GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
PEMIKIRAN DANGKAL


__ADS_3

KHUSUS 18 +


BOCIL HARAP MENJAUH


Selama makan siang, Kenzie acuh dengan tingkah suaminya. Hingga piring kosong tak tersisa, Kenzie melipat kedua tangannya tanpa berniat membersihkan sisa makanan mereka berdua.


"Angkat sana ke dapur, aku malas gerak. Mana sakit banget lagi." Omel Kenzie.


Gavin hanya mengangguk kan kepala, bangkit dari tempatnya menyimpan piring kotor ke kamar mandi.


"Kamu masih pergi?" Tanya Kenzie, melihat Gavin melangkah kearah pintu.


"Gak."


Gavin hanya mengunci pintu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mengangkat tubuh kecil Istrinya ala bride style masuk kedalam kamar.


"Kata Abah, sore begini mereka ke sawah. Jadi besok dilanjut."


"Oh."


"Tau gak? Orang-orang desa baik, gak ada yang sombong." Adu Gavin, sembari meletakkan tubuh kecil istrinya keatas ranjang.


"Karena kamu belum kenal yang lain, dimana pun pasti ada yang aneh."


"Gak boleh ngomong gitu."


"Lah memang kenyataan."


"Tapi maksud aku, bapak-bapak teman aku ke gunung."


"Iya-iya."


Kenzie membaringkan tubuhnya perlahan ke atas ranjang, di ikuti Gavin yang langsung memeluk erat tubuh kecilnya.


"Kamu sakit? Udah hampir sore masih pakai jaket." Tanya Gavin.


"Dingin, di tambah pegal."


Gavin hanya tertawa kecil, mengelus lembut punggung kecil istrinya. Kebetulan desa ini dikelilingi pepohonan, sinar matahari terhambat dedaunan. Otomatis cuaca dingin, sejuk jika matahari terik.


"Vin, umur kamu berapa?" Tanya Kenzei, sembari mengeratkan pelukannya, mengikis jarak diantara mereka berdua.


"21, tahun depan."


"Oh, aku 20, tahun depan. Kita tua banget masih SMA."


Kenzie tertawa terbahak-bahak, sesekali memukul kecil punggung suaminya.


"Pantasan otak kamu encer yang begituan." ucap Kenzei.


"Kalo masalah itu mah, udah biasa buat kaum Adam. Tapi masalah pernikahan ini, mama sama papa sempat bilang aku bakalan di jodohin umur 17 tahun."


"Bunda sama ayah juga ngomong gitu."


"Tapi menurut aku, untung mereka lupa. Karena kan gak mungkin kita nikah di umur 17. Terlalu muda."


"Benar, tapi kok kamu tua banget masih SMA?"


"Gara-gara kecelakaan waktu itu."


"Kenapa?"


"Aku ngulang lagi, karena ketinggalan."


Kenzie mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah tampan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Jemari lentiknya tergerak keatas, menyentuh bahu sebelah kiri Gavin.


"Cerita!"


"Ck, malas."

__ADS_1


"Vin, nanti gak dapat jatah loh satu tahun."


Sontak Gavin melototkan matanya, mendengar ucapan Kenzie. Tak bisa dibayangkan satu tahun puasa, padahal mereka baru melakukannya 1 kali, tapi berulangkali kali dalam satu waktu.


"Makanya cerita."


"Iya-iya."


Kenzie tersenyum kemenangan, kembali membenamkan wajahnya di dada bidang itu, menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya.


"Waktu SMP, aku sempat tergila-gila pengen jadi tentara. Bahkan wajib olahraga tiap hari, renang biar badan tinggi, belajar bela diri, sampai jaga kesehatan total. Tapi sayangnya, papa tau tujuan aku olahraga tiap hari. Malah marah-marah dan gak bolehin aku ikut tasting masuk SMA khusus bagian itu. Ujungnya aku kabur dari rumah, bawa motor di bawah hujan."


"Jadi alasan kamu bolos tiap hari apa?" Tanya Kenzei.


"Yah, malas. Buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya hidup sesuai aturan orangtua."


"Bodoh."


Kenzie memukul punggung kekarnya, kesal mendengar ucapan Gavin. Baru Kenzie tau, suaminya memiliki pikiran sedangkal itu.


"Biar kamu tau, aku juga selama ini hidup sesuai aturan orangtua. Kamu pikir siapa yang suka belajar tiap hari? Tapi kalo itu membuat ayah sama bunda senang, aku bakalan lakuin. Mumpung mereka masih hidup, aku bakalan lakuin apa yang membuat mereka senang. Termasuk pernikahan ini." Jelas Kenzie, seraya melepaskan pelukannya.


Maniknya melotot sempurna, dengan napas yang memburu. Seketika nyali Gavin menciut, tubuhnya melemas takut melihat tatapan mata itu.


Jujur Gavin lebih takut dengan Kenzie, daripada kedua orangtuanya. Apalagi Gavin tau betul sifat orangtuanya. Mereka tidak akan tahan mendiaminnya. Bahkan saat kecelakaan beberapa tahun yang lalu, kedua orangtuanya mendukung hobi nya, makanya fasilitas gamenya terpenuhi.


Tapi wanita yang satu ini berbeda, gadis yang sekarang menjadi wanitanya, mengubah seratus persen pola pikirnya. Dia alasan Gavin bertahan untuk saat ini, tanpa sadar cinta turut hadir.


