
Ujian berjalan dengan damai dan tenang. Wajah Gavin yang semula sumringah, hancur berantakan layaknya pakaian kusut. Sesekali jemari nya terkepal kuat, menahan diri untuk tidak menghancurkan komputer di hadapan nya.
Rasanya kepala hampir pecah, pusing menjawab soal satu persatu. Untung beberapa soal sesuai materi yang di ajarkan istrinya, kalo tidak Gavin tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tepat soal selesai, bel pertanda ujian berakhir.
Ck, nilai ijazah gue pasti malu-maluin. Mana bini gue pintar, masa nilai suami anjlok. Batin Gavin frustrasi.
Dengan langkah lesu Gavin keluar dari ruangan ujian, tanpa memperdulikan Angga dan Edo yang sedari tadi mengejeknya.
"Do, bakalan ada perang dunia ketiga di rumah Gavin," ucap Angga sedikit meninggikan suaranya.
"Kayaknya, Lo udah tau sendiri gimana pawangnya. Sebenarnya gue kasian sih, tapi seru aja gitu lihat muka Gavin berantakan," sahut Edo semakin gencar menggoda Gavin.
Siempunya hanya diam, melewati lorong sekolah dengan wajah datar. Sesekali mengusap wajahnya gusar, terkadang terdengar decakan kecil dari mulutnya.
Kenzie juga melihat pemandangan itu, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah tampan itu gusar berantakan.
Bukan nya jelek atau lucu memang. Malah kadar ketampanan suaminya semakin bertambah.
"Ken yuk," ajak Fani, mengandeng lengan Kenzie melewati lorong sekolah satu persatu.
Kebetulan mereka satu kompleks, Gavin juga menawarkan tumpangan tadi pagi. Sekalian menemani Kenzie ke simpang sekolah yang sepi.
Minimal rumor beberapa hari yang lalu lenyap begitu saja, karena masih ada beberapa orang yang menyebarkan hoax di media sosial.
"Kita duluan," ujar Angga dan Edo. Melajukan motornya meninggalkan pekarangan sekolah.
Sontak Fani membalikkan tubuhnya, menatap Dian dengan tatapan menyelidik.
"Lo berdua berantam?" Tanya Fani.
Dian hanya mengelengkan kepalanya, mengandeng lengan Kenzei berjalan beriringan kearah simpang sekolah.
"Katanya mereka berdua ada urusan," jawab Dian.
Kenzie dan Fani hanya mengangguk kan kepalanya, tanpa berniat melanjutkan pembicaraan.
Hingga di simpang sekolah, mereka bertiga masuk kedalam mobil. Kenzie duduk disamping kemudi, Dian dan Fani duduk di jok belakang.
Dengan sigap Gavin memasangkan sealtbet istrinya, dan melajukan mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepanjang perjalanan hening, Kenzie dan Gavin hanya fokus menatap lurus kedepan, Dian dan Fani sibuk mengotak ngatik ponselnya.
"Gue dapat link," ujar Fani tiba-tiba, melenyapkan keheningan.
"Link apaan?" Tanya Kenzie, membalikkan tubuhnya kearah belakang.
"Drakor terbaru,"
"Ck, apa salahnya coba nonton dari aplikasinya. Gak mahal juga." Protes Kenzei.
"Karena Lo punya uang, lah gue?"
"Apa? Tiap gajian Lo belanja online, gak usah pura-pura miskin Lo!" sergah Dian.
Fani hanya memutar matanya jengah, memilih fokus mengotak ngatik ponselnya, tanpa memperdulikan Kenzie menertawakannya.
"Ken, gue punya rekomendasi dress rumahan. Siapa tau Lo suka," tawar Dian, seraya mencondongkan tubuhnya kearah depan, diikuti Fani dengan hebohnya.
Kenzie mengambil alih ponsel Dian, menatap layar dengan tatapan serius.
"Lumayan, beliin dong."
"Uang nya mana? Gue gak punya uang," celetuk Dian.
"Vin." panggil Kenzie, seraya menjulurkan tangannya kearah suaminya.
Gavin hanya menaikkan alisnya, menatap Kenzie dengan tatapan bingung.
"Uang, mau beli baju."
Gavin langsung mengeluarkan dompetnya, meletakkannya di telapak tangan Kenzei. Kebetulan lampu merah sudah berganti hijau.
"Ambil aja."
__ADS_1
Sontak Kenzie tersenyum lebar, beralih menatap kearah kedua sahabatnya. Langsung di sambut dengan tatapan iri, dan datar. Fani dan Dian hanya mengelus dada, menatap Gavin dan Kenzie secara bergantian.
"Jiwa jomblo ku meronta-ronta," ucap Fani dramatis.
"Ck, apaan sih Lo berdua. Nih, dua ratus ribu, ongkirnya kapan-kapan aja," ucap Kenzei tanpa beban.
"Bini orang gini amat ya Tuhan, pengen gampar tapi pawang nya ada di sini," gumam Dian.
