
Pukul 06:25, Gavin sudah terlihat rapi. Mulai dari rambut yang disisir rapi, seragam putih dimasukkan kedalam celana dan dasi yang melilit dilehernya.
Hari yang berbeda, awal perjuangan Gavin akan dimulai. Belajar bisnis disela-sela kesibukan belajarnya mungkin sedikit sulit, tapi Gavin akan berusaha.
"Mau kemana?" Tanya Kenzie yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Keliling dunia."
"Kok gue gak di ajak?"
"Kapan-kapan aja, gue gak minat."
"Jahat banget sih Vin."
Kenzie mencubit pinggang Gavin, mencibir ucapannya barusan. Di ajak bercanda jawabannya malah melenceng.
Kenzie melipat kedua tangannya, meneliti penampilan Gavin dari bawah sampai atas.
"Kalo begini ceritanya, gue bangga Vin. Mulai besok harus begini,"
"Kalo gue gak mau gimana?"
"Terserah."
Gavin tertawa kecil, memutar tubuh kecil gadisnya dan melilitkan lengannya kepinggang ramping Kenzie. Memeluk tubuh kecil itu dari belakang.
"Jadi ceritanya, bangga sama suami?"
"Gak, kepedean."
Kenzie berusaha melepaskan pelukannya, tapi naas kekuatan Gavin lebih kuat.
"Ck, apaan sih Vin. Jauh-jauh sana, nanti kita terlambat."
"Bentar."
"Ngapain lagi?"
"Cuman peluk."
"Cuman Lo bilang? Tangan Lo udah nakal mulai dari tadi."
"....."
"Mesum."
Gavin tertawa terbahak-bahak, melihat wajah cantik itu memerah menahan kesal. Lagian apa salahnya, Kenzie saja yang terlalu takut.
"Pulang sekolah gue tunggu, cuman yang diatas. Mencicil, tunggu dapat full."
"Mimpi."
"Kalo ada yang nyata, kenapa harus mimpi?"
"Ngawur."
Kenzie keluar dari kamar, di ikuti Gavin yang tidak henti-hentinya mengodanya.
"Sayang."
"Bising."
"Pulang sekolah yah."
"Ngomong apaan sih."
"Cuman yang di–"
"Ken!"
Ucapan Gavin terpotong, terlihat Rian sudah stand by didepan pintu. Sontak Gavin mengusap wajahnya gusar, menarik tubuh kecil gadisnya ke belakang tubuhnya.
Pria yang satu ini susah juga diajak kompromi, berulang kali Gavin ucapkan Kenzie istrinya. Tapi tetap aja kekeh dengan pendiriannya.
"Mau apa Lo?" Tanya Gavin ketus.
"Ken bareng yok."
Gavin menghela napas panjang, mengarahkan tatapannya kearah yang lain.
"Jawab by." Ucap Gavin kearah Kenzie.
__ADS_1
"Ha?"
"Jawab!"
"Kenapa gue yang jawab?"
"Dia ngomongnya sama Lo."
Kenzie mengelengkan kepalanya, melangkah kearah dapur tanpa memperdulikan kedua pria tersebut. Emang mereka pikir dia apaan? Gavin juga, udah jadi suami gak tau mengatasi masalah sekecil itu.
"Kenzo! Sarapan." Teriak Kenzei dengan kesal.
Moodnya hancur berantakan, sepertinya dia sendiri yang harus turun tangan mengatasi Rian. Punya suami, tapi tidak bisa diandalkan.
"Kenzo udah sarapan kak." Sahut Kenzo, melangkah mendekat kearah Kenzie.
"Kenzo duluan yah kak."
"Iya, hati-hati. Pulang sekolah langsung pulang, jangan keluyuran."
"Siap."
Kenzo berlalu dari dapur, bergegas Kenzie keluar dari pintu belakang memilih jalan pintas menghindari Gavin terutama Rian.
Sebelumnya Kenzie sudah biasa jalan dari belakang rumah, jalan setapak dekat dengan jalan raya. Di ujung jalan, Kenzie tinggal naik angkot saja.
"Kenzie!"
Gavin grasa grusu mencari keberadaan Kenzei, yang sayangnya dapur sudah kosong.
"Gara-gara Lo sih." Geram Gavin, bergegas menutup pintu dengan cepat masuk ke dalam mobil.
__________
Gavin terlambat, bel keburu berbunyi tepat mobilnya terparkir di parkiran. Dari kejauhan Kenzie terlihat mengatur barisan seperti biasanya.
"Ck, gara-gara si Rian Rian." Gerutu Gavin.
Selama mengatur barisan, Kenzie celinguk kesana kemari mencari keberadaan Gavin. Tapi sayangnya, hingga barisan bubar manusia yang ia cari belum ketemu juga.
Gavin mana sih? Batin Kenzie.
"Kak Kenzie, satu orang terlambat di ruang BK." Ucap Putri salah satu anggota OSIS.
"Belum kayaknya."
"Oke." Balas Kenzie singkat.
Dengan wajah yang ditekuk, Kenzie melangkah masuk kedalam ruang BK. Sontak matanya melotot, melihat manusia yang ia cari duduk dengan manisnya di sofa ruang BK.
