GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
MENJALANKAN HUKUMAN


__ADS_3

Suara ayam terdengar dari luar, membangunkan Gavin dari alam mimpi. Jemarinya semakin mengeratkan pelukannya, bibir tebalnya mengecup bibir mungil itu yang terlihat bengkak.


Ber cinta di kampung orang sangatlah menantang, apalagi Gavin mengulangi aksinya kembali hampir tengah malam yang sepi, saat bibir mungil itu tidak hentinya mengoceh. Akhirnya Kenzie tepar, tidak memiliki tenaga bahkan membuka maniknya pun enggan.


"Sayang." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, sembari terkekeh geli.


Tidak ada pergerakan sedikit pun, wajah cantik itu terlihat tenang dengan napas yang teratur.


"Aku mencintaimu!"


Gavin mengelus lembut rambut tergerai istrinya, sesekali mencium pucuk rambutnya. Kenzie benar-benar memberi hadiah yang ia mau. Apalagi bibir mungil itu seakan menantangnya.


Mengingat hari ini, hari pertama hukuman. Terpaksa Gavin bangkit dari tidurnya. Dengan hati-hati melepaskan pelukannya, merapikan selimut menutupi tubuh kecil itu.


Gavin mandi secepat mungkin, takutnya Kenzie terbangun dia tidak ada di sana. Dengan rambut yang basah, handuk melilit dipinggangnya Gavin masuk kedalam kamar. Bertepatan Kenzie memangil namannya.


"Vin."


"Udah bangun?"


Gavin duduk di tepi ranjang, membantu Kenzie duduk bersandar di dada bidangnya.


"Sakit banget Vin."


"Nanti malam kita ulangi, biar gak sakit."


Sontak Kenzie memukul lengan kekarnya, bibir mungilnya dimanyukan kedepan.


"Bagaimana servis semalam? Apa Baginda ratu puas?" Goda Gavin, mengalihkan perhatian istrinya.


"Lumayan, tapi sakit."


"Makanya harus diulangi tiap hari, biar gak sakit."


"Ck, ngomong apaan sih."


Gavin hanya tertawa kecil, bibir tebalnya menyapa sudut bibir mungil itu.


"Vin, aku gak bisa jalan gimana dong?


"Emangnya kenapa?"


"Yah, hukuman."


"Nanti aku izinin, biar aku sendiri aja yang di hukum."


"Yah gak boleh gitu dong. Waktu itu aku juga ikut di mobil."


"Emang bisa jalan? Gak malu gitu?"


Kenzie menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya perlahan menghadap kearah Gavin.


Senyuman manis terukir indah dibibir tebal itu, lengannya memerah terlihat bekas cakaran. Sontak Kenzie membalikkan tubuhnya, terpampang jelas bekas cakaran jemari lentiknya di punggung kekar itu.


"Sakit Vin?" Tanya Kenzie khawatir, mengelus lembut bekas memerah dipunggung suaminya.


Spontan Gavin membalikkan tubuhnya, menangkup wajah cantik itu mencium setiap inci wajah Kenzei bertubi-tubi.


"Aku gak papa, itu gak sebanding sama yang kamu rasain." Ucap Gavin lembut, tepat didepan wajah cantik itu.


"Jangan bohong, ih."


"Iya sayang, aku gak papa. Malah enak tau."


Kenzie menyentak lengan kekarnya, menunjuk kearah koper. Seakan mengerti, Gavin bangkit dari tempatnya mengangkat koper tepat di hadapan Kenzei.


"Mau pakai baju yang kita bawa, atau yang dari mama?" Tanya Kenzie, sembari mengeluarkan jaket suaminya. Memasangkan nya ke tubuh kecilnya.


"Terserah kamu aja." Balas Gavin, tanpa mengalihkan tatapannya dari Kenzie, yang terlihat sibuk memakai jaketnya tanpa seizin nya.


"Pakai baju yang kita bawa aja dulu."


Kenzie mengeluarkan kaos dan celana pendek selutut dari koper, meletakkannya diatas pangkuan Gavin.


"Pakaian dalam mana?" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.


"Lupa."


Kenzie membuka koper kembali, melempar pakaian dalam Gavin tepat didepan wajahnya.


"Gavin mesum, lama-lama urat malu aku putus gara-gara kamu."


Gavin hanya tertawa terbahak-bahak, melihat wajah cantik itu terlihat kesal dan memerah menahan emosi.

__ADS_1


"Hitung-hitung belajar jadi istri yang baik."


Dejavu. Hari pertama Kenzei menginjakkan kaki ke rumah mertuanya, Gavin mengucapkan kalimat yang sama.


Dengan santainya, Gavin membuka handuk yang melilit dipinggangnya, menampakkan bagian bawahnya yang tegang seperti semalam. Sontak wajah Kenzie memerah, dengan mata yang melotot sempurna.


"Jangan teriak!" Peringat Gavin.


"Ya Tuhan, mataku gak suci lagi."


Kenzie menutup mulutnya, menahan teriakan yang sempat ingin keluar dari mulutnya.


"Semalaman loh Vin aku kasih, masa masih gitu." Protes Kenzei.


"Gitu apa?"


"Lupain. Bantuin, aku mau masak."


"Gak usah, aku aja."


Kenzie hanya menghela napas panjang, menatap punggung kekar itu berlalu dari kamar. Walaupun Gavin bukan pria lembut dan romantis. Tapi perlakuannya kadang membuat Kenzie tersanjung.


Dengan semangat, Gavin memasak sarapan mereka berdua. Untung ada makanan kaleng, jadi tidak memakan waktu. Mama nya seakan tau tujuan utamanya, makanan kaleng lebih banyak persediaan bahan makanan.


