GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
PENGANGUM RAHASIA


__ADS_3

Seharian Kenzie hanya mengurus suami, terkadang Gavin mengeluh kesakitan berakhir jemari lentiknya memijat lembut punggung kekarnya.


Entah separah apa kecelakaan waktu itu, yang pasti kecelakaan kali ini hampir menghilangkan nyawa, Kenzie yakin hal itu.


Sesekali bibir tebal itu meringis kesakitan, terkadang Gavin mengigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Vin."


"Iya, kenapa sayang?"


"Kita berobat lagi yah, aku takut kamu kenapa-napa."


"Tenang aja, aku gak papa kok."


"Gak papa gimana maksud kamu?"


"Iya yang, gak usah khawatir. Peluk sini, biar cepat sembuh."


Kenzie hanya melengkungkan bibirnya kebawah, walau tetap saja memenuhi keinginan suaminya.


Memeluk erat tubuh kekar itu, sesekali mengelus lembut punggung kekarnya. Jujur Kenzie takut terjadi apa-apa, hanya ada Gavin alasan Kenzie bertahan saat ini.


Andai rasa sakit itu bisa dibagi dua, Kenzie akan senang hati menerima. Asal suaminya baik-baik saja.


"Daddy." Ucap Kenzei lembut.


"Yes mommy."


Kenzie tertawa kecil, mendongakkan kepalanya keatas, mengecup bibir tebal itu beberapa kali.


"Kamu gemesin banget, tau gak."


"Iya kah? Kok aku gak percaya? Gimana dong sayang."


Kenzie memutar matanya jengah, detik berikutnya mencium sudut bibir tebal itu.


"Gak usah di pikirin. Kamu bikin kesal aja. Gak ada romantis-romantisnya jadi suami."


"Emang suami romantis gimana?"


"Gak tau, cari sendiri jawab nya."


"Kok gitu sih, kamu yang pengen."


Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, memilih fokus mengelus lembut wajah tampan itu.


Beberapa hari yang lalu, Kenzie yakin Gavin akan tersenyum dengan perlakuan manis nya, yang sayangnya wajah tampan itu tenang dengan dunianya sendiri.


Sekarang Gavin dalam kondisi sadar, Kenzie melakukan perlakuan manis itu kembali. Bibir tebal itu langsung tertarik membentuk sebuah senyuman, siapa saja yang melihatnya pasti diabetes. Alias muak, pengen muntah. Canda:)


"Sayang." Panggil Gavin lembut.


"Iya."


"Aku mencintaimu!"


"Terlambat."


"Kenapa?"


"Kamu pengecut, cuman bilang cinta aja aku harus nunggu bertahun-tahun. Udah kayak gebetan aja." Cibir Kenzie.


"Lah, memang masih tahap pdkt-an."


"Pdkt-an gimana maksud kamu? Segel aja udah dibuka."


"Kalo itu beda cerita sayang."


"Iya, beda cerita. Karena kamu orang nya mesum, gitu kan maksud kamu?"


"True, Istri aku makin pintar."

__ADS_1


Kenzie mencibir, dengan gemas mencubit bibir tebal itu. Makin lama Kenzie gemas melihat bibir ini, mana semakin seksi. Seakan menantangnya.


"Sakit yang."


"Biarin."


"Yah gak boleh gitu dong. Nanti yang cium dari bawah sampai at–"


"Diam!"


Kenzie menutup bibir tebal itu dengan telapak tangannya, tanpa memperdulikan tatapan menggoda yang ditunjukkan kearahnya.


Si*l, Kenzie tergoda dengan tatapan mata itu. Mana tubuhnya akhir-akhir ini sedikit sensitif dengan sentuhan, bahkan sentuhan kecil sekalipun.


"Kenapa sayang?"


Kenzie hanya mengelengkan kepala, memilih bangkit dari tempatnya. Membuka kaca balkon.


Akhirnya angin segar masuk kedalam paru-paru, setelah berperang dingin dengan pikiran, Kenzie akhirnya bisa merasakan kebebasan.


"Yang, bantu."


Spontan Kenzei membalikkan tubuhnya, dengan sigap membantu Gavin bangkit dari tempatnya, melangkah keluar dari kamar, duduk di kursi panjang ditengah-tengah balkon.


Sinar matahari pagi terasa sejuk, setelah berhari-hari menghabiskan waktu di atas tempat tidur tanpa melihat dunia luar, akhirnya mereka bisa merasakan angin segar.


"Vin."


"Iya, kenapa?"


"Gak jadi."


"Aku mencintaimu!"


"Aku lebih mencintaimu."


Gavin menatap wajah cantik itu, perlahan meraih jemari lentiknya menautkan nya dengan jemari besarnya.


