GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Malam tiba, rumah terlihat sepi. Kenzie sibuk dengan buku pelajarannya, Kenzo dan kedua mertuanya belum pulang.


Setelah kejadian tadi, Kenzie irit bicara menjawab seadanya saja. Lama-lama kepalanya pecah memikirkan gadis yang satu ini.


"By." (Bacanya bi )


Gavin meletakkan kepalanya diatas paha Kenzie, melilitkan lengannya kepinggang ramping gadisnya.


"By?"


"Singkatan baby."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, fokus membaca bukunya kembali. Ujian semakin dekat, Kenzie harus mempersiapkan diri. Impian masuk ke universitas ternama harus terwujud.


"Elusin kepala gue!"


Kenzie menurut, mengelus lembut rambut Gavin menggunakan tangan sebelah.


Merasa bosan dengan keheningan, Kenzie menutup bukunya, beralih menatap wajah tampan itu.


"Vin."


Hening, tidak ada sahutan. Wajah tampan itu tenang, dengan napas yang teratur. Padahal jam baru menunjukkan pukul 20:00, tumben-tumbenan pria yang satu ini tidur lebih awal. Biasanya hampir tengah malam, sibuk dengan dunia game nya.


Perlahan Kenzie memperbaiki tidur Gavin, dan ikut berbaring disampingnya. Daripada bosan, mending Kenzie ikutan tidur.


"Baby." Bisik Kenzie tepat didepan wajah Gavin, sembari terkekeh geli.


_________


Matahari masuk dari celah-celah jendela, mengusik tidur Gavin. Perlahan manik hitam itu terbuka, menatap langit-langit kamar.


"Kak."


"Hm, kakak masih ngantuk."


Gavin mengerutkan dahinya, menoleh kearah ranjang sebelahnya. Terlihat kepala kecil dibalik selimut, tidur ditengah-tengah mereka berdua memeluk erat tubuh gadisnya.


Mereka berdua terlihat akur, Kenzie memeluk tubuh kecil Kenzo dengan erat, upbegitu sebaliknya.


"Ken."


Siempunya menghela napas panjang, membuka matanya perlahan.


"Ngantuk."


Gavin terkekeh, mengubah posisi tidurnya menghadap kearah Kenzie menangkup wajah cantik itu dengan gemas.


"Udah siang, masa tidur lagi."


"5 menit."


"Gak."


"Vin."


"Gak boleh sayang, sarapan dulu baru lanjut tidurnya."


Kenzie berdecak kecil, menatapnya tajam dengan wajah datar. Semalaman tidurnya terganggu, Kenzo pulang hampir larut malam. Terpaksa Kenzie memanaskan makan malam kembali, dengan menahan ngantuk sesekali menguap.


Si*lnya setelah kenyang, pria kecil ini malah merengek ingin tidur di kamarnya. Memintanya


memeluk tubuh kecil itu, sembari mengelus punggungnya yang terasa pegal. Sekarang suami sendiri malah ikutan mengangu tidurnya.


"Kalo lapar delivery aja, gue masih ngantuk."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengelus lembut rambut gadisnya tanpa menyadari manusia kecil ditengah-tengah mereka merasa sesak.


"Kak."


Gavin tersadar, membuka selimut tebal yang hampir menutupi tubuh kecil itu.


"Ngapain?"


"Bang Gavin mah gak seru, Kenzo gak bisa napas."


"Pelanin suaranya, Kakak tidur."


Kenzo mendongakkan kepalanya keatas, menatap wajah Kenzie yang terlihat tenang. Perlahan tubuh kecil itu naik keatas, memeluk kepala Kenzie dengan erat.


Gavin terkesiap, menatap punggung kecil itu memperlakukan Kenzie dengan baik. Padahal hari pertama bertemu, kesan Kenzo terhadap Kenzie kurang bersahabat. Gavin pikir pria kecil ini nakal.


"Sana mandi, biar Abang yang jagain."


"Gak usah bang, Kenzo aja."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti Abang cari kesempatan."


Gavin tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut Kenzo gemas.


"Gak papa, biar Kenzo cepat punya adek."


"Serius?"


"Iya, yang lucu-lucu. Nanti Abang buat yang banyak."


Mendengar kata lucu dan adek Kenzo tersenyum lebar. Melepaskan pelukannya, bergegas turun dari ranjang.


"Kenzo tunggu besok yah bang." Ucap Kenzo kegirangan, masuk kedalam kamar mandi.


"Bocil, Lo pikir begituan gampang? Mana kakak Lo susah diajak."


Gavin mendengus kesal, mencuri ciuman dari bibir mungil itu mumpung siempunya tertidur.


________


Entah berapa lama Kenzie tidur, tubuhnya terasa remuk matanya terasa berat. Bukannya segar, malah pegal.


Kenzie melirik jam diatas nakas, pukul 10:00. Rekor terbaru, baru kali ini Kenzie tidur sampai jam 10, biasanya jam 12. Hari Minggu biasanya Kenzie menghabiskan waktu tidur seharian, sore nya sang Ibunda tersayang berpidato.


Mulai dari sore, sampai malam. Balik ke pagi, sampai ke Minggu. Bundanya akan mengungkit itu setiap hari.


"Ck, pusing."


