
Waktu berkunjung pasien sudah berakhir, ruangan pasien tersisa Regan dan istrinya. Kenzie dan kedua sahabatnya, beserta Gavin dan kedua sahabatnya berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit.
Memilih menghabiskan waktu makan siang ditaman rumah sakit, duduk lesehan diatas rerumputan dibawah pohon rindang.
"Delivery atau restoran diujung jalan?" Tanya Dian, tepat kelima teman-temannya duduk di atas rerumputan.
"Restoran diujung jalan aja." Sahut Edo sumringah, seraya bangkit dari tempatnya, menatap teman-temannya dengan tatapan memohon agar rencananya berjalan mulus. Seakan mengerti, Kenzie menganggukan kepalanya.
"Gue setuju sama Edo." Ucap Kenzei, langsung diikuti Gavin.
"Gue ikut kata bini gue aja."
Yang lain hanya mengangguk kan kepala, setuju dengan pendapat mereka.
"Yaudah tunggu bentar, kalian jangan kemana-mana." Ucap Dian, berlalu pergi.
"Buruan do, lelet amat jadi jantan." Desak Kenzei heboh.
Entah mengapa Kenzei suka melihat perjuangan Edo, bahkan Edo rela tiap hari datang kerumah sakit. Menurutnya Edo pantas mendapatkan dukungan, apalagi Dian sulit didekati, walau tetap saja Fani yang paling sulit.
"Gue gugup banget gila." Balas Edo, sembari berlari kecil mengikuti Dian.
"Lebay." Cibir Fani.
"Lah Lo yang lebay, atau jangan-jangan lo suka lagi sama Edo." Tuduh Kenzie.
"Ngomong apaan sih Ken, siapa juga yang suka modelan kayak dia."
"Oh, iya gue lupa. Lo kan sukanya model pria majalah dewasa. Perut kotak-kotak, berotot, itu nya bes–"
Fani langsung membungkam mulut Kenzie, sebelum aib nya terbongkar. Apalagi Gavin dan Angga mendengar ocehannya.
"Tangan!" Ucap Gavin dingin.
Fani tersenyum malu, melepaskan tangannya dari mulut Kenzie. Ia lupa, pawang Kenzei lebih seram dari monster.
Mana tatapannya menyeramkan, melirik mereka pun enggan mulai dari tadi. Gavin pria tampan yang mereka kenal disekolah, berbeda dengan Gavin suami Kenzie.
"Jangan bongkar aib gue dong Ken, Lo mah gak seru." Bisik Fani.
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, terkekeh geli mendengar bisikan sahabatnya. Ternyata Fani masih memiliki urat malu, padahal selama ini urat malunya melebihi kapasitas otak suaminya. Kadang tidak tau tempat melakukan hal konyol, sekarang malah putri malu.
"Ken." Bisik Fani, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Kenzie.
"Sebelum ke sini, Lo berdua ngapain? Bibir Lo bengkak."
"Serius? Kelihatan banget Fa?"
"Gak terlalu, tapi kalo dilihat dari dekat lumayan."
Kenzie malu sendiri, menutup bibir mungilnya dengan telapak tangannya. Kedua kalinya dia kedapatan.
"Dia gigit lagi kayak waktu itu, atau jangan-jangan Gavin yang ngambil keperawanan bibir Lo."
"Kayaknya."
"Suami Lo agresif banget, sampai bengkak gitu bibir Lo. Apalagi diranjang, pasti lebih ganas dari itu." Fani meringis sendiri, membayangkan nasib sahabatnya.
"Ngomong apaan sih Fa." Sergah Kenzie.
"Hati-hati Ken, gue turut prihatin."
"Jangan nakutin gue dong."
"Jangan bilang–"
"Iya, kita belum begituan."
"Gila, suami Lo tahan banget nahan n4psu ngeliat cewek sem*ntok Lo."
"FANI!"
Sontak siempunya tertawa terbahak-bahak, mendengar teriakkan dan wajah memerah Kenzie.
Fani tidak habis pikir dengan gadis yang satu ini, masa suami sendiri disiksa. Bisa Fani pastikan, Gavin menahan mati-matian n4psu nya selama ini. Mana ada pria yang tahan melihat kecantikan Kenzie, apalagi tubuhnya yang sedikit berisi.
