
"Nak Kenzie, jangan dimasukin ke hati yah." Bisik istri pak Harto.
Wanita paruh baya lainnya juga tersenyum kearahnya, sebagai pendukung dan permintaan maaf.
Orangtua Gavin banyak bercerita tentang alasan pernikahan mereka. Penghuni desa mengerti akan hal itu, karena sebagai orangtua selalu berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.
Mungkin jika mereka dalam situasi itu, dalam artian banyak uang juga seperti orangtua Gavin. Mungkin melakukan hal yang sama.
"Nak Kenzie maaf yah. Anak ibu sedikit bermasalah, mental nya hancur karena gagal menikah beberapa tahun yang lalu." Jelas salah satu wanita paruh baya, tepat duduk disamping Kenzie.
Sontak Kenzie melototkan matanya, jantung berdetak kencang mendengar penjelasan wanita paruh baya itu.
"Udah dibawa berobat Bu?" Tanya Kenzie.
"Udah, kata perobatnya (psikolog) dia sendiri juga harus menerima kenyataan. Dan percaya kuasa yang diatas. Anak ibu sendiri yang menumbuhkan penyakit itu, jadi harus dia sendiri yang mengendalikan, dengan mengandalkan Tuhan didalamnya."
Wanita paruh baya itu meneteskan air mata, sembari mengengam jemari lentik Kenzie.
"Jangan dimasukkan ke hati yah nak."
Kenzie tersenyum hangat, mengelus lembut punggung wanita paruh baya itu.
"Gak papa Bu, Kenzie paham. Udah ibu jangan nangis, nanti kakak nya lihat, jadi ikutan sedih."
Wanita paruh baya itu menghapus air matanya, menatap Kenzie dengan tatapan lembut.
Jangankan wanita paruh baya itu, ibu-ibu lainnya juga ikut senang melihat Kenzei. Udah cantik, sopan lagi.
"Setiap orang memiliki pilihan hidup, menurut ema nak Kenzie hebat memilih keputusan nikah muda. Tak semua wanita mampu bertahan dalam kehidupan pernikahan, apalagi masih muda." Ucap istri pak Harto.
"Seperti anak ibu, banyak pria yang berbondong-bondong datang kerumah, setelah mengetahui gagalnya Pernikahan itu. Tapi dia tetap dengan pilihannya, akhirnya terjebak dalam lingkaran setan." Jelas wanita paruh baya itu.
Kenzie hanya diam, mencerna setiap kata yang masuk kedalam pendegaranya.
Hingga terdengar suara bariton mendekat, dari kejauhan terlihat sekumpulan pria paruh baya mendekat kearah mereka. Didepan ada pak Harto dan Gavin, dengan senyuman manis terukir indah dibibir tebal itu, yang ditunjukkan kearahnya.
Tapi sayangnya Kenzie tidak mood membalas senyuman itu, walau didalam hati memuji ketampanan suaminya walau dalam keadaan seperti itu. Hingga tubuh kekar itu mendekat, duduk tepat disampingnya.
"Kenapa mukanya ditekuk begitu?" Bisik Gavin, tepat ditelinga Kenzie.
Siempunya hanya mengelengkan kepala, menoleh kearahnya sembari menyodorkan botol aqua bekasnya. Dengan senang hati Gavin menerima itu, meminumnya hingga tandas.
Wajah tampan itu memerah, keringat membasahi tubuhnya.
"Capek banget yang." Bisik Gavin, takutnya ada yang mendengar ucapannya.
"Sana mandi, baru makan. Aku udah masak tadi." Ucap Kenzei sedikit berbisik, sembari fokus mengupas kentang.
Gavin hanya diam mengatur napas, hingga maniknya menangkap bercak merah diarea leher putih itu yang sedikit terlihat. Dengan sigap, menaikkan sedikit hodiie yang Kenzie gunakan, menutupi tanda kemerahan itu.
"Nak Kenzie, pulang aja dulu. Nanti sore datang ke rumah ema." Ucap istri pak Harto.
"Iya ma."
Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah kearah rumah diikuti Gavin dari belakang.
"Cepatan mandi sana."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, melempar topinya asal berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Wajah yang semula memerah, penuh dengan keringat. Kini segar dengan handuk melilit dipinggangnya.
