GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
PACAR


__ADS_3

"Sayang, besok aku sekolah yah."


Spontan Kenzei membalikkan tubuhnya, menatap Gavin berdiri tepat dibelakangnya.


"Gak usah deh, aku minta izin besok sama wali kelas."


"Bosan yang di rumah mulu."


"Jadi?"


"Pengen sekolah."


Kenzie hanya mengehela napas panjang, berbalik kembali mengahadap kearah lemari menyiapkan keperluannya besok.


"Kalo aku gak ngizinin gimana?" Tanya Kenzie, seraya sibuk merapikan lemari yang berantakan karena ulah suaminya.


"Yaudah deh." Balas Gavin pasrah.


"Bukan-bukan nya apa-apa, tunggu kondisi kamu membaik dulu."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, berusaha menyeimbangkan tubuh berpegangan di bahu Kenzie. Hingga tubuh kecil itu berbalik, dengan sigap membantunya keluar dari walk closet.


"Besok pak Erwin yang jagain, tunggu aku pulang. Oke."


"Iya."


Perlahan tubuh kekarnya dibaringkan ke atas ranjang, ditutupi selimut tebal sebatas dada. Tubuh kecil itu kembali masuk kedalam walk closet, keluar membawa seragam putih dan ranselnya. Diletakkan di atas sofa.


Hingga lampu kamar digantikan dengan lampu tidur, tubuh kecil itu ikut berbaring disampingnya.


"Sayang."


"Iya, kenapa? Ada yang sakit?"


"Gak,"


"Jadi?"


"Peluk."


Kenzie hanya tertawa kecil, menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua, dan memeluk erat kepala Gavin.


Tubuh kekar itu hanya bisa tidur terlentang, menghadap ke sisi yang lain lumayan sulit. Memikirkan itu saja Kenzei hampir gila, entah bagaimana kondisi suaminya untuk kedepannya.


"Selamat malam Baginda ratu, jangan sedih aku baik-baik aja. Aku tetap di sini. Bersamamu."


Kenzie mengigit bibir bawahnya, menahan isakan tangis yang ingin keluar dari mulutnya. Air mata keluar dengan sendirinya, jemari lentiknya sesekali mengelus lembut rambut suaminya.


Hingga terdengar dengkuran kecil, baru Kenzie tenang menutup kedua mata.


____________


Pagi ini Gavin hanya duduk di sofa, menatap punggung kecil itu ke sana kemari. Sesekali mendekat kearahnya, sekedar mengecup bibir tebalnya.


Ratu iblis itu berubah drastis, bagaikan ratu tidur bangun dari tidur panjangnya.


"Sayang."


"Bentar."


Kenzie mengikat rambutnya kucir kuda, seraya mengamati penampilannya dari bawah hingga atas. Merasa sudah rapi, Kenzie keluar dari walk closet berlari terbirit-birit duduk disamping Gavin.


"Kenapa? Ada yang sakit?"


Gavin hanya mengelengkan kepala, menyondorkan segelas susu hangat yang baru saja diantar Erwin.


"Nanti pak Erwin yang antar, sekalian di tunggu di parkiran. Jangan keluyuran kemana-mana, cuman boleh di area sekolah." Jelas Gavin, seraya merapikan penampilan istrinya.

__ADS_1


Kenzie mengerutkan dahinya, meletakkan gelas kosong ke atas meja.


"Gak usah di tunggu, pulang sekolah baru di jemput. Lagian ada supir, biar pak Erwin yang jagain kamu di rumah."


"Gak terima penolakan."


"Jadi yang jagain kamu siapa? Asisten baru wanita muda itu? Iya?" Tanya Kenzie kesal.


"Sudzon mulu sih yang."


Kenzie hanya mengerucutkan bibirnya, meraih jaket suaminya dari sisi sofa yang lain, dipasangkan ditubuh kecilnya.


"Pulang sekolah aku pecat asisten baru itu, biar pak Erwin cari kerja baru buat dia."


Gavin hanya mengelengkan kepala, melihat tingkah aneh istrinya. Gak Dea, sekarang asisten rumah juga di cemburuin. Ada-ada aja.


"Gak terima? Iya?" Sergah Kenzie.


"Gak."


"Bilang aja iya."


"Iya."


"Yah, jadi kamu gak suka aku pecat asisten baru itu? atau jangan-jangan dia selingkuhan kamu lagi?" Tuduh Kenzie, seraya bangkit dari tempatnya.


"Astaga yang, kamu omongan apaan sih."


"Kamu jahat."


Spontan Gavin menutup mata dengan telapak tangannya, dan menghela napas panjang. Lama-lama Gavin gila mengahadapi wanita yang satu ini, mana kerjaanya sudzon mulu. Terlalu bucin atau cemburu, Gavin tidak tau.


"Dia selingkuhan kamu kan?"


"Ck, ngapain juga aku selingkuh. Punya bini sebiji aja aku udah pusing."


"Bohong darimana nya?" Tanya Gavin, menatap wajah cantik itu yang terlihat melengkungkan bibirnya kebawah, menambah kesan imut dimata Gavin.


Dengan gemas Gavin menarik lengan kecil itu, mendudukkan nya di atas


dipangkuan nya.


