
Pernikahan yang dihiasi dengan teriakkan Kenzie, dilengkapi dengan tawa Gavin tanpa merasa berdosa nya diatas pelaminan dulu. Tak di sangka, pernikahan itu sudah berjalan 3 tahun.
Perjodohan yang mengubah drastis kehidupan Gavin, sekaligus pria beruntung memiliki gadis yang di idam-idamkan para buaya di sekolah dulu. Jangan tanyakan seberapa bahagianya Gavin saat ini, yang pastinya lebih dari kata bahagia.
Apalagi kehidupan mereka di hiasi tawa girang setiap hari, bocah kecil yang memiliki wajah persis seperti wajahnya, tampan.
Namanya Kevin Adelio Megantara. Kevin usulan salah satu Readers, Adelio yang berarti pangeran yang mulia.
Jujur Kenzie kewalahan mengurus bocah kecil ini, apalagi kadang kambuh layaknya Gavin kurang belaian. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30, bisa-bisanya Kevin masih betah dengan semua mainannya.
"Bang, tidur yuk. Besok main lagi yah," bujuk Kenzei entah keberapa kalinya.
"Daddy?"
"Mommy gak tau, katanya kerja."
Wajah tampan itu terlihat kecewa, mungkin sejak tadi menunggu Daddy nya pulang dari kantor. Kebetulan Gavin mengirim pesan beberapa menit yang lalu, ada kerjaan yang harus di selesaikan malam ini.
Padahal biasanya, tepat pukul 17:00 mobil suaminya sudah terparkir didepan rumah. Kebetulan pemimpin perusahaan masih tetap mertuanya, Gavin belum siap mengambil alih kedudukan itu. Menurutnya, itu hal yang sulit.
Nyatanya itu hanya omong kosong semata, bahkan masuk kantor saja bebas layaknya boss, yang terpenting bermalas-malasan seharian di atas ranjang dengan putranya.
"Mommy gendong mau?" tawar Kenzie, sembari mengangkat tubuh kecil itu keatas pangkuannya.
"Abang tampan harus tidur, besok kita makan ayam goreng sama Daddy. Nanti mommy masak yang banyak-banyak, mau?" rayu Kenzie.
Kebetulan putranya suka makan ayam goreng, apalagi ayam goreng crispy. Walau sebenarnya yang dimakan hanya tepungnya bukan ayam nya.
"Bohong?"
"Gak, mommy gak bohong. Tapi Abang harus tidur, oke?"
"Oke,"
Akhirnya Kenzie bisa menghela napas lega, hendak bangkit dari tempatnya sebelum suara deru mobil terdengar dari luar.
Bibir kecil itu langsung tertawa girang, lengan kecilnya memeluk lehernya erat.
"Daddy pulang," teriak Gavin, berlari kecil kearah mereka berdua dengan tubuh kecil itu semakin erat memeluk leher istrinya.
"Katanya lembur,"
Bibir tebal itu hanya tersenyum, hingga menyatu dengan bibir mungilnya, mengecup lembut sedikit lama.
"Sekretaris papa kan ada,"
Terdengar kekehan geli dari bibir tebal itu, manik nya beralih kearah putranya.
"Abang udah tidur? kok Daddy gak lihat? Abang mana mommy?" tanya Gavin pura-pura.
Kaki kecil itu terlihat bergerak lincah, terdengar tawa dari bibir kecilnya. Dengan cepat Gavin mengambil alih putranya dari gendongan istrinya, mencium pipi gembul itu dengan gemas.
"Kok Abang belum tidur? nungguin Daddy?"
"Iya,"
Gavin hanya tertawa kecil, memeluk tubuh kecil dengan erat. Kenzie biasa melihat pemandangan itu, padahal baru beberapa jam tidak bertemu. Ternyata pria mesum itu benar-benar berubah. Setelah hadirnya Kevin di kehidupan mereka, Gavin bersungguh-sungguh menjadi seorang ayah seperti saat ini.
"Kamu udah makan?" tanya Kenzie, sembari membuka jas hitam dan dasi suaminya.
"Udah,"
"Yaudah kamu mandi aja sana, sini biar aku yang gendong."
Gavin hanya mengelengkan kepalanya, menuntut Kenzie masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.
"Biar aku aja, nanti nangis." tolak Gavin lembut.
"Emang kamu gak mandi?"
"Malas,"
"Bau tau,"
"Mana ada, buktinya kamu tidur di bawah ketiak aku tiap malam."
"Mana ada," kilah Kenzie.
