GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
KURANG BELAIAN


__ADS_3

Gavin tidak habis pikir, Kenzie benar-benar pulang tanpa mengajaknya. Kata Erwin, selama perjalanan pulang Kenzie tidak henti-hentinya mengomel.


Padahal Gavin tidak salah apa-apa, istrinya saja yang terlalu sensitif. Memang wanita sulit dipahami, kadang Gavin pusing hanya memikirkan wanitanya. Seperti saat ini.


"Terimakasih pak."


Erwin hanya mengangguk kan kepalanya, menutup pintu kamar dan berlalu pergi.


Di atas ranjang terlihat Kenzie tidur, tanpa terganggu sedikitpun. Dengan perlahan Gavin melangkah, berusaha menyeimbangkan tubuh dengan langkahnya.


Tepat di ujung ranjang, Gavin langsung menghempaskan tubuhnya, yang sepenuhnya belum bertenaga.


"Sakit."


Spontan Kenzei terbangun dari tidurnya, dengan cepat membantu Gavin duduk bersandar di kepala ranjang.


"Sakit banget yang."


"Mana yang sakit?" Tanya Kenzie khawatir, perlahan melepaskan arm sling (Kain penyanggah lengan patah/ cedera) dari lengan sebelah kiri Gavin.


Siempunya hanya memejamkan mata, berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya. Hingga elusan lembut terasa menyentuh wajahnya, dan terdengar suara lembut menyapa telinganya.


"Jangan ditutup matanya, aku mohon."


Spontan Gavin membuka matanya, tepat manik berkaca-kaca di depan matanya. Wajah cantik itu terlihat khawatir, hingga setetes air mata keluar dari sudut maniknya.


"Jangan di tutup lagi matanya, aku capek Vin."


Kenzie menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha mengontrol emosi. Rasa takut itu kembali menyapa, jujur Kenzie takut kehilangan.


Seminggu full Kenzie menangis tanpa ada yang tau. Bahkan pikirannya melayang-layang linglung entah kemana.


"Jangan nangis, aku gak papa." Bisik Gavin, mengangkat dagu Kenzie seraya menerbitkan seulas senyuman manis.


Jemari besarnya menghapus jejak air mata yang membasahi wajah istrinya, perlahan mendekat tubuhnya menyembunyikan wajahnya diceruk leher Kenzie.


"Jangan nangis, kita hadapi sama-sama. Aku minta maaf udah buat kamu khawatir."


Kenzie hanya diam, perlahan memeluk erat tubuh kekar itu. Sesekali jemari lentiknya mengelus lembut rambut suaminya, dengan isakan kecil terdengar.


Gavin memilih memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut jemari lentik itu, sekaligus menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Sayang."


"Iya, kenapa? ada yang sakit?" Tanya Kenzie, sembari melongarkan pelukannya.


"Jangan nangis."


Kenzie hanya tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut suaminya dengan gemas.


"Mukanya jangan digituin, gemesin. Jadi pengen makan." Bisik Gavin tepat didepan wajah Kenzie.


"Tunggu sembuh dulu, jangan mesum mulu ih."


"Tapi kamu suka kan?"


"Iya."


"Serius?" Tanya Gavin antusias, dengan manik yang berbinar.


"Kalo aku gak suka, ngapain aku mau tidur di bawah kamu."


"Ohw, bini aku ikutan mesum."


"Jadi mau kamu gimana?"


"Ibu dari anak-anak aku."


"Maksud kamu siapa lagi? Dea?"


Gavin berdecak kecil, memutar matanya jengah kesal mendengar ucapan istrinya. Gini nih kalo wanita udah bucin, kerjaannya sudzon mulu.

__ADS_1


Padahal dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Dea, bahkan di masa lalu sekalipun. Dea memang mengubah pola pikirnya terhadap wanita, tapi bukan berarti Gavin mencintai Dea hingga detik ini.


Dea bagaikan hantu yang patut nya di jauhi. Perempuan yang tidak memiliki hati menurut Gavin.


"Jadi Dea itu siapa?" Tanya Kenzie serius, seraya mengalungkan kedua lengannya di belakang leher suaminya.


"Nanti cemburu lagi."


"Ck, siapa bilang?"


"Serius pengen tau?"


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap bibir tebal itu menunggu jawaban yang keluar dari mulut suaminya.


"Tapi janji jangan marah."


"Iya loh Vin."


Gavin mengehela napas panjang, menyusun kata-kata yang tepat takutnya Kenzei salah paham, malah nangis. Apalagi wanitanya tripikal manusia pencemburu, di bujuk juga lumayan sulit.


"Cerita ih."


"Iya. Waktu kelas 1 SMP, masa-masa pubertas namanya juga bocil gak tau apa-apa."