"Lagi datang bulan?" Tanya Gavin, sembari terkekeh geli.


Siempunya hanya diam, mengalihkan tatapannya kearah yang lain. Walau tetap saja kedua lengannya mengalung indah dileher suaminya.


"Mommy ngambek? Bibirnya jangan digituin, aku kurang yakin kamu bisa berangkat kalo bibirnya digitu in."


"Mesum banget sih Vin."


"Kamu yang duluan, sok godain. Mana aku tergoda lagi."


Kenzie hanya berdecak kecil, memilih memejamkan mata sebentar, menikmati sentuhan lembut jemari besar itu dipinggangnya.


"Jangan dekat-dekat sama cowok lain, apalagi godain cowok lain."


"Iya."


"Jangan cuman iya,"


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, membuka matanya kembali, menatap wajah tampan itu dengan wajah datar.


"Pak Erwin jagain di rumah, biar supir yang ngantar jemput ke sekolah. Gak ada bantahan, kalo gak aku ngambek."


"Iya-iya terserah." Dibilangin malah ngeyel, singa betina. Batin Gavin.


"Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah. Nurut sama pak Erwin. Jangan ngerepotin orang lain, tunggu aku pulang."

__ADS_1


Gavin hanya mengangguk kan kepala, memilih memejamkan mata menikmati sentuhan lembut bibir mungil itu di setiap inci wajahnya.


"Aku berangkat dulu."


Kenzie bangkit dari tempatnya, meraih ransel dan kotak bekal makan siangnya.


"Jangan banyak gerak, oke."


Kenzie mengacak-ngacak pucuk rambut suaminya, dan berlalu keluar dari kamar.


Gavin hanya diam mematung, detik berikutnya tertawa kecil. Menyentuh wajahnya bekas kecupan lembut dari bibir mungil itu, seraya tersenyum lebar.


"Kecelakaan membawa keberuntungan." Ucap Gavin.


____________


Sepanjang koridor sekolah, semua mata tertuju kearah nya. Kenzie hanya menanggapi dengan senyuman, tanpa peduli maksud tatapan mata itu.


Seperti biasa Kenzie langsung ke ruang OSIS, mempersiapkan diri sebelum upacara bendera. Hingga terdengar suara melengking memenuhi ruangan, menarik perhatian anggota OSIS lainnya.


"Selamat pagi saudara sekalian." Teriak Dian, bersahutan dengan tawa Fani.


"Ibu negara sudah datang? Mentang-mentang pacar baru, malah lupain sahabat." Lanjutnya lagi.


Kenzie memilih diam, melepas jaket suaminya dari tubuhnya, memasukkannya kedalam tas.


"Woi! sombong benar Lo." Ucap Fani, menepuk pundak Kenzie, seraya duduk disampingnya.


"Bising Lo berdua, gak malu apa?"


"Biasa aja." Sahut Dian santai.


Kenzie hanya mengelengkan kepala, tidak heran lagi dengan tingkah sahabatnya. Kadang Kenzie heran, entah mengapa ada manusia modelan seperti mereka berdua.


"Ken." Bisik Fani, di ikuti Dian duduk disampingnya. Merapatkan tubuh mereka bertiga, dengan Kenzie di tengah-tengah.


"Lo udah tau?" Bisik Fani lagi.


"Apaan?" Tanya Kenzie yang merasa tertarik dengan pembicaraan kali ini.


"Gavin suami tampan Lo itu, post foto cewek di Instagram." Bisik Dian.


"Serius Lo?"


"Iya, Lo bawa hp gak? Hp gue ketinggalan di kelas." Ucap Fani.


Grasa grusu Kenzie mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, menyalakan ponselnya yang langsung di sambut wallpaper foto yang paling memalukan. Gavin mencium bibirnya, saat dia tertidur.


Sontak mata mereka bertiga melotot, detik berikutnya Fani dan Dian bangkit dari tempatnya.


"Cek sendiri, gue tau Lo belum lihat. Jangankan lihat, buka Instagram aja jarang. Kita berdua pergi dulu, mau cari calon suami." Ucap Fani panjang lebar, berlalu keluar seraya menarik lengan Dian.


Kenzie hanya diam, menatap wallpaper nya dengan wajah memerah. Kebetulan Kenzie tidak memegang hp mulai dari semalam, tapi Gavin sempat meminjam ponselnya.


Gavin bodoh, gue malu Vin. Ya Tuhan. Batin Kenzie.


Dengan cepat Kenzie mematikan ponselnya kembali, menatap sekeliling siapa tau ada yang melihat selain mereka bertiga. Untungnya semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Saking penasarannya dengan ucapan kedua sahabatnya, Kenzie membuka ponselnya kembali. Langsung terjun ke dunia maya. Detik berikutnya, manik Kenzie melotot sempurna, dengan napas yang tercekat.


Foto yang di maksud kedua sahabatnya, ternyata dia sendiri. Diambil diam-diam, memakai seragam putih dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.


Tidak sampai di situ, caption-nya membuat Kenzie malu setengah mati. #Gf (Girl friend atau pacar)


Gavin, apaan lagi ini. Pantasan banyak yang lihat gue mulai dari tadi. Benar-benar dah. Batin Kenzie.


_____________

__ADS_1


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


__ADS_2