GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
MEMALUKAN


__ADS_3

Malam ini, malam terakhir mereka di desa. Tapi sayangnya, sepanjang hari Kenzie mendiaminnya, Rendi yang sadar akan hal itu malah menertawakannya. Bukan nya membantu, malah memperumit keadaan.


Sedari tadi Gavin linglung, kesana kemari demi membujuk istrinya. Tapi sayangnya, tak satu pun bujuk rayunya berhasil. Bahkan Kenzie menganggapnya angin berlalu.


"Sayang."


"Pakai jaket, celana panjang, sama kaos kaki."


Brak


Pintu tertutup, tinggal Gavin sendiri. Si*l, mulai dari tadi begitu, secepat kilat Gavin memakai pakaian yang Kenzie ucapkan barusan, dan keluar dari rumah. Duduk disamping Kenzie, melingkari api unggun dengan warga lainnya.


"Gimana nanti malam ditunda lagi?" Bisik Rendi, yang kebetulan duduk disampingnya.


"Siapa bilang, sekalian nginap di rumah. Biar nonton live streaming kita berdua."


"Br*ngsek."


"Lah, diajak malah gak mau. Makanya cari bini."


Rendi memilih diam, hapal betul arah pembicaraan ini. Ujung-ujungnya pembulyan, kalo tidak menyuruhnya menghamili Ayu. Memang pria yang satu ini benar-benar kelakuannya.


Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, menatap warga desa satu persatu mencari posisi aman. Perlahan menarik jemari lentik itu, menautkan nya dengan jemari besarnya. Dan dimasukkan kedalam saku jaketnya.


"Eh."


"Jangan berisik, nanti ketahuan." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.


Gavin sengaja merapatkan tubuhnya dengan tubuh kecil istrinya, takutnya ketahuan yang lain.


Malam api unggun, semilir angin malam, dilengkapi sentuhan lembut jemari besar itu. Menambah kesan untuk malam ini. Apalagi Kenzie merasa, Gavin sesekali melirik kearahnya dan tersenyum manis.


Kalo begini ceritanya, Kenzei mana tahan mendiaminnya. Malah pengen marah-marah saking malu nya. Lagian siapa yang tidak tergoda dengan senyuman itu, apalagi tatapan mata itu seakan mengodanya sedari tadi.


"Pulang yuk." Bisik Gavin.


"Ha?"


"Kita lembur malam ini."


"Ngomong apaan sih."


"Malam ketiga di desa."


Kenzie mencengkeram kuat jemari besar itu, takutnya emosinya kelepasan. Beberapa warga bangkit dari tempatnya, hingga tersisa empat orang. Rendi, Ayu, dan mereka berdua.


"Dek, nanti pagi mbak mampir yah." Ucap Ayu kearah Kenzie.


"Boleh, Kenzei juga mau kasih sesuatu."


Ayu hanya mengangguk kan kepalanya, seraya bangkit dari tempatnya diikuti Rendi.


"Mbak pulang dulu." Pamit Ayu.


"Iya mbak."


Kenzie tersenyum lebar kearah Ayu, hingga punggung itu berlalu menjauh.


"Yang, kita tidur di sini?"


"Ngawur."


Kenzie bangkit dari tempatnya, otomatis Gavin ikut bangkit dari tempatnya.


Dengan langkah lebar Kenzei masuk kedalam rumah, meninggalkan Gavin yang sibuk menutup pintu dan berlalu ke kamar mandi.


Secepat mungkin Kenzei menutup matanya, berharap malam ini hanya satu detik. Tapi sayangnya, matanya tidak bisa diajak kompromi. Hingga terdengar suara kaki mendekat, pintu tertutup, tempat tidur yang bergerak, hingga lengan kekar melilit dipinggangnya.


"Sayang."


Kenzie bungkam, mengigit bibir bawahnya agar tidak termakan rayuan yang akan keluar dari mulut itu.


"Aku pengen–"


"Gak, aku gak mau."


"Ha?"

__ADS_1


Gavin tercegang menatap punggung kecil itu bersembunyi dibalik selimut. Spontan Gavin mengulum senyum, masuk kedalam selimut dan memeluk tubuh kecil itu dari belakang.


"Sayang."


