
Minggu pagi hingga malam, Gavin hanya belajar. Sesekali melirik kearah Kenzei, sekedar menyapa bibir mungil itu dengan bibir tebalnya.
Siempunya hanya diam, tanpa mengubris tingkahnya. Tepat kecupan manis yang entah keberapa kalinya, jemari lentik itu langsung menahan tengkuknya.
Sontak mata Gavin melotot, tubuh kecil itu bangkit dari tempatnya duduk di atas pangkuannya.
Kecupan manis itu berubah menjadi kecupan mesra, kedua jemari lentik itu mengalung indah dibelakang lehernya. Hingga jemari besar Gavin, melingkar di pinggang ramping gadisnya, seakan memperdalam ciumannya.
Merasa pasokan napas mereka habis, Gavin mengehentikan kecupan mesra itu. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher Kenzei, dengan napas yang memburu.
"Vin."
"Iya."
Kenzie menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya, menatap manik hitam itu dengan tatapan lembut.
"Kenapa sayang?" Gavin tersenyum manis, menyelipkan helaan rambut gadisnya.
"Besok hari apa?"
"Senin." Balas Gavin singkat.
Kenzie menghela napas panjang, mengecup bibir tebal itu dengan lembut. Jujur Gavin terkesiap, baru kali ini gadisnya melakukan hal semacam ini.
"Besok hari pertama tantangan di mulai, aku gak maksa kemampuan kamu. Apa yang kamu bisa, cukup itu yang kamu lakukan. Aku gak butuh hasil yang tinggi, cukup lakukan semampu kamu."
"Gak usah maksain diri, berapa pun hasilnya. Aku tetap kasih apa yang seharusnya yang jadi milik kamu." Jelas Kenzie lembut.
Gavin tersenyum hangat, menganggukan kepalanya pelan.
"Ingat yang ibu Dora bilang, tahun depan gak boleh ada absen. Usahakan hadir."
"Iya."
"Aku gak mau kamu jadi bahan omongan orang lain, apalagi sampai di marahin. Cuman aku yang boleh marahin kamu." Ucap Kenzei, tanpa sadar air mata membasahi pipinya.
"Hei, kok nangis?"
"Vin, jangan sering bolos lagi. Aku gak mau kamu kena masalah dari sekolah."
"Iya."
"Jangan cuman iya. Aku ketua OSIS tau, aku tau apa yang sering guru omongin. Aku tau kamu jadi bahan ejekan, aku gak suka Vin."
Kenzie sesungukan, menatap manik hitam itu dengan tatapan teduh. Bagaimanapun juga Gavin suaminya, pria yang akan jadi ayah dari anak-anaknya nanti.
Walaupun cinta belum hadir, tapi rasa sayang sebagai teman pelindung itu hadir.
"Cuman aku yang boleh marahin kamu, cuman aku yang boleh ejekin kamu."
"Iya."
Kenzie mengerucutkan bibirnya kebawah, hingga bibir tebal itu terkekeh geli.
"Jangan nangis."
"Vin."
"Iya kenapa, sayang?"
Gavin menghapus jejak air mata gadisnya, dengan menahan air mata yang sebentar lagi akan luruh dari pelupuk matanya.
"Kalo ada masalah, cerita sama aku. Jangan di tahan sendiri."
"Iya."
"Jangan cuman iya mulu, kesal aku lama-lama."
"Makasih."
Kenzie tersenyum manis, menganggukan kepalanya antusias.
"Bantu aku yah, kalo suami kamu ini nakal lagi. Cubit aja, asal jangan tinggalin."
"Ngomong apaan sih, siapa juga yang mau ninggalin kamu."
"Terimakasih Baginda ratu."
"Sama-sama, besok harus semangat. Gak boleh mencontek."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, perlahan bangkit dari tempatnya sembari mengendong tubuh kecil gadisnya.
"Aku udah ngantuk."
"Jelas, mulai dari pagi kamu belajar tanpa off."
"Namanya juga berjuang yang."
__ADS_1
Gavin mematikan lampu, menggantinya dengan lampu tidur. Perlahan naik keatas ranjang, membaringkan tubuh mereka berdua tanpa melepaskan pelukannya.