"Duduk!" Ujar Kenzie.
Gavin menurut, duduk di tepi ranjang dihadapan Kenzie. Sebelum pantatnya menyentuh ranjang sepenuhnya, tubuhnya langsung diputar membelakangi tubuh kecil itu.
Hingga terasa jemari lentik itu menyentuh punggungnya, aromaterapi menguar kedalam rongga hidung nya.
"Kerjanya gimana?" Tanya Kenzie, sembari memijat lembut punggung kekarnya.
"Udah kelar."
Kenzie menghela napas lega, mengambil alih baju ganti yang sudah ia siapkan. Meletakkannya diatas pangkuan Gavin.
"Pakai!"
Gavin kembali menurut, memakai pakaiannya tepat dihadapanya tanpa rasa malu sedikitpun. Toh mereka sudah melakukan hal lebih dari sekedar ciuman, jadi apalagi yang ditutupi.
"Ema bawa kemana tadi?" Tanya Gavin, sembari mengantungkan handuk ditali gorden.
"Ke ladang."
"Ngapain?"
"Panen yang kami kupas tadi."
__ADS_1
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengambil handuk kecil dari atas koper meletakkannya di atas pangkuan Kenzie. Dengan sigap Kenzie bangkit dari tempatnya, mengeringkan rambut suaminya.
"Emang di ladang gak banyak nyamuk?"
"Lumayan, tapi kan aku pakai jaket."
"Tetap aja."
"Iya-iya."
Gavin hanya tertawa kecil, melilitkan kedua lengannya di pinggang ramping Kenzie. Menyadarkan kepalanya di perut rata istrinya.
"Makan dulu, baru tidur."
Kenzie meletakkan handuk kecil diatas ranjang, mengelus lembut rambut suaminya yang mulai mengering.
"Capek banget yang."
"Mau aku pijitin lagi?"
Gavin hanya mengelengkan kepala, seraya mengeratkan pelukannya. Dia hanya butuh Kenzie, sekedar memeluk tubuh kecil nya.
"Makan dulu yah."
"Malas."
"Aku suapin mau?"
Sontak Gavin mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah cantik itu dengan senyuman lebar.
"Boleh?"
"Kenapa gak? Aku ambil makan dulu."
Gavin melepaskan pelukannya, duduk ditengah-tengah ranjang menunggu Kenzie dari dapur. Hingga tubuh kecil itu kembali masuk kedalam kamar, membawa sepiring nasi dan segelas air putih.
Dengan telaten Kenzie menyuapi bayi besarnya, sesekali menyendokkan kedalam mulutnya.
"Mereka ngomong apa?" Tanya Gavin, sembari mengunyah. Gavin tau ada yang tidak beres, karena wajah cantik itu terlihat berbeda mulai dari tadi.
Spontan Kenzie mengelengkan kepala, menutupi hal tidak seharusnya Gavin tau.
"Jangan dimasukin ke hati yah. Cerita sama aku, jangan disimpan sendiri."
"Kenapa, hm?"
Gavin menangkup wajah cantik itu, mengelus lembut dengan tatapan menenangkan.
"Pengen nangis."
Sontak Gavin tertawa kecil, menarik tubuh kecil istrinya kedalam dekapannya. Hingga terdengar isakan kecil, bahu bergetar.
Jemari lentik itu memeluknnya erat, seraya menumpahkan isi hatinya. Sebenarnya sejak awal ucapan itu keluar dari mulut wanita itu, Kenzie ingin menangis, rasanya malu dan benci dengan diri sendiri.
"Vin."
"Iya sayang, aku di sini."
Gavin mengeratkan pelukannya, sesekali mencium pucuk rambut Kenzie. Ia membiarkan istrinya menangis sesuka hatinya, baru Gavin memaksanya menceritakan kejadian sebenarnya.
"Vin, ngantuk."
"Katanya pengen nangis, sekarang mau bobo."
Gavin menangkup wajah cantik itu, menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya.
"Cerita dulu, baru bobo."
"Gak mau."
"Aku maksa!"
Kenzie hanya mengerucutkan bibirnya, melepaskan pelukannya dengan ragu. Perlahan membaringkan tubuhnya membelakangi Gavin.
