GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
TANPAMU


__ADS_3

Awalnya Kenzei sempat berpikir semua hanya mimpi, atau candaan semata Gavin. Tapi sayangnya, hingga pagi menjelang, wajah tampan itu masih tetap tenang, bibir tebalnya bungkam tanpa berniat melontarkan candaan.


Keadaannya semakin memburuk, berakhir koma. Entah apa yang terjadi, belum ada yang berniat menceritakan kejadian sebenarnya.


Hanya ada Kenzie sendiri, duduk disamping brankar seraya memegang jemari besar itu. Sesekali bodyguard masuk melihat keadaannya. Bahkan kaki kecilnya sudah dipasangkan kaos kaki, tubuh kecilnya dililitkan selimut, bahkan kepalanya ditutupi topi.


Hanya pria dihadapannya yang belum menunjukkan perhatian, entah sampai kapan Kenzie menunggu.


"Vin, buka dong matanya. Masa kamu tega tidur sendiri, aku gak di ajak. Biasanya cari kesempatan dulu baru tidur, aku gak marah kok asal kamu senang." Lirih Kenzie, menatap wajah tampan itu dengan tatapan sendu.


Semalaman Kenzie menangis, matanya sembab bahkan hampir bengkak. Tubuhnya lemas butuh istirahat, tapi sayangnya, maniknya tidak bisa tertutup. Hanya air mata yang membasahi pipinya.


Apalagi tidak ada yang tau kejadian ini, Kenzei memerintahkan bodyguard tutup mulut. Bahkan mertuanya pun tidak tau masalah ini, yang ada menambah beban.


"Maaf nona, mengangu."


Kenzie menghela napas panjang, mengalihkan tatapannya kearah bodyguard di sampingnya. Pria paruh baya yang sejak tadi menjaganya, bolak balik masuk kedalam memastikan keadaan mereka berdua.


"Nona sarapan dulu, udah hampir siang."


"Iya pak."


"Nona harus sarapan, tuan muda bisa memarahi saya kalo ketahuan tidak menjaga anda dengan baik."


Kenzie hanya tertawa kecil, perlahan melepaskan genggamannya dari jemari besar itu.


Baru juga merasakan yang namanya hidup, sekarang malah datang badai yang besar. Setelah kejadian Rian menolaknya mentah-mentah di masa lalu, Tuhan menghadirkan seseorang di hidup nya.


Pria tampan yang membawanya menikmati sesuatu yang belum Kenzie rasakan. Hingga terjebak pesona ketampanan yang ia miliki.


Aku juga mencintaimu. Batin Kenzie.


Andai waktu itu Gavin tidak lari, Kenzie pasti akan membalas ucapannya. Entah mengapa Gavin bodoh dalam hal mengucapkan kalimat itu.


"Nona jangan melamun."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menerima sarapan dari pria paruh baya itu dan menikmati sarapannya dengan memandang wajah tampan itu.


Menyedihkan. Baru juga hubungan mereka membaik, sekarang malah lebih dari kata buruk. Tidak ada suara yang keluar dari bibir tebal itu, tidak ada senyuman penyemangat memulai hari ini.


"Nona tidak perlu khawatir, dokter bilang fisik tuan muda kuat. Kita hanya perlu berdoa, agar tuan muda secepatnya sadar."


"Iya pak."

__ADS_1


"Jangan terlarut dalam kesedihan, sampai nona lupa yang di atas. Akan ada mukjizat, jika nona percaya. Saya memang bukan manusia yang taat beragama, tapi saya selalu percaya Tuhan. Jika ada waktu saya selalu meluangkan waktu untuk melipat kedua tangan."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, meletakkan sarapan paginya yang masih tersisa banyak. Rasanya hambar, Kenzie tidak berniat melanjutkan sarapannya.


"Saya permisi dulu nona, jika butuh sesuatu. Saya ada di luar."


"Iya pak, terimakasih sebelumnya."


Pria paruh baya itu hanya mengangguk kan kepalanya, berlalu keluar dari ruangan pasien. Menyisahkan Kenzie dan Gavin.


Dengan cepat Kenzie melipat kedua tangannya, memejamkan mata rapat-rapat dan meramalkan doa didalam hati. Kenzie hampir lupa yang di atas saking khawatir nya.


Entah mengapa, kemanapun Kenzie melangkah, orang yang ia temui selalu membawa hal positif dalam hidupnya.


