GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
AKHIR TANTANGAN


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Gavin sesekali melirik kearah Kenzie. Merasa aneh dengan tingkah gadisnya. Entah siapa yang mengajari atau menyuruhnya melakukan hal semacam itu. Gavin heran sekaligus binggung.


"Kenapa?" Tanya Kenzie, merasa Gavin sedari tadi melirik kearahnya.


"Gak kenapa-napa."


Gavin mengelengkan kepala berusaha fokus mengemudi. Pikirannya berkeliaran kemana-kemana, apalagi sekarang mereka berdua didalam mobil. Ucapan Kenzei tadi pagi, hingga kejadian ketahuan warga berputar kembali didalam otaknya.


"Yang tadi ucapan selamat hari pertama tantangan."


"Tantangan kedua gimana?"


"Jangan harap."


Gavin tertawa kecil, sembari fokus memarkirkan mobil kedalam garasi.


Makan siang yang biasanya santai, kini belajar sambil makan. Untungnya Fisika sudah lewat, tinggal materi yang mudah di hapal.


Jam berputar, hingga malam tiba Gavin hanya fokus menatap bukunya. Sampai suara lembut, menyapa telinganya.


"Tidur yuk."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, dengan cepat bangkit dari tempatnya.


Tidur dengan posisi favoritnya, sesekali jemari lentik itu mengelus lembut rambutnya. Hingga tanpa sadar, manik keduanya tertutup rapat dengan napas yang teratur.


____________


Jantung yang berdetak kencang, jemari keringat dingin Gavin menjawab soal ujian satu persatu. Hingga bel berbunyi, pertanda ujian berakhir. Ujian hari ke empat berakhir. Tinggal tersisa satu hari lagi.


Dengan senyuman tipis, Gavin keluar dari ruangan ujian. Bertepatan Kenzie lewat dari depan ruangannya.


"Mau kemana?" Tanya Gavin pelan.


"Parkiran."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, berjalan beriringan dengan Kenzie tanpa memperdulikan tatapan mata, yang mengarah ke arah mereka berdua.


Sampai dimobil, Gavin langsung mengubah mode gelap kaca mobil. Beralih menatap wajah cantik itu.


"Tidak ada hadiah untuk hari keempat Baginda ratu?" Tanya Gavin kearah Kenzei.


"Gak, lagi gak mood."


"Yaudah lihat sini."


Kenzie berdecak kecil, mengarahkan wajahnya kearah Gavin langsung di sambut dengan kecupan lembut di pucuk rambutnya.


"Kenapa gak mood?"


"Ngantuk."


Gavin tertawa kecil, melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan sekolah.


Selama perjalanan, tidak ada yang berniat membuka percakapan. Hingga mobil berhenti di depan rumah.


"Papa sama mama pergi kemana Vin?"

__ADS_1


"Pertemuan biasa. Kalo mama lagi mood, biasanya ikut sama papa."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, keluar dari mobil diikuti Gavin dari belakang.


Kebetulan tadi pagi mertuanya berangkat subuh-subuh, bahkan tidak sempat pamit dengan mereka berdua. Satpam yang memberi tahu mereka berdua, karena mobil di garasi berkurang satu.


Gavin sempat heboh, dikira maling. Memang pria yang satu ini ada-ada saja. Mana ada maling berani masuk ke sini, keamanan dari depan gerbang saja sudah ketat.


"Makan siang, baru belajar!" Peringat Kenzie, saat tubuh kekar itu hendak menyentuh ranjang.


Terdengar helaan napas, walau tetap saja tubuh kekar itu menuruti ucapannya.


Tubuh shirtless, mata fokus menatap buku diatas meja. Sesekali jemari besarnya menyendokkan makanan sembari menghapal.


Jangan ditanya bagaimana pikiran Gavin saat ini, hampir terbelah dua. Tapi demi ujian satu hari lagi, Gavin harus bertahan dengan siksaan ini.


"Vin."


Siempunya hanya mengangguk kan kepala, tanpa melirik sedikit pun.


"Makan dulu. Gimana bisa fokus."


Gavin kembali menuruti ucapannya, menghabiskan makanannya tanpa tersisa sedikit pun.


Rumah terlihat sepi, Kenzie dan Gavin hanya sibuk belajar. Hingga kepala keduanya terletak di atas meja, dengan napas yang teratur.


Kamar gelap tanpa pencahayaan, kaca balkon masih terbuka. Dengan gontai Gavin bangkit dari tempatnya, menyalakan lampu kamar dan menutup kaca balkon.


Jam diatas nakas menunjukkan pukul 22:00, dengan mata menahan ngantuk Gavin mengangkat tubuh kecil gadisnya memindahkannya ke atas ranjang.


