GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
GUDANG BELAKANG SEKOLAH


__ADS_3

Sontak siempunya tersentak, bulu kuduk merinding mendengar bisikan itu. Apalagi Gavin sengaja mengodanya, melilitkan lengannya kepinggang rampingnya.


"Ck, gak tau tempat. Untung gak ada yang lihat." Gerutu Kenzie, kebetulan lorong yang mereka lewati sepi.


Tepat kakinya menginjak masuk kedalam kelas, bel berbunyi. Dengan grasa grusu Kenzie melempar ranselnya asal, berlari terbirit-birit keluar dari ruangan, tanpa memperdulikan teriakan kedua sahabatnya.


"Kenapa tuh istri orang? Gue curiga. Lo kepikiran gak apa yang gue pikirin?"Bisik Dian.


"Iya nanti aja kita interogasi."


Fani menarik lengan Dian, sebelum pembicaraan ini semakin panjang. Manusia yang satu ini tidak tau waktu untuk bergosip, kadang tetangga ribut babak belur, Dian bisa-bisanya membuka topik pergosipan. Aneh memang, tapi itu kenyataan.


Bertepatan hari ini hari Senin, upacara wajib dilaksanakan. Seperti biasa Kenzie berdiri didepan, tepat disamping kepala sekolah.


Upacara berjalan dengan hikmah, tanpa ada kendala. Tepat guru memberi pengarahan dari monitor, manik Kenzie bertemu dengan manik hitam Gavin.


Berdiri menjulang tinggi dibarisan terdepan, dengan seragam yang rapi. Kenzie mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan penampilan suaminya. Seingatnya Gavin tidak memiliki dasi dari rumah, tapi sekarang sudah ada dasi yang melilit dilehernya.


Pasti ada korban dibelakangnya, dan benar Edo berdiri dibarisan siswa kurang rapi. Kenzie merasa bersalah akan hal itu, bagaimanapun juga gara-gara dia makanya Gavin memberi dasinya.


Gavin yang mengerti tatapan mata gadisnya, tersenyum tipis kearahnya dan mengedipkan sebelah matanya.


"Maaf." Ucap Gavin tanpa bersuara.


Kenzie mengarahkan tatapannya kearah yang lain, takutnya malah berteriak memanggil nama Gavin. Pria yang satu ini selalu melakukan hal yang tidak terduga, tapi untuk kali ini Kenzie tersanjung dengan perlakuannya.


_________


"Ken, semalam ngapain Lo berdua?" Sergah Dian, diikuti Fani tidur diatas meja.


"Maksud Lo apaan?"


"Semalam kita berdua datang kerumah, tapi Gavin malah ngusir katanya Lo belum bangun. Lo berdua begituan makanya lama bangun? Gak kayak biasanya." Jelas Fani panjang lebar.


"Darimana Lo berdua tau gue dirumah?"


"Gak usah mengalihkan pembicaraan, jawab!" Tekan Fani.


"Ck, ngawur Lo berdua."


"Rasanya gimana? Kita berdua penasaran." bisik Dian sembari menaik-naikkan alisnya.


"Cari suami kalo penasaran, awas Lo berdua gue mau ke kamar mandi." Kilah Kenzie, takutnya Gavin kelamaaan menunggunya di gudang belakang.


Bel istirahat berbunyi mulai dari tadi, tapi sayangnya kedua sahabatnya malah menahannya.


"Mau kabur kan Lo." Tahan Fani.


Kenzie memutar matanya jengah, malas meladeni kedua sahabatnya. Mana otaknya sama dengan Gavin, urusan ranjang mulu yang dipikirin.


"Lo mau gue buang air kecil di sini?"


"Gak, sana-sana." Usir Dian kesal.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie bergegas keluar, berlari kecil kearah gudang belakang. Entah apa yang akan Gavin lakukan, area belakang sekolah sepi jarang ada yang ke sana.


Apalagi tempat itu terlihat angker, ada pohon besar dibelakangnya.


"Vin." Panggil Kenzie, mendorong pintu gudang perlahan. Tepat pintu terbuka, tubuh kecilnya langsung ditarik disudut kan dibalik pintu.


"10 menit 30 detik."


Bibir tebal itu langsung menyatu dengan bibirnya, sebelum Kenzie membalas ucapannya. Si*lnya Kenzie sempat membuka mulutnya, terpaksa membalas ciuman Gavin.


Merasa puas mendapat apa yang ia mau, Gavin melepas ciumannya. Menghapus salivanya dibibir Kenzie.


"Nanti kita dilanjut di rumah, takutnya bengkak."


Gavin tertawa kecil, dengan gemas mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya.


"Bibirnya jangan digituin, nanti gue makan."

__ADS_1


Sontak Kenzie menutup bibirnya, dengan kesal mencubit pinggang Gavin. Kalo tau gini jadinya, Kenzie malas datang kesini.


