
Kenzie tidak habis dengan kelakuan suaminya, apa salahnya dia ikut ke sawah. Padahal hukuman itu berlaku untuk mereka berdua, bukan untuk satu orang saja.
"Aku ikut." Tekan Kenzie, tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Jangan kerasa kepala."
"Apa salahnya sih aku ikut?"
"Aku bilang gak, tetap gak boleh."
"Aku ikut!"
"Kamu dirumah aja, siap-siap nanti malam."
"Gak mau."
Kenzie memakai kaos turtleneck, menutupi tanda kemerahan diarea lehernya yang semakin bertambah. Ternyata mama mertuanya menyediakan kaos turtleneck, Kenzie baru buka isi tas yang berisi pakaian yang disiapkan mertuanya.
"Ck, wanita yang satu ini susah banget sih dibilangin." Gerutu Gavin.
Kenzie hanya diam, melempar pakaian yang akan digunakan Gavin. Dengan sigap Gavin menangkap, menganti pakaiannya tepat dihadapan Kenzie.
"Tunggu hukuman!"
"Siapa takut."
Gavin menatapnya tajam, dengan gerakan kilat menyatukan bibirnya dengan bibir mungil itu. Mendorong pelan tubuh kecil itu kebelakang pintu kamar.
Mengunci pergerakan Kenzie, mengulum bibir mungil itu sesuka hatinya seakan melepaskan emosinya.
Puas mendapat apa yang ia mau, Gavin melepaskan ciumannya. Menghapus jejak salivanya dibibir mungil itu, dan tersenyum smirk.
"Manis." Goda Gavin.
Kenzie hanya tersenyum manis, meraih dua topi dari atas ranjang dan menarik lengan kekar suaminya keluar dari rumah.
"Yes, aku ikut." Ucap Kenzei kegirangan. Melangkah lebar kerumah pak Harto.
"Yah?"
Gavin buru-buru mengunci pintu, berlari terbirit-birit mengikuti Kenzie masuk kerumah pak Harto. Tapi sayangnya Gavin terlambat, Kenzei lebih dulu bersembunyi dibalik punggung istri pak Harto.
Ck, punya bini satu, tapi susah banget dibilangin. Batin Gavin.
Seharusnya Kenzei senang dirumah rebahan, dan main hp seharian. Jika disuruh memilih, Gavin memilih tidur seharian atau belajar. Daripada ikut mengerjakan pekerjaan para orangtua di desa.
"Nak Gavin, mari." Panggil pak Harto dari luar.
"Iya bah."
Gavin membalikkan tubuhnya hendak keluar dari rumah, tapi sebelumnya Gavin menatap tajam kearah istrinya mengancam sesuatu.
Kenzie malah menantangnya balik, membuat Gavin kesal setengah mati.
"Gavin pamit dulu ma. Gavin titip bocil yang dibelakang Ema." Sindir Gavin.
"Iya nak Gavin." Sahut istri pak Harto, seraya menahan tawa.
Gavin keluar dari rumah pak Harto, bergabung dengan kumpulan pria paruh baya yang hendak melangkah turun ke sawah.
Sesuai ucapan Kenzei beberapa hari yang lalu, pemandangan dibawah memang indah. Sungai jernih mengalir ditengah-tengah sawah, padi disisi kanan dan kiri sungai mengalir.
"Kerjaan kita akan cepat selesai, ada anak muda yang ikut bergabung." Ucap pak Harto, sembari menepuk pundak Gavin.
Para pria paruh baya lainnya hanya mengangguk kan kepala, menyambut kedatangan Gavin dengan lapang dada.
"Nak Gavin bawa sarung tangan?" Tanya pak Harto.
"Bawa bah."
Gavin memakai sarung tangan dan jaket yang ia bawa dari rumah. Bahkan Kenzei sengaja menyediakan kaos turtleneck menutupi area leher, celana panjang menutupi kaki jenjangnya, dan sepatu boot menutupi kakinya dari lumpur. Istri perhatian, tapi nyebelin.
"Nak Gavin mengangkat padi yang sudah di sabit. Kumpulkan di sini. Nanti yang lain merontok padi." Jelas pak Harto.
"Siap bah."
Semua berbagi tugas, sebagian memotong padi, beberapa mengangkat tumpukan padi, dan sebagian lagi merontok padi.