"Ngapain Vin?"
"Terlambat ibu ketua OSIS yang terhormat."
"Alasan, sana keluar!"
"Hukumannya apa? Berduaan di kamar mandi? atau keliling lapangan berdua?"
"Ngawur."
Kenzie keluar dari ruang BK, mengelengkan kepalanya melihat tingkah Gavin. Biasanya orang-orang menghindar dari hukuman, dia malah datang sendiri.
"Ketua OSIS, woi!"
Gavin bergegas bangkit dari tempatnya, mensejajarkan langkahnya dengan Kenzie.
"Hukumannya apa?"
"Gue gak mood."
"Oh, mau nya dirumah? Gak papa, gue malah suka."
"Jangan ngada-ngada Vin."
"Honeymoon?"
"Gavin!"
"Iya, sayang."
Kenzie menghentikan langkahnya, menatap Gavin dengan tatapan tajam dan napas yang memburu.
__ADS_1
"Lo yah benar-benar."
"Kenapa? Minta di hukum? Di rumah aja jangan disini."
"Gavin!"
"Iya-iya."
Gavin menghela napas panjang, menyerah membujuk gadisnya. Bukannya tersenyum atau apa gitu, malah marah-marah.
"Masuk kedalam ruangan!"
"Hm."
"Yaudah sana!"
Gavin mencibir, menatap Kenzei dengan tatapan mengobarkan permusuhan. Ingin rasanya Kenzie tertawa terbahak-bahak, wajah tampan itu terlihat lucu di matanya.
"Biar Lo tau–"
"Apa?" Sergah Kenzie.
"Gue sengaja keluar masuk ruang BK, sekalian lihat istri."
Kenzie menghela napas pasrah, melongos begitu saja meninggalkan Gavin. Terserah suaminya melakukan apa, mama mertuanya saja sudah menyerah apalagi Kenzei.
__________
Bel pulang berbunyi, bergegas Gavin keluar hendak menemui gadisnya. Tapi dari kejauhan punggung kecil itu terlihat buru-buru, keluar dari pekarangan sekolah.
Saking penasarannya, Gavin melangkah lebar mengikuti Kenzei. Tepat didepan gerbang, terlihat Kenzie naik keatas motor seseorang.
"Rian? Br*ngs*k."
Gavin bergegas masuk kedalam mobil, mengikuti motor Rian dari belakang.
"Taman dekat kompleks." Teriak Kenzie.
Rian hanya mengangguk kan kepalanya, tersenyum lebar dibalik helm full facenya.
Tumben-tumbenan Kenzei mengajaknya keluar, apalagi berduaan seperti ini. Biasanya ada Kenzo penghalang kedekatannya dengan Kenzei.
Suatu kemajuan, rencana Rian mendapatkan hati Kenzie akan berjalan mulus.
Tak terasa motor Rian berhenti, tepat di taman dekat kompleks perumahan.
"Kita duduk di sana aja." Tunjuk Kenzie, kursi taman dibawah pohon rindang.
Rian hanya mengangguk kan kepalanya, mengikuti Kenzei dengan senyuman yang tidak pernah luntur di wajahnya.
"Langsung to the point." Ucap Kenzie tanpa basa-basi.
Takutnya Gavin tau pertemuannya dengan Rian, malah salah paham. Kebetulan pertemuan ini diam-diam, karena izin sekalipun, Gavin tetap tidak memperbolehkannya.
Kenzie hanya menceritakan kebenarannya dengan pria yang satu ini, bagaimanapun juga Rian salah sasaran. Gadis yang ia dekati, bukan hanya sebatas gadis saja. Tapi sudah terikat pernikahan dengan seseorang.
Walaupun perasaan Kenzie masih abu-abu, tapi bukan berarti ia selingkuh di belakang Gavin. Ia sudah dewasa, sudah tau membedakan yang benar dan salah.
Kenzie menarik napas dalam-dalam, membuangnya perlahan.
"Gue nikah muda hampir memasuki 2 bulan, jangan bilang Lo gak percaya. Gue gak butuh kepercayaan Lo, gue cuman mau bilang, jangan sering-sering datang kerumah. Gue gak mau suami gue salah paham." Jelas Kenzie sekali tarikan napas.
Sontak Rian melototkan matanya, jantungnya berdetak kencang mendengar ucapan Kenzie. Ternyata ucapan Gavin benar, bukan hanya sebatas candaan.
Karena dari awal, Rian tidak pernah percaya dengan ucapan pria yang satu itu.
"Suami gue Gavin, pria yang selama ini Lo lihat di rumah bunda. Orangnya pencemburu, jadi gue harap Lo mengerti. Gue duluan."
Kenzie hendak bangkit dari tempatnya, sebelum lengan Rian menahan pergerakannya.
"Aku mau ngomong sesuatu, bentar aja gak lama kok." Ucap Rian serius.
"Ngomong aja."
"Aku menyukaimu."
"Ha?"
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI DAN TERIMAKASIH UNTUK DUKUNGANNYA:)
__ADS_1
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