"Mulai besok, turuti apa yang aku bilang. Pola pikir kamu harus di ubah, gak ada yang benar isinya aku lihat. Mau jadi orangtua, tapi pemikirannya masih sedangkal itu." Sergah Kenzie kesal.


"Maaf."


"Ih, bodoh. Untung wajah tampan, kalo gak udah aku lempar mulai dari tadi."


Kenzie mencubit pinggang suaminya, melepas kekesalannya. Siempunya hanya diam, sembari meringgis kesakitan.


"Emang kamu benar-benar dah."


Kenzie mendengus kesal, berpindah menjambak rambut suaminya tanpa belas kasihan.


"Ya Tuhan, suami Kenzie bodoh banget. Ini otak gak ada isinya apa?"


Gavin hanya mengulum senyumnya, senang melihat perhatian Kenzie. Perhatian yang selama ini Gavin impikan, akhirnya menjadi kenyataan.


Hingga terdengar tetesan air hujan turun, mengalihkan perhatian Kenzie.


"Rumah ini gak bocor kan?"


Kenzie bangkit dari tempatnya, merentangkan tangannya siapa tau ada tetesan hujan dari celah atap.


"Jendela yang."


Kenzie mengalihkan tatapannya kearah jendela, hujan deras diterbangkan angin membawa hujan masuk ke dalam kamar. Dengan sigap Kenzie menutup jendela, dan menyalakan lampu kamar.


"Semoga gak terjadi apa-apa." Ucap Kenzei khawatir, naik keatas ranjang dengan tergesa-gesa masuk kedalam selimut tebal. Memeluk erat tubuh kekar suaminya.


"Kenapa?" Tanya Gavin.


"Takut."


"Tenang aja, di sini aman kok kata Abah."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Makin dingin."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, membalas pelukan Kenzie tak kalah erat. Kebetulan atap rumah hanya ditutupi genteng, otomatis suhu dingin ataupun panas terasa.


"Mau hangat?" Tanya Gavin, dengan rencana jahat dibaliknya.

__ADS_1


"Caranya?"


Gavin membuka selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua, dengan cepat bangkit dari tempatnya melepas semua pakaiannya.


Sontak manik Kenzie melotot, baru sadar maksud hangat ucapan Gavin barusan. Dengan tubuh polos, Gavin naik keatas ranjang hendak melakukan hal yang sama dengan Kenzie.


"Eh, mau ngapain?" Tahan Kenzie, menyilangkan kedua lengannya.


Tapi bukan Gavin namanya, sebelum rencananya berhasil. Dengan baju berserakan dimana-mana, Gavin naik keatas tubuh kecil istrinya, seraya menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal.


"Vin."


"Iya sayang?"


"Masih sore nanti ada yang dengar."


"Gak bakal, diluar hujan."


Kenzie menelan salivanya kasar, saat bibir tebal itu menyapa kulit putihnya. Jemari besar itu bergerak ke sana kemari, hingga menyentuh bagian sensitifnya. Membuat Kenzie meremang.


"Gavin."


"Yes, call me name baby." Bisik Gavin dengan suara berat, tepat di telinga Kenzie.


(Ya, panggil namaku sayang)


Kenzie memilih memejamkan mata, saat tubuh kekar itu semakin menjalakan aksinya.


"Gak bakalan sakit, jangan takut."


"Jangan sok tau, atau jangan-jangan kamu pernah begituan."


"Ngomong apaan sih." Protes Gavin, hingga tubuh mereka berdua benar-benar menyatu.


Detik itu juga Kenzie menegang, mata melotot sempurna, dengan jemari mencengkram kuat punggung kekar itu meluapkan emosinya.


"Sakit, Gavin br*ngsek."


Siempunya hanya terkekeh geli, menyatukan bibirnya dengan bibir mungil itu. Memberi kecupan mesra, mengalihkan perhatian istrinya.


Hingga tubuhnya bergerak, bersahutan decitan ranjang.


"Ck, bakalan roboh nih tempat tidur."


"Biarin, biar kamu tau seberapa banyak servis yang aku kasih Baginda ratu." Bisik Gavin, mengoda istrinya.


"Boleh juga."


Kenzie memilih memejamkan mata, merasakan gejolak aneh dan panas untuk kali ini.


Aku mencintaimu! Batin Gavin.


Dia tidak berani mengucapkan kalimat itu, jantungnya berdetak kencang, lidah nya keluh sekedar mengucapkan kalimat itu.


Apa sesulit itu mengatakan cinta? Jujur Gavin gugup, bercampur aduk.


Hingga terdengar suara merdu dari bibir mungil itu, mengalihkan perhatiannya. Jemari besarnya mengelus lembut wajah cantik istrinya, sesekali mengecup bibir mungil itu.


"Bagaimana baginda ratu? Apa anda puas?"


"D i a m, bo doh." Umpat Kenzei.


Gavin hanya terkekeh geli, menyembunyikan wajahnya diceruk leher istrinya. Hingga jambakan jemari lentik itu menguat, tubuh Gavin ambruk di atas tubuh kecil istrinya.


"Satu kali lagi yah?"


"Tanpa minta izin pun, bakalan kamu ulangi. Dasar mesum." Cibir Kenzie.


____________

__ADS_1


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2