"Gak papa, asal kamu sehat. Ngeliat kamu lincah di atas ranjang aja aku udah senang."


"Mommy mesum."


"Emang kamu mikirin apa?"


"Lupain."


"Berarti kamu yang mesum."


"Iya-iya."


Kenzie tertawa kecil, perlahan bersandar di lengan kekar itu sembari memejamkan mata.


Aroma khas Gavin menguar memasuki rongga hidung, ditambah angin sepoi-sepoi, dan elusan lembut jemari besar itu. Terasa menenangkan.


"Kenzie Megantara." Bisik Gavin. "Aku gak nyangka, bisa nikah sama ketua OSIS galak di sekolah."


"Kenapa?"


"Kamu orangnya terlalu sempurna. Aku yang mati rasa aja suka keluar masuk ruang BK. Enak aja gitu, ngeliat wajah cantik itu marah-marah, sayangnya menggemaskan."


Semburat merah jambu muncul di kedua pipi Kenzie, bibir mungilnya tidak tahan untuk tidak membentuk sebuah senyuman.


"Apalagi saat wajahnya di tekuk lucu, bibirnya dimanyukan kedepan. Jadi pengen makan." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.


"Kadang ketua OSIS itu, murung di ruangan OSIS. Gak tau mikirin apa. Kadang dia mau nangis, tapi malah di tahan. Pengen peluk, tapi bukan siapa-siapa waktu itu."


"Darimana kamu tau?"


"Kalo malas belajar aku sering ke ruang OSIS, karena sepi. Tapi waktu itu ada kamu di dalam, jadi nya aku berdiri didepan pintu aja."


"Serius?"

__ADS_1


"Iya, tapi ketua OSIS galak itu gak jadi nangis. Malah tidur di ruang OSIS. jadinya aku tutup pintu, duduk disampingnya deh."


Spontan Kenzei menegakkan tubuhnya, memiringkan kepala menatap wajah tampan itu dengan saksama.


Pantasan Kenzie merasa ada yang aneh saat itu, rambutnya terasa di elus lembut sesekali terdengar bisikan menyapa telinganya.


"Jangan bilang." Tunjuk Kenzie kearah Gavin.


"Yah, yah, kebo."


Kenzie hanya tertawa kecil, memukul kecil lengan kekar suaminya. Kenzie akui elusan lembut diatas kepalanya terasa menenangkan waktu itu, makanya Kenzie enggan membuka mata. Kenzie pikir mimpi, tapi sayangnya itu kenyataan.


"Waktu itu kenapa nangis?" Tanya Gavin serius.


"Usaha ayah sama bunda menurun, mereka jadi sering berantam di rumah."


"Namanya juga hidup yang."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap lurus kedepan menerawang masa depan.


Apa kehidupan seperti itu akan terulang lagi? Entahlah, Kenzie juga tidak tau.


"Jangan pikirin yang aneh-aneh, pikirin aku aja." Ucap Gavin.


"Gak minat, jadi pusing lama-lama."


"Yah, jahat banget sih yang."


"Makanya diam tuan mesum, jangan bising."


Gavin hanya mengerucutkan bibirnya, dan itu tidak hilang dari pandangan Kenzie. Dengan gemas Kenzie bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi dihadapan Gavin menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya.


"Ada yang ngambek nih ceritanya." Ucap Kenzei tepat didepan wajah tampan itu.


Siempunya hanya diam, tanpa berniat membalas ucapannya. Di dalam hati Kenzie menghitung mundur, tepat hitungan ke satu, bibir tebal itu langsung membentuk sebuah senyuman manis.


"Bukannya ngambek?" Tanya Kenzie pura-pura.


"Gak tahan."


Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, di ikuti Gavin seraya menyembunyikan wajahnya diperut rata istrinya.


Wanita yang satu ini benar-benar, Gavin akui dia akan selalu luluh dengan rayuan istrinya. Dia mana tahan melihat wajah cantik itu, apalagi sampai mendiami.


"Kamu gemes banget sih Vin."


"Mana ada."


"Gemes tau, lucu."


Kenzie mencium setiap inci wajah tampan suaminya, hingga terdengar kekehan geli dari bibir tebal itu.


"Geli yang."


"Nah baru tau kan. Selama ini, itu yang aku rasain."


"Kasian banget istri aku."


"Biasa aja tuh."


Gavin hanya terkekeh geli, dengan gemas mengacak-ngacak pucuk rambut istrinya.


"Kita kapan yah punya debay. Aku gak sabar jadi Daddy."


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


SELAMAT HARI MINGGU


GBU

__ADS_1


__ADS_2