GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
SERBA SALAH


__ADS_3

Wajah cantik itu terlihat tenang, dengan napas yang teratur. Entah berapa hari Kenzie tidak tidur, lingkaran hitam terlihat jelas dibawah matanya.


Lengan kecilnya memeluk erat tubuh kekarnya, seakan tidak ingin melepaskannya.


Untungnya lengan sebelah kanannya bisa di gerakkan, jadi Gavin bisa mengelus lembut punggung kecil istrinya.


"Vin."


"Tidur! aku di sini,"


"Jangan tidur lagi."


Gavin hanya tertawa kecil, sesekali mencium pucuk rambut istrinya. Sekarang pasien berganti, Kenzie yang tidur, Gavin berjaga.


Sesekali Kenzei terbangun, memeriksa keadaannya atau sekedar memastikan kenyataan atau mimpi. Sampai segitunya, apa Gavin terlalu jahat?


Wajah cantik itu terlihat linglung, kadang Kenzie tertawa kecil merasa mimpinya terasa nyata. Gavin merasa bersalah akan hal itu, wanitanya berubah seratus persen hanya karena ulahnya.


Manik lentik yang biasa jernih, sekarang memerah, bengkak dan sembab. Mulut pedas nya kini hanya mengeluarkan ucapan lembut, dan sikap yang manis.


Sebenarnya Gavin suka dengan perubahan istrinya, tapi Gavin lebih suka Kenzie yang galak atau cerewet.


Hingga terdengar pintu terbuka, menampakkan Angga dengan tiang infus nya.


"Maaf."


Satu kata yang keluar dari mulut Angga, tepat tubuhnya berdiri di samping brankar.


"Lupain aja."


Angga hanya mengangguk kan kepalanya, beralih menatap Kenzie tidur di atas brankar. Akhirnya wanita ini tidur, selama ini para bodyguard melapor Kenzie tidak tidur semalaman.


Angga hanya pengganti Gavin beberapa hari ini, sekedar memastikan keadaan Gavin dan istrinya. Bagaimanapun juga semua terjadi karena ulahnya.


"Dea sama Rian gimana?" Tanya Gavin.


Angga mengalikan tatapannya kearah Gavin, seraya menunjukkan Kenzie dengan sudut matanya. Gavin yang mengerti, hanya mengangguk kan kepalanya.


Sadar atau tidak sadar, Kenzei patut mendengar kejadian sebenarnya. Gavin kapok berbohong.


"Rian menyusun strategis sebelumnya, mereka ada tiga orang. Satu lagi, identitas tersembunyi. Sebelum kita datang mereka sudah stand by di bawah."


"Rian dalang dibalik rem blong, yang satunya lagi mengalihkan perhatian bodyguard, Dea yang jadi umpan. Kebetulan bodyguard cuman tau Dea yang kita cari, ujungnya fokus hanya ke Dea saja." Jelas Angga.


"Jadi?"


"Bapak gue datang tepat waktu, tepat kita cabut dari lokasi Rian tertembak berakhir koma." Angga tertawa kecil.


"Dea?"


"Dea aman, dia gak tau kejadian nyokap. Tapi nyokap Dea bunuh diri setelah seminggu kematian mama. Dia kabur setelah pembulyan, dia gak tau apa-apa."


"Serius Lo?"


"Iya, bokap udah periksa semua. Sekarang hanya fokus ke Rian, dan korban pelecehan si br*ngsek itu."


"Maksud Lo?"


"Rian lari ke luar kota cuman ngancam Dea, kayaknya dia cari tau kehidupan kita bertiga. Kayak yang Lo bilang, Rian cari mangsa baru. Sahabat Dea korbannya. Sekarang dia stres, semoga aja wanita itu baik-baik aja."


Gavin hanya menghela napas panjang, lengannya tidak henti mengelus lembut punggung Istrinya.


Ternyata pria yang satu itu menyeramkan, wajahnya saja yang terlihat tenang, diam-diam menghanyutkan. Ibarat jangan menilai orang dari sampulnya. Terkadang yang terlihat biasa saja, bisa bahaya sewaktu-waktu.


"Edo gimana?"


"Udah pulang, Dian yang rawat di rumah katanya."


"Ck, ngapain lagi tuh bocah?"


"Cuman pdkt-an, tenang aja." Ucap Angga, perlahan melangkah keluar dari ruangan Gavin.

__ADS_1


Matanya tidak tahan melihat pemandangan itu. Hanya dia orang yang tidak beruntung, melewati masa kritis sendiri, membuka mata hanya ada langit-langit rumah sakit yang menyambut.


Papa nya entah kemana, masa kritis seperti ini pun papa nya biasa saja. Angga pikir dia mati, tapi bodoh nya dia malah sadar dari koma.


Pacar gak punya, keluarga gak punya. Lengkap sudah penderitaan.


____________


Hari ini Kenzie terlihat ceria, bahkan penampilannya kembali rapi seperti sebelumnya. Rambut panjang basah, piyama tidur yang baru, dan wajah sumringah.


Gavin hanya diam, duduk bersandar di atas brankar menerima suapan demi suapan. Wajah cantik itu tidak segan-segan memancarkan tatapan berbinar, tatapan yang jarang Kenzie tunjukkan.


Sesekali senyuman manis terukir indah dibibir mungil itu, kadang terdengar suara lembut menyapa telinganya.


