
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, menitipkan Rahel ke rumah pak Harto, dan berlari kecil hendak masuk kedalam rumah. Tapi sayangnya, Rendi dan Ayu sudah stand by berdiri didepan pintu. Detik berikutnya, pintu terbuka menampakkan Kenzie dengan wajah segar, walau tetap saja maniknya terlihat sembab.
"Wow, udah hamil aja dek. Kita iri jadinya," ucap Rendi heboh.
"Maksudnya bang?" tanya Kenzie bingung, sembari memperbaiki ikatan rambutnya.
"Kita udah nikah bulan lalu,"
"Serius?" tanya Gavin dan Kenzie bersamaan.
"Iya, kita terciduk. Malah di nikahi," jawab Rendi dengan santainya, seraya merangkul pundak Ayu.
"Abang b*ntungi diam-diam?" tanya Gavin serius. Hingga cubitan terasa di pinggang nya, manik lentik itu menatapnya tajam.
"Iya-iya maaf, kakak masuk aja. Kita di luar," papar Gavin. Takut istrinya ngambek, lebih baik mengalah.
Dengan antusias Kenzie menarik lengan Ayu masuk kedalam, duduk di sofa ruang tamu. Kebetulan rumah yang dulu mereka huni, kini berubah seratus persen. Sekarang berubah menjadi rumah minimalis modern, dan layak dihuni.
Ruang tamu minimalis dilengkapi sofa, dan TV. Pintu dan dinding penghalang ruang tamu dengan dapur. Dapur juga terlihat bersih dan rapi, terutama kamar mandi. Entah sejak kapan suaminya merencanakan ini semua, bahkan beberapa rumah warga di renovasi.
"Berapa bulan dek?" tanya Ayu, sembari mengelus perut buncit Kenzei.
"6 bulan mbak,"
"Semoga mbak bisa nyusul yah,"
"Amin. Apa yang gak mungkin mbak, percaya aja sama yang diatas."
Ayu hanya mengangguk kan kepalanya, memeluk tubuh Kenzei layaknya saudara yang sudah lama tidak bertemu.
Di luar rumah, Gavin dan Rendi duduk di kursi panjang. Dengan tatapan mengarah kearah sawah, dan asap rokok yang mengembul di udara.
"Ambil satu batang," Rendi menyondorkan bungkus rokoknya, dengan santainya Gavin menerima. Detik berikutnya, Rendi tercengang menatap bungkus rokoknya hancur tak berbentuk.
"Yah, kenapa Lo injak-injak? Beli itu pakai uang," protes Rendi.
"Sesak gue lama-lama,"
"Tapi itu rokok gue,"
"Ck, nanti Lo cepat mati."
Rendi hanya mengusap wajahnya gusar, melempar puntung rokok nya begitu saja ke atas tanah. Anak yang satu ini memang benar-benar kelakuannya, satu bungkus rokok yang baru saja ia beli hancur tak berbentuk tak tersisa satu pun.
"Benar-benar Lo,"
"Ck, udah miskin masih aja habisin uang beli rokok," sindir Gavin.
"Yah terserah gue,"
"Iya terserah Lo. Tapi bang, Lo berdua ngapain makanya di nikahi?" bisik Gavin serius.
"Cuman benarin lampu kamar Ayu doang, eh bapak malah salah paham."
Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, memukul pundak Rendi dengan tawa yang semakin pecah. Gavin pikir malam mingguan di kamar Ayu, ternyata hanya memperbaiki lampu kamar saja.
"Tapi gue beruntung bapak datang, kalo gak lamaran gue gak bakalan di terima sampai sekarang," ungkap Rendi.
"Kapan lamarannya ditolak?"
"Sebulan Lo berdua balik ke kota,"
"Namanya juga hidup bang, kita gak ada yang tau. Ada-ada aja rencana yang di atas,"
"Benar, tapi tumben Lo bijak."
Gavin hanya tertawa kecil, merangkul pundak Rendi layaknya teman. Padahal perbandingan usia mereka sangat jauh berbeda.
"Bang, jangan salah nilai orang. Gue akui, mulut gue memang gak ada yang benar ucapannya, tapi ada untungnya bang," ucap Gavin serius.
"Maksud Lo?"
"Sebenarnya ucapan v*lgar gue itu, biar bini gue terbiasa. Kita berdua di jodohin bang, bukan kebelet nikah,"
__ADS_1
"Serius Lo?"
"Iya, orang tua gue punya rencana baik di baliknya untungnya banyak banget buat gue. Kenzie itu gadis baik-baik, Lo lihat sendiri kan dari mukanya?"
