
Hampir tengah malam, tapi rumah masih terlihat ramai. Kenzie sudah masuk kedalam kamar, tinggal Gavin duduk di pojokan mendengar pembicaraan para orangtua yang tidak ada ujungnya.
Bahkan manik nya hampir tertutup rapat, tapi sayangnya mama nya malah menahannya sedari tadi. Entah apa maksud dan tujuannya. Kebetulan kedua orangtuanya ikut menginap di rumah mertuanya malam ini, sekalian ada yang ingin mereka bicarakan.
Dengan pergerakan sepelan mungkin, Gavin bangkit dari tempatnya hendak menaiki tangga satu persatu. Sebelum suara Lara terdengar.
"Mau kemana bang?"
Sontak Gavin mengehentikan langkahnya, detik berikutnya kembali menaiki tangga satu persatu dengan santainya.
"Ngantuk ma," kilah Gavin.
"Jangan ganggu istri kamu, biarin Kenzie istirahat!" peringat Lara.
"Lah emang Gavin mau ngapain? orang cuman mau tidur,"
"Banyak omong kamu, hasilnya udah jadi jangan di b*ntungi lagi," ucap Lara tanpa filter.
"Gak usah dengerin kata mama, suami memang harus dapat jatah tiap malam," timpal Viktor papa Gavin, ikut membuka suara.
"Yah, menantu papa hamil muda. Kalo terjadi apa-apa sama cucu kita gimana?" bentak Lara.
"Kan pelan-pelan bisa ma, abang gak usah dengarin kata mama. Papa heran, sebenarnya Gavin anak mama bukan sih? masa gak pernah dukung anak,"
"Maksud papa anak siapa lagi, ha?'
"Siapa tau anak tentangga, duda beranak satu kenalan mama itu."
"Oh, papa bosan hidup?"
Lara bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi dihadapan suaminya. Tanpa memperdulikan kedua orangtua Kenzie yang sedari tadi menonton interaksi mereka bertiga.
Sontak Gavin membalikkan tubuhnya, mengelengkan kepala melihat tingkah kedua orangtuanya. Gavin biasa melihat pemandangan itu, ujung-ujungnya adu mulut hampir tengah malam, atau mama nya bungkam menikmati permainan papa nya.
Untung Gavin sudah legal melihat pemandangan itu, kalo tidak hancur sudah otak dan mata Gavin yang suci dan polos ini.
"Yah, bund, maaf yah. Memang mereka berdua begitu, malu-maluin," ucap Gavin dengan santainya.
"GAVIN!" Teriak Lara dan Viktor bersamaan.
Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, melangkah masuk kedalam kamar menampakkan Kenzo duduk ditengah-tengah ranjang, dengan Kenzie menatap layar ponselnya.
"Belum tidur?" tanya Gavin, duduk di tepi ranjang mengelus lembut rambut istrinya.
"Sebenarnya kamu punya mata gak sih Vin? badan besar gini, masih aja nanya belum tidur? Yang kamu lihat gimana emangnya?" sergah Kenzie.
Spontan Kenzo tertawa kecil, bangkit dari tempatnya berlalu keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Takut kena sasaran amukan kakak nya.
"Lah kok marah-marah sih yang? aku cuman nanya, bukan minta jatah,"
Kenzie hanya diam, meraih sesuatu dari bawah bantal. Di letakkan di atas paha kekar itu.
"3 bulan, kita berdua sehat."
Sontak Gavin melototkan matanya, meraih lembaran USG dan tersenyum lebar. Tapi itu hanya bertahan beberapa detik, wajah tampan itu kembali datar dengan tatapan tajam.
"Kenapa aku gak di ajak?" tanya Gavin dingin, meletakkan hasil USG ke atas nakas.
"Aku juga gak tau bunda bakalan ngajak ke sana,"
"Bohong,"
"Yaudah, tanya bunda sana,"
"Jahat banget sih yang, aku juga pengen ikut,"
"Kayak bocil, gitu aja ngambek."
Kenzie membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, tanpa memperdulikan Gavin yang merajuk layaknya anak kecil. Padahal hanya ke dokter kandungan, bukan kemana-mana.
"Sayang, kamu kok gitu sih. Kalo dokter tanya suaminya mana, kamu jawab apa?" tanya Gavin, terdengar seperti rengekan.
"Tidak bertanggung jawab,"
"Yah,"
"Bising-bising, tidur! udah tengah malam,"
"Aku minta jatah,"
__ADS_1
"Malas, aku gak mood. Pengen makan soto Medan,"
Sontak Gavin melototkan matanya, dengan gerakan kilat masuk kedalam selimut. Menyembunyikan seluruh tubuhnya.
