
Sore ini mereka kedatangan tamu, dengan senang hati Kenzie menerima tamu yang datang. Tapi tidak untuk Gavin.
Wajah tampan nya ditekuk, bibir tebalnya mengerucut kedepan. Sore romantis yang dia rencanakan, berantakan gara-gara dua manusia ini. Apa salahnya bertamu di pending dulu. Bikin kesal saja.
"Bentar saya buat minum dulu." Ucap Kenzei.
"Eh, gak usah dek. Kita bisa ambil sendiri." Tahan Rendi.
"Pasti, sesekali tamu juga harus tau diri." Sindir Gavin dengan santainya.
Sontak Kenzie menyiku perutnya, segan dengan kedua manusia yang datang bertamu. Ayu dan Rendi anak pak Harto.
"Maaf yah kak, suami saya mulutnya memang kayak ember. Mungkin embernya lagi bocor, tunggu saya perbaiki dulu nanti." Ucap Kenzei, seraya mencubit paha kekar Gavin.
"Langsung to the point, gak usah basa-basi. Kalo cuman godain bini gue, silahkan keluar. Mumpung pintunya masih terbuka lebar." Tunjuk Gavin kearah pintu.
"Gavin." Sentak Kenzie, menutup bibir tebal itu dengan telapak tangannya.
Bisa-bisanya mulutnya tidak di rem, masa ceplas-ceplos ngomong yang aneh-aneh. Menuduh orang tanpa tau tujuannya.
"Maaf yah kak sekali lagi, jangan di masukin ke hati. Masukin ke dompet aja." Ucap Kenzei, mengalihkan perhatian kedua manusia itu.
Rendi hanya tertawa kecil, berbeda dengan Ayu yang diam membisu. Menatap dua sejoli itu dengan tatapan iri.
"Kita cuman berkunjung, bukan maksud lain." Jelas Rendi seadanya.
Karena tujuannya kemari, hanya melihat pemuda tampan yang datang ke desa mereka. Apalagi Gavin lumayan terkenal dikalangan pria, bukan cuman di dunia game, tapi dunia bela diri juga sempat Gavin geluti.
"Yang."
Spontan Kenzei melepaskan tangannya, yang sempat ia gunakan menutup bibir tebal itu.
"Jadi maksud kedatangan kalian berdua ngapain?" Tanya Gavin kearah Rendi.
"Emang gak bisa?" Tanya Rendi balik.
Gavin hanya mengaruk tengkuknya, binggung cara mengusir tamu dengan elegan. Mana Ayu sesekali melirik kearahnya, membuat Gavin risih setengah mati.
"Kita bicara di luar aja bang." Ucap Gavin akhirnya.
Dengan senang hati Rendi menyetujui ucapannya, emang siapa yang gak senang bisa akrab dengan Gavin. Jarang-jarang Rendi bertemu pria ini secara langsung, apalagi belakangan ini Gavin hiatus dari sosial media.
Palingan story instagramnya di isi wanita dengan foto buram, atau bagian tubuh tertentu. Itu semua terlihat ada pada Kenzie. Wanita kecil yang duduk disamping Gavin.
"Duluan aja bang."
Gavin bangkit dari tempatnya, melangkah masuk kedalam kamar. Menganti celana pendeknya dengan celana training. Dan menganti kaosnya dengan hodiie hitam. Diluar dingin, apalagi sore menjelang malam.
"Aku keluar dulu."
Gavin mengacak-ngacak pucuk rambut Kenzie, hingga punggung kekarnya berlalu menjauh.
Tersisa Kenzei dan Ayu, duduk diatas tikar kecil tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan. Hingga Kenzie bosan, dan bangkit dari tempatnya.
"Mbak makan mie instan?" Tanya Kenzie kearah Ayu.
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, menatap Kenzie sibuk dengan alat masaknya.
Aroma khas mie instan menguar, dua mangkuk diisi me rebus diletakkan Kenzie diatas tikar.
"Dingin begini, enak nya makan yang panas-panas." Ucap Kenzei, dengan senyuman lebar.
Ayu menerima satu mangkok, memakan mie rebus masakan Kenzie barusan. Ternyata semua orang tak seburuk yang bayangkan.