Awalnya menurut Gavin gampang, tapi saat matahari terik tepat diatas kepala. Semuanya terasa sulit. Panas, gerah, gatal bercampur aduk membuat Gavin pusing tujuh keliling.
Hingga terdengar suara mendekat, terlihat rombongan ibu-ibu membawa bekal makan siang. Gavin hanya acuh, memilih melanjutkan kegiatannya, hingga jemari lentik menyentuh pinggangnya.
__ADS_1
"Gimana tuan? Masih ingat kota?" Bisik Kenzie.
"Keras kepala." Sahut Gavin ketus.
"Ternyata dia masih marah."
Gavin hanya mengulum senyumnya, mengangkat tumpukan padi kembali. Kenzie melakukan hal yang sama, mengikuti apa yang suaminya lakukan.
"Ck, sana. Di sini panas."
Kenzie hanya mengelengkan kepala, mengikuti langkah kaki Gavin, dan melakukan apa saja yang dilakukan suaminya.
Hingga terdengar suara pak Harto, mengajak duduk dibawah pohon rindang dekat sungai. Waktunya jam makan siang.
Tepat duduk diatas rerumputan, dengan cepat Gavin melepas semua yang menutupi tubuhnya. Menyisahkan kaos dan celana pendek.
"Nih minum."
Kenzie menyondorkan segelas air, diteguk tandas hanya sekali tarikan napas.
Gavin memilih memejamkan mata, bersandar pada pundak Kenzie sembari menormalkan napas.
Warga desa mengerti akan hal itu, Gavin anak kota bukan anak desa. Pekerjaan yang sering dia lakukan, hanya pekerjaan ringan. Tidak seperti saat ini.
"Nak Gavin, makan dulu." Ucap istri pak Harto.
Spontan Gavin membuka matanya, menegakkan tubuhnya kembali seraya tersenyum hangat kearah yang lain.
"Iya ma."
Kenzie mengisi penuh piring Gavin, dan menyondorkan kearah suaminya.
"Banyak banget yang."
"Makan aja, tenaga kamu udah habis setengah hari."
Gavin pasrah, menyendokkan makanan kedalam mulutnya.
Awalnya makan siang berjalan hikmah, entah apa terjadi semua tiba-tiba terdiam. Gavin yang awalnya duduk berhadapan dengan Kenzie, spontan membalikkan tubuhnya saking penasarannya.
"Mas tampan udah makan siang?"
Sontak Gavin terbatuk-batuk, dengan sigap Kenzie menyondorkan segelas air.
"Mas tampan gak papa kan?" Tanya Ayu, sembari duduk dihadapan Gavin.
Siempunya hanya diam, semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Kenzie. Risih melihat tatapan wanita itu.
"Lanjut makan siangnya." Ucap Kenzei, meletakkan kembali piring Gavin diatas telapak tangannya.
"Tapi yang–"
"Gak ada tapi-tapian, makan!"
Gavin hanya menghela napas panjang, menuruti ucapan Kenzie tanpa memperdulikan keberadaan wanita dihadapannya.
"Nak Ayu ngapain?" Tanya istri pak Harto.
"Antar makan siang mas tampan ini."
Istri pak Harto hanya tersenyum, menyuruh Ayu duduk disampingnya. Untung wanita itu menurut, kalo tidak Kenzie membuka suara.
"Kamu kenal mereka berdua?" Tanya istri pak Harto lembut.
Ayu hanya mengelengkan kepala, menjawab seadanya.
"Kamu makan dulu, atau pulang ke rumah. Nanti Ema kenalin mereka berdua. Iya kan mas tampan?" Tanya istri pak Harto kearah Kenzei, dengan tatapan memohon.
Dengan cepat Kenzie mengangkat dagu suaminya, menyuruh Gavin mengangguk kan kepalanya.
"Ayu makan siang di sini aja ma."
"Boleh." Balas istri pak Harto.
Kenzie dan Gavin hanya acuh, memilih menikmati makan siang sembari menatap sungai yang mengalir.
"Gak bosan yang tinggal di sini?" Tanya Gavin, sembari meletakkan piring yang sudah kosong.