"Otak Lo jorok banget sih." Teriak Kenzie, menarik perhatian Gavin dan Angga.
"Jauh-jauh Lo dari gue."
Fani semakin tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan mata yang mengarah kearahnya.
"Kenapa yang?"
Kenzie hanya mengelengkan kepala, menarik lengan kekar Gavin melilitkan dipinggangnya dan merapatkan tubuh mereka berdua. Lebih baik Gavin yang berkata mesum, daripada Fani. Menyeramkan, Kenzei jadi takut.
__ADS_1
Apalagi Kenzie sudah menyakinkan hati, memberi apa yang seharusnya jadi milik suaminya. Mana tinggal menghitung hari lagi, tapi Fani membuatnya ragu setengah mati.
"Ck, gak usah sok romantis Lo berdua. Tau gue jomblo masih aja berulah." Sindir Angga.
"Nah kebetulan, tuh si Fani juga lagi ngejomblo." Tunjuk Kenzie kearah Fani.
Siempunya hendak protes, sebelum kantong plastik besar diletakkan di tengah-tengah, menarik perhatiannya. Dengan sigap Fani membuka satu kotak makanan dan menyendokkannya kedalam mulutnya.
"Yaelah Fa, malu-malu in aja Lo." Sindir Kenzei.
"Gue gak peduli. Ini juga si Dian, tau gue belum makan dari pagi."
"Iya-iya maaf." Ucap Dian ketus.
Dengan sigap Kenzie mengeluarkan kotak makanan, menyondorkan nya kearah teman-temannya satu persatu. Tepat pantatnya menyentuh rerumputan, Gavin langsung membuka jaket gadisnya meletakkannya di atas pangkuan Kenzie menutupi paha nya.
Tau gini, Gavin memakai kaos didalam. Tidak mungkin ia membuka hodiie nya, yang ada tubuhnya tontonan orang-orang.
"Cuman aku yang boleh lihat." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, memilih fokus dengan makan siang nya. Semilir angin menambah kesan makan siang kali ini, ditambah ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut Edo.
"Terimakasih guys sebelumnya." Ucap Dian, membuka suara tepat makan siang berakhir.
"Ck, maksud Lo apaan sih. Kita udah kayak siapa aja." Sahut Kenzie.
Dian hanya tertawa kecil, sembari mengumpulkan bekas kotak makan siang mereka. Dengan sigap Edo membantu, menarik perhatian Gavin yang sedari tadi melihat tingkah aneh Edo.
"Sayang." Bisik Gavin kearah Kenzie.
"Kenapa?"
"Edo sama Dian pacaran?"
"Pdkt–an."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, menarik jemari lentik gadisnya meletakkannya diatas paha kekarnya.
"Jangan macam-macam Vin."
"Ngomong apaan sih, jangan mesum mulu. Kita lagi diluar, bukan dikamar."
"Dih, gak sadar." Cibir Kenzie, mengalihkan tatapannya kearah yang lain.
Ini nih akibat punya tentangga kerjaanya cuman bergosip. Sampai anak SMA saja ikutan bergosip. Kenzei pusing lama-lama melihat tingkah anak yang satu ini.
Dia memilih diam menjadi pendengar, jemari lentiknya yang semula diatas paha kekar itu. Beralih ke arah lutut Gavin, mengelus nya lembut sekedar menghilangkan kebosanan. Kebetulan Gavin memakai celana jeans sobek di lutut, menampakkan lutut nya.
"Bosan?"
Kenzie tersentak kaget, saat hembusan napas terasa menerpa telinganya.
"Kita pulang."
"Eh, kenapa?"
"Aku ngantuk." Kilah Gavin.
Padahal sebenarnya, dia kasihan melihat wajah cantik itu ditekuk menahan bosan. Padahal kedua sahabatnya terlihat serius bergosip, entah kenapa gadisnya tidak tertarik melakukan hal yang sama. Gavin amati sedari tadi.
"Bro, kita pulang duluan." Pamit Gavin kearah kedua sahabatnya.
Dengan cepat memasangkan jaket gadisnya, membantu Kenzie bangkit dari tempatnya seraya membersihkan rok bagian belakangnya yang terlihat kotor.