Kenzie mengikat rambutnya asal, perlahan bangkit dari tempatnya melangkah kearah kamar mandi.


Rumah terlihat sepi, terdengar tawa dari luar. Ternyata kedua pria itu bermain sepak bola, sesekali tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu, Kenzie merinding sendiri melihatnya.


"Vin."


Kenzie berdiri tepat dibelakangnya, menarik-narik ujung kaos Gavin.


Siempunya berbalik, tersenyum manis kearahnya sembari mengacak-acak pucuk rambutnya.


"Udah bangun?"


"Gak, masih tidur."


"Pantasan."


Kenzie memutar matanya jengah, menjulurkan tangannya kearah Gavin.


"Buat?"


"Beli makan di warung depan. Kalian berdua udah makan?"


"Udah."


Gavin meronggoh saku celananya, mengeluarkan dompetnya menyerahkan kearah Kenzie.


"Ck, gue minta uang. Bukan dompet."


"Ambil sendiri apa salahnya coba."


"Masalahnya itu bukan punya gue,"


"Tapi–"


"Yah, cepatan gue udah lapar. Uang jajan gue udah habis, belum minta sama ayah."


"Mulai besok minta sama gue, bukan sama ayah."


Gavin mengeluarkan selembar uang merah, menyondorkan nya kearah Kenzie melihat reaksi gadisnya.


Bukannya marah, Kenzie malah kegirangan menerima selembar uang merah itu.


"Makasih Loh yah,"


"Gak kurang?"


"Gak, ini mah udah banyak. Gue udah bisa makan sepuas-puasnya."


Kenzie tertawa sendiri, menatap uang itu sembari melangkah sebelum Gavin menahan pergerakannya.


"Gue ikut."


Sontak Kenzie melototkan matanya, berbalik menghadap kearah Gavin dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Gak, Lo gak boleh ikut."


"Kenapa?"


"Baju Lo."

__ADS_1


Gavin mengikuti arah tatapannya, kaos oblong berwarna putih yang melekat di tubuhnya hampir basah.


Tidak mungkin Kenzie membawa suaminya dalam keadaan seperti itu, yang ada kaum hawa tergoda. Dia saja sedari tadi tergoda melihat pemandangan itu, apalagi Gavin jarang berpenampilan seperti ini.


Rambut berantakan, keringat membasahi tubuhnya, kaos putih basah menampakkan perut kotak-kotaknya.


"Bentar."


Gavin berlari terbirit-birit masuk kedalam rumah, hanya hitungan detik Gavin keluar sembari memasangkan baju nya.


"Ayo."


Gavin merangkul pundaknya, berjalan beriringan di ikuti Kenzo dari belakang.


"Tempatnya dimana?"


"Di ujung."


"Kalo rumah si Rian Rian itu mana?"


"Buat apa? jangan-jangan Lo suka sama Rian?"


"Ngawur."


Kenzie tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan wajah kesal pria disampingnya.


Sampai di tempat tujuan Gavin mendiaminya, memilih duduk di kursi panjang diikuti Kenzo yang sedari tadi diam mengikuti mereka berdua.


"Kenzo makan?" Tanya Kenzei.


"Iya, nasi goreng."


"Lo?" Tanyanya ke arah Gavin.


Siempunya hanya mengelengkan kepalanya, tanpa berniat membalas ucapannya.


"Siapa neng?" Tanya pria paruh baya penjual makanan tersebut, menunjuk kearah Gavin.


"Cowok itu?"


"Iya yang tampan."


"Suami saya pak."


"Kapan nikah nya?"


"Bulan yang lalu."


"Neng Kenzie nikah muda gak ngundang-ngundang bapak."


"Maaf, pak. Pernikahannya privasi."


"Gak papa neng, tapi kalo lahiran undang bapak yah."


Kenzie menelan salivanya kasar, tersenyum tipis kearah pria paruh baya itu. Tidak Gavin, orang lain malah ikutan. Mereka pikir melepas keperawanan itu gampang, mana mereka masih muda.


"Semoga cepat dapat momongan, bapak doain."


"Eh, makasih pak."


Kenzie beranjak dari tempatnya, sebelum pembicaraan ini semakin panjang.


"Duduk di samping gue!"


Kenzie menurut, duduk disamping Gavin dengan wajah yang memerah.


"Lo kenal?" Tanya Gavin kebetulan melihat interaksi gadisnya dengan penjual tersebut.


"Hm, kita berdua sering ke sini."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, dengan tatapan tidak lepas dari gadisnya. Banyak pasang mata menoleh kearahnya membuat Gavin risih sekaligus kesal.


"Sebentar lagi Lo bakalan terkenal di kom–"


"Kenzie!"


Ucapan Kenzie terpotong, bersahutan dengan lengan menyentuh pundaknya. Tapi itu hanya sedetik, Gavin lebih dulu menyentaknya.


"F*ck you." geram Gavin, menunjukkan jari tengahnya kearah Rian.


Sontak semua mata tertuju kearah mereka, melongo tidak percaya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gavin.


"Vin, mulut Lo. Punya suami sebiji kelakuannya gak ada yang benar." bisik Kenzie sembari mencubit paha kekar Gavin.


__________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


STAY TUNED 🌱


__ADS_2