
Entah apa yang terjadi dengan wanita yang satu itu, Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, melangkah lebar masuk kedalam rumah pak Harto. Didalam terlihat banyak orang, Gavin ikut bergabung, duduk disamping pak Harto.
"istri kamu mana nak Gavin?" Tanya pak Harto.
"Di dapur bah."
Pak Harto hanya mengangguk kan kepalanya, kembali fokus berbincang dengan yang lain.
Gavin yang tidak tau arah pembicaraan, memilih diam dan menjadi pendengar. Sesekali maniknya melirik kearah dapur, tapi sayangnya manusia yang ia cari tak menunjukkan batang hidungnya.
Kenzie sibuk memasak, sesuai dengan bahan makanan yang ada. Ayam kampung peliharaan pak Harto, dan ikan segar dipancing dari sungai.
Walaupun begitu, semua terlihat mengiurkan. Ayam kampung 2 ekor, dipanggang dan direndang. Ikan segar digoreng, dan di sambal dengan cabe merah yang terlihat pedas.
Lalapan mentah sudah tercuci bersih, tinggal menghidangkan makanan.
"Nak Kenzie." Panggil istri pak Harto.
"Iya kenapa ma?"
"Pakai ini yah, biar lebih sopan."
Istri pak Harto menyondorkan sarung, sekalian membantu Kenzie memasangkan ditubuhnya. Menutupi bagian pinggang hingga ujung kaki.
Kenzie baru sadar, ternyata semua ibu-ibu disekitarnya memakai sarung, sama seperti istri pak Harto.
"Kamu duduk aja nak, kita gantian." Ucap seorang wanita paruh baya.
Kenzei hanya mengangguk kan kepalanya, memilih duduk dipojok dekat ibu-ibu.
Gavin yang awalnya fokus melihat istrinya, tersentak kaget melihat wanita tadi duduk disampingnya.
"Orang baru mas?" Tanya wanita itu.
"Eh, iya Bu."
"Panggil kakak aja, saya masih muda."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengalihkan tatapannya kearah Kenzie. Tepat, manik mereka bertemu, tapi sayangnya wajah cantik itu terlihat berbeda.
Ngapain lagi manusia yang satu itu? Godain suami gue? Batin Kenzie.
Mungkin ucapannya tadi siang masih bisa di toleransi, tapi untuk yang satu ini. Tidak. Enak saja wanita itu duduk dekat-dekat dengan suaminya
Dengan kesal, Kenzie bangkit dari tempatnya melangkah keluar dari rumah pak Harto dari pintu belakang, masuk kembali dari pintu depan. Tidak mungkin Kenzie berjalan dari tengah-tengah, bahkan makanan sudah tersaji.
Gavin yang menyadari keberadaan istrinya tidak ditempat semula, sontak gegalapan mencari keberadaan Kenzei. Hingga seseorang duduk disampingnya, duduk disela-sela dia dan wanita itu.
Spontan Gavin mengangkat wajahnya, menoleh kearah siempunya. Ternyata Kenzie berusaha duduk ditengah-tengah, dengan senang hati Gavin mengeser tubuhnya mempersilahkan Kenzie duduk disampingnya.
"Yu, pindah ke sini!" Perintah seorang wanita paruh baya, selaku ibu dari wanita itu.
Dengan wajah mencibir, Kenzei menatap wanita itu seakan mengobarkan perperangan. Dengan santainya, menarik lengan kekar suaminya meletakkannya diatas pangkuannya.
"Kenapa yang?"
"Gak papa." Balas Kenzie, tanpa mengalihkan tatapannya dari wanita itu.
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, walau sedikit binggung dengan tingkah istrinya. Jemari besarnya mengelus lembut lutut Kenzie yang tertutupi kain sarung.
Jujur Gavin suka melihat istrinya memakai kain sarung, Kenzie terlihat wanita dewasa pada umum nya.
Hingga acara makan malam dimulai, diawali sesi berdoa dipimpin pak Harto.
