
Sepanjang perjalanan Kenzie memilih memejamkan mata, hingga tak terasa mobil sudah terparkir di depan rumah.
Gerbang dijaga beberapa bodyguard, mungkin karena kosong penjagaan diperketat.
"Tau darimana Bunda sama ayah pergi?" Tanya Kenzei kearah Gavin.
"Kenzo."
"Kapan?"
"Semalam."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, mengikuti Gavin masuk kedalam rumah. Didalam terasa sepi, asisten rumah tangga yang biasanya sibuk, tidak ada satu pun yang menunjukkan batang hidungnya.
Hanya ada suara derap langkah kaki mereka berdua, memenuhi ruangan.
"Sepi, yang lain mana?"
"Diliburkan Baginda ratu."
"Pantasan."
Kenzie menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, di ikuti Gavin tidur telungkup di sampingnya. Jam baru menunjukkan pukul 11:00 tapi rasa ngantuk sudah menyerang.
Apalagi di rumah hanya ada mereka berdua, tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Kenzie belum kepikiran belajar, yang ada hanya tidur, dan bermalas-malasan.
"Vin."
"Hm."
"Nonton yuk, gak baik tidur jam segini."
"Malas yang."
"Yah."
"Ck, nonton apa?" Tanya Gavin seraya bangkit dari tempatnya, melepas kaosnya dan dilempar asal ke atas ranjang.
"Rekomendasi film dari kamu apa?"
"Blue film."
"Ck, ngomong apaan sih."
Gavin hanya tertawa kecil, menyerahkan remot TV kearah Kenzie, dan berlalu keluar dari kamar.
Dengan wajah serius, mulut mengunyah, sesekali tertawa terbahak-bahak, Gavin dan Kenzie menatap layar televisi, tanpa peduli sampah yang berserakan.
Tapi sayangnya, hanya Kenzei yang fokus menatap layar televisi. Sesekali Gavin melirik kearahnya, lebih tertarik menatap wajah cantiknya.
Mulai dari bulu mata lentik yang berkedip, pipi tirus mengembang, hingga senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
Spontan Gavin mendekat wajahnya, mengecup sudut bibir mungil itu.
"Eh, kenapa?"
"Lapar."
"Mau aku masakin apa?" Tanya Kenzei, seraya bangkit dari tempatnya.
"Eh, bukan itu."
"Jadi?"
Kenzie mengerutkan dahinya, menunggu jawaban yang keluar dari bibir tebal itu. Tapi sayangnya, Gavin hanya nyengir kuda sembari mengaruk tengkuknya.
"Katanya lapar, jadi mau aku masakin apa? mumpung aku baik nih."
"Pengen itu."
"Yang jelas ngomongnya, aku gak paham. Itu apa maksudnya?"
"Gak jadi."
Gavin mengarahkan tatapannya kearah yang lain, menutupi keinginannya. Takutnya Kenzei marah-marah, apalagi mereka baru selesai masa hukuman yang berat.
__ADS_1
Kenzie yang mencoba mencerna ucapannya, baru paham maksudnya. Dengan mengulum senyum, Kenzei kembali duduk ditempatnya. Melihat sampai dimana kemampuan Gavin bertahan.
Terlihat tubuh kekar itu duduk gelisah, hingga mendekat kearahnya.
"Sayang."
"Iya, kenapa?" Tanya Kenzie, sembari menahan tawanya.
"Boleh?"
"Boleh apa?"
"Itu."
Kenzie menoleh kearahnya, tepat wajah tampan itu didepan matanya. Mata hitam itu tertutupi gairah, napas berat terasa menerpa wajahnya.
Dengan santainya Kenzie mengelus lembut wajah tampan itu, hingga kedua manik Gavin tertutup rapat. Perasaan Kenzie ada yang aneh, entah Kenzie juga tidak tau.
"Vin, kamu sakit? Bahu kamu gak papa kan?" Tanya Kenzie khawatir.
Gavin yang mendengar nada khawatir itu, spontan membuka matanya membalas tatapan mata Kenzie.
"Aku gak papa, kenapa emangnya?"
"Gak bohong?"
Gavin hanya mengelengkan kepala, menjawab seadanya. Karena dia memang baik-baik saja, walaupun pekerjaan di desa cukup berat.
Mungkin perasaan Kenzie saja yang aneh, tapi entahlah jantungnya berdetak kencang pikirannya berkeliaran kemana-mana. Dengan cepat Kenzie mengecup bibir tebal itu mencoba mengalihkan pikirannya.
Dengan senang hati Gavin menerima tawaran itu, mendorong tubuh kecil itu perlahan keatas sofa.
Prasangka buruk yang sempat singgah di benak Kenzie hilang sekejap, tergantikan gejolak panas dan aneh mengalir di seluruh tubuhnya.
Sentuhan demi sentuhan, singgah hampir di seluruh tubuhnya. Gavin memperlakukannya dengan lembut, layaknya ratu. Setiap inci tubuh itu tidak hilang dari pandangan mata Gavin, bahkan jemari dan bibirnya.
Mungkin selama ini, suara mengelikan itu selalu mereka tahan, sekarang keluar dengan sendirinya. Ruangan yang sepi dipenuhi suara mereka berdua, hingga mencapai puncak gairah bersama.