Mulai lagi wanitanya, padahal ini sudah tengah malam. Gavin cari soto Medan kemana coba? masa ke Medan tengah malam begini, yang benar saja.
"Vin, pengen makan soto Medan. Beli dong sayang, biar aku makin cinta," rayu Kenzei, ikut masuk kedalam selimut. Memeluk erat tubuh kekar itu dari samping.
Gavin tidak bergeming sama sekali, tubuh kekar itu tetap dengan posisinya, tidur tengkurap.
"Sayang, Daddy Gavin. Ayo dong, pengen makan soto Medan. Anak kamu yang pengen bukan aku,"
Gavin mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, dengan kedua tangan terkepal kuat. Tepat jemari lentik itu bermain-main di bagian sensitifnya, membuat seluruh tubuhnya gerah dan panas di waktu yang bersamaan.
"Satu mangkok soto Medan, dapat jatah malam ini."
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, berdiri di samping ranjang menatap Kenzie dengan tatapan senang.
"Serius? gak bohong kan? satu malam gak ada bantahan!" ujar Gavin.
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kekar itu ke sana kemari. Memakai jaket, dan celana panjang.
"Jangan lama-lama yah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut apalagi, ingat keselamatan," peringat Kenzie.
"Iya sayang, kamu jangan tidur dulu."
Gavin mendekat ke arah Kenzie, menangkup wajah cantik itu dan mengecup bibir Kenzie yang sudah menjadi candu nya.
"Tunggu bentar, oke."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kekar itu berlalu keluar dari kamar. Tepat pintu tertutup rapat, terdengar helaan napas panjang. Tubuh kecil itu bangkit dari tempatnya, berdiri dibalik kaca balkon, menatap mobil suaminya perlahan menjauh dari pekarangan rumah.
"Maaf sayang, aku mana tega sebenarnya. Apalagi itu bukan rencanaku," ucap Kenzei, dengan manik yang berkaca-kaca.
Dengan kecepatan sedang Gavin membelah jalanan yang sepi, tujuannya saat ini rumah manusia yang seharusnya di gangu tengah malam begini. Rumah Angga.
Para bodyguard langsung membuka gerbang, mempersilahkan Gavin masuk kedalam. Kebetulan Gavin biasa menginap disini sebelum menikah, jadi bodyguard sudah hapal siapa yang datang tengah malam begini.
Layaknya pemilik rumah, Gavin langsung masuk ke dalam. Berlari kecil ke kamar Angga. Menekan pin kunci pintu kamar, hingga pintu terbuka menampakkan kamar gelap tanpa pencahayaan.
Gavin langsung meraba-raba dinding, hingga kamar terang menampakkan dua manusia tidur di atas ranjang.
"KEBAKARAN WOI!" Teriak Gavin memenuhi ruangan.
Dengan kesadaran yang belum terkumpul, dua manusia itu langsung bangkit dari tempatnya. Dengan gegalapan mencari letak kamar mandi. Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, melempar bantal kearah Angga dan Edo.
"Mau kemana Lo berdua?" tanya Gavin tanpa merasa berdosa nya.
Sontak manik keduanya terbuka lebar, menatap tajam kearah pelaku. Hanya hitungan detik, tubuh Gavin sudah terbungkus di dalam selimut. Ditimpa dua manusia sekaligus.
"Mati aja Lo bgsd," geram Angga.
"Ck, sesak woi! gimana sih Lo berdua," teriak Gavin, sembari memberontak.
"Jadi manusia tau diri juga, ini tengah malam ngapain Lo ke rumah orang?" bentak Edo, kesal dengan kelakuan Gavin barusan.
"Bini gue ngidam, awas Lo berdua. Nanti bini gue nangis,"
"Biarin, bila perlu Lo gak usah pulang," sergah Angga.
"Gimana sih Lo berdua, AWAS BR*NGSEK!"
"Minta maaf!" bentak Angga, sembari mengarahkan ponselnya kearah Gavin.
"Minta maaf, atau Lo kita bunuh detik ini juga!" sambung Edo.
"Ck, gue minta maaf. Buruan, bini gue ngidam,"
Sontak Angga dan Edo bangkit dari tempatnya, menatap layar ponsel dengan tawa yang pecah. Sejarah pertama dalam kehidupan, baru kali ini seorang Gavin minta maaf.
Walau tanpa mereka sadari, Gavin berbeda dihadapan Kenzie.