"Gak mau ngaku? yaudah sana kamu tidur di sofa aja,"
Kenzie hanya mendengus kesal, membuka kancing kemeja suaminya satu persatu dan diletakkan di atas sofa dengan jas hitamnya.
__ADS_1
Perlahan Gavin naik keatas ranjang, membaringkan tubuhnya dengan Kevin diatas dada t*lanjang nya. Kebiasaan mereka setiap malam tunggu si kecil tertidur dengan sendirinya.
Jemari besarnya mengelus lembut punggung kecil itu, sesekali mencium puncak rambut putranya.
"Sayang, besok kerja?" bisik Kenzie, sembari menarik selimut menutupi tubuh mereka bertiga, meletakkan kepalanya diatas lengan kekar itu. Dan memeluk tubuh keduanya.
"Gak, kenapa emangnya?"
"Cuman nanya,"
"Kode?"
"Kode apa?"
"Buat adek Kevin,"
"Lah tiap malam kamu nanam benih, tinggal nunggu hasilnya kalo kamu lupa."
Gavin hanya terkekeh geli, menghirup dalam-dalam aroma rambut wanitanya yang bagaikan candu penghilang lelah.
Hingga wajah cantik itu mendongak kepalanya keatas, menatap wajahnya serius.
"Udah tidur?" bisik Kenzie sepelan mungkin, jemarinya ikut mengelus punggung kecil itu.
"Udah,"
"Dia nungguin kamu tau, padahal udah ngantuk," ungkap Kenzie.
"Iya maaf,"
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, tatapannya tidak lepas dari wajah tampan suaminya. Sesekali mengecup bibir tebal itu, dan tertawa kecil melihat tatapan mengoda dari siempunya.
"Oh, iya. Katanya Fani, Dian, sama Edo bentar lagi magang." ujar Kenzie.
"Iya,"
"Kamu kapan?"
"Udah magang kok yang,"
"Kok aku gak tau?"
Bibir mungil itu mengerucut kedepan, kesal mendengar ucapan suaminya. Kebetulan Fani, Dian dan Edo satu jurusan yang sama, kedokteran. Angga jurusan bisnis kuliah di luar negeri. Suaminya bisnis kuliah sambil kerja. Kenzie sendiri, bisnis jalur tidak jelas waktunya lebih banyak dengan putranya.
Kenzie mana tega meninggalkan putranya, apalagi menitipkan ke rumah orangtuanya atau mertuanya. Yang ada dilarikan, saking tidak mau dipulangkan.
"Bibirnya kenapa digituin?" tanya Gavin dengan menaikkan alisnya.
"Kamu jahat banget sih, masa lupa istri sendiri."
"Maaf,"
"Jangan di ulangi!"
"Iya mommy,"
Kenzie hanya menghela napas panjang, mencari posisi yang nyaman di lengan kekar itu dan memejamkan mata. Mereka sudah biasa dengan posisi itu tiap malam, tubuh kekar itu dijadikan bantal guling yang penting tidur nyenyak.
Gavin juga tidak mengatakan apa-apa, malah kadang ada yang kurang jika mereka tidak melakukan posisi itu sebelum tidur. Jemari nya mengelus lembut punggung kecil putranya, sebelahnya lagi digunakan memeluk tubuh istrinya.
Hingga rasa ngantuk menyerang, tanpa sadar mereka berdua ikut menyelami dunia mimpi bersama putranya.
______________
Entah pukul berapa, tapi perasaan Kenzie putranya sudah bangun dan naik keatas tubuhnya seakan menganggu tidurnya. Terpaksa Kenzie membuka matanya, langsung di sambut wajah tampan tepat didepan matanya.
Manik kecil itu berbinar, bibirnya tersenyum tanpa dosa seperti kelakuan Daddy nya. Spontan Kenzei tersenyum, menangkup wajah tampan itu dan mencium wajah gembul nya.
"Anak mommy udah bangun yah, lapar?"
"No,"
Kenzie hanya tertawa kecil, mengakat putranya keatas tubuhnya dan memeluk tubuh kecil itu saking gemasnya. Apalagi Kevin selalu menurut jika di peluk seperti ini, mungkin terbiasa karena sering diperlakukan seperti itu.
Sesekali Kenzie mencium rambut putranya, jemarinya mengelus lembut rambutnya. Hingga terasa pergerakan disampingnya, baru Kenzie sadar keberadaan suaminya.
"Ternyata Daddy masih tidur," bisik Kenzie, menarik selimut menutupi tubuh kekar itu dan merapikan helaan rambut suaminya.