Seragam masih melekat ditubuh Kenzie, padahal besok itu masih digunakan. Tanpa membangunkan siempunya, Gavin berinisiatif sendiri membuka seragam putih itu menyisahkan tank top hitam.


Tak kuasa menahan ngantuk, Gavin langsung membuka celana abu-abu nya menyisahkan celana bokser. Dengan hati-hati naik keatas ranjang, menutupi tubuh kekarnya dengan tubuh kecil gadisnya dan mencari posisi yang nyaman dibagian dada Kenzie.


_________


Mata lentik itu mengerjap berkali-kali, hingga perut yang terasa kosong menyadarkannya dari alam mimpi.


"Vin."


Kenzie menundukkan wajahnya, membuka selimut tebal yang menutupi wajah tampan itu. Sontak matanya membola, menatap tubuh bagian atasnya hanya tertutupi tank top hitam.


"GAVIN."


Sontak Gavin terbangun dari tidurnya, duduk ditengah-tengah ranjang dengan wajah linglung.


"Iya, kenapa sayang?"


Gavin mengelus dada, tersentak kaget mendengar teriakkan itu.


"Kamu apain aku semalam?" Sergah Kenzie, bangkit dari tempatnya tanpa memperdulikan selimut yang melorot.


"Ha?"


"Baju aku mana?"


"Oh, itu."

__ADS_1


Tunjuk Gavin dengan polosnya kearah sofa, dengan manta menahan ngantuk.


Sontak Kenzie melototkan matanya, mengintip sedikit kedalam selimut.


"GAVIN MESUM." Teriak Kenzie mengema seisi ruangan, menerjang tubuh kekar itu dengan cubitan mautnya.


Detik itu juga Gavin tersadar sepenuhnya, dengan gerakan spontan menahan kedua lengan kecil itu. Hingga tubuh keduanya kembali berbaring diatas ranjang.


"Kamu–"


Bibir tebal itu langsung membungkam bibirnya, dengan lengan sebelah menyingkirkan selimut dari tubuh gadisnya. Tubuh kekarnya menguasai tubuh kecil itu, menahan bobot tubuhnya dengan kedua siku dan lutut.


"Dengar penjelasan aku dulu. Pertama, aku gak tega bangunin kamu. Kedua, seragam yang satunya lagi belum kamu cuci, terpaksa aku bukain semalam. Ketiga, aku gak lihat apa-apa." Kilah Gavin.


Kenzie menyipitkan matanya, mencari kebohongan dari tatapan itu. Ada satu kebohongan yang tersembunyi, dan titik gairah. Dengan kesal, Kenzie mendorong tubuh kekar itu menjauh dari atas tubuhnya.


"Ingat, nilai diatas rata-rata." Geram Kenzie. Dengan santainya, bangkit dari tempatnya tanpa memperdulikan penampilannya saat ini. Toh Gavin sudah melihatnya, tinggal menyentuhnya saja.


Dengan kesal, Kenzie meraih buku dari atas meja. Melemparnya asal, kearah ranjang.


"Br*sengk." Umpat Kenzei.


Gavin hanya menelan salivanya kasar, hingga tubuh ramping itu berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Lepas kejadian tadi, Kenzie seakan mendiami nya. Keluar dari kamar dengan wajah datar, tanpa memperdulikan nya.


"Ck, ngambek. Gara-gara Lo sih Vin."


Gavin meraih ranselnya, berlari kecil menuruni tangga satu persatu. Tepat pantatnya menyentuh kursi meja makan, Kenzie malah bangkit dari tempatnya sembari mengunyah roti dan membawa gelas berisi susu.


Gavin hanya menghela napas panjang, memakan sarapannya secepat kilat baru keluar dari rumah.


"Sayang."


Kenzie hanya diam, memilih fokus membaca.


"Aku minta maaf."


"Ck, nanti aja ngomongnya. Nanti keburu terlambat." Ucap Kenzei ketus.


Gavin mengalah, melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah. Hingga mobil terparkir di parkiran sekolah, Kenzie langsung keluar begitu saja.


___________


Mungkin beberapa hari yang lalu, Gavin semangat mengerjakan soal ujian. Tapi hari ini, semangatnya hilang entah kemana.


Kenzie mendiaminya, tanpa ada ucapan semangat yang keluar dari bibir mungil itu.


Dengan pikiran yang terbelah dua, Gavin mengerjakan soal ujian satu persatu. Hingga bel berbunyi pertanda ujian berakhir.


Ck, nilai gue bakalan hancur. Gak ada kesempatan memutar waktu. Batin Gavin lesu.


___________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA:)


STAY TUNED 🌱

__ADS_1


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓*


__ADS_2