
Kenzie sempat terbuai dengan permainan Gavin, hingga jemari besar itu menyelip masuk kedalam kaos oversizenya. Nyawanya langsung terkumpul, dengan cepat mendorong tubuh kekar itu dari atas tubuhnya.
"Ingat nilai diatas rata-rata."
Gavin menjambak rambutnya frustasi, fantasi liarnya runtuh sekejap. Si*l Gavin benci kata-kata itu.
"KENZIE!"
Siempunya tertawa terbahak-bahak didalam kamar mandi, mendengar teriakkan itu. Padahal dia sendiri yang memulai, jadi tanggung sendiri akibatnya.
Dengan wajah yang ditekuk, tatapan tajam, dengan handuk melilit dipinggangnya Gavin masuk kedalam kamar. Menatap Kenzie seakan siap menerkam nya.
"Mau kemana?" Tanya Gavin dingin, melihat gadisnya berpenampilan rapi.
"Rumah sakit."
"Jangan kemana-mana."
"Bilang aja mau ikut, susah banget."
Sontak Gavin menghentikan langkahnya, menoleh kearah Kenzie dengan tatapan tajam.
"Apa lihat-lihat?"
"Gue bu*tingin tau rasa Lo." Gumam Gavin pelan. Berlalu masuk kedalam walk closet, membanting pintu cukup kencang.
"Ck, bocil kalo ngamuk gak tanggung-tanggung kelakuannya."
Kenzie mengelengkan kepalanya, menatap wajahnya di pantulan cermin. Mengoleskan liptint tipis dipermukaan bibirnya, dan bedak tipis diwajahnya.
Penampilannya perfect, rok hitam sebatas lutut dipadukan kaos hitam, dan jaket jeans oversize. Lengan digulung hingga siku, rambut panjang tergerai.
Itu semua tidak hilang dari pandangan Gavin, dengan wajah datar mendekat kearahnya. Meneliti bibir mungil itu dari jarak dekat. Liptint nya tidak terlalu tebal, jadi aman.
"Mau kemana?" Tanya Kenzie basa basi. Walau didalam hati tertawa terbahak-bahak, melihat wajah tampan itu ditekuk lucu.
"Ck, jangan banyak tanya."
Kenzie tertawa kecil, meraih hoddie hitam dari genggamannya membantu Gavin memasangkan ditubuhnya. Kenzie jadi terbiasa membantu suaminya memasangkan baju nya, apalagi tubuh kekar itu tidak hilang dari pandangannya setiap membantunya.
"Emang gak panas pakai ini?"
"Makanya gak pakai baju didalam."
"Ck, gak usah ngengas kali."
Kenzie meraih ponselnya, hendak keluar dari kamar sebelum tubuhnya ditarik kebelakang.
"Keringin."
Kenzie menghela napas pasrah, menerima handuk kecil dari jemari besar itu dan mengeringkan rambutnya. Aroma rambut dan tubuh pria yang satu ini selalu memikat, Kenzei akui hal itu.
Merasa rambut Gavin sudah kering, Kenzie meraih sisir dari meja rias. Menata rambut itu sesuka hatinya.
Baru juga Kenzie meletakkan sisir keatas meja rias, siempunya langsung berdiri mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.
"Yah."
"Ck, kayak bocil." Gerutu Gavin.
__ADS_1
"Lah memang bocil."
"Ngomong apaan?"
"Gak."
Kenzie mengelengkan kepala, berlalu keluar dari kamar. Takutnya rambut itu sasarannya. Mana mulai dari tadi bibir tebal itu sewot, ngengas kalo ngomong. Padahal salah sendiri, tau yang dibawah baperan masih aja cari mangsa.
"Kenzie!"
"Apaan sih Vin, gak usah teriak-teriak."
"Hp aku mana?"
"Di kolom jembatan."
Gavin mengacak-ngacak rambutnya, mencari keberadaan ponselnya yang sayangnya tergeletak diatas meja.
"Kenapa gak ngomong mulai dari tadi." omel nya kearah ponselnya.
Dengan grasa grusu menuruni tangga satu persatu, masuk kedalam mobil dibelakang kemudi.
Selama perjalanan Gavin tidak henti-hentinya mengerutu, menarik perhatian Kenzei yang sedari tadi fokus menatap layar ponselnya.
"Kenapa Vin?"
"Diam."
"Lah seharusnya kamu yang diam, bising."
Gavin mendengus kesal, memilih fokus menyetir daripada adu mulut. Mana bibir mungil terlihat mengoda dimatanya, ditambah polesan merah dipermukaan bibirnya.
Tepat pembayaran, jemarinya langsung ditahan. Hingga jemari besar menyondorkan uang kearah penjual. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menarik pinggangnya berjalan beriringan kearah rumah sakit.
"Udah aku bilangin, kalo mau kemana-mana izin dulu. Jangan diulangi."