Rasanya tidak mau menambahi beban suaminya, apalagi hukuman yang mereka terima menurut Kenzie cukup berat. Gavin anak kota, bukan anak petani. Jemari besarnya tidak pernah menyentuh cangkul. Tapi demi sebuah hukuman, suaminya rela naik turun gunung mencangkul tanah yang berlumpur.
Gavin hanya menghela napas panjang, ikut berbaringkan di samping Kenzie, sembari mengelus lembut rambut panjang istrinya.
"Aku gak tau mereka ngomong apa. Tapi aku mohon, jangan dimasukin ke hati yah." Ucap Gavin lembut.
Spontan Kenzei membalikkan tubuhnya, memeluk erat tubuh kekar itu.
"Namanya juga hidup yang, gak ada yang gampang. Bikin anak aja butuh proses, tunggu sembilan bulan baru jadi."
"Makanya sering-sering begituan biar langsung jadi. Itu kan maksud kamu?" Sergah Kenzie.
__ADS_1
"Ternyata istri aku paham juga, gak perlu dikasih kode."
"Mesum."
Gavin hanya terkekeh geli, sembari memukul kecil punggung istrinya.
"Bobo, nanti aku bu*tingin."
"Ck, tinggal nunggu."
"Oh, iya yah. Mommy udah Daddy tidurin tiap malam."
"Gavin."
"Iya-iya, maaf. Kamu bobo aja, nanti sore kerumah ema. Malam nya kita olahraga seperti biasa."
"Berapa ronde?"
"Aku pikir-pikir dulu."
"Dasar, mesum."
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, memilih memejamkan mata sembari mengelus lembut punggung kecil istrinya. Hingga terdengar dengkuran kecil, wajah tampan itu terlihat tenang dengan napas yang teratur.
"Vin, makasih yah." Bisik Kenzie, seraya mengeratkan pelukannya.
_______________
Langit sore terlihat dari jendela, Gavin baru bangun dari tidurnya tanpa berniat bangkit dari tempatnya. Hingga terdengar benturan kecil, bersahutan ringisan kecil.
"Kenapa?" Tanya Gavin khawatir.
"Gak papa." Kilah Kenzie, sembari mengelus siku nya yang memerah.
"Lain kali hati-hati."
"Iya."
Gavin hanya menatap punggung kecil itu, terlihat sibuk mengobrak abrik isi koper. Hingga terlihat Kenzie mengeluarkan jaket nya, memasangkan ketubuh kecilnya.
"Sekarang cosplay jadi maling?"
"Siapa suruh bikin tanda dileher aku, udah banyak, susah banget lagi dihilangin." Omel Kenzie.
"Yah harus."
"Terserah."
Kenzie mengikat rambutnya kucir kuda, yang sayangnya leher putihnya semakin terekspos.
"Kamu gak bawa bedak?" Tanya Gavin, sembari bangkit dari tempatnya.
"Gak, emang kenapa?"
"Sini."
Kenzie menurut, duduk di tepi ranjang tepat dihadapan Gavin. Hingga ikat rambutnya ditarik, rambut panjangnya tergerai bebas.
Dengan serius Gavin mengikat rambutnya kembali, berusaha menutupi tanda kemerahan di area leher istrinya.
"Ikat setengah aja yah, biar tertutupi."
"Emang nampak?"
"Lumayan."
Gavin menarik hodie yang Kenzie gunakan, hingga menutupi area leher.
"Udah."
Spontan Kenzei bangkit dari tempatnya, meraih jaket yang lain dari dalam koper. Meletakkannya diatas pangkuan Gavin.
"Aku duluan, nanti pakai jaket nya kalo keluar rumah." Peringat Kenzie, dengan gemas mengacak-ngacak pucuk rambut suaminya dan melangkah lebar keluar dari rumah.
Sontak Gavin tersenyum lebar, senang dengan perhatian kecil itu.
"Makin cinta jadinya." Gumam Gavin, seraya memakai jaketnya dan berlari-lari terbirit-birit keluar dari kamar.
Tepat Gavin membuka pintu, terlihat seorang wanita berdiri tak jauh dari tempatnya, menoleh kearahnya dengan tatapan tanpa berkedip.
_____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
__ADS_1