
"Aku menyukaimu?"
"Ha?"
Rian bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan Kenzie.
"Selama ini aku menyukaimu."
"Tanpa Lo kasih tau, gue udah tau dari awal."
"Jadi?"
"Gue benci sama Lo."
"Maksudnya?"
"Lo pikir gue suka dengar panggilan Lo itu, sok sokan panggil aku kamu. Darimana aja Lo, ha? Lo ingat pernyataan cinta gue waktu kecil? Apa Lo bilang? Just friend, iya kan?"
Rian tersedak ludahnya sendiri, menatap wajah cantik itu yang terlihat berbeda. Ada pancaran luka dari tatapan mata itu, senyuman manis yang biasa terukir indah dibibirnya hilang entah kemana.
"Gue gak pantas Lo cintai, gue udah punya suami. Kubur dalam-dalam rasa suka Lo itu, gue gak butuh."
"Maaf."
"Terlambat."
"Kasih aku kesempatan."
"Kalo gue kasih kesempatan, Lo mau ngapain? Hancurin keluarga kecil gue sama Gavin? Jahat banget Lo."
Rian mengepalkan kedua tangannya, meraih lengan Kenzie, hingga wajah cantik itu bertabrakan dengan dada bidangnya.
"Kalo Gavin bisa miliki Lo, kenapa gue gak bisa?"
Kenzie menelan salivanya kasar, berusaha mendorong tubuh kekar itu menjauh.
"Jawab gue! Udah berapa kali Lo ngelakuin itu sama suami Lo? Belum pernah yah?"
Rian tertawa terbahak-bahak layaknya setan, menarik lengan Kenzie ke tempat yang lebih sepi. Rian bisa membedakan gadis dan wanita. Dan gadis yang satu ini belum pernah sama sekali.
"Mau ngapain Lo?"
Kenzie berusaha memberontak, melepaskan cekalan tangan Rian. Dia dalam bahaya, Kenzie belum pernah melihat wajah Rian seperti ini. Apalagi panggilan aku kamu yang sering Rian gunakan, kini berganti menjadi Lo gue.
"Tenang aja, Lo pasti suka."
"Jangan macam-macam Lo."
Rian tertawa terbahak-bahak, menangkup wajah Kenzei hendak mencicipi bibir mungil itu. Tapi sayangnya, kepalan tangan lebih dulu mendarat mulus diwajahnya.
"Br*ngs*k, berani-beraninya Lo sentuh bini gue."
Gavin kesetanan, wajah tampan itu memerah menahan emosi, jemari besarnya terkepal, hingga jemari besar itu kembali melayang dengan mulusnya.
"Gue udah bilang, dia bini gue. Tapi Lo masih datang sama gue."
Kenzie menutup mulutnya, jantungnya berdetak kencang melihat pemandangan dihadapannya. Hanya membutuhkan waktu sebentar, Rian sudah terkapar lemas.
"Vin."
Kenzie menarik lengan kekar itu, tanpa sadar air mata membasahi pipinya.
"Udah Vin."
"Apa? Mau belain dia?"
__ADS_1
"Gue takut, hiks."
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, menarik tubuh kecil gadisnya kedalam dekapannya. Napasnya memburu, tatapan matanya gelap ditutupi emosi.
"Vin."
"Jangan nangis, gue di sini."
Gavin mengelus lembut rambut gadisnya, dengan emosi yang semakin meningkat mendengar ucapan Rian.
"Rencana gue gagal gara-gara Lo, seharusnya gue pria pertama. Kenzie cinta sama gue."
Sontak Gavin melepaskan pelukannya, hendak menyerang kembali, sebelum tangisan Kenzie menjadi-jadi.
"Vin, gue takut."
Kenzie memeluk tubuh kekar itu dari belakang, tubuhnya gemetar, jantung berdetak kencang. Seumur-umur Kenzie baru melihat pertengkaran seperti itu. Lebih seram dari setan.
"Selamat Lo hari ini." Geram Gavin, dengan cepat menarik lengan Kenzie masuk kedalam mobil.
Emosinya di ujung ubun-ubun, tangan nya gatal menuntaskan aksi barusan. Tapi demi Kenzie, Gavin harus mengalah.
Gavin tidak tahan melihat wajah cantik itu ketakutan, apalagi sampai menangis seperti ini.
"Jangan nangis!" Ucap Gavin dingin.
Tepat mobil terparkir didepan rumah, Gavin langsung melepaskan sealtbet nya. Menarik lengan Kenzie dan mencium tangan kecil itu, menghilangkan bekas sentuhan Rian.
"Gimana kalo gue gak datang?" Tanya Gavin, menatap manik lentik itu dengan tatapan tajam.