Tanpa mempedulikan wajah kesal gadisnya, Gavin menarik lengan Kenzie duduk disalah satu kursi di paling pojok agar aman. Dengan cepat menarik tubuh gadisnya duduk dipangkuanya, melilitkan lengannya kepinggang ramping Kenzie mengunci pergerakannya.


"Eh, ngapain sih Vin?"


"Cuman ini doang kursi yang bagus."


"Tapi kalo ada yang ngeliat gimana?"


"Gak bakal, di sini aman."


Kenzie berdecak kecil, berusaha bangkit dari tempatnya. Apalagi rok nya tersingkap keatas, menampakkan paha nya.


"Cuman gue doang yang ngeliat, apa salahnya."


Gavin menahan jemari lentik gadisnya, yang sedari tadi berusaha menurunkan rok nya.


"Gue gak nyaman."


"Kenapa?"


"Masih nanya."


Kenzie menatapnya tajam, dengan mengerucutkan bibirnya. Entah apa yang dipikirkan pria yang satu ini, bisa-bisanya melakukan hal seperti ini dilingkungan sekolah. Takutnya ada yang melihat.


"Gak usah takut, gudang belakang area gue."


"Maksudnya?"


"Lupain."


Kenzie berdecak kesal, mengarahkan tatapannya kearah yang lain menyulusuri gudang dengan maniknya. Tempat ini memang jarang dikunjungi, tapi bersih. Bahkan bagian pojok yang saat ini mereka tempati, terlihat bersih dan rapi.


Tidak layak dikatakan gudang, hanya dari luar saja yang terlihat angker.


"Lo punya hubungan apa sama Rian?"


Tanya Gavin, seraya bersandar pada sandaran kursi menatap wajah cantik itu dengan saksama.


"Gak bohong?"


"Gak minat."


Gavin tertawa kecil, menyelipkan helaan rambut gadisnya yang keluar dari ikatannya.


"Tapi katanya dia sering ke rumah."


"Iya, cuman belajar. Dian sama Fani juga ada di sana."


"Emang Lo gak suka sama Rian?"


"Pernah dulu, masa SMP. Tapi dia milih yang lebih cantik dari gue, katanya kita cuman teman gak lebih."


"Serius?"


Gavin melototkan matanya, dengan napas yang memburu.


"Iya,"


"Jadi sekarang?"


Kenzie menghela napas panjang, meletakkan kedua tangannya dipundak Gavin.


"Gak usah di bawa serius, namanya juga remaja. Gue belum ngerti apa-apa. Waktu itu cuman sekedar kagum doang, gak lebih."


Gavin menyipitkan matanya, mencari kebohongan dari manik itu. Tapi sayangnya Kenzie jujur, manik itu tidak menyembunyikan sesuatu.


"Gue gak bohong Vin."


Siempunya hanya mengangguk kan kepalanya, mengarahkan tatapannya kearah yang lain dengan wajah yang berubah drastis.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Kenzei, yang menyadari perubahan wajah tampan itu.


"Gak papa."


"Bohong."


"Gak minat."


Sontak Kenzie tertawa kecil, dengan gemas mencubit wajah tampan itu. Gavin mengcopy paste ucapannya dan itu terlihat lucu dimata Kenzie.


"Lagi ngelawak Vin?"


"Gak, gue gak tau ngelawak. Punya ngebuat Lo tersenyum yang gue tau."


"Buaya."


"Emang buaya bisa ngomong?"


"Didepan gue."


"Jahat banget sama suami sendiri."


Gavin mengeratkan pelukannya, mengikis jarak diantara mereka berdua tanpa Kenzie sadari. Dia terlarut dalam obrolan yang mereka ciptakan, sejarah pertama mereka nyambung berbicara.


"Lo pengen punya anak berapa?" Tanya Gavin.


"Gak tau, belum kepikiran."


"Kenapa?"


"Sekolah dulu yang benar, udah mikir sampe ke situ aja."


"Gak papa, orang kita berdua udah nikah. Apa salahnya?"


Kenzie menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin menghirup aroma khas suaminya.


"Tunggu Lo punya kerja, baru mikirin anak. Makan apaan kita nantinya."


"Gue udah kerja."


"Ngawur."


"Kenzo belum cerita?"


"Cerita?"


"Iya."


"Apaan?"


"Gue punya penghasilan dari game."


"Serius Vin?"


"Iya,"


Kenzie melototkan matanya, menatap Gavin dengan tatapan kagum. Kenzie baru tau suaminya menghasilkan uang dari game, pantasan kamarnya penuh yang berkaitan game, bahkan memiliki ruang kecil masuk dari walk closet.


Kenzie tanpa sengaja menemukan pintu di balik lemari, yang isinya hampir memasuki dunia game. Bahkan lebih menarik dari kamar mereka tempati.


"Jadi gimana?" Tanya Gavin serius.


"Apanya?"


"Rencana punya anak."


"Terserah Lo aja." Balas Kenzie dengan santainya.


___________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


STAY TUNED 🌱


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2