
Wajah Kenzei sedari tadi murung, bahkan kadang tidak berniat melirik sedikit pun kearahnya. Gavin harus pura-pura kesakitan, baru Kenzie melirik kearahnya.
Seperti saat ini, Kenzie sibuk dengan penampilannya tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Sayang."
"Apa?"
"Bantuin dong."
Terdengar decakan, kaki kecil itu sengaja di hentak-hentak kan seraya mendekat kearahnya.
"Gak ikhlas nih ceritanya?"
"Iya." Balas Kenzie ketus.
"Yah."
"Makanya nurut jadi suami, apa susahnya sih istirahat di rumah."
"Bosan yang."
"Bilang aja cari perhatian."
Gavin memilih diam, melilitkan lengan sebelah kanan ke pinggang ramping Kenzei, dengan lengan sebelah kiri terpasang arm sling.
Sebenarnya tubuhnya masih lemas, tapi kelamaan berbaring juga tidak baik. Tapi kelamaan beraktivitas juga tidak baik, jadi serba salah.
Dengan langkah tertatih, Gavin melangkah keluar dari kamar. Sesekali bibir mungil itu mengomel tidak jelas, kesal dengan tingkahnya.
"Ck, belajar nya gimana? Aku sama pak Erwin mana bisa bantu."
"Tenang aja yang."
"Cuman kamu aja yang tenang, bikin kesal mulu." Sergah Kenzie.
"Iya-iya maaf."
Kenzie hanya mengerucutkan bibirnya, mendudukkan tubuh kekar itu dengan pelan di jok mobil belakang.
Kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali, kemana-mana harus di antar supir. Supir pribadi Kenzei sakit, gara-gara ulahnya sendiri.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie kembali masuk kedalam rumah, ransel mereka berdua masih di dalam kamar. Hanya membutuhkan waktu sebentar, Kenzie sudah duduk disamping Gavin seraya menenteng ransel dan bekal makan siang mereka berdua.
"Yang."
"Apaan?"
"Ck, jangan marah-marah mulu."
"Orang kamu yang bikin kesal."
"Mulai lagi."
Pak supir hanya mengulum senyum, merasa terhibur melihat tingkah pasangan muda itu. Apalagi Gavin terlihat manja dengan istrinya, tapi sayangnya Kenzie hanya marah-marah.
"Sayang."
"Apaan lagi sih, ya ampun."
"Pasangin jaket, dingin."
"Pasangin jaket, dingin." Cibir Kenzie mengulangi ucapan suaminya.
Walau tetap saja jemarinya menuruti ucapan Gavin, memasangkan jaket di tubuh kekar itu dengan hati-hati. Tanpa Kenzie sadari, siempunya mengulum senyum sesekali mencuri ciuman di pucuk rambutnya.
__ADS_1
"Nanti di sekolah cari masalah lagi. Biar masuk rumah sakit tiap hari."
"Jahat banget sih yang."
"Biarin, udah gede juga masih aja bikin pusing." Omel Kenzie, seraya merapikan penampilan suaminya.
Hingga tak terasa mobil berhenti di depan gerbang, dengan sigap Kenzie bangkit dari tempatnya seraya membantu Gavin keluar dari mobil.
Tanpa memperdulikan tatapan mata yang tertuju kearah mereka, Kenzie melilitkan lengannya kepinggang Gavin. Dan melangkah beriringin melewati lorong sekolah.
Mereka berdua terlihat serasi, apalagi tanpa Kenzie sadari mereka berdua memakai jaket jeans berwarna senada. Dalang dibalik semua, Gavin.
Dia sengaja membawakan jaket dari rumah, kebetulan Kenzie memakai jaketnya seperti biasa.
Toh yang lain juga tau mereka pacaran, alias pacaran halal.
"Istirahat nanti aku ke sini, jangan kemana-mana." Peringat Kenzie, sembari mengeluarkan semua buku Gavin dari dalam tas nya.
Berhubung pria yang satu ini kurang perhatian, terpaksa Kenzie menebalkan wajah menunjukkan perhatian layaknya sepasang kekasih di mata orang-orang.
Sebenarnya Kenzie risih, tapi Kenzie mana tega. Kondisi suaminya belum pulih, bahkan berjalan saja kaki jenjangnya terasa sulit digerakkan.
"Aku ke ruangan dulu, jangan banyak gerak."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, menatap punggung kecil itu berlalu keluar dari ruangan. Detik berikutnya, semua orang mendekat kearahnya. Menanyakan kondisi nya.
Orang ganteng memang beda, bahkan ada yang berbaik hati melengkapi catatan nya yang ketinggalan semalam. Gavin terima saja, sekalian mengurangi tugas istrinya bukan tugasnya.
