GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
TONTONAN PARA JOMBLO


__ADS_3

Kenzie langsung berhambur memeluk tubuh Dian, menangis ikut merasakan beban sahabatnya.


Keluarga kaya yang hampir sederajat dengan suaminya, kini berubah menjadi keluarga sederhana. Perusahaan bangkrut, rumah mewah terjual, aset-aset berharga tergadai, hanya membiayai perobatan papa nya.


"Makasih Ken, udah datang."


"Diam, bisa-bisanya Lo sembunyiin dari kita."


"Maaf."


"Yaudah jangan nangis, dasar cengeng." Cibir Kenzie, menghapus jejak air mata Dian.


Siempunya hanya terkekeh, merasa terhibur kedatangan sahabatnya.


"Keadaan om gimana?"


"Kayak biasa." Balas Dian sendu.


"Kita sama-sama berdoa, Lo gak boleh lemah ingat yang di atas."


"Iya Ken."


Gavin yang sedari tadi diam mematung dibelakang Kenzie, menuntun gadisnya duduk dikursi. Diikuti Dian, tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Fani mana?"


"Ke luar sama Angga."


"Angga?"


Dian hanya mengangguk kan kepalanya, kembali memeluk tubuh sahabatnya mencari ketenangan.


"Tante mana?"


"Di dalam."


"Lo pulang aja sama Tante, biar kita aja yang jaga."


"Gak usah Ken."


"Gak ada penolakan, sana bujuk Tante biar pulang. Kalian juga butuh istirahat."


"Tapi–"


"Eh, pasutri muda." Ucap Edo, memotong ucapan Dian.


"Ngapain Lo kesini?" Tanya Gavin bingung.


Edo hanya mengerakkan alisnya kearah Dian. Kebetulan Gavin belum tau perjuangan cinta sahabatnya yang satu ini.


"Sana bujuk Tante, kalo gak kita gak usah sahabatan. Udah kita dibohongin lagi."


Kenzie sengaja menyudutkan Dian, agar rencananya berhasil. Rasanya sedih melihat wajah ceria itu murung, tubuhnya mulai kurus tak terawat.


"Tapi gak papa kan?"


"Iya, sana."


Dian bangkit dari tempatnya, masuk kedalam ruangan pasien. Tak menunggu lama, Dian keluar dengan mama nya.


Kenzie dan Gavin langsung menyalim, dengan senyuman hangat terukir di bibirnya. Takutnya mama Dian menolak tawaran mereka.


"Sebelumnya terimakasih yah nak."


"Iya gak papa Tante, kebetulan besok libur." Ucap Kenzei menyakinkan.


"Kalo ada apa-apa telpon Tante yah Ken."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya.


"Kalo begitu kita pulang dulu." Pamit Dian.


"Eh, bentar. Do Lo bawa motor?" Tanya Kenzei kearah Edo, dibalas anggukan kepala.


Gavin langsung mengeluarkan kunci mobilnya, dengan cepat Edo meraihnya dengan semangat.


"Awas mobil gue lecet." Bisik Gavin kearah Edo.


Dian melambaikan tangannya kearah Kenzie, hingga punggung mereka bertiga berlalu menjauh.

__ADS_1


"Kita ke dalam aja yah? Di sini dingin." Ucap Gavin, menarik lengan Kenzie masuk kedalam ruangan pasien.


Di brankar terlihat pria paruh baya dengan selang oksigen, dan infus terpasang ditubuhnya. Tubuh itu terlihat kurus, wajah tirus, rambut mulai beruban.


Gavin melangkah mendekat, menatap wajah tua dengan tatapan kasian bercampur aduk. Dibenaknya wajah kedua orangtuanya yang muncul, mungkin begini gambaran kedua orangtuanya kalo sudah tua.


"Sakit apa?" Tanya Gavin tanpa melepaskan tatapannya, dari wajah pria paruh baya itu.


"Lambung."


"Udah lama?"


"Mulai dari SMP kalo gak salah, Om Regan bolak balik masuk rumah sakit."


"Kok kamu tau?"


Gavin mengalihkan tatapannya kearah Kenzie, menaikkan alisnya sebagai tanda bertanya.


"Kita duduk dulu, perut aku mulai sakit." Adu Kenzie.


Mungkin sejak tadi suasananya tegang, pikiran Kenzie teralih dari perutnya. Tapi sekarang, rasanya di aduk-aduk.


Gavin juga baru sadar akan hal itu, dengan cepat menarik lengan Kenzie duduk disofa dekat pintu masuk. Menyelimuti tubuh kecil gadisnya dengan selimut tipis yang dibawa dari rumah, dan bersandar pada sandaran sofa.


"Cerita yang, biar gak bosan."


"Cerita apa?"


"Lanjut yang tadi aja."


"Yang mana?"


Gavin berdecak kecil, menyentil kening Kenzie.


"Benar kata Kenzo, kamu pelupa tingkat akut."


Kenzei mencibir ucapannya, memilih memejamkan mata daripada ribut.


"Yah, malah tidur."


"Jangan ribut Vin, kita di rumah sakit bukan di kamar."


Kenzie menghela napas panjang, perlahan membuka matanya menatap langit-langit rumah sakit. Sebenarnya mood nya berantakan kalo sedang datang bulan seperti ini.


Tapi demi suami lagi, Kenzie harus mendengar ocehan pria yang satu ini.


"Ngantuk?" Tanya Gavin meletakkan kepalanya dibahu Kenzie, menatap wajah cantik itu dari jarak dekat.


"Lumayan."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mencium sudut bibir Kenzie dengan lembut.


