ruangan, pasien kritis yang dia tangani sudah kembali stabil walaupun tidak membaik.


Bagas meraih tangan Bram dari atas tubuh laki-laki yang sudah penuh dengan tetesan darah di bibirnya.


"Lepaskan aku Bagas, aku benar-benar akan membunuhnya. Beraninya dia mempermainkan adikku." Murka Bram.


Bagas mengerutkan dahinya tidak mengerti, dia tidak mengenal laki-laki yang sudah tergeletak di lantai. Kini Bagas melirik kearah Rachel yang masih terduduk di lantai dengan tangisannya.


"Jangan seperti ini Bram, ini Rumah Sakit. Orang -orang yang ada diaini memerlukan ketenangan." Kata Bagas membantu Bram pergi dari sana menuju ruangannya.

__ADS_1


"Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan adikku lagi, urusi saja sekertaris sialan mu ini." Kata Bram tegas lalu melirik ke arah Rachel yang sudah dia kenal karena beberapa kali Sanjaya mengajak gadis itu dalam pertemuannya.


" Apa seperti ini gadi yang kata papi gadis baik-baik." Batin Bagas hanya melirik miris kearah Rachel dan berlalu dari sana bersama Bram.


__ADS_2