GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
ANCAMAN


__ADS_3

Hari, dan minggu berlalu. Tak terasa ujian Nasional tinggal menghitung hari. Lebih tepatnya hari Senin. Seluruh tingkat 3 dikumpulkan di aula, mendengar ceramah kepala sekolah yang menurut mereka membosankan.


Terlebih bagi Gavin. Tapi karena ada pemandangan indah didepan, kebosanan itu hilang terhempas angin berlalu. Ketua OSIS galak itu, berdiri di depan tepat di samping kepala sekolah.


Manik Gavin hanya fokus ke satu titik, terkadang manik mereka bertemu. Dengan sengaja Gavin mengodanya, dengan mengedipkan sebelah matanya. Wajah cantik itu terlihat tenang, walau tetap saja Gavin tau istrinya menahan mati-matian senyumannya.


Hingga ceramah kepala sekolah berakhir, di akhiri dengan berdoa bersama dan satu persatu siswa bangkit dari tempatnya. Hingga tersisa beberapa orang, Gavin baru bangkit dari tempatnya melangkah mendekat kearah Kenzie.


"Kenzie." Sayang, itu maksudnya. Ucap Gavin yang sampai ditenggorokan.


"Kenapa? butuh sesuatu?" Tanya Kenzie, tanpa menoleh kearah suara. Jemari lentiknya sibuk mengumpulkan lembaran kertas putih, tanpa memperdulikan keberadaan suaminya.


Lagian Kenzie tau itu Gavin, aroma khas suaminya sudah terekam jelas di otaknya.


"Boleh minjam waktunya sebentar, ada yang mau aku omongin." Kilah Gavin, kebetulan masih ada anggota OSIS lainnya yang berada di tempat itu. Gavin harus ekstra hati-hati berbicara, takutnya keceplosan.


"Bentar yah, ini belum kelar." Jawab Kenzie.


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, memilih berdiri tepat dibelakang Kenzie takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


Hingga tubuh kecil itu berbalik kearahnya, dengan seulas senyum tipis terbit dibibirnya.


"Ayo." Ajak Kenzei, melangkah duluan dari Gavin.


Tepat di lorong sepi, Gavin langsung menarik lengan istrinya ke arah gudang belakang sekolah. Masih ada waktu tiga puluh menit, sebelum barisan pembangian ruangan di mulai.


"Eh, kita ngapain ke sini?" Tanya Kenzie syok, seraya melirik ke sana kemari takut ada yang melihat keberadaan mereka berdua.


Hingga pintu gudang tertutup, Gavin langsung mendudukkan tubuh kecil itu ke kursi yang sudah bersih.


"Minum!"


Gavin menyondorkan sebotol air mineral, tepat didepan bibir mungilnya. Sekali tarikan napas, satu botol tandas tak tersisa.


"Aku capek banget Vin."


"Maaf, gara-gara si kecil kamu jadi begini." Ucap Gavin lembut. Berjongkok tepat dihadapan Kenzie, mengelus lembut kaki kecilnya.


"Gak papa, dia gak salah. Kamu yang salah. Makanya jangan mesum mulu. Apa salahnya buka segel setelah lulus, ini malah gak bisa di tahan." Cerocos Kenzie tanpa filter.


"Iya-iya, aku salah."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, memilih memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari besar itu di kaki kecilnya.


"Sayang."


"Kenapa?"


"Kamu pulang duluan aja, biar aku yang ngurus semua." Bujuk Gavin lembut.


"Gak bisa Vin, aku ketua OSIS kalo kamu lupa."


Gavin hanya mengehela napas panjang, bangkit dari tempatnya menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya. Mengelus lembut pucuk rambut istrinya, sesekali menciumnya.


"Jangan terlalu kecapean, oke."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, memeluk erat pinggang suaminya mencari posisi yang nyaman diperut kotak-kotak itu. Hingga bel berbunyi, baru mereka berdua mengendap-endap memasuki area sekolah.


____________


Kebanyakan bergerak malah membuat Kenzie kelelahan. Tepat mereka berdua sampai di rumah, tubuh kecil itu sudah berbaring di atas ranjang tanpa menganti seragamnya.


Gavin hanya bisa menghela napas panjang, menarik selimut menutupi tubuh kecil itu. Jemarinya kembali mengelus lembut kaki kecil istrinya, yang semakin terlihat membesar.


