GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
DEA


__ADS_3

Ketika orang yang kamu cintai menunjukkan perhatian lebih, bagaimana perasaanmu? Menurut Kenzie tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Istirahat berlalu Tiara keluar dari ruangan dengan sendirinya, dengan menahan tangis dan amarah. Lagian salah sendiri melawan suami Kenzie, calon pelakor saja bangga.


Sekarang tubuh kekar itu sudah stand by didepan kelas, dengan tatapan yang hanya tertuju kearah nya. Ingin rasanya Kenzie berteriak, menerjang tubuh kekar itu dengan pelukan, atau mencium wajah tampannya bertubi-tubi.


"Nungguin siapa?" Tanya Kenzie basa-basi, dengan menahan tawa dan keinginan memeluk tubuh kekar itu.


"Pacar orang."


"Oh, kirain aku."


Gavin hanya tertawa kecil, mengambil alih ransel Kenzie seraya berjalan beriringan melewati lorong sekolah yang padat.


"Kamu gak ngajar les?"


"Jadwal Bu Dora."


"Oh,"


Kenzie menghentikan langkahnya, tepat pintu mobil terbuka. Udah dibilangin gak boleh bawa mobil, sekarang malah di ulangi. Biasanya mobil hitam yang terparkir di depan gerbang, sekarang malah mobil suaminya yang terparkir rapi di parkiran sekolah.


"Ck, siapa yang ngizinin?" Tanya Kenzei ketus.


"Di mobil aja, orang-orang pada ngeliatin kita." Kilah Gavin.


Terpaksa Kenzie menuruti ucapannya, masuk kedalam mobil dengan perasaan dongkol. Tepat tubuh kekar itu duduk di kursi kemudi, lengan kecilnya langsung menerjang tubuh kekar itu dengan pukulan kecil.


"Kamu bandel banget sih Vin."


"Maaf-maaf, cuman hari ini sampai seterusnya."


"Gak boleh."


"Kamu lagi hamil yang."


"Kalo terjadi sesuatu sama kita gimana? Kamu senang masuk rumah sakit tiap hari?"


"Yah, makanya jangan di omongin. Perkataan itu doa tau yang."


"Gak usah sok pintar kamu." Sergah Kenzie, sembari melipat kedua tangannya.


Wajah cantik itu terlihat memerah menahan emosi, bibir mungilnya dimanyukan kedepan dengan napas yang memburu.


"Yah, jangan marah." Bujuk Gavin, menangkup wajah cantik dengan kedua tangannya. Walau tetap saja, Kenzie menghindari kontak mata.


"Sayang, demi keamanan kamu sama anak kita."


"Aku gak peduli."


"Yah."


"Kamu gak tau aja Vin rasanya nangis 7 hari 7 malam. Tidur aja gak bisa, apalagi makan. Kamu cuman tidur doang, gak tau apa-apa." Ungkap Kenzie.


Sontak Gavin tersenyum lebar, mengecup bibir mungil itu saking gemasnya. Gavin pikir apaan, ternyata istrinya takut kecelakaan itu terulang kembali.


Padahal kecelakaan itu murni ulah seseorang, bukan dia penyebabnya. Beda cerita jika Gavin mabuk, atau mengantuk. Tapi saat ini kesadarannya masih utuh. Keamanan mereka juga di perketat, beberapa bodyguard berjaga dari kejauhan.


"Kamu gak usah takut, itu gak bakalan terulang lagi."

__ADS_1


Terdengar helaan napas panjang, manik lentik itu menatapnya tajam seakan mengobarkan perperangan.


"Dengarin aku, jangan mikir yang aneh-aneh, percaya sama aku. Buang jauh-jauh pikiran kotor itu, karena sama aja kamu berharap itu terjadi." Tutur Gavin lembut.


"Tapi aku takut Vin."


"Iya aku tau mommy. Tapi lupain aja, gak usah dipikirin. Kita pasti baik-baik aja."


Kenzie hanya menghela napas panjang, menghempas lengan kekar itu dari wajahnya dan menatap lurus kedepan.


Gimana coba caranya Kenzie melupakan kejadian itu. Dia saja hampir mati, beberapa kali kritis. Dokter saja sempat angkat tangan, dia hampir gila saking khawatirnya.


Satu minggu Gavin tidak sadarkan diri, setiap hari itu juga kondisinya naik turun tidak ada kemajuan. Pak Erwin sempat menawarkan memindahkan Gavin kerumah sakit yang lain, siapa tau ada keberuntungan.


Sekarang Gavin dengan santainya menyuruhnya melupakan kejadian itu, memang pria yang satu ini kelakuannya gak ada yang benar.


"Sayang."


"Hm."


"Kita pulang aja yah." Bujuk Gavin lembut.


"Terserah."


"Jangan marah-marah mulu."


"Iya."


Gavin mengusap wajahnya gusar, mengengam jemari lentik itu sembari menyalakan mesin mobil. Perlahan meninggalkan pekarangan sekolah, hingga terdengar helaan napas panjang.


"Aku pengen makan pizza."


"Apa? Anak kamu yang pengen, bukan aku." Sergah Kenzie, memotong ucapan Gavin.


"Dengerin dulu, mau makan pizza dimana? Delivery atau langsung ke tempat?"


