GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
RINDU


__ADS_3

Mungkin selama ini Kenzie terlihat murung, malam ini Kenzei berusaha untuk tidak memperdulikan Gavin di atas brankar. Walau tetap saja maniknya sesekali melirik kearah Gavin, berharap wajah tampan itu tersenyum lebar kearahnya.


"Ck, lama-lama kamu bikin kesal yah Vin." Gerutu Kenzei, sembari menekan remote tv mencari tayangan sesuai isi hatinya.


Tapi sayangnya tidak ada yang menarik perhatian. Wajah tampan itu lebih menarik perhatiannya. Dengan kesal Kenzie meletakkan remote TV ketempat semula, dengan hati-hati naik keatas brankar.


Tanpa memperdulikan penampilan yang berantakan, Kenzie memeluk erat tubuh kekar itu. Sesekali mencium lengan kekar yang berbalut baju pasien.


Aroma khas suaminya perlahan menghilang, tergantikan aroma obat yang menguar.


"Vin, aku kangen tau. Aku gak punya teman di sini, Fani sama Dian gak tau kemana. Gak ada teman cerita, gak ada yang tau aku nangis tiap malam. Pengen peluk, tapi kamu diam aja."


Terdengar helaan napas panjang, Kenzie memilih memejamkan mata daripada menangis malam ini. Saking terbiasanya beberapa hari ini, Kenzie semakin terima dengan keadaan.


Jika Tuhan menginginkan dia bahagia melalui Gavin, Kenzie terima. Tapi jika Tuhan menginginkan dia bahagia melalui cara yang lain, Kenzie terima. Pasrah, Kenzie memilih pasrah saat ini.


Kondisi Gavin tidak ada kemajuan, yang ada Kenzie kurus tak terawat. Mata bengkak, lingkaran hitam dibawah mata, tubuh kurus tak terawat, rambut panjang berantakan.


Layaknya pasien sakit jiwa.


"Terserah Tuhan aja, Kenzie bisa apa. Cinta gak akan mengubah keadaan, hanya Tuhan harapan Kenzie satu-satunya."


"Memang pernikahan, memiliki suami, impian Kenzei selama ini. Apalagi memiliki keturunan. Baru juga Kenzie jatuh cinta, tapi malah gini jadinya. Kenzie ngelakuin apa yah di masa lalu?"


Kenzie mengehela napas panjang, menatap wajah tampan itu dengan tatapan sendu. Jemari lentiknya menyelusuri setiap inci pahatan sempurna di wajah tampan itu, hingga berhenti di bibir tebal yang selalu menarik perhatiannya.


Dengan gemas Kenzie mengecup setiap sudut bibir itu, detik berikutnya tertawa kecil.


"Suami aku gemesin banget, jadi pengen banting. Awas aja kalo besok kamu belum bangun, kita ce ra i. Aku cari yang lebih tampan, biar kamu tau." Ucap Kenzei tepat didepan wajah tampan itu.


"Jadi suami bikin kesal mulu, padahal tiap malam aku kasih kalo kamu minta. Sekarang kamu minta aku nangis tiap malam gitu? Jahat banget sih Vin."


Kenzie mengelus rambut suaminya, sesekali mencium sudut bibirnya seperti yang biasa Gavin lakukan.


Hingga manik Kenzie berat, perlahan meletakkan kepalanya di ceruk leher Gavin seperti biasa.


"Selamat malam pangeran tidur. Aku menunggumu."


Tepat manik Kenzie tertutup, pintu terbuka menampakkan Erwin bodyguard yang selama ini menjaga mereka berdua.


Meraih selimut dari sofa, menutupi tubuh Kenzie yang terlihat tidur nyenyak. Tepat Erwin hendak berbalik, pergerakannya terhenti melihat pergerakan kecil dari tubuh Gavin. Manik hitam itu perlahan terbuka, dan mengerjap berkali-kali.


"Kenzie."


Spontan Erwin mendekat, tersenyum hangat kearah Gavin.


"Ada yang sakit tuan muda?" Ucap Erwin sepelan mungkin.


"Istri saya mana?"


"Di samping anda tuan."


Gavin mengalihkan tatapannya kearah Kenzie, seulas senyum tipis terbit dibibir tebalnya.


Tubuhnya terasa mati rasa, bahkan Kenzie yang tidur di sampingnya hampir tidak terasa.


"Saya panggilkan dokter tuan."


Gavin hanya menggeleng kecil, mengalihkan tatapannya kearah Erwin.


"Istri saya udah makan?" Ucap Gavin pelan, bahkan hampir tidak terdengar.


"Beberapa hari ini hanya makan sedikit, katanya rasanya hambar."


Gavin hanya menghela napas panjang, perlahan mengerakkan lengannya yang sayangnya sulit digerakkan.

__ADS_1


Spontan Gavin menoleh kembali ke arah Erwin, seraya menunjukkan lengannya lewat tatapan mata.


"Bahu dan lengan sebelah kiri sedikit bermasalah, ada luka baru di posisi luka yang lama. Kaki kanan sedikit terluka, mungkin anda akan pincang beberapa waktu kedepan. Kepala aman, tapi tubuh anda mungkin sulit digerakkan." Jelas Erwin.


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, pusing memikirkan kondisi tubuhnya.


