GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
MERENDAHKAN


__ADS_3

Pagi ini Gavin sudah rapi, dengan kaos oblong dan celana panjang menutupi kaki jenjangnya. Belajar dari semalam, tidak mungkin memakai celana pendek mengali tanah yang berlumpur.


Kenzie juga melakukan hal yang sama, memakai celana panjang menutupi kakinya, dan hodiie suaminya yang terlihat kebesaran ditubuh kecilnya. Kenzie sengaja memakai jaket, menutupi tanda kemerahan di lehernya.


"Vin."


"Kenapa?"


"Pasang jemuran dong dikamar mandi, aku mau cuci baju sekalian cuci selimut."


"Gak boleh."


"Ck, masa kita tidur pakai selimut yang kotor. Mana bau lagi."


"Nanti sore aja, tunggu aku pulang."


"Ck, tapi–"


"Gak, ada bantahan. Diam!"


Kenzie mengerucutkan bibirnya, menghentak-hentakan kakinya masuk kedalam kamar. Meraih hp nya dan Gavin dari sela-sela dinding. Mengantonginya kedalam saku.


"Di mobil masih ada selimut, itu aja kita pakai tunggu di cuci."


"Iya." Balas Kenzie ketus.


Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, membuka kunci dan memutar knop pintu. Sebelum pintu terbuka, Gavin membalikkan tubuhnya, mengecup bibir mungil itu.


"Morning kiss."


Kenzie mencibir, seraya mengikuti langkah kaki suaminya keluar dari rumah. Morning kiss katanya? Bahkan Kenzie hampir kehabisan napas baru bangun gara-gara ulahnya. Jadi itu bukan morning kiss namanya, tapi standar kemesuman yang tinggi.


"Ayo."


Gavin meraih lengan Kenzie, melangkah kearah rumah pak Harto. Mengetuk pintu seperti kemarin, menampakkan istri pak Harto dibalik pintu.


"Masuk nak."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, masuk kedalam rumah pak Harto tanpa melepaskan cekalan tangannya dari lengan Kenzei.


"Gimana keadaannya nak Kenzie? Udah baikan?" Tanya istri pak Harto.


"Udah ma." Balas Kenzie. Kebetulan sebelum kemari, Gavin memberi tahunya alasan yang ia lontarkan kepada pak Harto semalam. Dan boleh juga otak dangkalnya berbohong.


"Oh, iya Abah dirumah sebelah. Nak Gavin, bisa temui Abah disana." Jelas istri pak Harto.


"Oh, iya ma. Saya titip istri Gavin yah ma."


Istri pak Harto hanya mengangguk kan kepala, seraya terkekeh geli. Berbeda dengan Kenzie yang mengubah mimik wajahnya datar, menatap wajah tampan itu tanpa minat.


"Gavin pamit dulu ma." Pamit Gavin, dengan gerakan kilat mengacak-acak pucuk rambut istrinya. Hingga punggung kekarnya berlalu keluar dari rumah pak Harto.


"Maaf ma, kelakuan suami Kenzei."


"Gak papa nak, namanya juga anak muda."

__ADS_1


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, tersenyum hangat kearah wanita paruh baya itu.


"Ema mau ke ladang sebentar, nak Kenzie pulang ke rumah aja dulu."


"Eh, Kenzie ikut aja ma."


"Banyak nyamuk."


"Gak papa ma."


Kenzie bangkit dari tempatnya, mengikuti langkah kaki istri pak Harto keluar dari rumah, sembari membawa keranjang yang terbuat dari rotan.


Di luar terlihat banyak pria, salah satunya Gavin memegang cangkul. Wajah tampan itu terlihat ceria, terlihat sepadan dengan kumpulan para pria paruh baya itu. Padahal dia yang paling muda diantara mereka semua.


Hingga pandangan mereka bertemu, bibir tebal itu tersenyum manis kearahnya seakan mengodanya. Cepat-cepat Kenzei mengalihkan tatapannya, takutnya ada yang melihat interaksi mereka berdua.


"Ayo nak Kenzie."


Kenzie menganggukan kepalanya, mengikuti istri pak Harto kearah yang berlawanan dengan suaminya.


"Maaf ma sebelumnya, Kenzie boleh tanya?"


"Boleh."


"Di desa ini tinggal berapa keluarga ma?"


"15 keluarga, tapi yang tinggal di desa hanya orangtua saja. Anak-anak muda tinggal di kota, agar akses sekolah mudah. Tidak perlu jalan kaki ke kota seperti kami dulu." Jelas istri pak Harto.


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, pertanyaan selama ini terjawab sudah. Pantasan Kenzei tidak pernah melihat anak muda seumuran mereka, yang ada hanya orang tua saja.


Tanaman berupa pohon seperti pohon pisang, pepaya, alpokat, ditanam disetiap sudut ladang. Tomat, sayur-sayuran, cabe, bawang, singkong, jagung hingga tanaman lainnya. Ditanam sesuai aturan dan terlihat tersusun rapi.


"Ema mau panen kentang dulu, nak Kenzei mau lihat-lihat dulu tidak apa-apa."


"Yah, Kenzie ikut dong ma."


"Yaudah, kamu petik cabai saja."


Kenzie menganggukan kepalanya antusias, menerima keranjang kecil dari istri pak Harto.