"Terus?"


"Aku suka sama Dea karena yah begitu, mukanya juga pas pas an."


"Gak nanya, langsung to the point."


Gavin tertawa kecil, mengecup singkat sudut bibir mungil itu.


"Karena kepedean banyak yang bilang aku ganteng, dua hari aku tertarik sama Dea, besok nya langsung to the point. Tapi sayangnya, pulang sekolah Dea malah gandengan sama cowok lain, katanya baru jadian di hari yang sama, tapi aku yang duluan."


"Saking kesalnya, aku malah emosian. Sampai masuk UGD tuh pacar baru Dea, besoknya skors satu minggu. Selama seminggu itu juga, Dea bahan bulyan."


"Serius?"


"Kasian, jadi ceritanya suami aku yang tampan ini di tolak?"


"Iya yang."


"Cup, cup, cup. Untung di tolak, kalo gak aku bunuh Dea detik ini juga."


"Yah."


Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, bangkit dari tempatnya melangkah kearah walk closet.


"Mau kemana?"


"Bentar jangan kemana-mana."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, tersenyum lebar melihat perubahan wajah istrinya. Ada sedikit rasa cemburu dari tatapan matanya, padahal perasaan Gavin dari masa lalu hingga kini jauh berbeda.


Hanya ada ratu iblis memenuhi isi hatinya. Ratu iblis yang sekarang menjadi Baginda ratu, ibu dari anak-anaknya di masa depan.


"Kamu ganti baju dulu, baru istirahat." Ucap Kenzei, meletakkan baju ganti suaminya di atas ranjang.


"Aku lap di kamar mandi aja yah, biar gampang."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, perlahan bangkit dari tempatnya dengan bantuan Kenzie.


Hingga pantatnya di duduk kan di atas kursi kecil dikamar mandi, satu persatu kancing piyama nya terbuka.


Dengan telaten Kenzie melap kering tubuh kekar nya, dengan handuk kecil dan air hangat. Sesekali Gavin meniup wajahnya, seakan mengodanya.


"Jangan bandel ih."


"Daddy pengen makan mommy."


Kenzie diam, tanpa berniat membalas ucapannya. Maniknya hanya fokus dengan tubuh kekar itu, agar kegiatannya cepat selesai. Mana sedari tadi Gavin tidak bisa diam, layaknya cacing kepanasan.

__ADS_1


"Udah."


Kenzie meraih handuk dari belakang pintu kamar mandi, melilitkannya dipinggang suaminya.


Dengan hati-hati membantu tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya, melangkah tertatih kearah ranjang.


"Kalo ada yang sakit bilang, jangan di tahan." Ucap Kenzei, seraya mendudukkan tubuh kekar itu di tepi ranjang.


"Sakit yang."


"Mana yang sakit?" Tanya Kenzie khawatir.


"Di bawah kayak nya udah bangun."


"Ya Tuhan."


Kenzie menepuk jidatnya, mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol suaminya. Gak sakit, gak normal, gak gila, mesumnya gak pernah terlupakan. Bikin pusing saja.


"Yang."


"Biarin."


"Yah, kasian."


"Aku gak peduli, diam!"


Gavin hanya tertawa kecil, melepas handuk yang melilit dipinggangnya menampakkan tubuh polosnya dari bawah hingga atas.


Dengan grasa grusu Kenzie memasangkan pakaian suaminya, tanpa memperdulikan tingkah Gavin yang semakin terlihat manusia yang kurang belaian.


"Yang benar Vin, aku ngambek nih."


"Eh, iya-iya."


Spontan Gavin gegalapan, memperbaiki posisinya mempermudah kegiatan istrinya.


Hingga tubuh kekarnya dibaringkan ke atas ranjang, di ikuti Kenzei berbaring disampingnya.


"Kamu lapar? Atau gimana?"


"Lapar, tapi pengen nya makan kamu aja."


"Ck, yang benar."


"Iya serius yang, pegang aja yang di bawah."


"Gavin."


"Yah panggil namaku sayang."


"Ya Tuhan."


"Kenapa? Mau coba?"


"Diam gak!" Ancam Kenzie, seraya bangkit dari tempatnya. Duduk ditengah-tengah ranjang menatap wajah tampan itu dengan tatapan tajam.


"Jangan marah-marah mulu, kalo mau, langsung aja. Kamu yang pimpin."


"Ini kepala gak kena bentur waktu kecelakaan? Atau kelebihan dosis kali."


"Kurang belaian."


"GAVIN!"


___________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


MENURUT READERS VISUAL PERLU ATAU TIDAK? BELUM KEPIKIRAN, KALO PERLU AKU TINGGAL CARI


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK

__ADS_1


STAY TUNED 🌱


__ADS_2