Hingga bel berbunyi, pelajaran pertama di mulai. Gavin yang biasanya bolos, dan bermalas-malasan. Kali ini fokus belajar. Dia teringat Kenzei, istri masa depan dan sekarang.
Apalagi orangtuanya beda dari yang lain, kaya memang kaya tapi miskin hati. Gavin tau mereka berdua pasti punya rencana busuk setelah mereka berdua lulus. Jadi Gavin harus mempersiapkan diri.
_____________
"Edo sama Angga mana?" Tanya Kenzie, sembari sibuk mengunyah makan siangnya.
"Sok rajin."
Gavin hanya tertawa kecil, menyendokkan makanan kedalam mulutnya tanpa ada adengan suap-suapan. Area terbuka, cukup di rumah saja Gavin bermanja-manja.
"Ada yang sakit?" Tanya Kenzie khawatir.
"Lumayan."
"Pulang aja deh, aku minta surat izin."
"Gak usah, aku baik-baik aja kok. Aku juga ketinggalan pelajaran, akhir bulan kita udah try out."
"Iya, juga sih. Tapi kamu gak boleh kecapean."
"Iya, loh sayang. Istri aku perhatian banget sih."
"Gavin." Sergah Kenzie, seraya mencubit paha kekar itu.
"Area sekolah, ya ampun. Mulut tuh di jaga, nanti ada yang tau." Bisik Kenzie.
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, mengeser kotak bekal makan siangnya yang kosong ke arah Kenzei.
Kebetulan mereka berdua makan siang di ruangan Gavin, hanya ada mereka berdua. Kadang beberapa orang masuk, tapi setelah melihat mereka berdua di duduk di pojok, yang lain malah keluar.
"Pulang sekolah kamu jangan kemana-mana, tunggu aku datang kesini."
"Siap, Baginda ratu."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, membersihkan meja bekas makanan mereka berdua.
__ADS_1
"Yang."
"Kenapa?"
"Gak jadi."
"Ngomong aja."
"Bu Dora nawarin les privat matematika, aku yang jadi guru pembimbing nya. Gimana menurut kamu?"
"Masa sih, gak percaya aku."
"Serius yang, sebelum kamu masuk Bu Dora masuk ke sini."
Kenzie memutar matanya, seraya menopang dagu dengan kedua tangan, menatap wajah tampan itu dengan serius.
"Terserah kamu aja sih, asal jam belajar di rumah gak terganggu."
"Kamu gak marah?"
"Buat apa marah? Malah senang. Biar otak dangkal kamu itu berjalan. Kasian, udah gede otaknya gak di gunain baik-baik. Cuman masalah ranjang doang yang dipikirin."
"Yah."
"Apa? Gak mau ngaku? Sakit aja kamu kayak om-om mesum, apalagi sembuh."
"Lah kamu juga ngapain pakai baju terbuka, emang siapa yang gak tertarik."
"Banyak alasan kamu."
Kenzie bangkit dari tempatnya, meraih kotak bekal makan siang mereka berdua, hendak melangkah keluar sebelum lengan kekar Gavin menahannya.
"Mau kemana? Belum bel juga."
Kenzie hanya memutar matanya jengah, kembali duduk ke tempat semula.
"Emang mau ngapain lagi? Kamu belajar aja, aku mau ke ruang OSIS bentar."
"Yah, aku gak punya teman di sini."
"Banyak, di pojok sana banyak kawanan setan. Nah mereka kan teman-teman kamu." Tunjuk Kenzie kearah pojok yang lain.
"Jahat banget sih yang."
"Baru tau."
"Gak juga sih."
"Oh, maksud kamu aku jahat gitu?"
"Enggak, siapa bilang?" Ucap Gavin, seraya mengelengkan kepalanya.
Gavin yakin, perang dunia ketiga akan di mulai. Wajah cantik itu terlihat memerah menahan emosi, jemari lentiknya terkepal kuat.
Dengan cepat Gavin meletakkan lengan kekarnya ke pangkuan Kenzie, mengelus lembut paha putih itu yang sedikit terbuka.
"Kenapa? Kok mukanya digituin? Tanya Gavin, seraya menahan tawa.
Kenzie hanya melengkungkan bibirnya kebawah, detik berikutnya bangkit dari tempatnya.
"Aku ngambek."
Gavin tercegang, menatap punggung kecil itu berlalu keluar dari ruangan.
"Singa betina ngamuk Vin, mampus Lo. Gak dapat jatah satu bulan ini pasti, gue yakin." Ucap Gavin.
__ADS_1
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)