"Yang masak siapa?" Bisik Gavin basa basi. Walau lidah nya tau betul rasa ciri khas masakan ini.
"Istri orang, udah tau masih aja nanya."
"Istri siapa? Kenalin dong yang. Masakannya enak banget, gak ada tandingannya."
Kenzie menoleh kearahnya, mencubit paha kekar itu dengan kesal. Kenzie tau arti tatapan mata itu, dasar manusia mesum. Sudah tau mereka masa menjalani hukuman, masih saja mengodanya ditempat terbuka.
__ADS_1
Gavin hanya nyengir kuda, sembari fokus dengan makanannya.
Tanpa mereka sadari, semua mata sesekali melirik kearah mereka. Merasa tertarik melihat pasangan muda yang duduk bersama mereka.
"Jadi pengen muda lagi." Bisik salah satu wanita paruh baya.
Hingga acara makan malam selesai, pak Harto membuka pembicaraan.
"Seperti yang kita ketahui, besok hari pertama memanen padi. Tradisi desa, kita panen dari sawah kami dulu, baru lanjut ke sawah yang lain." Jelas pak Harto.
Spontan Gavin menelan salivanya kasar, membayangkan memanen semua sawah dibawah desa. Apalagi panen manual, tanpa mesin padi.
"Nak Gavin sama nak Kenzie bisa ikut, bisa tidak. Kamu tidak memaksa." Ucap pak Harto.
"Iya bah, besok saya ikut." Sahut Gavin tegas.
Sesulit apapun itu, Gavin akan melewati itu semua. Namanya juga hukuman, resiko masalah yang mereka perbuat.
Kenzie yang duduk disampingnya memilih diam, mencerna ucapan pak Harto. Hampir tengah malam, pembicaraan itu masih berlanjut. Rasa ngatuk menyerang, tanpa sadar Kenzei bersandar di lengan kekar itu.
Maniknya semakin berat, rasa ngantuk itu tidak bisa diajak kompromi lagi. Hingga lengan kekar terasa melilit dipinggangnya, bersamaan Gavin bangkit dari tempatnya sembari membantunya.
"Kita pulang dulu, bah, ma." Pamit Gavin.
"Iya." Sahut pak Harto.
Kenzie hanya diam, sesekali memaksa manik nya terbuka. Tepat mereka keluar dari rumah pak Harto, angin malam langsung menyambut tubuh mereka berdua.
"Cepatan, dingin." Racau Kenzie
Gavin hanya berdecak kecil, melempar sandal mereka berdua kearah rumah dan memopong tubuh kecil istrinya yang terlihat seperti orang mabuk.
"Kebo, gak sekalian aja numpang tidur di kandang ayam Abah."
"Ck, cepatan. Banyak omong kamu."
"Katanya ngantuk, marah-marah aja bisa."
Perlahan membaringkan tubuh mereka berdua diatas ranjang, menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua.
"Dingin, Vin."
Gavin mendekap erat tubuh kecil itu, sesekali mencium pelipis Kenzei.
"Selamat malam Baginda ratu."
_____________
Pukul 06:30, rasa dingin itu semakin mencekam. Mungkin di kota, sudah terasa panas dan bising. Di desa tenang tapi sayangnya dingin.
Kenzie bangun lebih awal, memilih bersembunyi dibalik selimut memeluk erat tubuh kekar itu. Wajah tampan nya masih terlihat tenang dengan napas yang teratur, dengan dengkuran kecil keluar dari mulutnya.
"Vin." Bisik Kenzie, seraya mengeratkan selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Hingga terdengar ketukan pintu, menarik perhatian Kenzei.
"Ema?"
Dengan cepat Kenzie bangkit dari tidurnya, melepas sarung yang belum sempat dilepas semalam diletakkan di atas ranjang.
Tepat pintu terbuka, menampakkan wanita semalam yang bernama Ayu.