Nasi sepiring penuh, dengan lauk pauk dan segelas air hangat. Gavin masuk kedalam kamar, duduk di tepi ranjang.


"Kok sepiring?"


"Gak ada bantahan, aku suapin."


Kenzie hanya pasrah, membuka mulutnya menerima suapan Gavin.


"Tau gak? Angga sama Edo ikut camping, Fani sama Dian jadi ikut."


"Syukur deh."


"Iya, aku juga senang." Ucap Kenzei, sembari sibuk mengunyah makanannya.


Hingga makanan habis tak tersisa, Gavin langsung bangkit dari tempatnya. Menyimpan piring kotor ke dapur.


"Sayang."


"Iya."


"Iya gak papa."


Gavin mengerucutkan bibirnya, mengecup bibir mungil itu entah kesekian kalinya.


"Kamu tidur aja, pintu aku kunci dari luar. Takutnya ada yang masuk."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menatap punggung kekar itu berlalu keluar dari kamar hingga pintu tertutup, dan terdengar pintu terkunci dari luar.


Detik itu juga, Kenzie melebarkan senyuman menyembunyikan wajah nya di balik selimut. Sedari tadi Kenzie menebalkan wajah, sekedar melihat wajah tampan yang hampir semalaman berada diatas tubuhnya.


Apalagi Kenzie melihat jelas, bagaimana ekspresi wajah tampan itu menikmati kegiatannya. Tubuh kekar yang sempurna tanpa celah, hingga kekuatan Gavin yang tahan bergerak semalaman diatas tubuhnya.


"Bund, Kenzei malu."


_____________


Gavin mengetuk pintu rumah pak Harto, menampakkan wanita paruh baya dari balik pintu.


"Nak Gavin."


"Pagi bu."


Gavin menyalim wanita paruh baya itu, yang Gavin ingat istri pak Harto.


"Panggil ema aja."


"Oh, iya ma."


"Ayo masuk, Abah lagi sarapan."


Gavin menganggukan kepalanya, masuk kedalam rumah pak Harto dan duduk diatas tikar.


"Mau minum apa nak?"


"Eh, gak usah ma. Gavin baru sarapan." Tolak Gavin sopan.


"Pamali menolak tawaran orangtua." Ucap Pak Harto, sembari duduk disamping Gavin.


Siempunya hanya tertawa kecil, seraya mengaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Istri kamu mana?"Tanya pak Harto.


"Istri saya lagi sakit pak, tamu bulanan wanita." Kilah Gavin.


Seakan percaya, pak Harto hanya mengangguk kan kepala. Membuka bungkus rokok, dan menyelipkan sebatang rokok disela-sela jarinya.


"Ambil sebatang."


Pak Harto menyondorkan bungkus rokok kearah Gavin, langsung dibalas gelengan kepala.


"Maaf bah, saya tidak merokok."


"Jarang-jarang anak muda tidak merokok, Abah baru tau."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, menanggapi ucapan pak Harto. Hingga terdengar suara bariton dari luar, bersahutan dengan ketukan pintu.


Sontak pak Harto bangkit dari tempatnya, melangkah kearah pintu sembari mengajak Gavin.


"Kita memperbaiki jalan air dari gunung, terkadang tersumbat. Jalan air bersih kadang susah mengalir." Jelas pak Harto kearah Gavin.


Ada lima pria paruh baya didepan rumah pak Harto, lengkap membawa perlengkapan masing-masing. Hingga pak Harto menyondorkan cangkul kearahnya, dan menepuk pundaknya.


"Ayo, nanti Abah ajarin di sana."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengikuti langkah kelima pria paruh baya itu masuk kedalam hutan, sembari membawa cangkul.


Awalnya Gavin pikir sulit, tapi karena kegiatan dilakukan kerja sama semuanya berjalan dengan lancar. Apalagi penduduk desa menerimanya dengan baik, tanpa membedakan seseorang.


___________


Pukul 13:00, Gavin belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal Kenzie bela-belain memasak sambil menahan sakit, dan perih.


Dengan wajah yang ditekuk, Kenzie berbaring diatas ranjang. Menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya, hingga terdengar suara bariton menyapa telinganya.


"Udah makan siang?"


Sontak Kenzie membuka selimut, menatap Gavin dengan mata membola.


"Ya Tuhan, main lumpur dimana kamu?"


Gavin hanya nyengir kuda, menjulurkan lengannya kedalam kamar.


"Ambilin handuk dong yang."


Kenzie menghela napas panjang, perlahan bangkit dari tempatnya melangkah tertatih kearah Gavin sembari membawa handuk.


"Di hukum main lumpur?" Tanya Kenzei, meneliti penampilan suaminya dari bawah sampai atas. Kulit putih itu tertutupi lumpur, dari pinggang hingga ujung kaki.


"Ke gunung."


"Ngapain?"


"Memperbaiki jalan air."


"Kasian banget sih suami aku."


"Jangan terlihat mengoda, aku belum mandi nih."


"Mesum."


Gavin hanya tertawa kecil, melangkah kearah kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dari lumpur.


"Vin cepatan, aku udah lapar." Teriak Kenzie, tepat didepan pintu kamar mandi.


"Masuk aja, aku juga udah lapar. Tapi pengen nya makan kamu aja."


"Mesum."


"Bilang aja pengen itu, bukti nya semalaman kamu tahan dibawah."


"GAVIN!"


"Nanti malam aja, kurang seru kalo siang."


"Ya Tuhan, untung suami sendiri."


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SEBAGAI DUKUNGAN KALIAN UNTUK CERITA INI.


TERIMAKASIH SEBELUMNYA 🙏

__ADS_1


__ADS_2