Kenzie orang baru di tempat ini, tapi memperlakukannya layaknya manusia normal. Padahal selama ini, kebanyakan orang-orang menjauhinya tanpa berniat mengajak nya melakukan hal yang berbeda. Contohnya seperti saat ini.
"Jangan melamun mbak, jangan kasih setan menguasai." Ucap Kenzei.
"Lawan, mbak yang punya tubuh. Sepantasnya mbak yang menguasai diri, bukan mereka."
Spontan Ayu tersenyum, senang mendengar perhatian wanita dihadapannya.
"Suami saya memang gak pernah melamun, tapi kelakuannya kayak setan. Karena dia yang jadi setan nya."
Kenzie tertawa terbahak-bahak, diikuti Ayu dengan tawa kecil. Ternyata ada juga orang yang mengejek suami sendiri di hadapan orang lain. Ayu tidak habis pikir.
"Iya mbak, mukanya doang yang tampan. Tapi kelakuannya kadang bikin geleng-geleng kepala."
__ADS_1
Kenzie bangkit dari tempatnya, membawa mangkok yang kosong, dan berlalu masuk kedalam kamar.
Melakukan hal yang sama seperti suaminya, memakai celana training, dan hodiie hitam menutupi tubuh kecil nya.
"Keluar yuk mbak, atau kita kerumah mbak aja. Kenzie belum pernah diajak bertamu ke sana."
Sontak Ayu bangkit dari tempatnya, menganggukan kepalanya antusias mengajak Kenzie bertamu ke rumah orangtuanya. Akhirnya Ayu punya teman, setelah sekian lama menyendiri.
Diluar terlihat Gavin dan Rendi duduk dikursi panjang, menatap mereka berdua dengan tatapan berbeda.
Gavin hanya menaikkan alisnya, dibalas dengan tunjukan jemari lentik itu kearah Ayu. Hingga punggung keduanya berlalu menjauh.
"Bang, bini gue aman kan?"
Rendi yang mengerti arah pembicaraannya, menganggukan kepalanya.
"Aman, Ayu gak bakalan melukai orang lain. Apalagi kelihatannya dia nyaman sama Kenzie."
"Tapi kata Abah, dia kadang ngamuk."
"Kadang, kalo emosinya kurang stabil. Tapi belakangan ini ada kemajuan, biasanya dia gak pernah tampil secantik itu." Ucap Rendi, dan tersenyum lebar.
"Bucin."
"Nyindir diri sendiri."
"Lah gue Bucin sama bini sendiri, udah sah juga."
"Jadi insta story itu siapa?" Tanya Rendi basa-basi, sekedar memastikan.
"Yah bini gue, maksud Lo siapa lagi."
Rendi tertawa kecil, seraya menepuk pundak Gavin. Memang pria yang satu ini keren. Bahkan postingan Instragram saja hanya foto buram, tanpa berniat menunjukkan wanita dibalik foto itu.
Mungkin jika Gavin menunjukkan foto itu full tanpa edit, orang ketiga bakalan bertindak. Apalagi istrinya cantik, sepadan dengan Gavin. Rendi akui hal itu.
"Jadi bang Rendi, anak Abah?"
"Anak orang, udah tau masih aja nanya."
"Gak mirip soalnya, Abah berwibawa. Anaknya tua perjaka, gak ada gunanya."
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, tanpa memperdulikan umpatan yang dilontarkan Rendi. Toh ucapannya benar. Rendi hampir kepala tiga, tapi calon istri saja gak punya, apalagi anak.
Mulai dari dulu, Rendi selalu jauh di bawahnya. Mulai dari kedudukan di tempat latihan karate, hingga pencapaian lomba bela diri. Memang Gavin lebih muda, tapi bukan berarti Rendi yang berada di atasnya.
"Gue udah bilangin, bu* tungin aja si Ayu. Baru Abah usir deh dari kampung." Sindir Gavin semakin sengit.
"Gak ada yang benar ucapan Lo. Bukannya bantuin gue,"
"Makanya usaha, katanya cinta."
"Lo pikir bilang cinta itu gampang? Bocil mana paham."