Mulai dari pak Harto dan istrinya, Ayu dengan dunia gelapnya, hingga pak Erwin pria paruh baya barusan atau bodyguardnya.


Rasanya hidup Kenzie lengkap, tapi akan lebih sempurna jika Gavin ada di dalamnya.


"Amin."


Kenzie mengehela napas panjang, tersenyum lebar menatap wajah tampan itu. Perlahan naik keatas brankar, tidur disamping tubuh kekar itu.


"Kamu bohong tau Vin, harusnya aku kasih hukuman di atas ranjang. Tapi kamu malah tidur. Kamu jahat banget tau. Katanya cinta, mana ada cinta yang begini."


"Kalo aku hamil gimana? Masa anak kita gak punya Daddy. Katanya gak sabar jadi Daddy, mana ada Daddy selemah ini."


Kenzie mengerucutkan bibirnya, tidak ada balasan yang keluar dari bibir tebal itu.


Rasanya tidak ada gunanya marah-marah, toh Gavin tidak mendengar ocehannya. Atau Kenzie memukulnya saja dengan sandal bulu-bulunya, siapa tau Gavin langsung terbangun dari tidurnya.


Manik hitam itu seakan segan menatapnya, padahal biasanya selalu menantang dan mengodanya.


"Aku harus ngapain lagi biar kamu sadar? Vin, jawab dong."


Kenzie memukul kecil dada bidang itu, seraya meletakkan kepalanya diceruk leher suaminya menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya.


Andai waktu bisa berputar kembali, Kenzie pasti akan tetap dengan pendiriannya. Tidak memperbolehkan Gavin keluar dari rumah. Tapi namanya juga hidup, tidak ada kata terlambat di awal.


"Aku mencintaimu, Gavin Megantara." Bisik Kenzie tepat di telinga Gavin, sesekali mengecup pelipisnya.


Mungkin jika Gavin sadar, senyuman manis akan terukir indah dibibir tebal itu. Jarang-jarang Kenzie semanis ini, biasanya hanya marah-marah menutupi canggung dan rasa malu yang menumpuk.


Malu? Yah Kenzie selama ini canggung, sekaligus malu seruangan dengan Gavin. Jantungnya berdetak kencang, lidahnya kadang keluh sekedar mengucapkan kalimat.

__ADS_1


Tapi karena biasa marah-marah dengan Kenzo, berakhir sifat galak itu juga yang Kenzie gunakan menutupi sifat aslinya. Untungnya Gavin menurut, walau kadang ucapan melantur Gavin berdampak besar untuk kesehatan jantungnya.


Daripada Kenzie berbicara sendiri, lebih baik tidur. Bertemu suaminya di alam mimpi.


_______________


"Nona."


Kenzie mengerutkan dahi, perlahan membuka maniknya dan menyesuaikan cahaya yang menyilaukan.


"Makan siang."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, perlahan bangkit dari tempatnya menatap wajah tampan itu yang masih setia dengan dunianya.


Dengan berat hati Kenzie turun dari atas brankar, kembali duduk ke tempat semula.


"Kata dokter, kondisi tuan muda semakin membaik. Bisa jadi besok, atau hari berikutnya tuan sadar."


Lama. Batin Kenzie.


"Jangan lupa makan siang nona, perlengkapan nona dan tuan selama di rumah sakit sudah tersedia. Kalo nona ingin makan sesuatu, asisten sudah ada di rumah."


"Iya pak."


"Saya permisi dulu."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah tampan itu. Kata dokter besok, atau hari berikutnya. Apa Kenzei bisa bertahan selama itu?


Detik ini saja dia hampir mati menahan rindu. Tidak ada sapaan, godaan, ucapan mesum, semua tingkah absurd suaminya tidak ada untuk hari ini. Bagaimana untuk besok?


Kenzie tidak yakin bisa menahan rindu. Baru beberapa jam mereka berdua tidak bertukar candaaan, Kenzie sudah hampir mati.


"Ck, ternyata rindu itu sakit. Aku ngomong sama siapa kalo aku rindu sama suami sendiri. Mana orangnya di depan mata, tapi terasa tidak nyata."


Kenzie menghela napas panjang, meraih kotak bekal makan siang nya dan menyendokkan kedalam mulutnya. Sama seperti tadi pagi, rasanya hambar.


Bunda, jadi istri orang gak enak. Tau gini Kenzei gak mau nikah muda. Bukannya Kenzie bahagia, malah tersiksa. Batin Kenzie.


______________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


STAY TUNED

__ADS_1


__ADS_2