
"Serius?" Tanya Gavin melototkan matanya menatap Kenzie.
"Iya."
Kenzei menganggukan kepalanya, perlahan bangkit dari tempatnya berdiri tepat dihadapan Gavin. Sontak siempunya menelan salivanya kasar, menatap gadisnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Otaknya langsung bekerja, merekam ulang semua yang ada dalam pikirannya selama ini.
"Lo bercanda kan?" Tanya Gavin.
"Enggak kok, emang Lo gak senang?"
"Senang, senang banget malah."
Kenzie tersenyum manis, melangkah mendekat kearahnya. Mengalungkan kedua lengannya kebelakang leher suaminya.
Sontak Gavin menelan salivanya kasar, melihat tingkah gadisnya. Kenzie sigadis sok polos itu berubah, terlihat bahaya tapi Gavin suka.
"Kenapa, hm?" Gavin hendak melilitkan lengannya kepinggang ramping itu, sebelum jemari lentik itu menjewer telinganya.
"Otak Lo yah, gak pernah benar isinya."
"Lah kok marah, bukan nya–"
"Apa?" Sergah Kenzie, menatap tajam kearah Gavin.
Seketika nyali Gavin menciut, tubuhnya melemas, kepala pening. Jiwa mengairahkan itu sampai ke ubun-ubun, apalagi suasana mendukung. Tapi ucapan Kenzie barusan membuat semuanya runtuh sekejap.
"Kenzie." Lirih Gavin dengan suara berat dan tatapan sayu.
Sontak Kenzie menjauhkan tubuhnya, berdigik ngeri mendengar suara itu terutama tatapan mata itu.
Gavin mengusap wajahnya gusar, bangkit dari tempatnya dengan lutut yang lemas. Kekuatannya hilang, napasnya memburu.
"Ck, si*l." Gavin menjambak rambutnya frustasi, menahan gejolak panas yang semakin memenuhi seluruh tubuhnya.
Kenzie yang melihat itu binggung, bercampur khawatir. Entah apa yang terjadi, padahal mereka berdua tidak melakukan apa-apa barusan.
"Vin."
Tidak ada sahutan, siempunya malah membalikkan tubuhnya tanpa berniat membalas ucapannya. Gadisnya mempermainkannya, Kenzie tidak tau sakitnya menahan gejolak itu.
Hingga terasa sentuhan jemari dipundaknya, bersahutan suara lembut bernada khawatir.
"Lo gak papa kan?"
Gavin menghela napas panjang, tubuhnya terasa tersengat listrik mendengar suara itu.
"Maaf."
Sontak Gavin membalikkan tubuhnya, tersenyum manis kearah Kenzie. Kejadian ini murni kesalahan mereka berdua, otaknya bekerja liar, Kenzie tidak tau penyebab ulahnya. Jadi mereka berdua sama-sama bersalah.
"Kenapa minta maaf? Lo gak salah apa-apa."
"Tapi Lo–"
__ADS_1
"Gue gak papa." Sela Gavin menyakinkan gadisnya, menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
Kenzie mengerutkan dahinya menatap penampilan Gavin dari bawah sampai atas, hingga maniknya bertemu penampakan bagian bawah Gavin. Ternyata itu penyebabnya, makanya siempunya terlihat tersiksa.
Kenzie berdecak kecil, melangkah mendekat kearahnya mengeluarkan seragam putih Gavin dari dalam celana abu-abu nya.
"Punya Lo baperan."
"Ha?"
Gavin membuka matanya, membiarkan gadisnya melakukan apa yang ia mau.
"Kelihatan banget, kenapa bisa gitu?"
"Maksudnya?"
"Ck, lelet. Lo jangan macam-macam, apalagi mikirin yang aneh-aneh. Ini lingkungan sekolah."
Gavin mengaruk tengkuknya, bingung dengan tingkah gadisnya.
Kenzie yang menyadari kebingungan itu, sedikit berjinjit berbisik tepat ditelinganya.
"...."
"Serius?"
"Hm, lihat aja sendiri."
Gavin meringis sendiri, wajahnya memerah bak kepiting rebus. Memalukan, bisa-bisanya kedapatan.
"Kenapa bisa gitu? kalo ketahuan yang lain gimana?" Tanya Kenzie, dengan menahan urat malunya.
"Jangan macam-macam."
"Iya-iya."
Kenzie mengelengkan kepalanya, merapikan penampilan Gavin yang terlihat berantakan.
Siempunya terkesiap, menatap wajah cantik itu yang terlihat serius. Padahal barusan Gavin ingin marah-marah saking kesalnya. Tapi melihat perhatian gadisnya, aksinya tertunda.
"Bentar lagi bel, jangan bolos. Gue tunggu nilai diatas rata-rata, baru gue kasih."