"Besok kalo kamu duluan bangun–"
"Iya aku bangunin." Sela Kenzie, memotong ucapan suaminya.
"Tidur, jangan melamun."
Kenzie membawa kepala Gavin tepat didepan dadanya, menutupi seluruh tubuh kekar itu dengan selimut, seperti kebiasaan suaminya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie memeluk erat kepala Gavin yang tertutupi selimut.
"Kamu gak marah?" Tanya Gavin bingung.
"Gak, tidur aja."
Gavin tersenyum manis dibalik selimut, membalas pelukan gadisnya tak kalah erat.
Jujur tidur posisi seperti ini favoritnya. Dulu sebelum dewasa, mama nya sering memeluknya erat seperti yang dilakukan gadisnya.
Tapi setelah dewasa, kedua orangtuanya seakan lupa dengan anak sendiri. Padahal tanpa mereka ketahui, tahap beranjak dewasa seperti ini anak butuh kasih sayang terutama perhatian.
Ingat calon ibu-ibu atau yang sudah jadi ibu-ibu. Umur anak menginjak dewasa adalah tahap yang paling sulit. Butuh teman, tapi sayang hubungan toxic (palsu) kebanyakan. Hanya orangtua yang dibutuhkan di sini, jadi jangan ditekan. Kalo pun depresi atau stress ringan, jangan dimarahin. Tapi jadilah teman. Just reminder, sekedar pengingat.
Dewasa tak seindah yang dibayangkan, banyak tantangan yang harus dilewati. Kadang sahabat pun toxic (palsu).
___________
Pukul 06:00 Gavin selesai ritual mandinya, dari kamar sebelah. Bertepatan Gavin masuk kedalam kamar, Kenzei baru keluar dari kamar mandi dengan handuk diatas kepala.
Pemandangan yang indah, tubuh ramping dibalut tank top hitam, dengan celana pendek menampakkan kaki mulusnya.
Gavin tidak sabar, melihat pemandangan yang lebih indah dari itu. Saat tubuh kecil itu keluar dari kamar mandi, hanya dililit handuk. Layaknya istri pada umumnya.
"Jangan melamun, sini nanti masuk angin." Ucap Kenzei, menyadarkan lamunannya
Sontak siempunya tersadar dari lamunannya, menutup pintu kamar dan melangkah mendekat kearahnya.
"Bahu nya masih sakit?"
Kenzei mendudukkan tubuh kekar itu ditepi ranjang, mengeringkan rambut suaminya dengan handuk kecil.
"Udah lumayan."
"Lain kali jangan diulangi, kalo marah datang ke aku."
"Ngapain?" Gavin mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah cantik itu dari bawah.
Gavin tertawa kecil, menanggapi ucapan gadisnya.
Merasa rambut Gavin sudah kering, Kenzie beralih ke bahu kirinya, melap dengan hati-hati.
"Aku olesin minyak kayu putih yah, biar mendingan."
"Tapi pelan-pelan."
"Iya."
Sesuai ucapan siempunya, Kenzie mengoleskan minyak kayu putih pelan-pelan. Sesekali siempunya meringgis.
"Udah ke dokter?"
"Belum."
Kenzie menghela napas panjang, beralih membuka perban yang menutupi jemari besar itu.
"Coba gerakin!"
Gavin menurut, mengerakkan kelima jarinya secara bersamaan.
"Udah baikan?"
"Udah."
"Syukur deh."
Kenzie bangkit dari tempatnya, meraih celana abu-abu yang diletakkan diatas ranjang.
"Pakai, aku mau ganti baju dulu."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, menatap punggung kecil itu berlalu masuk kedalam walk closet.
Ternyata, ada juga manusia yang perhatian sama gue. Batin Gavin.
Merasa penampilannya sudah rapi, Kenzie keluar dari walk closet mengantungkan handuk di luar balkon. Takutnya bau apek, kadang Kenzie lupa menjemur jadi mumpung diingat.
"Sini seragamnya."
Gavin tersenyum lebar, bangkit dari tempatnya sembari membawa seragam putih dan dasi abu-abunya.