"Aku mencintaimu!" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, tanpa hambatan sedikitpun.
Sontak Gavin mengangkat wajahnya, menatap wajah cantik itu yang terlihat tenang dengan napas yang teratur.
"Ck, pikir ditolak."
Gavin terkekeh geli, bangkit dari atas tubuh kecil itu, memasangkan kembali setiap potong pakaian mereka berdua.
Baru juga mulutnya berani mengatakan kalimat itu, malah Kenzei yang tertidur.
_____________
Lintah darat, julukan yang tepat untuk Gavin. Kemana Kenzie melangkah, ke situ juga Gavin melangkah. Ingin rasanya Kenzie berteriak saking kesalnya, tapi sayangnya itu juga tidak akan mampan.
Gavin seakan menulikan telinganya, tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Duduk aja Vin, tunggu aku masak dulu."
"Apa salahnya sih yang, cuman peluk doang kok."
Entah keberapa kalinya Gavin mengucapkan kalimat itu, setiap Kenzie mengeluh Gavin akan menjawab dengan kalimat yang sama.
Kenzie hanya bisa pasrah, dan berdoa di dalam hati agar masakannya cepat matang. Jujur posisi seperti ini tidak aman untuk kesehatan jantungnya, walaupun mereka berdua sudah melakukan lebih dari sekedar pelukan.
Hingga dering ponsel Gavin berdering, mengalihkan perhatian mereka berdua. Spontan Kenzei mengehela napas lega, tepat lengan kekar itu terlepas.
Dilayar ponsel tertera nama Angga, dengan cepat Gavin melangkah menjauh, mencari posisi aman menerima panggilan telepon.
"Gimana?"
"Saudara tiri Dea br*ngsek."
"Serius Lo?"
"Iya, di posisi yang sama."
"Jangan bilang Dea balik lagi."
__ADS_1
"Iya, Lo lelet banget. Gue tunggu disimpang."
"Bapak Lo tau kan? Gue kurang yakin kalo kita bertiga, Dea anak psikopat kalo Lo lupa."
"Bapak gue nyusul, lagi dijalan balik dari luar kota."
"Iya-iya tunggu bentar."
"Jangan lupa bini Lo, perketat keamanan dulu."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Gavin langsung memutuskan sambungan sepihak, berlari terbirit-birit keluar dari rumah memperketat keamanan.
Merasa semua sudah aman, Gavin melangkah masuk kedalam rumah melangkah lebar kearah dapur. Sekarang urusan mencari alasan, Kenzie sulit di bohongin, entah apa alasan yang harus Gavin lontarkan.
"Sayang."
"Bentar, udah hampir matang."
"Aku izin keluar rumah boleh?"
"Gak boleh."
Benar kan, wanita yang satu ini sulit di ajak kompromi. Gavin harus bagaimana, masalah yang satu ini dia ikut turun tangan. Apalagi orang yang mereka cari selama ini, datang sendiri tanpa di cari.
"Bentar aja, cuman 5 menit."
"5 menit atau 5 jam?" Tanya Kenzie, sembari mematikan kompor. Dan berbalik kearahnya, seraya bercakak pinggang.
'Mengemaskan' satu kata yang terlintas dalam benak Gavin. Istrinya terlihat menggemaskan seperti itu. Apalagi mengenakan kaos nya yang terlihat kebesaran ditubuh kecilnya, menambah kesan imut dimata Gavin.
"Jawab!"
Sontak Gavin tersadar dari lamunannya, melangkah mendekat kearah Kenzie dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
"Cuman 15 menit, rumah Angga di simpang ada yang mau kita omongin."
"Udah pintar bohong ternyata."
"Cuman bentar kok yang, gak lama. Kalo bohong hukum diatas ranjang."
"Lah kamu yang untung."
Gavin hanya tertawa hambar, duduk bersimpuh dihadapan Kenzie sembari memegang kedua kaki kecil istrinya. Hanya cara yang satu ini ide yang tersisa dalam otaknya. Semoga berhasil.
"Yang, boleh yah. Please."
"Yah, kamu apa-apaan sih."
"Bentar kok yang."
Kenzie menghela napas panjang, heran melihat tingkah konyol suaminya. Mana sampai bersimpuh lagi.
"Ck, yaudah sana. Jangan lama-lama pulangnya."
Spontan Gavin bangkit dari tempatnya, menangkup wajah cantik itu dan mencium bertubi-tubi.
"Gavin jorok, ih."
Siempunya hanya tertawa terbahak-bahak, berlari terbirit-birit masuk kedalam kamar.
Dengan gerakan kilat, Gavin sudah rapi keluar dari walk closet. Dengan helm full face dilengan kekarnya, dan senyuman manis ditujukan kearahnya.
"Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah. Aku cuman bentar."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, fokus menatap layar televisi. Sebenarnya Kenzie ingin melarang Gavin keluar dari rumah, apalagi perasaannya ada yang aneh.
"Aku mencintaimu." Bisik Gavin tepat ditelinganya, dan berlari terbirit-birit keluar dari kamar.
Kenzie hanya tertawa kecil, menatap punggung kekar itu berlalu keluar dari kamar.
"Aku juga mencintaimu."
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