"Maksudnya?"
Kenzie mengehela napas panjang, menyakinkan dirinya bahwa kemauan suaminya bukanlah dosa. Tapi dia yang berdosa menolaknya.
Mingkin Kenzie akan belajar, tapi tidak untuk hari ini apalagi esok. Kenzie harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.
"Gue bakal turuti semua kemauan Lo, termasuk keinginan yang ada dalam pikiran Lo. Tapi dengan syarat, nilai semester harus diatas rata-rata, minimal B."
"Tinggal menghitung minggu, Lo harus belajar yang baik. Tahan aja dulu, kalo memenuhi syarat Lo bisa melakukan apa yang Lo mau. Oke." Jelas Kenzie Panjang lebar.
Gavin tersenyum lebar, semangatnya kembali berkobar mendengar ucapan gadisnya. Syarat yang diberikan Kenzie hal yang mudah menurutnya, gadisnya tidak tau saja kapasitas otaknya.
Hanya sekilas membaca saja, Gavin bisa menghapal semuanya. Selama ini dia hanya menikmati kesenangan semata, indahnya kehidupan sekolah. Tapi bukan berarti semua mata pelajaran Gavin ketinggalan.
__ADS_1
"Gue setuju, tapi Lo gak nyesel kan?"
"Gak, gue tunggu. Persiapkan diri anda, jangan sampai kalah dengan saya." Ucap Kenzie formal, seakan menantang Gavin.
Siempunya terkekeh, merangkul pundaknya melangkah kearah pintu gudang.
Jangan ditanyakan bagaimana suasana hati Gavin, rasanya tidak bisa diucapkan saking senangnya. Ucapan gadisnya barusan bagaikan semangat untuknya, Gavin tidak sabar menunggu waktu itu.
Sesuai ucapan gadisnya, hanya menghitung minggu. Mungkin tiga minggu lagi, ujian pertengahan semester. Kalo Gavin mendapatkan nilai diatas rata-rata, dia akan mendapatkan keinginannya. Gavin tidak sabar menunggu hari itu.
"Gue duluan, Lo jangan keluar sebelum gue sampai diujung lorong. Nanti kita ketahuan." Bisik Kenzie, sembari melirik ke sana kemari.
Merasa aman, Kenzie hendak melangkah sebelum lengan kekar menahan pergerakannya.
"Makasih."
Kenzie melototkan matanya, menoleh kearah Gavin yang tersenyum manis kearahnya.
"Why?" (Kenapa?)
"Gue tunggu ucapan Lo, gue harap tepati janji yang Lo ucapkan."
"Iya, makanya belajar yang benar. Biar dapat hadiah dari gue."
"Pasti."
Gavin mengacak-ngacak pucuk rambutnya, gemas dengan tingkah gadisnya. Keberanian Kenzie patut diacungi jempol, selama ini dia selalu menangis dan takut berbaur dunia dewasa.
Tapi hari ini, dia mengambil keputusan yang besar. Tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Gue pergi duluan, masuk ke kelas jangan bolos."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kecil itu mengendap-endap memasuki area pekarangan sekolah.
"Kalo gue hamil kayaknya pas, 3 bulan sebelum tamat. Belum terlalu kelihatan deh kayaknya. Semoga keputusan gue gak salah, Amin." Gumam Kenzie.
Sedari tadi pikirannya hanya dipenuhi itu saja, hanya menghitung waktu, takutnya dia hamil besar sebelum UN. Minimal ijazah SMA yang ia dapatkan, urusan kuliah Kenzie memilih jalur yang lain meraih cita-citanya.
Suami punya uang, anak tunggal kaya raya malah. Kenzie tidak pernah kepikiran menikah dengan orang kaya, boro-boro menikah. Menganggumi anak orang kaya saja Kenzie tidak kepikiran, kehidupannya jauh berbeda dengan mereka.
Dari segi ekonomi saja sudah berbeda apalagi kehidupan. Doa orangtuanya begitu besar, hingga Kenzie mendapatkan apa yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.
"Akhirnya Vin." Gumam Gavin, sembari menatap punggung gadisnya berlalu menjauh.
Mungkin mulai hari ini, dia akan mencari tempat yang tepat untuk gadisnya. Tempat spesial perdana Gavin mendapatkan apa yang ia mau.
Dirumah kurang tepat, takutnya ada yang mendengar. Walau sebenarnya kamarnya kedap suara, tapi masalahnya Gavin ingin suasana yang berbeda.
Gavin tersenyum smirk, perlahan keluar dari gudang. Dia mendapatkan rekomendasi tempat romantis yang tepat, tempat yang akan menjadi saksi bisu kisah percintaan mereka dimulai.
"Gue gak sabar." Batin Gavin.
__________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