
Pukul 17:00, Gavin belum juga menunjukkan batang hidungnya. Sesekali Kenzie turun ke bawah, sekedar menunggu suaminya.
Tapi sayangnya, yang ditunggu tidak muncul-muncul juga, yang ada Kenzie capek menuruni tangga satu persatu.
Dengan berat hati Kenzie duduk diatas sofa, melipat kedua tangannya sembari fokus menatap layar televisi.
Hingga pintu kamar terbuka, menampakkan Gavin dengan senyuman lebarnya.
"Ada yang nungguin nih ceritanya." Ucap Gavin, melangkah mendekat kearah Kenzie mencium pucuk rambut istrinya.
"Kenapa, hm? Butuh sesuatu?" Tanya Gavin, sembari meletakkan ranselnya ke atas meja.
"Kamu lama banget pulangnya, aku tungguin mulai dari tadi."
"Maaf."
Kenzie bangkit dari tempatnya, membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Menampakkan tubuh kekar, dan perut kotak-kotak Gavin.
"Kamu udah mandi yang?"
Gavin mengendus-endus leher Kenzie, sesekali mendaratkan sentuhan basah di kulit putih itu.
"Udah, kamu mandi sana."
"Bentar."
"Kenapa?"
Gavin tersenyum lebar, hingga menampakkan deretan gigi putihnya.
Detik berikutnya, menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya.
"Aku kangen, pengen peluk." Adu Gavin.
Kenzie hanya tertawa kecil, membalas pelukan hangat suaminya tak kalah erat. Aroma khasnya menguar memasuki rongga hidung, walau seharian beraktivitas di luar tapi aroma tubuh itu selalu mengeluarkan aroma yang memabukkan.
Sesekali Gavin mencium pucuk rambut nya, mengayun-ayunkan tubuh mereka berdua hingga terdengar pekikan kecil dari bibir mungil itu.
"Hati-hati Vin."
"Eh, aku lupa. Anak Daddy gak nakal kan mommy?"
"Gak, cuman pengen makan mulu."
"Pengen makan apa?" Tanya Gavin, seraya melonggarkan pelukannya.
"Makanan berkuah, panas, dan pedas."
Gavin mengerutkan dahi, menatap wajah cantik itu yang terlihat menunggu persetujuannya. Gavin sengaja mengulur waktu, melilitkan kedua lengannya kepinggang ramping itu seraya pura-pura berpikir.
"Biasanya itu makanan apa?"
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya. Melilitkan kedua lengannya kepinggang Gavin, seraya mendongak kepalanya keatas menatap wajah tampan itu.
"Seblak, rawon, ramen, mie rebus, soto ayam. Pilih yang mana?"
"Semua boleh Vin?"
"Tentu. Tidak boleh."
"Yah kenapa?"
"Gak boleh mommy, harus makan seimbang. Kita belum periksa loh ke dokter, takutnya bermasalah sama dede bayi."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, mengalihkan tatapannya kearah yang lain menghindari kontak mata dengan suaminya.
"Kenapa? Masih malu sama suami?" Goda Gavin.
"Siapa bilang?"
"Kenapa menghindar?"
"Gak kenapa-napa."
Gavin terkekeh geli, mencium wajah cantik itu bertubi-tubi.
"Aku mau mandi, jangan kemana-mana."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kekar itu berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Tepat pintu tertutup rapat, Kenzei baru menghela napas lega. Jantungnya tidak bisa diajak kompromi, masa sama suami sendiri saja berdetak kencang. Ada-ada aja.
__ADS_1
"Besok-besok Lo biasa aja, Gavin itu suami gue. Masa tiap kali ngeliat dia Lo malah deg deg kan." Ucap Kenzei bicara sendiri. Seraya menyentuh letak detakan jantungnya, yang berdegup kencang sedari tadi.
Daripada bicara sendiri, lebih baik Kenzie menyiapkan baju ganti suaminya. Takutnya malah benaran gila.
"Sayang."
"Kenapa? di atas ranjang udah aku siapin baju ganti."
"Iya, makasih."
Gavin berlalu keluar dari walk closet, meninggalkan Kenzie yang terlihat sibuk dengan lemari. Wanita yang satu itu hampir sama dengannya, tidak tahan melihat yang berantakan.
Tapi kadang, saking terburu-buru nya. Mereka bisa menghancurkan lemari dalam kurun waktu lima detik. Tapi saat sadar seperti ini, mereka malah sibuk merapikan lemari. Aneh tapi nyata.
"Mommy."
"Apaan?"
"Ck, jangan marah-marah mulu."
Gavin berdiri tepat dibelakang Kenzie, meletakkan kepalanya di atas kepala istrinya, saking pendeknya Kenzie.
"Malam mingguan yuk."
"Kemana? Naik apa? makan apa? pulang jam berapa? sama siapa?" Tanya Kenzei bertubi-tubi.
"Jalan kaki, di ujung kompleks kan ada taman. Cafe anak muda juga ada di sana, mau gak?"
"Boleh."
Dengan sigap Gavin meraih dua jaket dari lemari, memasangkannya di tubuh kecil itu dan di tubuh kekarnya.
Sekilas Gavin meneliti penampilan Kenzie dari bawah hingga atas, istrinya hanya memakai celana pendek. Tidak bisa di biarkan, hanya Gavin yang bisa melihat tubuh itu.
"Pakai celana panjang, di luar dingin." Kilah Gavin.