"Apa salahnya izin dulu sama gue, ha?"
"Maaf, hiks."
"Gue gak butuh kata maaf, kejujuran yang gue butuh. Lo istri gue Ken, seharusnya hargai gue."
"Apa?" Sergah Gavin.
Si*l emosinya kelepasan, dengan kesal Gavin menjambak rambutnya frustasi. Ini yang paling Gavin benci, emosional yang susah diajak kompromi.
"Keluar!"
"Gak mau."
"Keluar gue bilang." Bentak Gavin.
"Hiks, gak mau."
Napas Gavin semakin memburu, wajah tampan itu terlihat berbeda. Menyeramkan.
Jujur Kenzie takut, apalagi ini pertama kalinya Gavin seperti ini. Pria di depannya bukan suaminya, Gavin tidak pernah seperti ini.
"Tunggu hukuman!"
Gavin bergegas keluar dari mobil, melangkah lebar masuk kedalam rumah. Tubuh kekar itu terlihat berantakan, jemari besarnya masih terkepal kuat.
Dengan keberanian yang terkumpul, Kenzie keluar dari mobil mengikuti langkah lebar Gavin.
Kalo boleh memilih, Kenzie lebih suka Gavin yang mesum dan tengil. Tidak seperti itu. Bulu kuduk Kenzie merinding, jantungnya berdetak kencang sedari tadi.
"Vin."
Kenzie masuk kedalam kamar, menutup pintu perlahan dan menyelusuri kamar dengan maniknya. Tapi sayangnya, kamar kosong.
"Gavin."
__ADS_1
Hening, tidak ada sahutan. Hingga terdengar tetesan air dari kamar mandi, bersahutan dengan getaran dinding kamar mandi.
Sontak Kenzie melototkan matanya, dengan cepat melempar ranselnya asal.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie langsung memutar knop pintu yang untungnya tidak kunci.
"Vin."
Kenzie diam mematung di tempat, tetesan air mata keluar dengan sendirinya.
Seragam putih tergeletak ganas di atas lantai, jemari besar itu mengeluarkan darah segar.
Dengan tubuh yang bergetar, Kenzie melangkah mendekat memeluk tubuh kekar itu dengan erat.
"Jauh-jauh Lo dari gue."
"Gak mau."
"Nanti Lo terluka Ken."
"Gue bilang gak mau, yah gak mau." Teriak Kenzie tak mau kalah.
Gavin berdecak kecil, berusaha mendorong tubuh kecil itu menjauh. Takutnya emosinya kelepasan, Kenzie yang jadi sasarannya.
"Gak mau, hiks."
"Apa susahnya sih."
Kenzie mengelengkan kepalanya, memeluk tubuh kekar itu semakin erat. Bahkan kaki kecilnya dililitkan di pinggang Gavin.
"Lo jahat, harusnya Lo marah sama gue."
Gue mana bisa marah sama Lo. Batin Gavin.
"Hiks, marahin gue Vin."
Gavin hanya diam, memejamkan matanya menetralkan emosi. Aroma gadisnya menenangkan, terasa napas hangat menerpa lehernya. Hingga jemari lentik itu bergerak, mengelus lembut rambutnya.
Emosi yang semula menggebu-gebu, perlahan redup. Terasa sentuhan basah di pelipisnya, napas hangat itu tepat didepan wajahnya.
Jemari lentik itu menari-nari di wajahnya, sesekali terdengar isakan kecil. Hingga benda kenyal terasa menyatu dengan bibir tebalnya, mengecup setiap sudut bibirnya dengan lembut.
"Jangan lakuin itu lagi, nanti aku ngambek."
Sontak Gavin membuka matanya lebar, tepat manik lentik itu didepan matanya.
"Mulai sekarang kita panggil aku kamu yah."
Senyuman manis terukir indah dibibir mungil itu, hingga lehernya kembali dipeluk erat.
Gavin terkesiap, emosinya hilang sekejap. Perlahan jemarinya tergerak, mengelus lembut rambut gadisnya.
"Maaf."
1 kata keluar dari bibir tebal itu, hingga kejadian beberapa jam yang lalu terulang kembali.
Gavin berbeda, wajah tampan itu berubah drastis. Kata-kata jahil yang sering keluar dari bibir tebal itu, tergantikan dengan kata-kata kasar bahkan membentak nya.
Kenzie takut, Gavin mengulangi kejadian beberapa jam yang lalu. Apalagi Kenzie sudah memantapkan hati untuk tetap bertahan dengan pernikahan ini.
"Maaf, aku mohon jangan takut."
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:
__ADS_1
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