
Selama perjalanan, Gavin memeluk tubuh kecil gadisnya. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher Kenzei, hingga napas hangatnya terasa menerpa leher siempunya.
Sebenarnya Kenzei merinding, apalagi jemari besar itu memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskannya.
Hingga mobil berhenti di depan rumah, Edo langsung keluar membanting pintu cukup kencang.
"Gila Lo berdua, mentang-mentang suami istri bisa-bisanya sok romantis didepan gue." Teriak Edo, menarik perhatian satpam, bahkan Lara dan Viktor yang kebetulan lagi sarapan.
Dengan tergesa-gesa, mereka berdua keluar dari rumah. Terlihat mobil Gavin sudah terparkir didepan rumah.
Kenzie tersentak kaget, untung jantungnya tidak copot. Tapi anehnya, Gavin tidak terganggu sedikitpun. Malah terlihat tidur nyenyak. Rasanya tidak tega membangunkannya, tapi tidak mungkin mereka berdua tidur di dalam mobil.
"Vin."
Kenzie menepuk-nepuk wajah tampan itu, hingga siempunya mengeliat dalam tidurnya.
"Bangun yuk, kita udah nyampe. Tidurnya di dalam aja."
"Hm."
"Vin."
Gavin berdecak kecil, membuka matanya dengan terpaksa. Lengannya semakin erat memeluk pinggang Kenzie, menatap wajah cantik itu dengan mata berat menahan ngantuk.
Dua kali tidurnya terganggu, entah mengapa orang-orang tidak ada yang mengerti.
Dengan cepat Kenzie membuka pintu mobil, perlahan bangkit dari tempatnya, sembari memeluk tubuh kekar itu yang terlihat memejamkan mata.
"Eh, suami kamu kenapa?" Tanya Lara, tanpa berniat membantu Kenzei sedikitpun.
Lara tau kelakuan putra semata wayangnya, Gavin mana mau dibantu. Apalagi sekarang ada Kenzei.
"Nanti aja ma Kenzie cerita."
Lara hanya mengangguk kan kepalanya, menatap kedua punggung itu berlalu menjauh.
"Ma, waktu malam pertama bukanya mama yang tepar. Kok malah Gavin?" Tanya Viktor.
"Mama juga binggung."
Mereka berdua mengelengkan kepala, binggung sekaligus heran.
Tepat pintu kamar tertutup, Gavin langsung menghentikan langkahnya.
"Kunci pintunya."
Kenzie mengunci pintu, hendak kembali melangkah tapi tubuh kekar itu kembali menahannya.
"Kunci."
Kenzie berdecak kecil, meraih kunci kamar meletakkannya di telapak tangan Gavin. Dengan cepat Gavin mengantongi kunci, takutnya Kenzie keluar dari kamar.
"Ck, dasar." Cibir Kenzie.
Perlahan Gavin berbaring di atas ranjang, diikuti Kenzie sembari menyelimuti tubuh mereka berdua.
Merasa tubuh kecil itu sudah berbaring, dengan cepat Gavin merapatkan tubuhnya dengan tubuh kecil gadisnya.
Merosotkan tubuhnya kebawah, hingga seluruh tubuhnya tertutupi selimut. Dengan cepat Gavin memeluk tubuh kecil itu, menyembunyikan wajahnya didada Kenzie.
"Eh, ngapain?"
Kenzie hendak mendorong tubuh kekar itu, tapi pergerakannya terhenti saat melihat wajah tampan itu terlihat tenang dengan napas yang teratur.
"Pintar banget cari kesempatan yah."
Kenzie mengehela napas pasrah, memeluk kepala Gavin yang tertutupi selimut.
___________
Merasa puas dengan tidurnya, perlahan manik hitam itu terbuka mengerjap berkali-kali mengumpulkan nyawa.
Hingga senyuman tipis terbit dibibir tebal itu, merasakan kepalanya dipeluk erat gadisnya. Dengan gemas Gavin semakin mengeratkan pelukannya, tanpa peduli apa yang tepat didepan wajahnya.Toh sebentar lagi itu akan menjadi miliknya.
"Sayang."
Gavin menepuk pelan punggung kecil itu, sesekali mencium benda empuk yang tepat didepan bibirnya.
"Bangun yuk, udah siang."
Bukannya bangun, Kenzie malah semakin mengeratkan pelukan di kepalanya.
"Jangan ditekan, sesak."
"Bentar ngantuk."
__ADS_1
Gavin tertawa kecil, sembari membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Perlahan mendongakan kepalanya keatas, melihat wajah cantik itu yang terlihat memejamkan matanya.
"Sayang."
"Hm."
"Bangun yuk, kita belum sarapan."
Gavin meronggoh saku celananya, mengambil ponsel yang belum sempat dikeluarkan dari sakunya.
Untung tidak tertekan, Gavin malas menganti hp. Walau layar ponselnya sudah hancur tidak layak dipakai. Karena setiap kalah bermain game, Gavin selalu melempar ponselnya yang untungnya masih bisa digunakan sampai sekarang.
"Udah jam sepuluh, bangun yuk."
Perlahan Gavin bangkit dari tempatnya, membuka gorden dan kaca balkon. Seketika sinar matahari langsung menerpa wajah Kenzie, membuat siempunya bangkit dari tempatnya.
"Nakal banget sih Vin."
Gavin hanya tertawa kecil, berlalu masuk kedalam kamar mandi.
_________
Libur yang biasanya dihabiskan bermalas-malasan, kini digunakan untuk belajar. Gavin terlihat serius dari tadi, bahkan tatapannya tidak teralih sedikitpun dari bukunya.