"Udah yang, aku kenyang."


"Yaudah kamu minum obat dulu."


Jemari lentik itu menyodorkan segelas air, dan beberapa obat pil. Sekali teguk, obat tertelan.


"Vin."


"Iya, kenapa?"


Gavin menyodorkan gelas kosong kearah Kenzie, beralih menatap wajah cantik itu kembali.


"Aku boleh duduk di sini?" Tanya Kenzei, seraya menepuk paha kekar nya.


Gavin mengerutkan dahinya sebentar, dan mengangguk kan kepalanya. Dengan antusias Kenzie bangkit dari tempatnya naik keatas brankar, tepatnya duduk di atas pangkuan Gavin.


"Berat gak?"


"Berat banget." Ucap Gavin, seraya pura-pura meringis kesakitan.


"Yah."


Spontan Kenzei hendak bangkit dari tempatnya, sebelum lengan kekar melilit dipinggangnya.


"Gak lucu."


Gavin hanya tertawa kecil, sembari menyelipkan helaan rambut istrinya.


"Katanya mama sama papa lumayan lama di sana."


"Bagus, sekalian gak usah pulang ke rumah."


"Bagus darimana nya?" Tanya Kenzie, menatap wajah tampan itu dari jarak dekat. Bahkan Kenzei bisa merasakan napas hangat menerpa wajahnya.


"Biar kita bebas."


"Kirain apa, gak jelas kamu."


"Yah, emang kamu mikirin apa?"


"Gak ada."


Kenzie mengelengkan kepala, memilih menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya. Jemari lentiknya sesekali mengelus lembut rambut Gavin, menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya.


Suatu mukjizat, Kenzie yang awalnya pasrah dengan keadaan suaminya. Kini Gavin kembali pulih. Bibir tebal itu kembali menunjukkan senyuman, mata hitamnya kembali menatapnya.


"Kamu bilang, kita bakalan cerai kalo aku gak sadar hari ini."


"Iya."


"Kamu mau nikah lagi, kalo cerai sama aku?"


"Tentu."


"Sama siapa?"


"Antara Angga sama Edo."

__ADS_1


"Yah."


"Biarin, biar kamu gagal move on, siapa suruh bohong. Tengah malam aku tungguin di rumah, kamu malah gak pulang-pulang. Gak lucu Vin, bodyguard datang tengah malam ke kamar, katanya di suruh tuan muda mengantar aku ke suatu tempat. Nyatanya malah ke rumah sakit. Bukannya romantis, malah sesak." Ucap Kenzei, mengeluarkan semua isi hatinya.


"Maaf."


"Kita memang masih muda, muda dalam artian berbeda. Kamu punya istri di rumah, beda cerita kalo kamu punya selingkuhan di luar. Otomatis kamu gak bakalan ingat istri di rumah."


"Aku ngaku salah."


"Jelas, kamu memang salah di sini. Di rumah kamu izin ketemu temen, bukan koma ke rumah sakit. Lain kali kesalahan yang sama jangan di ulang, naik motor sama naik mobil aku larang mulai sekarang. Terserah kamu nurut apa gak."


Gavin hanya menghela napas panjang, menganggukan kepalanya menuruti ucapan istrinya. Larangan beberapa tahun yang lalu sekarang terulang kembali.


Tapi kali ini Gavin menurut, asal Kenzie yang melarang.


"Aku minta maaf."


"Terlambat keburu kesal."


Gini nih kalo ngomong sama betina, itu salah, ini salah. Batin Gavin.


"Ngejawab lagi."


Sontak Gavin mengelengkan kepalanya, menatap wajah Kenzie dengan senyuman lebar.


"Kamu ngatain aku kan didalam hati?"


Ini nih yang paling ngeselin, sok tau. Dasar betina. Batin Gavin.


"Muka kamu gak bisa bohong, hidung kamu kembang kempis kalo bohong."


"Masa sih."


Spontan Gavin menyentuh hidungnya, memastikan ucapan Kenzie benar atau tidak.


"Benar kan kamu bohong."


"Mana ada."


"Kamu ngeselin banget sih Vin, baru juga sembuh udah bikin kesal."


"Yah, aku diam mulai dari tadi."


"Itu ngomong."


"Iya-iya, maaf."


Kenzie mencibir, perlahan bangkit dari tempatnya, berdiri disamping brankar sembari bercakak pinggang.


"Aku mau pulang, kamu di sini aja gak usah pulang sekalian. Aku mau jual rumah keluarga Megantara, lama-lama aku kesal sama anak yang punya rumah. Bukannya bilang makasih udah di jagain satu minggu, malah bikin naik darah tinggi."


"Tapi yang–"


"Diam! Aku gak butuh penjelasan kamu. Di luar kamu pasti diam-diam ketemu sama Dea, iya kan? Dasar."


"Yah."


Gavin melototkan matanya, menatap punggung kecil itu berlalu keluar dari ruangan pasien. Tepat pintu tertutup, Erwin langsung masuk menatap Gavin dengan tatapan bertanya.


"Antar istri saya pulang, suruh yang lain mengurus kepulangan saya dari rumah sakit."


"Iya tuan, saya permisi dulu."


Gavin hanya mengelengkan kepala, heran melihat tingkah istrinya. Baru juga singa betina jinak, sekarang malah mengamuk.


"Ck, dasar betina." Gerutu Gavin.


____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


__ADS_2