"Gak, jauh-jauh sana."


"Aku pengen–"


"Gak mau."


"Yah, dengarin dulu."


"Gak."


Gavin hanya tertawa kecil, menarik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua, dan membalikkan tubuh kecil itu menghadap kearahnya.


"Apaan sih Vin."


"Ck, dengerin dulu."


Kenzie menggelengkan kepalanya, menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya.


"Kamu mikirin apaan sih, hm?"


Gavin menangkup wajah cantik itu, sembari terkekeh geli.


"Aku pengen ngajak kamu liburan, mama sama papa juga liburan. Bunda, ayah sama Kenzo juga pergi. Aku cuman ngomong itu." Jelas Gavin, tepat didepan wajah Kenzie.


"Bohong."


"Kamu mikirin yang aneh-aneh mulu tentang aku."


"Jelas, omongan kamu juga gak ada yang benar."


Kenzie kembali membalikkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. S*al, Kenzie salah paham. Lagian salah sendiri, ucapannya gak ada yang benar tiap hari. Otomatis Kenzie waspada dengan ucapannya.


"Kamu pengen begituan yah sama aku?" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie. Sekejap siempunya merinding, memilih bersembunyi dibalik selimut.


Bisa bahaya kalo Kenzie menuruti ucapannya, yang ada lumpuh sementara waktu.


"Sayang."


"Tadi katanya pengen, yaudah ayo.


Kenzie diam, tanpa berniat membalas ucapannya. Diladenin malah merajalela, di kasih malah tidak tau diri. Mana tubuhnya tak seimbang dengan tubuh kecilnya.


"Ck, aku puasa 2 hari loh."


2 hari pala mu, tiap malam jing. Batin Kenzie.


"Dosa nolak suami."


"DIAM!"


Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, memeluk erat tubuh kecil itu saking gemasnya.


"Jauh-jauh sana."


"Jangan teriak-teriak, men de sah aja."


"Terserah."


Kenzie mengepalkan kedua tangannya, sesekali mencubit lengan kekar yang melilit dipinggangnya. Tapi sayangnya, Gavin malah pura-pura mende sah membuatnya kesal setengah mati.


Ya Tuhan, dosa apa yang Kenzie lakuin di masa lalu. Punya suami sebiji, kelakuannya gak ada yang benar. Batin Kenzie.


_______________


Seluruh warga desa berkumpul di rumah pak Harto, mengantar kepulangan mereka berdua. Banyak rahasia yang Rendi bisikan, dan itu sebuah keberuntungan untuk mereka berdua.


Mulai dari masa hukuman yang seharusnya 1 bulan, siksaan satu malam sebelum pulang, hingga jamuan makan sebelum pulang. Tapi sayangnya, itu semua tidak mereka terima. Malah yang ada perkumpulan yang hangat.


Satu persatu warga bangkit dari tempatnya, pamit berangkat ke sawah. Tersisa Kenzei, Gavin, Pak Harto dan istri pak Harto.


"Bagaimana hukumannya?" Tanya pak Harto.


"Lumayan bah, tapi lebih banyak pelajaran yang kita terima." Balas Gavin.

__ADS_1


Pak Harto hanya mengangguk kan kepalanya, senang mendengar ucapan Gavin. Ternyata tidak sia-sia hukuman satu minggu itu, walaupun sebenarnya kedua orangtua Gavin dalang dibalik semuanya.


Hukuman sebenarnya tidak seberat itu, tapi orangtua Gavin ingin menguji kesabaran mereka berdua. Dan sepertinya berhasil, hubungan putranya dan menantunya baik-baik saja.


"Ambil pelajaran dari masalah ini, bahwasanya semua tindakan, perilaku, sikap, bahkan berbicara. Ada waktu dan tempatnya. Melakukan hubungan suami-istri itu pun ada tempatnya, bukan begitu nak Gavin?"


"Iya bah."


Gavin menunduk malu, kejadian beberapa waktu yang lalu diingatkan kembali.


"Sebagai suami, nak Gavin harus mengatur semuanya sesuai aturan. Baik menggunakan tangan, kaki, bahkan mulut pun ada aturannya. Tangan di gunakan untuk hal yang baik, kaki melangkah ketempat yang baik, mulut digunakan untuk mengucapkan hal yang baik."