Kenzie yang duduk disampingnya pun melakukan hal yang sama, hingga ngatuk dan bosan menyerang.
"Vin."
"Kenapa?"
"Ngantuk."
"Dasar kebo, baru jam empat."
Kenzie mengerucutkan bibirnya, hendak bangkit dari tempatnya. Tapi lengan kekar itu menahan pergerakannya, menuntut tubuhnya duduk didepan siempunya.
"Kalo bosan belajar, biasanya ngapain?" Tanya Gavin, sembari melilitkan lengannya kepinggang ramping itu, dan meletakkannya kepalanya di bahu Kenzie.
"Tidur."
"Gak boleh."
"Jadi ngapain?"
"Main game gimana?"
Gavin memutar matanya, mencari ide menghilangkan bosan. Jujur dia juga bosan. Hingga satu ide muncul dibenaknya, dan gadisnya menyetujui ucapannya.
Semilir angin sore terasa menenangkan, langit cerah tapi tidak terlalu panas. Kaca balkon terbuka lebar, tubuh keduanya berbaring diatas karpet bulu-bulu.
Manik hitam itu tidak lepas dari wajah cantik gadisnya, sesekali bibir tebalnya menyapa ujung bibir mungil itu.
"Vin, sebelum nikah kamu ngapain aja?"
Gavin memutar matanya, dan menghela napas panjang.
"Biasa, game."
"Emang gak bosan?"
"Gak, malah seru."
"Masa sih, sepanjang hari itu aja yang di lihat."
"Emang mau lihat apa lagi?"
"Keluar rumah gitu, sama teman-teman kamu."
"Angga sama Edo malah datang kesini."
"Ke sini?"
"Iya, di ruang keluarga." Ucap Gavin, dan tertawa terbahak-bahak.
Seluas-luasnya kamar Gavin, tak pernah satu orang pun menginjak kaki masuk kedalam kamarnya. Tanpa terkecuali.
Makanya hari pertama Kenzie menginjakkan kaki dirumah ini, mama nya sempat menyuruh Kenzie tidur di kamar sebelah. Takutnya dia marah.
Tapi karena status yang sudah sah, menurutnya tidak salah Kenzie tidur di kamarnya, atau berbagi kamar dengannya.
"Kenapa Vin?"
"Kamu lucu."
"Gak ada yang lucu juga."
__ADS_1
Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah kearah walk closet. Rasa bosannya sudah hilang, tubuhnya gerah.
"Mau kemana?"
"Mandi."
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, mengikuti Kenzie masuk kedalam walk closet. Dengan asal meraih bajunya dan berlari terbirit-birit keluar dari kamar.
Kebetulan kamar mandi hanya satu, jadi Gavin mandi di kamar mandi sebelah saja. Malam ini dihabiskan untuk belajar tidak apa-apa, asal malam minggu ke depan ia mendapatkan apa yang ia mau.
Hanya membutuhkan waktu yang singkat, Gavin sudah selesai mandi. Maniknya kembali fokus menatap buku didepannya, hingga pintu kamar mandi terbuka.
"Eh, rambutnya dikeringin dulu."
Kenzie mengambil alih handuk kecil dari pangkuan Gavin, mengeringkan rambut suaminya dengan telaten.
"Sayang."
"Kenapa?"
"Jelasin dong bagian yang ini."
Kenzie menerima buku catatannya, menjelaskan secara rinci bagian yang Gavin kurang mengerti. Hingga senyuman lebar terbit dibibir tebal itu, secepat kilat mengecup bibirnya.
"Makasih."
Siempunya tersenyum manis, mengacak-ngacak gemas rambut suaminya.
Hingga tengah malam, kamar tetap terang. Gavin fokus menghapal, sesekali mendengar penjelasan gadisnya.
Kenzie tidak sia-sia memberi tantangan itu, suaminya malah belajar dengan giat.
"Otak kamu encer juga, jadi ngapain bolos tiap hari?"
"Biar gak ada yang iri."
"Alasan aja kamu mas."
"Ha?"
Kenzie tersenyum lebar, menyembunyikan wajahnya didada bidang itu. Ucapannya barusan hanya sebatas candaan. Karena film-film yang sering bundanya tonton, istrinya selalu memanggil suaminya dengan panggilan mas.
"Coba ulangi."
"Yang mana?"
"Alasan aja kamu–"
"Mas."
Gavin tertawa kecil, mengacak-ngacak rambut gadisnya dengan gemas.
"Ada-ada aja."
"Emang kamu gak mau aku panggil mas?"
"Gak."
"Jadi mau nya aku panggil apa?"
Gavin tersenyum smirk, mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Kenzie.
"Daddy."
"Ih, kayak om-om mesum."
Kenzie tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan wajah tampan itu. Dengan cepat, Kenzie bangkit dari tempatnya berlari terbirit-birit masuk kedalam selimut.
Hingga tubuh kekar itu ikut masuk kedalam selimut, menangkap tubuh kecilnya dan memeluknya erat.
"Buat debay ayok, aku gak sabar dipanggil Daddy."
"Kalo aku gak mau gimana?"
"Aku bu*tingin diam-diam."
"GAVIN."
Sontak Gavin menutup bibir mungil itu, takutnya teriakannya terdengar keluar kamar. Walaupun kedap suara, tapi teriakan Kenzei tidak ada tandingannya.
"Sekalian d*sah, biar cepat bu*ting."
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
HAPPY SUNDAY
SELAMAT HARI MINGGU