Hingga tubuhnya ikut berbaring di atas ranjang, mengelus lembut perut istrinya yang semakin membuncit.


"Anak Daddy jangan nakal yah, kasian mommy." Bisik Gavin tepat didepan perut Kenzie.


Kebetulan istrinya sempat mengeluh sakit kepala, dan kelelahan. Untung n4psu makannya tetap, tidak berubah malah pengen makan yang aneh-aneh.

__ADS_1


Tanpa sadar manik Gavin terpejam, detik berikutnya terdengar ketukan pintu, mengalihkan perhatiannya. Terpaksa tubuh kekarnya bangkit dari tempatnya, melangkah gontai membuka pintu menampakkan Erwin dengan wajah merasa bersalah.


"Maaf tuan mengangu. Ada tamu di bawah." Ungkap Erwin.


"Siapa pak? Tumben ada tamu."


Gavin menutup pintu kamar, melangkah beriringin dengan Erwin menuruni tangga satu persatu. Sembari mengancing seragamnya yang hampir terbuka.


Di sofa terlihat pria paruh baya, dengan perempuan yang Gavin yakin Tiara dengan ayahnya.


"Siang om, ada perlu apa? Mama sama papa lagi keluar negeri." Ucap Gavin tegas, duduk di sofa tepat dihadapan pria paruh baya itu. Tanpa memperdulikan Tiara yang sedari tadi menatapnya.


"Om gak bisa mampir ceritanya?"


"Bukan gitu om, siapa tau tujuan om kemari bertemu papa sama mama." Kilah Gavin.


"Tidak, tujuan om hanya bertemu kamu."


"Kenapa, om?" Tanya Gavin to the point.


Dia tidak memiliki waktu meladeni orang lain saat ini, kondisi istrinya membuat Gavin mabuk kepayang. Pikirannya hanya diisi Kenzie, dan bayi mereka.


"Hari ini ulang tahun Tiara, om harap kamu datang ke rumah merayakan ulang tahun Tiara bersama kami, dan teman-teman sekelasnya."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat membalas ucapannya. Boro-boro datang ke sana, Gavin sibuk menjaga istrinya. Dan memenuhi ngidamnya.


"Kami tunggu ke datangan mu."


"Iya, om." Balas Gavin, agar mereka cepat keluar dari rumah.


Tapi sayangnya, pria paruh baya itu malah sengaja mengulur-ulurkan waktu. Entah apa maksud dan tujuan, yang Gavin yakin sekedar menarik perhatiannya saja.


Tapi sayangnya Gavin tidak tertarik, malah mengantuk mendengar ucapannya. Hingga terdengar teriakan dari atas, sontak Gavin bangkit dari tempatnya. Berlari terbirit-birit menaiki tangga satu persatu, tanpa memperdulikan kedua manusia itu.


Di depan pintu terlihat Kenzie dengan wajah datarnya, menatapnya tajam seakan siap menerkam nya.


"DARIMANA?" Pekik Kenzei, hingga terdengar ke lantai bawah.


"BOHONG."


"Gak, ada tamu."


Kenzie malah mengerucutkan bibirnya, melangkah masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan suaminya.


"Sayang."


"Buatin rujak sana, aku pengen makan rujak." Ucap Kenzei ketus, walau terdengar seperti permohonan.


"Tunggu bentar, jangan kemana-mana."


Gavin menutup pintu kamar, melangkah lebar menuruni tangga satu persatu. Hendak melewati ruang tamu begitu saja, sebelum suara bariton khas ayah Tiara menghentikannya.


"Kamu lupa sama tamu."


Spontan Gavin membalikkan tubuhnya, menundukkan kepalanya sedikit.


"Maaf om, Gavin ada urusan sebentar." Ucap Gavin, dan berlari terbirit-birit kearah dapur.


Dengan sigap para asisten rumah mendekat kearahnya, tepat jemarinya menyentuh buah-buahan.


"Buatin sambal rujak dong mbok." Pinta Gavin, jemarinya lihai ke sana kemari. Mencuci, bahkan mengupas buah-buahan.


Hanya membutuhkan waktu sebentar, rujak permintaan Kenzei sudah siap. Tanpa memperdulikan Tiara dan ayahnya, Gavin melongos begitu saja menaiki tangga satu persatu. Dengan membawa sepiring rujak, dan segelas air hangat.


