
KHUSUS 18+
HARAP BOCIL MENJAUH DARI AREA INI
Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai tujuan. Tepat mobil berhenti, pemimpin desa langsung menyambut kedatangan mereka berdua, dengan senyuman hangat.
"Akhirnya yang di tunggu datang juga." Sambut pemimpin desa.
Gavin hanya tersenyum, menyalim pemimpin desa diikuti Kenzie dari belakang.
"Maaf pak sebelumnya, kita panggil apa yah biar lebih akrab?" Tanya Gavin to the point.
"Saya Harto, kebetulan kalian masih muda panggil Abah saja."
"Oh, iya bah." Balas Gavin sopan.
"Kebetulan kalian suami istri, berarti sudah aman tinggal berdua. Ini kunci rumah sebelah, maaf sebelumnya rumah itu sudah lama kosong mungkin sedikit berdebu."
Harto menyerahkan kunci ke arah Gavin, menuntut mereka berdua kearah rumah sederhana.
"Saya harap kalian nyaman, dan ingat peraturan desa. Dilarang berbuat tidak pantas di area terbuka."
"Iya bah, terimakasih."
"Sama-sama. Hukumannya dimulai besok, saya tunggu di rumah. Saya permisi dulu."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, beralih menatap rumah sederhana yang akan mereka tempati. Tidak terlalu buruk, masih layak ditempati.
"Vin."
Sontak siempunya tersentak kaget, baru menyadari keberadaan istrinya.
"Cantik banget pemandangannya." Tunjuk Kenzie, dengan manik berbinar. Sedari tadi ia hanya fokus menatap itu, tidak peduli ucapan pak Harto. Hamparan sawah terlihat jelas, aliran sungai mengalir ditengah-tengah.
"Kirain apa."
"Yah."
"Jangan teriak-teriak, ini kampung orang." Peringat Gavin.
Kenzie mencibir, melangkah masuk kedalam tepat pintu terbuka. Dengan cepat membuka jendela, membiarkan angin segar masuk.
Rumah sederhana ini tidak terlalu buruk, cocok ditempati berdua. Kamar satu, dapur menyambung dengan ruang tengah. Layaknya anak kos.
Jemari lentiknya langsung sigap meraih sapu, membersihkan setiap sudut rumah.
Gavin memilih masuk kedalam kamar, membuka jendela yang tertutup. Di dalam kamar hanya ada kerangka tempat tidur, terlihat layak di pakai. Yang terpenting, dia dan gadisnya tidak menyentuh lantai.
"Vin."
"Kenapa?"
Kenzie menjulurkan sapu, sembari meneliti kamar yang akan mereka tempati. Lumayan, hanya perlu dibersihkan.
"Di mobil aja sana, di sini banyak debu." Ucap Gavin, meraih sapu dari genggamannya.
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat bergerak sedikit pun. Bagaimanapun juga tempat ini akan mereka tempati berdua, otomatis dia turut membersihkan.
Hanya membutuhkan waktu yang singkat, kamar bersih. Kerangka tempat tidur sudah di lengkapi kasur tipis, selimut tebal, dan bantal mereka berdua.
Mama nya melengkapi semuanya, mulai dari perlengkapan bahan makanan, alat masak, perlengkapan mandi, hingga pakaian yang pantas digunakan di desa.
"Vin, mau mandi." Adu Kenzie, tepat perlengkapan terakhir di susun pada tempatnya.
"Bentar."
Gavin masuk kedalam kamar mandi, yang sayangnya hanya ditutupi sisi kanan dan kiri, tidak beratap. Gavin menghela napas panjang, berbalik menghadap kearah Kenzie yang berdiri tepat dibelakangnya.
"Aku jagain yah, biar aman. Gak papa kan?"
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menyetujui ucapannya. Malah lebih baik Gavin yang mengintip, dari pada orang lain. Toh suami sendiri.
Selama Kenzie mandi, Gavin mendongak kepalanya keatas. Takutnya ada yang mengintip. Hingga percikan air berhenti, beberapa menit kemudian terdengar suara lembut menyapa telinganya.
"Udah Vin, kita gantian."
__ADS_1
Sontak Gavin membalikkan tubuhnya, mengambil alih handuk dari ngengaman Kenzie, dan mendorong tubuh kecil itu keluar dari kamar mandi.
"Aku bisa sendiri, kamu masak aja." Ucap Gavin dan menutup pintu kamar mandi.
Kenzie hanya tertawa kecil, merasa aneh dengan tingkah suaminya. Kenzie yakin, sedari tadi Gavin menahan mati-matian tubuhnya agar tidak berbalik.
____________
Di atas tikar kecil, mereka berdua menikmati makan malam dengan hikmah untuk pertama kalinya. Tidak ada candaan yang keluar dari bibir tebal itu, Gavin hanya fokus dengan makanannya.
Hingga makanannya habis tak tersisa, baru Gavin menoleh kearahnya.
"Sayang."
"Kenapa?"
"Gak papa kan, kita tinggal di sini?"
"Gak."
"Kamu gak marah?"
"Buat apaan?"
"Siapa tau kamu gak suka tinggal ditempat yang beginian."
"Siapa bilang? Nyaman malah."
Gavin tercengang, menatap punggung kecil itu bangkit dari tempatnya. Baru Gavin tau, ada gadis cantik yang mau tinggal ditempat beginian. Padahal tempat ini jauh dari kata layak.
"Jangan melamun, tidur sana."