Gavin hanya tertawa kecil, menertawakan diri sendiri. Padahal nyatanya dia sendiri saja tidak berani mengatakan cinta. Lidahnya keluh sekedar mengucapkan kalimat itu.
"Ck, mau kemana Lo?"
Gavin membalikkan tubuhnya, melongos begitu saja masuk kedalam rumah orangtua Ayu. Tanpa memperdulikan Rendi.
"Nyesel gue, kenapa gak gue biarin aja dia lurus ke hutan. Biar bini nya sama gue."
"Ck, khalayan Lo ketinggian." Teriak Gavin dari dalam.
Rendi hanya tertawa terbahak-bahak, masuk kedalam duduk disamping Gavin.
Ayu dan Kenzie yang awalnya sibuk didalam kamar, grasa grusu bangkit dari tempatnya mendengar suara bariton itu.
"Ngapain Vin?" Tanya Kenzie, menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Gak ngapa-ngapain, cuman mampir."
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, kembali masuk kedalam kamar duduk disamping Ayu. Kebetulan kedua orangtua Ayu pergi keluar desa, ada urusan keluarga.
Biasanya Ayu ditinggal sendiri, kadang ikut, atau dititip di rumah pak Harto.
"Siapa?"
__ADS_1
"Bang Rendi." Goda Kenzie.
Mereka berdua sibuk dengan skincare, Kenzie berniat membantu Ayu pulih dari masa termpuruk nya.
Mungkin di awali dengan perubahan kecil.
"Besok Kenzie minta tolong sama bang Rendi, biar di beliin perawatan wajah."
"Eh, jangan."
"Gak papa mbak, hitung-hitung lihat perjuangan bang Rendi."
Ayu pasrah, menuruti ucapan Kenzie. Padahal mereka berdua baru kenal, tapi Kenzei memperlakukannya layaknya teman dekat.
"Mbak harus terlihat cantik, biar lamarannya cepat. Lupain aja masa lalu, fokus sama bang Rendi aja."
Kenzie fokus menatap layar ponselnya, sesekali di praktekkan langsung ke wajah Ayu.
Hingga terdengar ketukan pintu, mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Yang, pulang yuk. Udah malam."
"Bentar."
Kenzie bangkit dari tempatnya, membuka pintu kamar menampakkan Gavin dan Rendi.
"Gimana yah, mbak Ayu gak punya teman di sini." Jelas Kenzie, sembari menoleh kearah Ayu yang juga menatapnya.
"Jadi?"
"Kamu pulang aja deh, aku nginap di sini aja."
"Ha? Maksud kamu, aku tidur sendiri gitu di rumah?"
"Iya." Balas Kenzie tanpa beban.
"Benar-benar dah, gak boleh. Masa aku tidur sendiri."
"Ck, apa salahnya sih."
"Yah salah."
"Di bagian mana nya salah?"
"Semua."
"Lah, aku cuman–"
"Ekhm." Rendi berdehem keras, memotong ucapan mereka berdua.
Suami istri gak ada bedanya, sama-sama keras kepala. Mana yang di omongin gak penting, didepan para jomblo lagi.
"Nah, bang Rendi aja yang tidur di sini. Sekalian bang bu*tingin diam-diam nanti malam."
"Gavin!" Sentak Kenzie, mencubit pinggang suaminya dengan kesal.
"Ck, jadi gimana? Aku mana mau tidur sendiri di rumah. Mana dingin lagi."
Kenzie hanya menghela napas panjang, beralih menatap Rendi meminta pendapat.
"Yaudah kita tidur di sini aja, biar mereka berdua di kamar. Kita diruang tamu." Jelas Rendi.
"Gak, gue gak mau. Bini gue tetap tidur sama gue." Ucap Gavin, kekeh dengan pendiriannya.
"Ck, mau kamu apa sih Vin, lama-lama bikin kesal." Ucap Kenzei ketus.
"Yah, tidur sama kamu."
"Terserah."
Kenzie menutup pintu, mengunci dari dalam. Tanpa memperdulikan teriakan dari luar.
"Bikin anak nya diundur dulu Vin." Ejek Rendi.
______________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