GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
NILAI DIATAS RATA-RATA


__ADS_3

Manik lentik itu mengerjap berkali-kali, hingga pandanganya bertemu manik hitam kelam. Rambut basahnya menestekan air, membasahi wajahnya. Hingga bibir tebal itu mengecup bibir mungilnya, meniupkan napas hangat tepat didepan wajahnya.


"Bangun udah malam."


Sontak Kenzie melototkan matanya, menatap jam diatas nakas, pukul 20:00.


"Kenapa gak dibangunin mulai dari tadi?" Teriak Kenzei.


Dengan grasa grusu bangkit dari tempatnya, berlari terbirit-birit kearah kamar mandi. Seingatnya mereka pulang dari rumah sakit masih siang, tapi sekarang udah malam. Gila, selama itu ia tidur.


Untung di ruang tengah mertuanya tidak ada di sana, jadi Kenzie aman makan malam sendiri.


"Ck, pelan-pelan. Aku gak bakalan minta." Ucap Gavin, sembari duduk disamping Kenzie.


"Kenapa aku gak dibangunin sih Vin."


"Gak tega."


Kenzie menghela napas panjang, menghabiskan makanannya secepat kilat. Takutnya mertuanya turun kebawah, melihatnya baru makan malam.


Mungkin jika mertuanya seperti yang di film-film, Kenzie sudah angkat kaki hari kedua jadi menantu. Udah bangun kesiangan, kadang gak kerja apa-apa di rumah.


Sembari mengunyah makanan sisa terakhir, Kenzie mencuci piring bekas makanannya. Dan berlari terbirit-birit masuk kedalam kamar.


"Lah kok aku ditinggal." Gerutu Gavin, ikut berlari kecil masuk kedalam kamar.


Terlihat gadisnya duduk di atas sofa, sembari sibuk mengotak ngatik ponselnya.


"Vin."


"Apa?"


"Coba hubungi Angga sama Edo."


"Buat apa?"


"Fani sama Dian gak jadi ikut camping, gara-gara aku gak ikut."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, meraih ponselnya dari atas meja dan mengotak ngatik ponselnya.


"Sama, mereka juga gak ikut."


Kenzie menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Ck, nambahin beban aja." Keluh Kenzei.


"Gak usah dipikirin."


"Gimana gak dipikirin, cuman gara-gara satu orang mereka gak ikut."


Gavin memilih diam, takutnya kena semprot. Apalagi wajah cantik itu terlihat kesal, lebih baik dibiarkan mengoceh sesuka hatinya.


"Oh, iya Vin."


Wajah Kenzie langsung berubah drastis, entah apa yang terjadi. Baru juga marah-marah, sekarang sudah berbanding terbalik.


Dasar betina. Batin Gavin.


"Besok hari apa?" Tanya Kenzie antusias.


"Sabtu."


"Bukan itu."


"Jadi?"


Kenzie mendekatkan wajahnya, berbisik tepat ditelinganya.


"Pembangian rapot."


Gavin hampir lupa akan hal itu, baru juga pikirannya tenang tanpa memikirkan ujian, sekarang malah diingatkan.

__ADS_1


"Aku pasti gagal." Ucap Gavin lesu, bangkit dari tempatnya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


"Kok ngomong gitu."


Gavin hanya mengelengkan kepala, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Capek-capek berjuang, hasilnya pasti hancur. Gavin yakin hal itu.


"Vin."


Kenzie menarik-narik selimut yang menutupi tubuh kekar itu, yang sayangnya siempunya menahannya dengan kuat.


"Kan aku udah bilang, berapa pun hasilnya aku bakalan tetap kasih."


Siempunya hanya diam, tanpa mengubris ucapannya. Bahkan tidak bergeming sedikitpun. Terpaksa Kenzie berbaring di atas ranjang kembali, masuk kedalam selimut yang menutupi seluruh tubuh kekar itu.


Tapi sayangnya Gavin tidur telungkup, Kenzie tidak bisa melihat wajah tampannya. Sekedar mencium bibir tebalnya.


"Vin."


Kenzie merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekar itu, memeluk pinggang suaminya, sesekali mencium lengan kekar yang tertutupi kaos.


Selama ini Gavin antusias minta begituan, sekarang malah pesimis gara-gara nilai. Suami mesum nya selalu rendah diri. Bahkan sudah memiliki wajah tampan, Gavin selalu merasa dirinya biasa saja.


"Sayang." Bisik Kenzie pertama kalinya, sekedar mengoda Gavin.


Detik berikutnya tubuh kekar itu berbalik, merosotkan tubuhnya kebawah, hingga wajahnya tepat didepan dada Kenzie. Menyembunyikan wajahnya di sana, dan memeluk erat tubuh kecil gadisnya.


"Bukannya ngambek?" Tanya Kenzei, semakin gencar menggoda suaminya.


"Cup, cup, cup, anak mommy bentar lagi jadi Daddy tapi masih kayak bayi."


Kenzie terkekeh geli, sembari mengelus lembut rambut suaminya. Hingga terdengar dengkuran halus, walau tetap saja pelukan ditubuhnya semakin kuat.


Semoga Kenzei gak salah pilih yah Tuhan. Tinggal menghitung jam, Kenzie makin takut. Batin Kenzie.