"Emang kamu mau kemana?" Tanya Gavin.
"Mau cuci piring, kamu ke kamar aja gak usah ikut."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, bangkit dari tempatnya masuk kedalam kamar.
Merasa pekerjaan sudah selesai, Kenzie mengunci pintu rumah dan mematikan lampu. Tepat tubuhnya berbalik masuk kedalam kamar, terlihat Gavin duduk ditengah-tengah ranjang sembari tersenyum lebar kearahnya.
"Kenapa? Jangan bilang kesuru–"
"Kirain kenapa."
Kenzie menghela napas lega, menutup pintu kamar dan naik keatas pangkuannya.
Kenzie masih ingat perjanjian mereka, dan Gavin mendapat nilai diatas rata-rata hari ini.
"Perjanjian."
"Iya," Balas Kenzie, sembari membuka kancing piyamanya. Baru satu kancing teratas, Gavin langsung menahan jemarinya.
"Itu bagian aku."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap manik hitam itu dengan jantung yang berdetak kencang. Jangan tanya bagaimana pikiran dan hati Kenzie saat ini, berantakan.
"Takut?"
"Lumayan." Balas Kenzie.
Gavin hanya tertawa kecil, melilitkan kedua lengannya ke pinggang ramping gadisnya.
Manik nya tidak lepas dari wajah cantik itu, hingga deru napas keduanya bertubrukan. Bibir tebal nya menyatu dengan bibir mungil itu. Lama-lama kecupan mesra berubah liar.
Kenzie memilih memejamkan mata, membiarkan Gavin melakukan tugasnya. Bibir tebal nya lihai ke sana kemari, bersamaan dengan jemari besarnya.
Perlahan tubuhnya dibaringkan ke atas ranjang, dengan cepat Gavin melepaskan kaosnya dan melemparnya asal.
Jemarinya melakukan hal yang sama dengan Kenzie, tanpa melepaskan ciumannya. Hingga kancing piyama itu terbuka, Gavin melemparnya asal.
"Vin."
"Jangan takut."
Gavin menikmati tiap detik untuk saat ini, hingga jemari lentik itu menjambak kecil rambutnya. Jemari besarnya ikut bekerja kesana kemari, hingga tanpa sadar tubuh mereka berdua sama-sama polos.
__ADS_1
Kenzie hanya mengatur napas, dan menahan suara mengelikan yang keluar dari mulutnya. Gavin menjalankan aksinya, fantasi liarnya terbayar lebih dari yang ia bayangkan.
Tubuh ramping itu lebih indah dari fantasinya, semua tubuhnya bekerja. Hingga terdengar ringisan dari bibir mungil itu.
"Sakit Vin."
Gavin menahan gairahnya, takutnya melukai gadisnya yang sebentar lagi berubah menjadi wanitanya. Hingga tubuh mereka berdua menyatu, ringisan itu berubah menjadi isakan kecil.
"Hei, jangan nangis. Sakitnya bentar kok kata mama."
Sontak Kenzie melototkan matanya, menatap wajah tampan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu ngomong apaan sih, kenapa bawa-bawa mama."
"Mama kasih tau sendiri."
"Ya Tuhan, benar-benar dah. Masa kalian cerita yang begituan." Sergah Kenzie tak habis pikir. Dengan kesal memukul kepala suaminya, hingga pikirannya teralihkan dari rasa sakit itu.
Merasa aman, Gavin mengerakkan tubuhnya hingga bibir mungil itu bungkam dengan sendirinya. Decitan ranjang terdengar, bersahutan ge ra man, hingga des*ahan pertama lolos dari bibir mungil itu.
Cengkraman jemari lentik itu semakin menguat di punggungnya, seirama decitan ranjang yang semakin nyaring.
"Vin."
"Iya kenapa sayang?"
"Muka kamu mana."
Kenzie meraba-raba dadanya, menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya. Sembari menahan suara menjijikan itu, Kenzie menatap wajah tampan itu dengan senyuman lebar.
Terpampang jelas bagaimana ekspresi tampan itu, seakan menikmati permainannya. Dengan gemas Kenzie memeluk leher suaminya, menyembunyikan wajahnya diceruk lehernya.
"Kenapa?"
"Pelan-pelan, nanti kita ketahuan."
Bukannya mengindahkan ucapannya, Gavin malah mempercepat gerakannya, otomatis decitan ranjang semakin nyaring.
"Vin."
Kenzie menjambak rambut suaminya, menahan gejolak aneh yang mengalir dalam aliran darahnya.
"P e l a n."
Gavin pasrah, menuruti ucapan istrinya menahan gairah yang harus tertuntaskan. Keringat membasahi, ge ra man Gavin lebih nyaring dari suara merdu yang keluar dari bibir mungil itu.
Hingga tubuh kekar nya ambruk di atas tubuh Kenzie, dengan napas yang memburu.
"Aku mencintaimu." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
"Ha?"
"Ngantuk."
"Bukan itu, sebelumnya."
"Mau aku bantu pasangin bajunya?"
"Vin."
"Apa sayang?"
Kenzie berdecak kecil, mendorong tubuh kekar itu dari atas tubuhnya.
"Jauh-jauh sana."
Gavin hanya tertawa kecil, menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua dan memeluk erat tubuh kecil istrinya.
"Tidur, jangan marah-marah mulu."
"Nyebelin."
Aku mencintaimu! batin Gavin.
___________
__ADS_1
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