Jalan naik keatas gunung semakin berlumpur, akibat hujan deras semalam. Perjalanan keatas cukup memakan waktu, hingga mengali tanah pun terasa sulit.


Ingin rasanya Gavin berteriak, atau melempar cangkul saking kesalnya. Tapi melihat orang sekitar terlihat tenang, Gavin hanya menghela napas pasrah.


"Orang desa sering melakukan ini bah?" Tanya Gavin penasaran kearah pak Harto.


"Iya, apalagi kalo hujan deras. Terkadang lumpur ikut masuk kedalam aliran air."


Ya Tuhan, sesulit itu? Batin Gavin.


"Itulah perbedaan kota dengan desa." Ucap pak Harto.


"Tapi menurut Gavin di sini lebih enak bah. Suasana tenang, tanpa polusi. Bercocok tanam untuk kebutuhan sehari-hari. Kalo di kota bah, orang-orang kelaparan karena tidak memiliki jalan hidup. Bercocok tanam pun tidak bisa, semua lahan di penuhi gedung pencakar langit." Jelas Gavin.


"Namanya juga hidup nak Gavin." Balas seorang pria paruh baya.

__ADS_1


"Tidak ada yang mudah, orang kaya saja harus bekerja keras mempertahan kan kekayaannya. Bukan begitu nak Gavin?" Tanya pak Harto.


"Iya bah. Mama sama papa banting tulang tiap hari."


"Tapi balik lagi yang ke atas. Kita juga harus ingat sang pencipta. Jangan pernah melakukan hal diluar batas, cukup kerja dan yakin akan kuasa Tuhan." Nasehat pak Harto.


Gavin mengangguk kan kepalanya, tersenyum lebar mendengar ucapan pak Harto. Walaupun ditengah-tengah keadaan yang sulit, penduduk desa sabar menjalani hidup. Gavin acungi jempol, dan menghormati para orangtua yang tinggal di desa ini.


"Kita lanjut, agar cepat selesai." Ujar pak Harto.


Semangat Gavin kembali berkobar, keluhan yang sempat ia lontarkan hilang terbawa angin sejuk. Tanpa peduli tanah berlumpur, Gavin mencangkul tanah sekuat tenaganya.


Namanya juga hukuman, berbeda dengan hukuman sekolah. Terpaksa Gavin melakukan ini semua, asal istrinya tidak ikut melakukan kegiatan ini. Gavin tidak mau jemari lentik itu lecet, apalagi mama nya memperingatkannya membawa Kenzie pulang tanpa lecet sedikitpun.


_____________


Duduk di sekeliling ibu-ibu tidak pernah terlintas dalam benak Kenzie. Dari dulu sampai sekarang, Dian selalu sasaran amukannya karena sering duduk bergosip dengan tentangga. Sekarang Kenzie terjebak dalam situasi itu, walau dalam artian yang berbeda.


Dia dan istri pak Harto pulang dari ladang membawa hasil panen yang banyak. Katanya besok panen padi yang pertama kalinya, jadi sesuai tradisi desa. Mereka mengadakan makan malam bersama, untuk mengucapkan terimakasih kepada yang diatas.


Ibu-ibu desa turut serta gotong royong, membantu istri pak Harto selaku pemimpin desa yang akan menjamu makan malam nanti.


"Masih sekolah dek?" Tanya seorang wanita kearah Kenzie, menyadarkan lamunannya.


"Iya kak." Balas Kenzie, mengalihkan tatapannya kearah wanita itu. Terlihat dia yang paling muda diantara mereka, kecuali dia sendiri.


"Masih sekolah udah nikah, kamu pikir nikah itu gampang?"


"Ha?"


"Kalo cuman n4psu semata doang yang kalian kejar, buat apa nikah?"


Kenzie memilih diam, memaki didalam hati. Emang dia pikir Kenzie mau nikah muda? Jawabnya big NO. Masa depan yang ia rencanakan sebaik mungkin, hilang terhempas entah kemana.


Tapi demi keinginan orangtua, Kenzei merelakan masa depan, dan hanya percaya kuasa yang diatas.


Mungkin ini garis takdirnya, menikah di usia muda. Walaupun begitu, Kenzie selalu berusaha dan belajar menjadi istri yang baik sesuai agama. Bahkan sudah menyerahkan diri seutuhnya.


"Sok pengen jadi orangtua, sopan santun aja gak punya. Besok-besok cari yang lebih tampan, cerai. Dasar." Sindir wanita itu, seraya bangkit dari tempatnya.


Ibu-ibu desa hanya diam, hingga punggung itu berlalu masuk kedalam rumah pak Harto.


"Nak Kenzie, jangan dimasukin kedalam hati yah." Bisik istri pak Harto.


______________


KENAPA ADEGAN RANJANG GAVIN BERBEDA?


CLEARLY DIFFERENT, BECAUSE THIS IS A TEEN STORY, ROMANCE COMEDY


AKU HARUS BERUSAHA MENYEIMBANGKAN ROMANTIS, DENGAN CANDAAN. APALAGI MEREKA MASIH MUDA BUKAN PRO DALAM ADENGAN RANJANG. SEBAGAI PENULIS, AKU SELALU BERUSAHA AGAR CERITA KU BERBEDA DENGAN YANG LAIN:)


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI;)


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓

__ADS_1


__ADS_2