Tepat pintu kamar terbuka, dengan sigap Kenzie bangkit dari tempatnya melangkah kearah sofa duduk dengan manisnya, menyambut pesanannya.


"Sayang, aku ke bawah bentar. Kamu makan aja dulu rujak nya." Ucap Gavin lembut.


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, pikirannya hanya fokus dengan rujak dihadapannya.

__ADS_1


Gavin kembali turun kebawah, memastikan tamu nya sudah pulang atau tidak. Tapi sayangnya, masih stand by menunggunya.


"Maaf om." Ucap Gavin sopan.


"Siapa?" Tanya ayah Tiara to the point.


"Apanya om?"


"Wanita di atas."


"Oh, pacar saya om." Kilah Gavin.


"Emang boleh pacaran tinggal satu atap?" Sindir ayah Tiara.


"Kebetulan dia sepupu jauh om, mama sama papa juga udah tau. Lagian kita berdua gak ngapa-ngapain, cuman seatap doang. Kebetulan saya bukan manusia pecundang, cuman karena n4psu semata saya menghancurkan kehidupan orang lain." Sindir Gavin balik.


"Saya tidak yakin dengan ucapan kamu."


"Kenapa, om?" Tanya Gavin tenang.


"Rujak, seatap, saya rasa ada yang mengganjal."


Gavin malah tertawa kecil, menguyar rambutnya kebelakang sembari menoleh kearah Erwin yang juga menatapnya.


"Kayaknya om udah tau, jadi Gavin gak perlu jelasin lagi."


"Seriosly? Kalian berdua masih SMA."


Gavin hanya mengganggukan kepalanya tanpa beban, merasa percuma membohongi pria paruh baya ini. Gavin sudah tau apa maksud dan tujuannya sekarang.


"Bukankah pecundang itu namanya?"


"Tidak om."


"Saya baru tau."


Pria paruh baya itu bersandar dengan tenangnya di sandaran sofa, sembari melipat kedua tangannya seakan menantang Gavin.


"Kalo orang tau kamu menghamili anak orang, gimana?"


"Biasa aja om, lagian dia istri saya. ISTRI SAH, BAIK AGAMA MAUPUN HUKUM."


Sontak manik pria paruh baya itu melotot, bersamaan Tiara bangkit dari tempatnya menatapnya dengan tatapan syok.


"Bang Gavin bercanda kan?" Tanya Tiara heboh.


"Gak, Kenzie istri saya. Tenang aja umur kita udah legal kok, umur 20 sama 21 tahun. Saya rasa tidak masalah, daripada terjerumus ke pergaulan bebas. Iya, gak om?" Tanya Gavin, sembari tersenyum smirk.


Wajah pria paruh baya itu berubah drastis, detik berikutnya tertawa terbahak-bahak memenuhi ruangan, layaknya kuntilanak yang kurang belain menurut Gavin. Untung orang tua, kalo tidak. Gavin sudah melemparnya sejak tadi.


"Gimana caranya anak SMA nikah?" Sindir pria paruh baya itu, tak mau kalah.


"Bisa om, orang kita berdua udah punya KTP. Daripada saya cari mangsa memuaskan n4psu semata diluar sana, mending langsung nikah. Nambahin dosa om, keluar masuk club malam." Sindir Gavin halus.


"Sok tau kamu."


"Memang benar om, katanya berhubungan suami istri yang sah diatas ranjang, ada pahala nya tau om. Malah punya keturunan. Bini saya sempurna, cantik luar dalam, hati baik bagaikan malaikat." Ucap Gavin asal, yang penting dua manusia ini kesal dengan ucapannya.


Detik berikutnya, pria paruh baya itu mengeluarkan benda kecil yang terselip di kemejanya, sembari tersenyum smirk kearahnya.


"Bagaimana jika saya sebarkan ini ke semua orang?"


"Jangan om." Mohon Gavin, seraya bangkit dari tempatnya.


"Anak SMA nikah muda tanpa ada yang tau, kayaknya seru melihat keluarga Megantara miskin." Ejek pria paruh baya itu.


"Gavin mohon, jangan om."


"Menikah dengan putri saya, kalo kamu tidak mau ini tersebar."

__ADS_1


____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


__ADS_2