"Iya, cuman kelihatannya galak,"
"Bini gue memang galak bang. Gak ada tandingannya,"
Spontan mereka berdua tertawa kecil, sesekali melirik kearah ruang tamu.
"Gue sengaja nunjukin sifat buruk, biar dia terbias kalo gue nunjukin sifat yang lebih buruk dari itu,"
"Keren banget sih Lo, gue gak salah kagum sama Gavin Megantara,"
"Bisa aja Lo bang, gue juga manusia biasa. Bedanya muka gue lebih tampan dari muka Lo,"
"Mulai lagi,"
Rendi menghela napas panjang, menghempaskan lengan Gavin dari pundaknya. Hingga terdengar kekehan geli dari bibir tebal itu.
Sekejap hening, Gavin hanya fokus menatap wajah pria disampingnya, hingga jemarinya memukul kecil punggung Rendi.
"Muka Lo br*ngsek, masih sore udah mikirin nanti malam," ujar Gavin.
"Sok tau,"
"Lah gue lebih berpengalaman, kalo Lo lupa."
Spontan Rendi tertawa kecil, mengangguk-anggukkan kepalanya sembari merangkul pundak Gavin.
"Ternyata hidup berdampingan sama orang yang kita cintai, bahagia banget Vin," ungkap Rendi.
Itu yang gue rasain selama ini. Batin Gavin.
"Ayu tuh istri penurut, cantik luar dalam."
"Gak polos lagi bang? dulu gue ngomong yang aneh-aneh, Lo malah sok polos."
"Oh karena dapat servis tiap malam, Lo jadi ngomong yang begituan maksudnya?"
"Gak juga,"
"Banyak gaya, bawa pulang sana bini Lo. Gue mau ngomong sesuatu sama bini gue,"
"Ck, adek gue lagi hamil Vin. Jangan ngomong yang aneh-aneh Lo!" peringat Rendi.
Kebetulan Rendi tau ada yang salah diantara Gavin dengan Kenzie. Karena biasanya mereka berdua terlihat akur. Apalagi manik Kenzie terlihat sembab, habis menangis.
"Ngomong yang benar Vin, awas adek gue nangis lagi!"
"Iya-iya, pulang sana."
Rendi hanya mengangguk kan kepalanya, bangkit dari tempatnya masuk kedalam mengajak istrinya pulang ke rumah. Awalnya Kenzie sempat menahan, tapi mengingat ucapan Gavin, Rendi mencari cara agar mereka keluar dari ruangan ini.
Bagaimanapun juga, Rendi sudah menganggap Kenzei dan Gavin layaknya saudara. Apalagi berkat Kenzie, Ayu bisa kembali seperti semula. Jadi apa yang mereka rasakan, Rendi cukup prihatin.
Tepat pintu tertutup, Kenzie langsung bangkit dari tempatnya, berlalu masuk kedalam kamar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Spontan Gavin bergerak dari tempatnya, mengikuti Kenzie masuk kedalam kamar. Membaringkan tubuhnya disamping Kenzie, memeluk tubuh kecil itu dari belakang.
"Sayang,"
Hening, tidak ada sahutan. Bibir mungil itu seakan bungkam, tanpa berniat membalas ucapannya.
"Aku mau cerita," bisik Gavin lembut, menopang tubuhnya dengan siku, sembari mengelus lembut rambut istrinya dari belakang.
"Waktu kecil, aku punya teman cewek. Orangnya cantik, tapi cerewet. Katanya dulu, dia pengen aku jadi pangeran dia di masa depan. Tapi sayangnya, kita berdua malah dipisahkan jarak. Karena papa harus pindah ke pusat perusahaan Megantara."
"Setelah dewasa, kita bertemu lagi di sekolah SMA yang sama. Tapi dia berbeda, dia makin cantik, dan susah di gapai. Dia sempurna, wajah cantik, sexy, otaknya gak ada yang bisa menandingi."
"Banyak yang suka sama dia, terutama aku. Si tukang bolos. Tapi sayangnya menarik perhatian dia susah, yang pintar aja di tolak mentah-mentah. Jalan pintas meraih dia, cuman lewat doa. Sebenarnya aku kurang yakin itu bakal terkabul, soalnya permintaan aku ketinggian. Gak mungkin cowok kayak aku bersanding sama dia. Dia terlalu sempurna, yang tidak akan mungkin bisa aku miliki."
"Mau tau namanya siapa?" bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
__ADS_1
"Aku gak peduli," sergah Kenzie.
Spontan Gavin tertawa kecil, membalikkan tubuh istrinya menghadap kearahnya. Menangkup wajah cantik itu, dengan tatapan mata berbinar dan senyuman lebar tercetak jelas dibibir tebalnya.