Diatas nakas terlihat jam menunjukkan pukul 06:00, terlalu dingin mengajak putranya jalan pagi seperti biasa. Kebetulan mereka tinggal di desa pinggir sungai selama ini, sesuai keinginan Kenzie.
"Abang lapar?" ulang Kenzie.
__ADS_1
"Roti, susu," balas Kevin girang, bahkan memberontak dalam pelukannya.
"Anak mommy pengen makan roti sama susu yah, bentar mommy ambil dari dapur. Abang jangan kemana-mana!" peringat Kenzie, perlahan bangkit dari tempatnya dan turun dari ranjang.
Kebetulan Kenzie tidur didekat dinding, jadi aman putranya di tinggal sendiri.
Dengan gerakan kilat Kenzie menyeduh susu hangat, meraih roti dan selai nya. Melangkah lebar masuk kedalam kamar.
"Astaga, Daddy jangan di ganggu bang."
Kenzie langsung menyalakan televisi, mengangkat tubuh kecil itu dari atas tubuh suaminya. Untung Gavin belum terngangu, mungkin terlalu kelelahan bekerja seharian.
"Keturunan Megantara gak boleh nakal, cukup Daddy yang nakal. Abang jangan! bisa bahaya nanti," ucap Kenzei lembut, mendudukkan tubuh kecil itu diatas karpet bulu-bulu didepan televisi.
Manik kecil itu langsung fokus menatap layar televisi, sesekali mengunyah roti dari suapan Kenzie.
Bocah berumur 2 tahun, tapi kelakuan persis Gavin dewasa versi terbaik. Apalagi wajahnya sama persis, tidak ada bagian Kenzie yang terlihat dari wajah tampan itu. Sesekali Kenzei mencium pipi gembul itu saking gemasnya.
Hingga terdengar decitan ranjang, bersahutan langkah kaki mendekat kearah mereka.
"Sayang kepalaku pusing," adu Gavin, sembari meletakkan kepalanya di atas pangkuan Kenzie. Jemarinya mengelus lembut punggung kecil putranya, yang terlihat fokus dengan objek di depan matanya.
"Telat makan lagi?" tanya Kenzei, sembari memijat bagian kepala suaminya.
"Lumayan,"
"Ck, jangan diulangi lagi. Tiap hari kamu telat makan loh,"
"Iya-iya maaf, lupa saking sibuknya."
"Yaudah kamu dirumah aja, biar aku yang kerja. Bosan kerja ngeliat layar mulu,"
"Yah maksudnya gimana?"
"Kalo kerja di toko otomatis gak cuman layar mulu di depan mata, siapa tau ada duda tampan."
"Gak boleh!"
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, menatap Kenzie dengan tatapan tajam seakan siap menerkam nya.
"Kamu cuman boleh di rumah sama Kevin, gak boleh kemana-mana!" perintah Gavin tegas.
Spontan Kenzei tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian Kevin yang awalnya fokus menatap layar televisi.
"Mommy, libut." gerutu bibir kecil itu, bangkit dari tempatnya berdiri tepat dihadapan Kenzie.
Tawa Kenzie langsung reda, mengangkat tubuh kecil itu ke atas pangkuannya.
"Maaf, Abang nonton lagi. Mommy janji gak ribut lagi," ucap Kenzei lembut.
Maniknya beralih kearah suaminya, tatapan matanya masih tajam menganggap serius ucapannya barusan.
"Mukanya jangan digituin, sini!" ujar Kenzie, menarik lengan kekar itu mendekat kearahnya.
"Aku cuman bercanda, kamu gimana sih."
"Gak lucu, sumpah."
"Iya-iya maaf,"
Bibir tebal itu mencibir, duduk merapat dengan Kenzie dan meletakkan kepalanya di bahu istrinya.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh, aku gak suka," ungkap Gavin.
"Iya,"
Bibir tebal itu langsung menyatu dengan bibir mungilnya, mengecup lembut yang sayangnya hanya bertahan beberapa detik.
"Astaga, lihat situasi. Di sini ada anak kamu,"
Bibir tebal itu hanya nyengir kuda, sembari mengaruk tengkuknya.
_____________
#BERKOMENTAR YANG BIJAK DIMANA PUN ANDA BERADA, INI PUBLIK BANYAK YANG BACA KOMENTAR ANDA JIKA SUDAH BERLEBIHAN.
SEKALI LAGI TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA, TUNGGU KARYA AUTHOR GA SELANJUTNYA 🍓
#Jaga kesehatan, semoga rejeki di permudah di keadaan saat ini.
#God bless you salam toleransi 🙏
__ADS_1