__ADS_1
Dengan serius Kenzie memasangkan kancing satu persatu, hingga memasangkan dasi dileher suaminya.
"Makasih yang."
"Tidak gratis."
"Jadi?"
"Morning kiss dulu." Goda Kenzie, sembari mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Gavin.
"Dengan senang hati Baginda ratu."
Gavin langsung menyatukan bibirnya dengan bibir mungil itu, mengecup setiap sudut bibir gadisnya, dengan rasa aneh yang tiba-tiba muncul.
Jantungnya berdetak kencang, seirama kecupan lembut dibibir mungil itu. Apalagi manik lentik itu membalas tatapannya, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Semangat, harus bisa minimal diatas rata-rata." Bisik Kenzie.
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, memeluk erat tubuh kecil itu menormalkan detakan jantungnya.
____________
Pukul 07:00, Ujian di mulai. Semua materi yang diajarkan gadisnya, itu juga yang tertera di kertas ujian.
Dalam hati Gavin tersenyum senang, ingin rasanya mencium wajah gadisnya bertubi-tubi. Apalagi kata-katanya di mobil tadi, tergiang-giang dikepalanya.
"Semangat ujiannya, aku gak sabar ngeliat kamu merem. Apalagi saat, rahasia."
Bisikan Kenzie terakhir kalinya, membuat Gavin semakin semangat mengerjakan ujian. Mungkin jika Kenzie tidak hadir dalam hidupnya, Gavin tidak akan semangat mengerjakan soal ujian seperti saat ini.
Gavin memilih tidur sepanjang ujian, hingga bel berbunyi baru melingkari jawaban asal.
Tapi semua berbeda, saat sosok bidadari itu hadir dalam kehidupannya.
Tuhan, tolong Gavin kali ini aja. Batin Gavin.
Hingga bel berbunyi, ujian pelajaran pertama berakhir. Dengan senyuman lebar, Gavin menyerahkan kertas jawabannya kearah guru pengawas.
Kini mata pelajaran yang sulit, menyebalkan, mengerikan, sekaligus yang paling Gavin hindari. FISIKA.
Dengan jantung yang berdetak kencang, napas yang tercekat. Gavin membaca soal satu persatu.
Ya Tuhan, baru juga 2 soal kepala gue udah pusing. Batin Gavin.
Selama ujian Gavin hanya fokus menatap soal, sesekali menghitung rumus tanpa memperdulikan guru yang berdiri disampingnya. Mungkin Guru itu kaget, melihatnya sibuk berkutat dengan rumus.
Hingga bel berbunyi, pertanda ujian berakhir.
Dengan rambut yang berantakan, wajah kusut, bahu merosot, dan langkah gontai. Gavin menyelusuri lorong sekolah yang ramai, tanpa memperdulikan teriakan kedua sahabatnya, bahkan tatapan kagum para fans lebay nya.
Dari kejauhan Kenzei menatap punggung kekarnya, dengan mengulum senyumnya. Tanpa memperdulikan kedua sahabatnya, Kenzie melangkah lebar kearah parkiran, duduk disamping kemudi dengan senyuman lebar.
"Kenapa Vin?" Tanya Kenzei geli, menatap wajah tampan itu yang terlihat berantakan.
Siempunya menoleh kearahnya, dengan mengerucutkan bibirnya kebawah.
"Susah banget yang."
"Belajar lebih giat lagi."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya lesu, kembali bersandar dengan memejamkan mata.
"Vin."
"Hm."
"Kunci pintu mobil dong."
Gavin membuka matanya kembali, menekan tombol kunci pintu mobil.
"Kacanya tembus keluar?"
Gavin hanya menganggukan kepala, menekan tombol otomatis mode gelap kaca mobil.
"Udah mode gelap, gak bakalan ada yang–"
Ucapan Gavin terpotong, bibir mungil itu lebih dulu membungkam bibirnya. Mengecupnya lembut bagaikan kapas, hingga jemari lentik itu mengelus lembut wajah tampan nya.
"Baru permulaan, jangan lemah. Suami ketua OSIS harus kuat, pantang menyerah."
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
__ADS_1