"Fa, Di, kita pulang duluan."Pamit Kenzei.
"Iya, hati-hati." Sahut Dian.
Gavin langsung menarik lengan Kenzie, berlalu menjauh kearah parkiran. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuka pintu mobil untuk Kenzie dan memasangkan sealtbetnya.
"Kita langsung pulang?" Tanya Gavin, tepat duduk dikursi kemudi.
"Iya, aku ngantuk."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, perlahan melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah sakit. Baru beberapa meter, mobil sudah berhenti.
Kenzie yang awalnya memejamkan mata, spontan membuka matanya lebar.
"Kok berhenti di sini?"
Kenzie mengamati sekeliling, yang terlihat sepi hanya ada pepohonan.
"Sini."
Gavin menepuk paha kekar nya, sembari melepaskan sealtbetnya.
__ADS_1
"Ngomong apaan sih Vin."
"Pindah ke sini."
"Jangan ngada-ngada Vin, ini di hutan."
"Gak, di sini aman. Gak bakal ketahuan kayak waktu itu."
"Gak."
Kenzie mengelengkan kepala, menahan sealtbetnya yang hendak dibuka. Tapi sayangnya, Gavin lebih dulu.
"Sini, katanya ngantuk."
"Ngantuk sih ngantuk, tapi bukan tidur di sini."
Dengan santainya Gavin mengangkat tubuh kecilnya, mendudukkan nya diatas pangkuannya.
"Vin."
"Gak ada bantahan, aku juga ngantuk." Kilah Gavin.
Sekali tarikan hodiie hitam nya terlepas, dilempar asal ke jok belakang menyisahkan celana jeans hitam nya.
"Tapi kok gitu."
"Panas yang."
Gavin mengubah posisi jok nya menjadi rebahan, dengan santainya tidur terl*ntang menatap Kenzie yang tidak bergeming sama sekali.
"Sini peluk."
"Masa gitu sih Vin, kaki aku juga gimana?"
Gavin berdecak kecil, meraih hoddie hitamnya kembali dari jok belakang. Dengan cepat menarik tubuh kecil gadisnya tidur diatas tubuhnya, dan menutupi bagian bawah Kenzei dengan hodiie nya.
"Tidur!"
Kenzie mengerucutkan bibirnya, walau tetap saja mencari posisi yang nyaman dibagian dada bidangnya. Hanya membutuhkan waktu yang singkat, Kenzie sudah tidur lelap tidak tahan menahan ngantuk sedari tadi.
"Kebo." Ucap Gavin pelan, sembari mengelus lembut rambut gadisnya.
Area sepi ini masih area rumah sakit, beberapa mobil juga terparkir dibawah pohon sekedar istirahat, atau mobil bergoyang. Gavin sudah biasa melihat itu, karena tempat ini sering dia kunjungi dengan kedua sahabatnya.
"Sayang." Bisik Gavin, meyakinkan gadisnya tidur atau tidak.
Merasa aman, Gavin mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.
"Gimana?"
"Di luar kota."
"Om bisa bantu?"
"Bentar gue tanya, lagian Lo gak sabaran amat. Gue juga masih di rumah sakit ini. Gila kali Lo."
"Ck, jangan lama-lama."
"Tenang aja Vin, lokasi udah gue dapat. Orangtuanya juga gak tau tentang ini."
"Jangan bawa-bawa orangtua, gue cuman berurusan sama dia."
"Iya-iya."
"Jangan cuman iya, udah dua hari ini."
"Br*ngsek, Lo pikir gampang apa?"
"Lah gue bayar mahal buat ini."
"Gaya kau j*ng, sejak kapan Lo bayar gue? Kasih makan juga enggak."
"Uang bapak Lo banyak, buat apa Lo minta nafkah sama gue. Bini gue aja gak pernah."
Gavin langsung memutuskan sambungan sepihak, tanpa memperdulikan umpatan dari sebrang.
Sedari tadi manik nya tidak lepas dari wajah cantik itu, yang terlihat tenang tidak terganggu sama sekali. Dengan gemas mengecup sudut bibir nya.
"Bangun yuk, masa cuman mobil orang yang bergoyang." Bisik Gavin tepat didepan bibir mungil itu.
______________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
__ADS_1