Untungnya Kenzie mengerti maksudnya, hingga kaki kecil itu di tutupi celana training persis yang ia pakai.
Dengan cepat Gavin meraih ponsel mereka berdua, dan dompetnya dari saku celana abu-abu nya.
"Aku pengen makan yang aku bilang tadi boleh?" Tanya Kenzie penuh harap.
"Boleh, asal jangan berlebihan. Gak baik soalnya."
Wajah cantik itu terlihat sumringah, senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya. Hingga angin sore menyapa, tepat kaki mereka berdua menginjakkan kaki keluar rumah.
Para bodyguard hanya menunduk hormat, dibalas dengan senyuman lebar Kenzei. Tapi tidak dengan Gavin.
Jemarinya semakin erat mengengam jemari lentik itu, sesekali mengelus lembut menggunakan jari jempolnya.
"Rumah Tiara yang mana?" Bisik Kenzie kearah Gavin.
"Dibawah kolom jembatan."
"Yah, serius."
"Gak tau yang, kenapa malah nanya sama aku."
"Bawel."
Kenzie mengalihkan tatapannya kearah yang lain, hingga maniknya menangkap taman rerumputan hijau. Beberapa orang duduk di sana menikmati sore, dan anak kecil bermain bola.
Tawa, kehangatan itu yang terlihat di sana. Apalagi banyak orangtua menyempatkan waktu bermain dengan anak-anaknya, padahal wajahnya terlihat lelah. Kenzie, jadi kangen rumah.
"Mau kesana?" Tanya Gavin, yang mengerti arah tatapan mata istrinya.
"Iya."
Gavin menarik jemari lentik itu dengan lembut, duduk di kursi taman khusus dua orang.
"Enak banget ngeliat pemandangan kayak gini." Ucap Kenzei, sembari tersenyum lebar.
"Mau?"
"Maksudnya?"
"Aku, kamu, dan anak-anak kita nanti."
Spontan Kenzei mengalihkan tatapannya kearah Gavin, tepat manik mereka bertemu.
"Aku pengen kayak mereka, punya keluarga harmonis, rukun, punya istri yang baik, anak-anak yang lucu. Kalo masalah bahagia, ngeliat kamu aja aku udah bahagia." Ucap Gavin lembut.
__ADS_1
Spontan Kenzei mengalihkan tatapannya kearah yang lain, seraya mengulum senyum. Kenzie tidak yakin bentuk wajahnya seperti apa saat ini, bahkan telinganya terasa panas.
"Aku belajar banyak dari kamu, terutama dalam hal kesederhanaan."
Lanjut Gavin lagi.
"Contohnya?"
"Bahagia itu sederhana. Cukup ada kamu sebagai pendukung, dan pelindung. Itu lebih dari kata cukup."
"Bahagia itu ada porsinya masing-masing, setiap orang juga memiliki cara pandangan yang berbeda tentang bahagia. Ada yang bahagia, karena uang. Seperti author Ga, mungkin yang baca juga sependapat dengan saya;) Ada juga bahagia, cukup melihat senyuman orang yang mereka cintai, kayak yang kamu bilang." Jelas Kenzie.
"Pikiran kamu terbuat dari apa sih yang?"
"Baja, berlian, mas, Dior, Gucci, Prada, LV, Channel."
"Kode? Mau beli tas?"
"Gak minat."
Gavin tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut istrinya dengan gemas.
"Jadi pengen beli apa?"
"Boba, ramen, pecel, rujak, es krim, martabak manis, cokelat, mie rebus, masih banyak lagi."
"Yaudah, ayo. Kasian anak kita, semoga aja mereka yang minta. Bukan kamu."
"Yah, jahat banget sih Vin."
"Just kidding."
Kenzie hanya mengerucutkan bibirnya, tanpa berniat bangkit dari tempatnya. Entah mengapa pemandangan di depan menarik perhatiannya.
"Ayo, katanya pengen makan."
Kenzie hanya mengelengkan kepala, menyandarkan kepalanya di lengan kekar itu seraya menatap lurus kedepan.
"Kenapa? kangen bunda sama ayah?" Bisik Gavin.
"Gak, ujian UN bentar lagi."
"Iya, kita honeymoon setelah lulus gimana?"
"Buat apaan? Udah jadi juga, lagian di kamar juga boleh. Kenapa harus buang-buang uang?"
"Yah?"
"Memang benar loh Vin, kamu mau ngapain lagi honeymoon. Buka segel siapa lagi? Kamu punya selingkuhan?"
Gavin hanya menghela napas panjang, menahan sumpah serapah yang ingin keluar dari mulutnya. Bibir mungil itu mulai lagi memojokkannya, kalo diladeni makin panjang urusannya. Tapi kalo didiamin malah di sangka yang aneh-aneh.
"Kamu selingkuh sama murid kamu?"
"Tidak mommy." Sahut Gavin lembut.
"Bohong mulu kerjaan kamu, bilang aja iya."
"No mommy."
"Gavin!"
"Iya sayang, kenapa?"
"Kamu dengerin aku gak sih?"
Tahan, ingat bini Lo lagi hamil. Tunggu lahiran dulu baru b*ntungi lagi. Batin Gavin.
"Vin."
"Dengar sayang, emang kenapa? Kamu butuh sesuatu?"
"Kamu gak jelas."
Astaga, salah lagi. Batin Gavin.
"Beli Boba sana, campur sama jus buah naga."
"Ha?"
___________
__ADS_1
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)