
Mood Kenzie hancur sekejap, keinginan memakan pizza sepuas-puasnya hilang entah kemana. Bahkan malam menjelang, maniknya enggan tertutup, pikirannya berkeliaran kemana-kemana.
Hanya helaan napas panjang, dan dengkuran kecil dari bibir tebal itu yang terdengar. Jam sudah menunjukkan pukul 23:00.
Entah kenapa Kenzie tiba-tiba ingin makan rujak, rasa asam, manis, pedas bercampur aduk membuat Kenzie menelan salivanya sendiri.
"Vin."
Kenzie mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah tampan itu yang terlihat tenang dengan napas yang teratur.
Kenzie jadi tidak tega, apalagi pulang dari cafe mereka sibuk membersihkan taman belakang rumah sesuai keinginan Kenzie. Bahkan taman ditata ulang, sesuai keinginannya juga.
Hingga manik hitam itu terbuka, mungkin sempat terganggu mendengar suaranya.
"Belum tidur? Kenapa? butuh sesuatu?"
Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, tersenyum lebar mendengar suara serak khas bangun tidur suaminya. Jemari lentiknya bergerak menyentuh rahang tegas itu, mengelus lembut seraya menatap manik hitam itu.
"Kenapa sayang? kamu ngidam?" Tanya Gavin seakan tau isi hatinya.
"Gak, cuman gak bisa tidur aja."
"Masih mikirin Dea? Aku gak punya hubungan apa-apa sama Dea, jangan pikirin yang aneh-aneh. Hati sama pikirin harus tenang selama hamil, soalnya itu berpengaruh besar sama bayi kita." Jelas Gavin lembut.
"Tau darimana?" Tanya Kenzie, merasa tertarik dengan pembicaraan suaminya.
"Mulai dari kecil sampai dewasa, mama sama papa kadang ngajak aku ke panti asuhan, sama sekolah luar biasa. Tau kan sekolah luar biasa? Anak-anak yang berkebutuhan khusus."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, mensejajarkanya wajahnya dengan wajah tampan itu.
Dengan sigap Gavin mendekap tubuhnya, melilitkan lengannya kepinggang ramping istrinya sembari merapikan selimut yang melorot.
"Jadi?"
"Apanya?"
"Serius Vin."
"Cium dulu."
Dengan cepat Kenzie mengecup bibir tebal itu, hingga senyuman lebar tercetak jelas di bibir tebal itu.
"Lanjut, udah aku cium juga."
Gavin hanya tertawa kecil, menarik wajah cantik itu kedalam dekapannya.
"Katanya, beberapa anak di sana faktor umumnya bermasalah dalam kandungan, ada juga faktor keturunan."
"Kalo faktor dalam kandungan, karena apa?"
"Kayak yang aku bilang tadi, pikiran sama hati gak sejalan. Faktor utama penyebabnya, lingkungan. Kadang karena perceraian, kehidupan yang rumit, suami istri tak sejalan. Ibu-ibu hamil rentan banget masalah hati, contohnya kamu."
"Aku di sini, gak kemana-mana. Jangan mikirin yang aneh-aneh, aku gak punya hubungan apa-apa sama wanita lain diluar sana. Percaya sama aku, semua baik-baik aja. Jangan bebani hati sama pikirin kamu. Ada anak kita yang lagi kamu perjuangin diperut kamu."
"Kasian yang, mereka lahir tak sempurna. Kadang aku nangis ngeliatnya, padahal mereka gak salah apa-apa. Gak ada anak yang pengen lahir tidak sempurna di dunia ini. Kalo boleh memilih nih yah, waktu dalam kandungan kita sebagai anak berharap sama Tuhan di lahirin di keluarga kaya, dan harmonis. Tapi masalahnya, semua udah ada garis takdirnya." Jelas Gavin lembut.
Seulas senyuman lebar tercetak jelas dibibir Kenzie, jemari lentiknya membalas pelukan hangat suaminya tak kalah erat. Kenzie baru tau suaminya sebijak itu, beribu-ribu kata yang keluar dari mulutnya, baru pertama kali ini ada faedahnya.
"Otak, sama hati anak juga terbentuk mulai dari kandungan. Pikirin hal yang positif aja, biar dia lahir gak kayak aku." Ucap Gavin lembut.
"Emang kamu kenapa?"
"Mesum kata kamu."
"Ternyata Daddy sadar sendiri."
__ADS_1
"Mommy Kenzie yang ngajarin."
"Oh, iya. Kapan-kapan ajak aku ke sana yah."
"Boleh, tapi masalah mengadopsi anak. Gak boleh. Kita buat aja banyak-banyak, biar keturunan Megantara gak sepi kayak kuburan aja."
"Ngomong apaan sih Vin."
"Benar yang, masa aku gak punya adek, sepupu malah. Kan aneh."
Kenzie hanya tertawa kecil mengelus lembut punggung kekar itu, sembari memejamkan matanya.
"Iya-iya, doain aja biar dikasih sama yang diatas."
"Selalu itu mah."
"Emang kamu pernah berdoa?"
"Tiap menit kalo aku ingat. Tapi bangun sama mau tidur, wajib berdoa kata mama. Walaupun mama galak kayak kamu, tapi masalah berdoa aku diajarin tau." Adu Gavin.