"Gak, biasa aja. Tapi tumben Kenzo gak nelpon." Sahut Kenzie terkekeh geli.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Biasanya kita berdua jalan-jalan kalo libur."
"Pulang dari sini aja kita jalan-jalan, gak papa kan?"
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, hingga jemari besar itu menarik lembut jemari lentiknya. Di sembunyikan dibawah sela-sela tubuh mereka berdua.
"Biar gak ada yang lihat." Bisik Gavin.
Kenzie hanya mengulum senyumnya, mengalihkan tatapannya kearah yang lain. Menghindari tatapan mata hitam itu.
"Sayang."
"Kenapa?"
"Bantuin aku dong." Bisik Gavin memohon.
Kenzie mengigit bibir bawahnya, menatap wajah tampan itu yang terlihat memohon. Kenzie tau arah pembicaraan ini, jangankan Gavin, ia sendiri saja emosi melihat Ayu.
"Ada hadiah nya?"
"Kamu mau nya apa?"
"Berlian." Bisik Kenzie.
"Tunggu aku jual rumah mama sama papa dulu, baru beli berlian. Tapi jangan marah kalo kita tinggal dibawah jembatan."
"Ck, gak seru."
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, mengeratkan genggaman tangannya gemas melihat tingkah istrinya.
Gavin tau ucapan Kenzie hanya sebatas candaan, di kasih uang seratus ribu aja udah senang kayak bocil. Malah sok pengen beli berlian. Lagian bukanya tidak mampu membeli, tapi masalahnya rumah mereka berdua aja belum ada. Memikirkan itu saja kepala hampir pecah.
Entah Gavin cari uang darimana lagi. Hampir 2 bulan dunia gamenya ia tinggalkan. Cari kerjaan di kota juga susah.
Terpaksa Gavin menerima tawaran papa nya, menjadi karyawan biasa di perusahaan orangtua sendiri. Menyedihkan, tapi demi istri tercinta.
"Kita lanjut." Ujar pak Harto.
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, menarik lengan Kenzie ikut mengangkat tumpukan padi. Istrinya tidak boleh dekat-dekat dengan wanita itu, nanti keluarga kecil mereka hancur berantakan.
"Dikit aja, nanti kamu makin pendek."
Kenzie mencibir, menerima tumpukan padi dan mengikuti Gavin seperti sebelumnya.
Istri pak Harto memilih duduk di pohon rindang, menatap yang lain sibuk memanen padi. Takutnya Ayu melakukan hal yang aneh, jadi sepatunya wanita ini dijaga.
____________
Langit biru, perlahan berubah. Burung berkicau diatas langit, hingga semilir angin sore terasa.
Keringat membasahi, hingga pegal menjalar di seluruh tubuh. Tubuh kekar yang biasa terlihat gagah, kini lemas tak bertenaga
"Capek banget yang." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
Kenzie hanya tertawa kecil, membuka topi hitam dari atas kepala Gavin. Merapikan helaan rambut suaminya yang hampir dibanjiri keringat.
"Nanti aku pijitin dirumah yah, kita pulang dulu."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, merangkul pundak Kenzie berjalan beriringan mengikuti warga desa dari belakang.
"Terimakasih nak Gavin, nak Kenzie untuk hari ini." Ucap pak Harto.
Mereka berdua hanya tersenyum, tidak mampu menjawab ucapan pak Harto lagi.
Hingga mereka berdua berdiri didepan pintu hendak masuk kedalam rumah, terdengar suara Ayu dari belakang.
"Mas tampan."
Kenzie menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya seraya tersenyum manis kearah Ayu.
"Mau kenalan mbak?" Tanya Kenzie.
Ayu hanya mengangguk kan kepala, dengan manik tidak lepas dari Gavin.
"Kenalin mbak, nama saya Kenzie, dia Gavin. Dia suami saya." Ucap Kenzei tenang.
"Kita nikah muda beberapa bulan yang lalu, atas dasar Perjodohan. Bukan HAMIL diluar nikah. Kebetulan waktu itu kita khilaf, berakhir di sini jadi nya. Maaf yah mbak, suami saya gak bisa kenalan. Udah capek soalnya. Kalo mau mampir silahkan, kita nerima tamu kok. Kita masuk dulu yah mbak." Jelas Kenzie lembut.
_____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