"Belokan."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, fokus menyetir sesekali mencium jemari lentik itu.


Kalo begini ceritanya, Kenzie mana tahan marah-marah. Malah pengen memeluk tubuh kekar itu saking gemasnya. Bahkan tanpa sadar tubuhnya sudah mendekat kearah Gavin, bersandar di lengan kekar itu.


"Kenapa? Masih takut?"


Kenzie hanya mengelengkan kepala, melilitkan lengannya kepinggang suaminya seraya fokus menatap lurus kedepan.


"Nah yang itu." Tunjuk Kenzie, dengan manik berbinar.


"Bentar aku cari parkiran dulu."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya antusias, menatap wajah tampan itu yang terlihat serius. Kebetulan cafe yang ditunjukkan Kenzei dipinggir jalan, tanpa ada parkiran. Otomatis mereka harus memarkirkan mobil ditempat yang aman, baru berjalan kaki ketempat tersebut.


"Pakai hodiie aku aja, diluar panas." Ujar Gavin, seraya memasangkan hodiie hitam nya ditubuh kecil itu. Dan menutup kepala istrinya dengan topi hodiie.


Gavin memakai jaket, dan topi hitam. Kebetulan sekolah melarang keras berkeliaran di luar sekolah menggunakan atribut. Apalagi jam pelajaran sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu.


"Hati-hati jangan ceroboh!" Peringat Gavin, saat Kenzie hendak turun dari mobil dengan semangatnya.


Entah mengapa wanita yang satu ini malah ceroboh saat mengandung, sifatnya malah kekanak-kanakan. Untung Gavin ada di sampingnya tiap jam mengawasi pergerakannya, kalo tidak Gavin tidak tau apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Kamu udah pernah ke sana?" Tanya Gavin, sembari merangkul pundak Kenzie.


"Kadang, kalo ada uang. Soalnya Kenzo ikut kalo aku keluar rumah. Mana kerjaanya habisin uang, minimal ada 1 juta dikantong. Masih bocil udah tau morotin orang."


Gavin hanya tertawa kecil, mengacak-ngacak rambut istrinya yang tertutupi topi hodiie.


"Eh, Lo udah sehat Vin?"


Spontan mereka berdua mengalihkan tatapan kearah asal suara, menatap seorang wanita yang terlihat seumuran dengan mereka berdua.


Kenzie hanya mengerutkan dahinya, menatap wanita itu dari bawah hingga atas. Seingatnya suaminya jarang berteman dengan perempuan, jadi wanita ini siapa?


"Lo siapa?" Tanya Kenzie penasaran.


"Kenalin, gue Dea."


"Oh, Dea."


Kenzie mengangguk-angguk kepalanya, menatap Dea dengan tatapan tidak suka. Apalagi tatapannya sedari tadi mengarah kearah suaminya, dengan tatapan kagum dan berbinar.


Kenzie hanya menghela napas panjang, mengalihkan tatapannya kearah Gavin. Memastikan tatapan suaminya, apa sama seperti Dea.


Tapi sayangnya, semua tak seindah yang dibayangkannya. Suaminya malah menatap Dea dengan tatapan tajam, dan kilatan amarah yang terlihat jelas. Sontak Kenzie menarik Gavin berdiri dibelakangnya, takut emosi suaminya kelepasan. Apalagi Gavin terlihat seperti monster saat mengamuk, tidak ada toleransinya saat emosi.


"Senang bertemu dengan anda." Ucap Kenzei canggung, seraya tersenyum lebar kearah Dea. Hingga napas hangat terasa menerpa lehernya, detik berikutnya suara bariton khas Gavin terdengar.


"Pulang!"


Spontan Kenzei membalikkan tubuhnya, menatap wajah tampan itu dengan tatapan tidak percaya.


"Mau makan pizza."


"Pulang!"


"Vin, mau ke sana." Tunjuk Kenzie kearah cafe sederhana, yang terletak ditengah-tengah bangunan lainnya.


"Pulang sayang."


Kenzie malah mengerucutkan bibirnya, sembari mengelus perutnya. S*al Gavin hampir lupa dengan anaknya.


"Nanti pak Erwin yang beliin, oke." Ucap Gavin lembut.


"Gak mau, pengen makan di situ."


"Nanti sore aja gimana?"


"Sekarang loh Vin, nanti aku ngambek."


"Iya-iya, Baginda ratu. Gak usah ngambek ayo."


Gavin melilitkan lengan kekarnya kepinggang ramping istrinya, melewati Dea begitu saja.


Mungkin jika tidak ada Kenzie di sini, Gavin rasa dia tidak akan tahan menahan emosinya. Rasanya geram melihat wajah itu.


Dea yang menahan mati-matian rasa takutnya sejak tadi, akhirnya bernapas lega. Bayangan Gavin emosi waktu itu terekam jelas di otaknya.


Tapi sayangnya, Pria tengil itu tumbuh dewasa, tampan, dan tinggi. Rasanya Dea menyesal menolaknya dulu, sekarang Gavin malah terlihat bucin dengan wanita yang tadi. Apa yang wanita itu ucapkan, Gavin turuti.


_____________

__ADS_1


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI;)


__ADS_2