"Jangan lupa buka Instagram, video Lo udah tersebar," ujar Angga tanpa beban.
"Benar-benar Lo berdua!" tunjuk Gavin kearah Angga dan Edo, dengan tatapan tajam.
"Kalo bukan karena bini gue, malas banget gue datang kemari," gerutu Gavin.
Menarik kaos kedua sahabatnya keluar dari kamar Angga, hingga berhenti di depan pintu kamar para maid.
__ADS_1
"Bangunin satu orang! gue butuh soto Medan detik ini juga, buruan Angga!"
ucap Gavin tak sabaran.
"Ck, sebenarnya yang punya bini siapa sih? heran gue lama-lama," gerutu Angga.
________________
Setengah jam berlalu, Gavin belum juga menunjukkan batang hidungnya. Kenzie bolak balik mengintip dari kaca balkon, berharap manusia yang ia tunggu muncul dengan sendirinya.
"Suami aku mana ya Tuhan, bikin khawatir aja," ucap Kenzei resah.
Sesekali mengirim pesan, walau tetap tetap saja hasilnya sama, tidak ada balasan sama sekali.
Entah kemana pria yang satu itu mencari soto Medan tengah malam begini, Kenzie menyesal menuruti ucapan mertua dan bunda nya.
Hingga satu jam berlalu, baru terdengar suara deru mobil dari bawah. Tepat Kenzie hendak membuka pintu kamar, bertepatan manusia yang ia tunggu berdiri menjulang tinggi tepat dihadapannya.
Dengan cepat Kenzie berhambur memeluk erat tubuh kekar itu, dengan menghela napas lega.
"Kamu lama banget, aku khawatir tau."
"Maaf yah, mau makan sekarang soto nya? mumpung masih panas."
Sontak Kenzie menganggukan kepalanya, menarik lengan kekar itu masuk kedalam kamar, dan mengunci pintu.
"Beli dimana?" tanya Kenzie, sembari sibuk menikmati soto yang di bawakan suaminya.
"Masak sendiri, di ajari seseorang di rumah Angga," ungkap Gavin antusias.
"Pantasan kamu bau bawang,"
Kenzie bangkit dari tempatnya, menarik lengan kekar itu duduk di tepi ranjang.
"Kenapa?"
Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, membuka jaket dan kaos dari tubuh kekar itu. Dilempar asal ke atas lantai.
"Pelan-pelan yah, matiin aja lampu nya," ucap Kenzei lembut, dengan senyuman manis terukir indah dibibir mungilnya.
"Maksudnya?"
"Ck, kata nya minta jatah."
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, mematikan lampu kamar hingga tanpa pencahayaan sama sekali. Detik berikutnya, satu titik cahaya terang berasal dari ponsel Gavin yang diarahkan ke arah yang lain.
Kebetulan Kenzie hanya memasang lampu kamar dengan pencahayaan terang, tanpa lampu tidur saking takut nya tidur dengan pencahayaan sedang.
"Katanya pengen coba tanpa lampu," imbuh Kenzie.
"Gak papa, nanti kamu sesak."
Kenzie hanya tertawa kecil, memeluk erat leher suaminya dengan gemas. Bahkan di kasih kesempatan yang menguntungkan baginya, tetap saja suaminya tidak rakus.
Kenzie semakin jatuh sedalam-dalamnya dengan pesona pria yang satu ini. Dengan apa yang ia miliki.
"Aku mencintaimu!" bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
Bibir tebalnya menyapu setiap inci wajah dan tubuh istrinya, jemari dan bibirnya bekerja hingga suara pembangkit gairah nya keluar dari bibir mungil itu.
"Pelanin suaranya, nanti ketahuan yang lain," bisik Gavin, seraya terkekeh geli melihat wajah cantik itu syok, spontan menutup mulutnya.
"Lupa,"
"Gigit leher aku aja, biar cuman aku yang denger," goda Gavin.
Spontan wajah Kenzie memerah sempurna, walau tetap saja melakukan apa yang Gavin ucapakan.
Keringat dan gairah bercampur menjadi satu. Sesekali Gavin menutup bibir mungil itu dengan telapak tangannya, takut terdengar ke kamar sebelah.
"Tunggu kita punya rumah dulu, baru kamu bebas berteriak." bisik Gavin tepat didepan wajah cantik itu.
"Makanya cari rumah, lama-lama sesak begini,"
Gavin hanya tertawa kecil, mengecup bibir mungil itu yang sudah terlihat bengkak karena ulahnya.
________________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