"Mau tau gak orangnya?"
"Aku gak peduli, aku gak mau dengar apa-apa dari mulut kamu."
"Yah, padahal aku mau kenalin seseorang sama kamu."
Kenzie hanya diam, maniknya berkaca-kaca kesal mendengar ucapan suaminya.
"Kayaknya dia udah nungguin di luar, aku nyuruh dia datang ke sini, ayo aku kenalin sama kamu. Orangnya cantik, sexy lagi sekalian cuci mata," ucap Gavin sembari mengigit bibir bawahnya.
Spontan air mata luruh begitu saja dari manik Kenzie, jantungnya berdetak kencang takut suaminya direbut wanita lain. Bagaimanapun juga, Kenzie sudah meyakinkan hati sepenuhnya untuk suaminya dan hanya dia yang boleh memiliki Gavin Megantara.
"Aku keluar luar dulu, nantiā"
"Gak boleh!"
Kenzie memeluk erat tubuh kekar itu, seraya menangis sejadi-jadinya.
"Yah, padahal kita udah janjian."
"GAK BOLEH, KAMU GAK BOLEH KEMANA-MANA!"
"Ayo lah sayang, aku butuh seseorang saat ini. Udah 2 bulan aku gak dapat jatah,"
"Gak boleh!"
"Tenang aja kita tetap suami istri, tapi aku butuh pelampiasan n4psu,"
Spontan Kenzei mendongak kepalanya keatas, menangkup wajah tampan itu dan mencium bibir tebal itu dengan kesal. Jemari lentiknya bergerak kesana kemari, menarik kaos suaminya keatas dan di lempar asal ke atas lantai.
Tanpa Kenzie sadari, bibir tebal itu tersenyum di sela-sela ciumannya. Bahkan dress yang ia gunakan sudah terlepas dari tubuhnya, menyisahkan pakaian dalam. Dengan sigap Gavin bangkit tubuhnya, turun dari atas ranjang berdiri tepat di depan cermin besar.
"Turun!" ujar Gavin dingin.
Kenzie menurut, menatap pantulanya di depan cermin hingga tubuh kekar itu berdiri disampingnya, menunjuk kearah pantulan mereka berdua.
"Kamu masih kenal dia?" tunjuk Gavin kearah pantulannya sendiri.
Wajah cantik itu mengerut, sembari mengusap air matanya.
"Dia Gavin Megantara, pangeran kodok Kenzie Alison."
Sontak Kenzie melototkan matanya, menatap wajah tampan itu dengan tatapan syok. Tidak mungkin, Kenzie bahkan hampir lupa wajah tampan itu. Tapi marga yang selama ini Kenzie harapkan dibelakang namanya, adalah marga Megantara. Marga suaminya sendiri.
Jadi pria yang dia cari selama ini suaminya sendiri? tapi pria tampan itu pria kecil yang baik, suaminya saja titisan setan. Jauh berbeda perbandingannya.
"Sahabat kecil yang aku ceritain tadi, Dia. Kenzie Alison," tunjuk Gavin kearah pantulan Kenzie.
"Wanita sempurna, yang selalu aku sebut dalam doa walau rasanya itu tidak mungkin. Dia terlalu sempurna untuk dimiliki. Tapi Tuhan baik, dia jadi istri aku sekarang. Kenzie Megantara,"
Gavin mengusap air matanya kasar, membalikkan tubuhnya kearah Kenzie dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
"Aku mencintaimu!" ungkap Gavin tegas, tanpa ada rasa takut sekalipun.
END:(
_______________
HAPPY ENDING GUYS
TERIMAKASIH SEBANYAK-BANYAKNYA UNTUK KALIAN SEMUA, PECINTA NOVEL GAVIN MEGANTARA:)
JUJUR AKU BERUSAHA KERAS BANGET UNTUK NOVEL YANG SATU INI. MATA RABUN, KEPALA PUSING, KERJAAN TERTINGGAL, MOMMY MARAH-MARAHš¤£
AMBIL SISI POSITIFNYA, ITU SEMUA NYATA PELAJARANNYA. TERUTAMA BAGIAN PSIKOLOGI ANAK.
SEBENARNYA DARI SEGI MANA PUN ADA PEMBELAJARANNYA BAIK DARI SEGI KEKELUARGAAN , PERSAHABATAN, PERJUANGAN, TERUTAMA KUNCI KEHARMONISAN RUMAH TANGGA.
PERLU MENGALAH, TAPI MENGALAH DALAM ARTIAN YANG BERBEDA.
__ADS_1