"Ngapain mbak?" Tanya Kenzie ketus, tanpa memperdulikan penampilannya yang terlihat berantakan.
"Mas tampan semalam mana dek?"
"Ha?"
"Saya ngantar sarapan pagi, buat mas tampan." Ucap Ayu malu-malu.
Kenzie menghela napas panjang, meronggoh saku jaketnya dan mengikat rambutnya asal menampakkan tanda kemerahan di area lehernya.
__ADS_1
Sontak Ayu melototkan mata, tau betul tanda kemerahan itu.
"Mbak Ayu cari mas tampan semalam?" Tanya Kenzei, seraya menaikkan lengan jaketnya, menampakkan lengan kecilnya.
"Iya dek, saya lihat semalam masuk ke rumah ini."
"Pasti, gak mungkin suami orang tidur dirumah tetangga." Geram Kenzie.
"Suami orang? Mas tampan udah nikah? Tapi masih muda saya lihat."
"Saya juga masih muda, tapi udah punya suami." Ucap Kenzei tenang, seraya menahan emosinya.
Manusia yang berdiri dihadapannya, bukan manusia normal sama sepertinya. Tapi Kenzie lihat dari gerak gerik, hingga cara bicara, bahkan penampilan yang terlihat modern. Membuat Kenzie sadar, wanita di hadapannya berbeda dengan yang semalam.
Oh, sembuh kalo lihat yang bening-bening. Batin Kenzie.
"Bisa panggil dek mas tampan nya?"
"Masih tidur." Sahut Kenzie, dengan suara naik satu oktaf.
Gavin yang awalnya tidur nyenyak, terganggu mendengar suara dari luar. Spontan bangun dari tidurnya, dengan menahan ngantuk dan nyawa yang belum terkumpul.
Dengan malas bangkit dari tempatnya, melangkah gontai keluar dari kamar. Terlihat Kenzie berdiri di depan pintu, seperti preman yang menantang musuh.
Ya Tuhan, wanita yang satu ini benar-benar kelakuannya. Ngapain cari masalah sama anak orang, mana masih pagi lagi. Batin Gavin.
Ayu yang menyadari keberadaan Gavin, tersenyum malu-malu kearahnya. Tapi sayangnya itu hanya berlaku satu detik, tubuh kecil wanita dihadapannya ditarik masuk kedalam. Pintu tertutup, dan terdengar pintu terkunci dari dalam.
"Jangan cari masalah!" Peringat Gavin, mengangkat tubuh kecil itu masuk kedalam kamar. Membanting kecil keatas ranjang, dan ikut berbaring disamping Kenzie.
"Yah, wanita itu belum aku hajar." Protes Kenzei.
"Hajar aku aja, naik keatas."
"Ha?"
"Kamu yang pimpin, aku dibawah."
"Gavin!"
"Diam! aku masih ngantuk. Masih pagi, udah cari masalah sama tetangga."
"Lah dia yang duluan."
Gavin hanya diam, menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua dan mendekap erat tubuh kecil itu.
"Jangan banyak gerak, yang dibawah bangun tangung jawab." Ancam Gavin.
"Udah bangun juga."
"Satu kali, gak lama-lama kok."
"Gak mau, mesum banget sih."
Gavin hanya menghela napas panjang, menjangkau apa yang dapat jemarinya raih dari tubuh kecil itu.
Ayu masih setia berdiri didepan pintu, menatap kosong lurus kedepan. Didalam hanya ada dua orang, dan di desa dilarang keras wanita dan pria tinggal berdua. Berarti wanita kecil itu istri mas tampan yang menarik perhatiannya.
"Yu, ngapain nak?" Tanya istri pak Harto dari rumah sebelah.
Ayu hanya mengelengkan kepalanya, berlalu menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku lebih cantik dari wanita kecil itu, mas tampan milik Ayu."
_____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
AND HAPPY SUNDAY
__ADS_1
SELAMAT HARI MINGGU