"Aku mau cerita." Ucap Kenzei, takutnya Gavin bosan. Apalagi diruangan ini hanya ada mereka bertiga, itu pun om Regan tidak sadarkan diri.


"Cerita apa?"


Gavin kembali meletakkan kepalanya di bahu Kenzie, menyembunyikan wajahnya diceruk leher putih itu.


"Waktu kelas 3 SMP, om Regan pernah drop hampir satu bulan wajib inap di rumah sakit. Demi sahabat, Aku sama Fani ikut membantu sekedar menginap di rumah sakit."


"Tapi sayangnya, absen banyak, prestasi malah menurun. Bunda marah-marah di rumah, yang lebih pahit nya perusahaan om Regan menurun."


"Mungkin om Regan stress mikirin perusahaan bangkrut, makanya kambuh lagi." Jelas Kenzie Panjang lebar.


Gavin menghela napas panjang, menghirup dalam-dalam aroma khas gadisnya. Mungkin karena Gavin belum pernah merasakan yang namanya hidup susah, rasanya kehidupan om Regan saat ini menyedihkan.


"Vin, ngantuk."


Sontak Gavin tersadar dari lamunannya, menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Kenzie.


"Tidur sini."


Gavin menepuk paha kekar nya, dengan semangat Kenzie tidur berbantalkan paha nya memeluk pinggang Gavin dengan erat.


"Lurusin aja kaki nya, jangan ditekuk."


"Lebih enakan gini."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengelus lembut rambut Kenzie hingga mata lentik itu tertutup rapat dengan napas yang teratur.

__ADS_1


Daripada bosan lebih baik Gavin bermain game, atau mungkin belajar. Banyak materi di group chat, mungkin Gavin bisa mempelajari itu satu persatu.


Jam berputar, tak terasa pukul 05:30. Selama itu Gavin terjaga, takutnya om Regan drop atau seseorang masuk kedalam. Apalagi di sini ada Kenzie, Gavin harus ekstra menjaga keamanan Istrinya. Cukup satu kali Gavin lengah.


"Ken, aku ngatuk." Bisik Gavin, menatap wajah cantik itu yang terlihat nyenyak tanpa terganggu sedikitpun.


"Kalo dibu*tingin diam-diam, gak bakalan ketahuan. Tidur aja kayak kebo."


Gavin tertawa kecil, menundukkan kepalanya mengecup bibir mungil itu.


Tidak ada pergerakan, bibir mungil itu malah mengerucut kedepan semakin terlihat mengoda. Andaikan ini di rumah, mungkin bibir ini bakalan bengkak gara-gara ulahnya. Tapi sayangnya, mereka di rumah sakit.


Tinggal menghitung hari, sabar Vin. Batin Gavin.


Matanya tidak bisa di ajak kompromi, karena biasanya jam 4 pagi jadwal Gavin tidur. Sepanjang malam biasanya Gavin habiskan bermain game, makanya bisa terjaga mulai dari tadi.


Tanpa sadar Gavin terlelap, dengan lengan melilit dipinggang ramping Kenzie. Takutnya ada yang culik.


Tepat Gavin tertidur, Kenzie terbangun dari tidurnya.


"Vin."


Kenzie meraba-raba dada bidang suaminya, hingga jemarinya menyentuh wajah tampan itu dengan mata yang terpejam.


"Masih tidur atau baru tidur?"


Perlahan Kenzei bangkit dari tidurnya, menyelimuti tubuh kekar itu dengan selimut tipis. Dengan hati-hati Kenzie memindahkan kepala Gavin ke bahu nya, dan melilitkan lengannya kepinggang suaminya dari dalam selimut.


Om Regan terlihat belum sadarkan diri, hingga terdengar decitan pintu. Ternyata Edo dan Dian.


"Tidur?" Tanya Edo pelan.


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, tersenyum manis kearah Dian.


"Pasti pegal tidur di sofa, maaf yah Ken." Ucap Dian pelan, duduk disamping Kenzie.


"Gak papa."


"Kalian pulang aja, kasian suami Lo."


Kenzie mengalihkan tatapannya kearah Gavin, terpaksa membangunkan suaminya takutnya pegal mana bahunya belum sembuh total.


"Vin, bangun." Kenzie menepuk-nepuk pelan wajah tampan itu, hingga siempunya mengeliat dalam tidurnya.


"Kita pulang yok, tidur dirumah aja." Bisik Kenzie, sembari merapikan helaan rambut yang hampir menutupi mata suaminya.


Siempunya malah menyembunyikan wajahnya diceruk lehernya, melilitkan lengannya kepinggang ramping Kenzei.


"Lima menit, aku masih ngantuk."


"Tidur di rumah aja, nanti pegal."


"Tapi peluk."


"Iya, makanya bangun."


Gavin menghela napas panjang, perlahan membuka matanya sembari menguatkan pelukannya.


"Yaudah lepas."


"Ck, katanya pulang."


Kenzie mengehela napas panjang, perlahan bangkit dari tempatnya dengan cepat melilitkan lengannya kepinggang Gavin.


Dian dan Edo yang melihat interaksi mereka berdua, tersenyum sendiri sekaligus iri. Tontonan gratis tanpa berbayar, yang sayangnya membuat jiwa jomblo meronta-ronta.


"Ken, Ngantuk."


"Iya, tunggu bentar. Do antarin kita pulang dong, Gavin gak bisa nyetir kalo begini ceritanya." ucap Kenzei memohon.


Edo hanya mengangguk kan kepalanya, keluar dari ruangan pasien di ikuti Kenzei dari belakang.


"Mentang-mentang udah sah, gak ngerti perasaan para jomblo." Cibir Dian.


______________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


STAY TUNED 🌱

__ADS_1


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2