"Tuan baik-baik saja?"


"Hm."


"Anda butuh sesuatu? Atau saya panggilkan dokter?"


"Gak." Balas Gavin singkat. Mulutnya terasa sulit digerakkan, sekujur tubuhnya terasa remuk.


"Kalo tuan butuh sesuatu, saya ada di luar. Saya permisi dulu tuan."


Gavin hanya diam, melirik Erwin dengan sudut matanya hingga pintu tertutup rapat.


Kini tersisa dia dan Kenzie. Terasa hembusan napas hangat menerpa lehernya, lengan kecil melilit dipinggangnya.


Andai tubuhnya bisa di gerakkan, Gavin ingin memeluk tubuh kecil ini sepuas-puasnya. Mencium bibir mungil itu, dan mengangu tidurnya.


"Sayang." Bisik Gavin.


Siempunya hanya diam, tanpa bergeming sedikitpun. Terlihat wajah cantik itu lelah, kurus tak terawat.


Gara-gara keras kepala, berakhir fatal. Kesehatannya semakin menurun, istrinya kurus tak terawat.


"Maaf."


______________


Wajah ditekuk, bibir mengerucut kedepan. Kebiasaan Kenzie beberapa hari ini menyambut hari yang baru. Tidak ada senyuman, tidak ada semangat, hati, batin, dan pikiran tersiksa.


Kenzie mengikat rambutnya asal, meraih sarapan pagi dari atas meja dan menyendokkan makanan mulutnya. Tanpa cuci muka, bahkan gosok gigi.


Perutnya terasa lapar, entah mengapa Kenzie ingin makan pagi ini. Rasanya juga enak, tidak hambar seperti biasa.


"Vin, kamu gak lapar? Udah seminggu loh kamu gak makan." Ucap Kenzei, sembari sibuk mengunyah.


Merasa perutnya sudah kenyang, Kenzie meletakkan kepalanya ke atas brankar. Menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya.


"Bunda, Kenzie capek."


Air mata si*lan itu keluar dengan sendirinya, terdengar isakan piluh memenuhi ruangan.


"Vin, kamu lebih sayang dunia kamu daripada aku yah? Aku mencintaimu!"


"Aku lebih mencintaimu."


Spontan Kenzei mengangkat kepalanya, menatap wajah tampan itu yang tersenyum lebar kearahnya.


"Ya Tuhan."


Kenzie menangkup wajah tampan itu, mencium setiap inci wajah Gavin bertubi-tubi. Air matanya mengalir begitu saja, hingga membasahi wajah Gavin.


"Jangan nangis."


"Kamu jahat banget tau gak."


Kenzie melengkungkan bibirnya kebawah, kembali duduk ke tempat semula layaknya anak kecil merajuk.


Dengan kasar Kenzei mengusap air matanya, seraya mengalihkan tatapannya kearah yang lain.


"Maaf."

__ADS_1


"Aku hampir gila gara-gara kamu."


Gavin hanya mengulum senyum, menatap wajah cantik itu yang terlihat mengerikan. Kurus tak terawat.


"Hei, jangan nangis. Sini peluk, aku kangen sama kamu."


Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, berhambur memeluk erat tubuh kekar itu dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku kangen banget Vin. Jangan tinggalin aku."


"Gak boleh ngomong yang aneh-aneh, aku di sini."


"Aku mencintaimu, aku mohon."


Gavin hanya tertawa kecil, mendengar ucapan Kenzie. Pernyataan cinta beberapa hari yang lalu, akhirnya terbalas.


"Vin jangan tinggalin aku yah."


"Iya, aku gak bakalan ninggalin kamu. Jangan nangis."


"Gimana gak nangis, seminggu kamu cuman tidur gak ngajak aku. Dokter bilang kondisi kamu makin menurun."


"Jadi kamu gak senang?"


"Senang banget."


Kenzie naik keatas brankar, memeluk erat tubuh kekar suaminya yang masih setia berbaring lemah. Asal maniknya terbuka, bibir tebalnya tersenyum kearahnya.


"Aku kangen banget Vin, aku hampir gila gara-gara kamu."


Siempunya hanya tertawa kecil, sesekali mencium pucuk rambut istrinya. Tubuh si*lan, Gavin tidak bisa memeluk tubuh kecil ini, hanya kepalanya yang bisa di gerakkan.


"Ada yang sakit? Aku panggil dokter yah."


"Gak usah yang,"


"Ck, jangan bandel."


"Aku kangen, pengen peluk."


"Suami aku gemesin banget sih, kita gak jadi cerai."


"Cerai?"


"Iya,"


Spontan Gavin melototkan matanya, tanpa memperdulikan tubuhnya yang terasa kaku. Gavin bangkit perlahan, duduk di atas brankar dengan tatapan tidak lepas dari Kenzei.


"Ulangi!"


Kenzie hanya nyengir kuda, menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya. Baru juga siuman, tapi tatapan matanya seakan siap menerkam nya.


"Aku bilang ulangi!"


"Jadi rencananya kita bakalan cerai, kalo kamu gak sadar hari ini."


"Ya Tuhan, punya bini sebiji kelakuannya gak ada yang benar."


"Yah?"


"Diam!"


_______________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


__ADS_2