"Iya." Balas Kenzei ketus.
Padahal jaraknya dekat, bahkan banyak orang berlalu lalang. Pria yang satu ini saja yang terlalu posesif.
"Om Regan udah sembuh?"
"Udah lumayan kata Dian." Balas Kenzie, sembari membuka pintu ruangan pasien.
Tepat pintu terbuka, semua mata langsung tertuju kearah mereka. Spontan Gavin bersembunyi dibalik punggung kecil gadisnya, risih melihat tatapan mata itu. Walau tetap saja tubuhnya kelihatan, tubuh gadisnya hanya sebatas dadanya.
"Pengantin baru." Sapa Edo, membuyarkan keheningan.
Sontak terdengar kekehan geli, seakan mengoda mereka berdua. Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, melangkah kearah brankar menyalim kedua orangtua Dian diikuti Gavin dari belakang.
"Gimana keadaannya om?" Tanya Kenzie to the point, sembari meletakkan buah tangan yang mereka bawa.
"Om udah baikan, terimakasih nak udah datang ke sini."
"Sama-sama om, udah kayak siapa aja." Ucap Kenzei bercanda.
Gavin memilih diam, berdiri disamping gadisnya. Hingga manik pria paruh baya itu mengarah kearahnya.
"Namanya siapa nak?"
__ADS_1
"Saya om?" Tunjuk Gavin kearah dirinya sendiri.
Regan hanya mengangguk kan kepala, seraya tersenyum hangat kearahnya.
"Gavin Megantara om."
"Anak Viktor Megantara?"
"Iya om."
"Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu putra semata wayang Megantara."
Gavin hanya tersenyum menanggapi ucapannya, merasa dirinya biasa saja. Entah mengapa orang yang baru bertemu dengannya pasti senang. Terutama Kenzo adek iparnya, itu malah yang paling heboh.
"Saya mengucapkan terimakasih, kalian berdua mau menginap menjaga saya beberapa hari yang lalu. Suatu terhormat untuk keluarga kami."
Gavin dan Kenzie hanya mengangguk kan kepala, binggung sekaligus heran. Entah darimana Regan tau mereka menginap malam itu, tapi logika siapa tau Dian memberitahu papa nya.
Tapi sayangnya, Regan sendiri melihat mereka berdua menginap malam itu. Kebetulan dia sadar tengah malam dari masa drop nya, dan sempat kaget melihat Gavin duduk disofa, dengan seorang gadis tidur berbantalkan paha nya. Regan sempat marah, ia pikir putrinya.
Tapi saat selimut melorot, menampakkan tubuh kecil yang terlihat familier. Gavin terlihat menyanyangi gadis itu, bahkan dengan sabar merapikan selimut yang melorot entah berapa kalinya. Bahkan hingga pagi, masih terjaga. Sesekali melirik kearah brankar, tapi tidak sadar dia sudah sadarkan diri.
"Nak Gavin siapanya nak Kenzie?" Tanya Regan penasaran.
"Oh, Kenzie lupa. Gavin suami saya om, Tante. Maaf yah, waktu itu gak ngundang."
Sontak kedua orangtua Dian tersentak kaget, menatap Kenzie dan Gavin secara bergantian.
Pantasan Gavin terjaga sepanjang malam waktu itu, ternyata yang dijaga istrinya juga. Perhatian, bahkan sentuhan Gavin membelai wajah Kenzie juga berbeda. Terlihat bukan perhatian sepasang kekasih layaknya anak SMA, melainkan suami istri.
Regan tahu membedakannya, karena dia juga memiliki istri.
"Kapan nikah nya?" Tanya Regan lagi.
"Hampir memasuki bulan keempat om." Sahut Kenzie.
"Tante harus nuntut sama ibu kamu, masa kita gak diundang. Iya kan pa?" Ucap Mama Dian ikut membuka suara.
"Iya ma, masa sahabat sendiri lupa." Ucap Regan kesal.
Kenzie hanya tertawa kecil, menanggapi ucapan kedua orangtua Dian.
Berbeda dengan Gavin, sedari tadi maniknya tidak lepas dari wajah cantik itu. Gavin pikir Kenzie akan memperkenalkannya sebagai sepupu, seperti yang ia ucapkan ke semua orang.
Tapi nyatanya, Kenzie memperkenalkannya sebagai suami untuk hari ini.
"Terimakasih Baginda ratu." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
Spontan siempunya mengalihkan tatapan kearahnya, menaikkan alisnya sebagai tanda bertanya. Yang sayangnya terlihat menantang untuk Gavin.
Andaikan ini dirumah, fantasi liarnya yang tertunda tadi pasti Gavin lanjutkan. Menerjang tubuh kecil itu, mencium bibir mungilnya hingga bengkak. Dua bukit yang sempat ia raih, akan ia sentuh sesuka hatinya.
Memikirkan itu saja sudah membuatnya panas dingin.
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
__ADS_1