"Good boy."
"Udah tidur, udah tengah malam. Gak baik buat ibu hamil." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, sembari menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua.
_____________
Dering ponsel Gavin berdering entah keberapa kalinya, dua manusia yang tidur di balik selimut tebal itu tidak ada yang berniat membuka mata. Hingga tidur Gavin terganggu, terpaksa jemarinya meraba-raba nakas mencari letak ponselnya.
Tanpa memperdulikan siapa yang menggangu tidurnya, Gavin langsung menerima panggilan.
"Apaan? Masih pagi."
"Lah, ini udah hampir siang human. Udah jam sembilan juga." Protes Angga dari sebrang, kebetulan dia yang menghubungi Gavin.
"Masalah kemarin."
Sontak manik Gavin terbuka lebar, tubuhnya berbalik menghadap kearah Kenzie yang terlihat tidak terngangu sedikitpun.
Lengan kekarnya kembali mendekap tubuh kecil itu, seraya merapikan selimut yang melorot.
"Gimana?"
"Udah gue kirim lewat email, lengkap. Gue bahkan belum tidur, gila."
"Makasih bro."
"Bayarannya gue tunggu."
"Datang kerumah, sekalian ajak Fani sama Dian."
"Buat apaan? Gue cuman minta bayaran."
"Biar gue bayar, sepiring nasi. Gue gak punya uang." Ucap Gavin dengan santainya.
"Br*ngsek, gak guna Lo jadi suami orang."
"Siapa bilang, malah bini gue udah b*nting."
"Serius Lo? Gila, sejak kapan unboxing? Gak ngajak-ngajak Lo bre."
"Ck, lama-lama Lo kayak wartawan."
Gavin langsung memutuskan sambungan sepihak, melempar ponselnya asal yang sayangnya jatuh tidak tempatnya, hingga menimbulkan suara nyaring.
"Ck, nambahin pengeluaran."
__ADS_1
Gavin bangkit dari tempatnya, menatap ponselnya yang hancur tak berbentuk diatas lantai.
"Kenapa, Vin?"
Sontak siempunya mengalihkan tatapannya kearah asal suara, tersenyum lebar menatap wajah cantik itu.
"Hp aku rusak yang."
"Lain kali hati-hati." Peringat Kenzie, sembari bangkit dari tempatnya duduk disamping Gavin diatas lantai.
"Lagian hp kamu udah hancur banget, layarnya juga gak bisa digunain lagi." Ucap Kenzei.
"Iya memang, tapi nomor penting banyak di sini."
"Kan ada kartu nya."
"Malas banget yang nyimpan ulang, kadang ada yang gak simpan."
"Iya, juga sih."
Kenzie bangkit dari tempatnya, mengikat rambutnya asal. Melangkah membuka gorden, dan kaca balkon.
Kebetulan hari ini libur, jadi mereka tidur hampir siang. Biasanya pukul 05:00, mereka berdua sudah didalam kamar mandi. Jarang-jarang mereka bermalas-malasan di atas ranjang, apalagi mereka berdua semakin sibuk belakangan ini.
"Kamu ngajar hari ini?" Tanya Kenzei kearah Gavin, yang terlihat masih sibuk dengan serpihan ponselnya.
"Gak, satu bulan full gak ada istirahat. Jadi aku liburin juga hari ini, kamu juga lagi hamil. Mama sama papa juga gak ada di rumah."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, beralih merapikan tempat tidur. Tapi itu tidak berlangsung lama, beberapa detik kemudian tubuhnya di tarik kebelakang.
"Cuci muka aja sana, biar aku aja." Ucap Gavin lembut.
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, melangkah masuk kedalam kamar mandi melakukan ritual mandi. Kebetulan semalam Kenzie malas mandi, tubuhnya langsung direbahkan ke atas ranjang, tanpa memperdulikan tubuhnya.
Tak menunggu lama, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Kenzie dengan handuk melilit ditubuhnya.
Spontan Gavin mengarahkan tatapannya kearah pintu kamar mandi, menatap tubuh kecil itu berlalu masuk kedalam walk closet. Kenzie benar-benar menuruti ucapannya, mulai mereka pulang dari desa pinggir sungai, Kenzie selalu keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk.
"Istri aku makin sexy aja." Ujar Gavin, tepat Kenzie keluar dari walk closet. Menggunakan kaosnya yang terlihat kebesaran ditubuh kecil itu, dan celana pendek sebatas paha menampakkan kaki mulusnya.
"Mau godain suami."
"S*al, aku malah tergoda."
"Kasian banget."
Gavin hanya tertawa kecil, sembari menepuk paha kekarnya.
Dengan antusias Kenzie melangkah mendekat, duduk diatas paha kekar itu dengan mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya.
Hingga bibir tebal itu menyapa bibirnya, mengecup lembut bagaikan kapas.
"Aku mencintaimu!" Bisik Gavin.
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
MAAF YAH, AKU CUMAN BISA DOUBLE UP. SOALNYA SIBUK KERJA, DAN JAGA KESEHATAN.
KALO ADA WAKTU AKU USAHAIN:)
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, SEKALIAN KASIH HADIAH🍓
__ADS_1