Tapi sayangnya, mulut Gavin tidak pernah digunakan untuk hal yang baik. Batin Kenzie.


"Begitu juga untuk nak Kenzie, ada saatnya istri menasehati suami selama yang ia lakukan salah. Tidak salah menasehati suami, karena pernikahan itu saling melengkapi otomatis menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sama-sama belajar melakukan hal yang baik, apalagi kalian berdua masih muda."


"Iya bah."


"Ingat juga yang diatas, sebesar-besarnya masalah yang menimpa pasti ada hikmah di balik semua. Jangan ada kata perceraian, karena pernikahan cukup satu kali. Kalo untuk kedua kalinya, itu hanya n4psu semata."


Spontan Kenzei tertawa kecil, ucapan pak Harto sama seperti ucapan kedua orangtuanya.


"Kita tunggu kedatangan kalian, sampai kapanpun desa menerima kedatangan kalian dengan senang hati." Ucap pak Harto.


Kebetulan Gavin sengaja meninggalkan barang yang mereka bawa, rencananya menghabiskan waktu liburan kedepannya di desa dengan Kenzie.


"Kalo begitu kita pamit dulu bah, ma." Pamit Gavin, menyalim pak Harto dan istrinya diikuti Kenzie dari belakang.


"Hati-hati di jalan, titip salam dengan orangtua di kota."


"Iya bah."


Kenzie dan Gavin bangkit dari tempatnya, melangkah keluar dari rumah pak Harto.


Tepat di depan pintu ada Ayu dan Rendi, menatap mereka berdua secara bergantian.


"Mbak kita pamit yah, kapan-kapan kita datang kesini." ucap Kenzei kearah Ayu, memeluk tubuh wanita itu yang sudah ia anggap sebagai kakak.


"Makasih yah."


"Iya sama-sama, mbak harus sembuh loh yah. Kalo datang ke kota jangan lupa mampir ke rumah, nanti Kenzei kirim alamatnya. Hadiah dari Kenzie jangan lupa, pakai tiap hari."


Ayu hanya mengangguk kan kepala, menghapus jejak air mata yang keluar dari sudut matanya. Semangat hidup itu kembali berkobar, semua berkat dukungan Kenzie.


"Bang kita tunggu undangan nya, jangan lama-lama. Udah tua juga." Ucap Kenzei kearah Rendi.


Gavin hanya tertawa kecil, membuka pintu mobil untuk Kenzie dan berbalik menghadap kearah Rendi.


"Ingat ucapan gue, kalo dia gak mau di ajak nikah, bu*ntungi diam-diam."


"Br*ngsek."


"Ingat umur bang, hampir kepala empat juga. Gue aja baru kepala dua bentar lagi punya anak."


"GAVIN!" Geram Kenzie dari mobil.


Seharusnya Gavin yang diamankan duluan kedalam mobil, bukan dia. Yang ada pembicaraan itu akan berlanjut sampai sore, mana ucapannya gak ada yang benar.


Untung Ayu dan Rendi hanya tertawa menangapi ucapannya.


"Besok-besok gue kirim link, sekalian belajar sebelum praktek. Atau jangan-jangan Lo belok lagi." Tuduh Gavin kearah Rendi.


Siempunya hanya menghela napas panjang, menarik lengan Ayu menjauh dari Gavin.


"Ucapan Lo gak ada yang benar, sumpah." Ucap Rendi.


"Yaelah bang, gue cuman ngajarin Lo doang. Gue lebih berpengalaman kalo Lo lupa."


"Gua gak peduli,"


"Ck, Lo bisa bayangin gak. Gue tiap malam begituan, gak perlu pakai sabun lagi bro."


"Gue gak peduli, pergi gak Lo." Ancam Rendi, sembari memegang batu hendak dilempar ke arah Gavin.


Tanpa berdosa nya Gavin malah tertawa terbahak-bahak, seakan menganggap ancaman Rendi hanya candaan.


Kenzie memilih menutup kedua telinganya, malu mendengar ucapan melantur suaminya. Entah setan apa yang merasuki, susah benar di usir.

__ADS_1


___________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


__ADS_2