___________


Pukul 06:30.


"Gavin ayo." Ucap Kenzei, sembari grasa grusu kesana kemari.


"Duluan yang, aku nyusul."


"Gak boleh gitu."


Kenzie mengecup sekilas bibir tebal itu, dan tersenyum hangat kearah siempunya.


"Katanya lakik. Baru juga perjuangan awal, udah loyo."


Gavin mengehela napas panjang, perlahan bangkit dari tempatnya mengikuti Kenzie keluar dari kamar.


Rasanya Gavin bersyukur di kirimkan Tuhan bidadari cantik seperti Kenzei. Dari dulu sampai sekarang Gavin tidak pernah tau yang namanya berjuang, hidup aja kadang bosan. Apalagi saat papa nya melarang ini itu, dan harus hidup sesuai perintah.


Berawal dari malam pertama yang diundur, Gavin tau yang namanya berjuang. Kenzei seakan mengulurkan waktu, hingga ia sadar dari dunia yang ia ciptakan sendiri.


"Bang, pulang sekolah langsung pulang." Ucap Lara, yang kebetulan baru keluar dari kamar sebelah.


"Kenapa ma?" Tanya Gavin tanpa minat.


"Desa pinggir sungai loh Vin, masa kamu lupa."


Gavin hampir lupa akan hal itu, menambah beban saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gavin menyalim mama nya diikuti Kenzie dari belakang.


"Nak, suami kamu kenapa?" Bisik Lara tepat ditelinga Kenzie.


"Ngantuk katanya ma." Kilah Kenzie. Tidak mungkin ia menceritakan kejadian yang sebenarnya, yang ada malah makin rumit urusannya. Apalagi mertuanya kebelet pengen punya cucu.


"Emang kalian berdua ngapain tadi malam?" Ucap Lara, seakan mengoda menantunya.


"Belajar ma."


"Oh."

__ADS_1


"Kenzie pamit dulu yah ma." Pamit Kenzie, berlalu menjauh dari hadapan Lara.


_____________


Mobil Gavin sudah terparkir di parkiran sekolah, tapi siempunya enggan turun menginjakkan kaki memasuki pekarangan sekolah.


Kenzie hanya melirik sekilas, dan keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebenarnya selama perjalanan Kenzie menahan tawa, entah mengapa merasa terhibur melihat wajah tampan itu di tekuk lucu.


Padahal selama ini, Gavin melakukan apa saja sesuka hati. Entah mengapa yang satu ini dia tidak berani.


"Ken."


Sontak siempunya tersentak kaget, memukul kecil lengan Fani.


"Gue kaget."


"Ck, Lo mah gak seru. Apa salahnya ikut camping."


"Ada urusan keluarga Fa." Kilah Kenzie.


"Undur dulu kek."


"Gak bisa."


"Masa sih gak bisa."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, tidak mungkin menceritakan aib nya sendiri. Kan gak lucu Kenzie bilang dia dan Gavin berbuat mesum ditempat yang salah. Yang ada seluruh dunia tau, kelakuan mereka berdua.


"Tapi–"


"Udah bel, jangan banyak tanya."


Sela Kenzie memotong ucapan Fani.


Kenzie berterimakasih untuk yang menekan bel. Kalo tidak urusannya makin panjang dengan Fani.


Gavin yang awalnya berniat tidur di mobil menunggu barisan bubar, langsung berlari kecil masuk ke barisan. Gadisnya akan dipanggil ke depan, sebagai juara kelas seperti biasanya. Gavin hapal betul akan hal itu.


Hampir seluruh sekolah mengenal Kenzie, gadis cantik sekaligus ketua OSIS yang menyandang status sebagai istri Gavin Megantara tanpa ada yang tau, terkecuali teman dekat mereka berdua.


Satu persatu siswa terpanggil, tepat kelas 12 IPA 2 Gavin mengulum senyumnya menatap punggung kecil gadisnya.


"Kenzie Alison, ....."


Kenzie Megantara, bukan Alison. Batin Gavin. Tepat guru memanggil nama Kenzei dari depan.


Sepertinya Gavin harus mengatur ulang semua biodata gadisnya, menganti marganya menjadi Megantara.


Tak terasa barisan bubar, Gavin tidak berniat sedikit pun membuka rapot nya. Biar saja Kenzie yang melihat hasilnya, Gavin malas.


Sabar Vin, mungkin belum waktunya belah duren. Batin Gavin.


Dengan langkah lesu Gavin melangkah kearah parkiran, duduk dikursi kemudi dan melempar rapot nya asal ke jok belakang.


Hingga pintu mobil terbuka, menampakkan Kenzei dengan senyuman lebarnya.


"Ubah mode gelap."


Seakan mengerti Gavin menekan tombol mode gelap kaca mobil, dan mengunci pintu.


"Rapot."


Kenzie menjulurkan tangannya, hingga rapot bersampul hitam diatas telapak tangannya. Dengan semangat Kenzie membuka lembaran satu persatu, tepat lembaran terakhir manik nya membola sempurna.


"Gila, urutan ke 10 Vin."


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH. SEBAGAI DUKUNGAN KALIAN UNTUK CERITA INI.


__ADS_2