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, kembali duduk seperti semula tanpa memperdulikan ocehan kedua sahabatnya. Tak menunggu lama mobil sudah terparkir didepan rumah, terlihat Kenzo duduk di depan rumah hingga melangkah mendekat kearah Gavin yang baru saja keluar dari mobil.
"Abang nginap disini sama kakak?" Tanya Kenzo antuasias.
"Iya."
"Waktu itu Abang gak pamit, padahal Kenzo tungguin."
"Iya-iya maaf, waktu itu Abang ada urusan mendadak." Kilah Gavin, sembari merangkul pundak Kenzo masuk kedalam rumah.
Itu semua tidak hilang dari pandangan Fani dan Dian, menatap punggung kekar itu dengan tatapan kagum.
"Suami Lo–"
"Apa? Pulang sana!" usir Kenzie, memotong ucapan Dian.
Kedua sahabatnya hanya mencibir, berlalu menjauh meninggalkan pekarangan rumah orangtua Kenzie. Kebetulan mereka berdua masih menginap dirumah orangtuanya, tunggu kejadian beberapa hari yang lalu lenyap.
"Gavin, ganti baju dulu!" Teriak Kenzie tepat didepan pintu kamar Kenzo.
Kedua pria itu terlihat fokus menatap layar televisi, yang sudah tersambung dengan game online seperti biasa.
"Bentar–"
"Cepatan, bajunya masih di pakai besok."
Terdengar decakan kecil dari mulut Kenzo, bertepatan Gavin bangkit dari tempatnya dan mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas.
"Bentar, kakak kamu udah marah-marah." Bujuk Gavin, berlalu keluar dari kamar Kenzo. Masuk kedalam kamar sebelah.
Gavin hanya mengaruk tengkuknya, melepas baju putihnya menyisahkan celana abu-abu nya.
"Sayang."
"Apa? kalo lapar makan aja duluan, bunda udah masak," sahut Kenzie.
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, naik keatas ranjang tidur telungkup disamping Kenzie.
"Ada yang sakit?" tanya Gavin khawatir.
"Gak."
"Jadi?"
"Mager."
Terdengar tawa kecil dari bibir tebal itu, lengan kekarnya melingkar posesif dipinggang Kenzie.
"Kamu ngomong apaan ke pihak sekolah?" Tanya Kenzie, sembari membalikkan tubuhnya menghadap kearah Gavin. Tepat wajah tampan itu didepan mata. Bahkan napas hangat terasa menerpa wajahnya, hingga bibir tebal itu mengecup lembut bibir mungilnya.
Flashback
Dua hari setelah kejadian itu, Gavin langsung turun tangan. Kebetulan kepala sekolah hanya menginginkan penjelasan langsung dari mulutnya.
Dengan style celana hitam sobek di lutut, kaos oblong dengan jaket jeans oversize, dan rambut berantakan. Gavin masuk kedalam ruangan kepala sekolah, tanpa memperdulikan penampilannya yang urakan.
Karena menurut Gavin, menutupi suatu kebohongan harus ditutupi dengan penampilan yang bertolak belakang. Bukan memakai pakaian sopan, yang ada kebohongan itu terbongkar dengan sendirinya.
"Selamat siang pak." Ucap Gavin, tepat kaki jenjangnya memasuki ruangan kepala sekolah. Kebetulan hari ini hari Sabtu, hanya sekolah yang libur, guru-guru di sekolah.
"Iya, silahkan masuk."
Gavin menyalim pria paruh baya itu, dan di persilahkan duduk di kursi sebrang meja kerja kepala sekolah.
Pria paruh baya itu hanya mengelengkan kepala menatap penampilan Gavin, walau tetap saja anak muda dihadapannya terlihat tampan.
__ADS_1
"Rekaman yang tersebar luas di media sosial, bagaimana menurut kamu?" Tanya kepala sekolah to the point.
"Maaf pak sebelumnya, saya tidak berniat merusak nama baik sekolah. Kebetulan kejadian itu berlangsung hanya beberapa menit saja. Tetangga kami, lebih tepatnya adek kelas yang bernama Tiara. Sudah menjadi musuh keluarga kami, karena yang mereka lakukan di masa lalu suatu kesalahan yang fatal."
"Maksudnya?"
"Persaingan dunia bisnis sangat ketat, orangtua Tiara selama ini memang berencana merebut kekuasaan kedua orangtua saya. Jadi rekaman itu jebakan saja, agar perusahaan orangtua saya bangkrut." Terang Gavin dengan santainya.
"Jadi masalah Kenzie?"
"Kenzie memang saudara saya pak, tinggal di rumah belakangan ini karena ujian UN semakin dekat."
"Pacaran?"
"Iya pak,"
"Rujak?"
"Kebetulan Kenzie suka rujak pak, tapi untuk ucapan lainnya hanya candaan." Kilah Gavin, sembari mengaruk tengkuknya.
"Kamu tidak berbohong?"
"Tidak pak, ucapan melantur saya hanya candaan semata. Tapi sayangnya, orangtua Tiara menjebak saya, walau tetap saja mereka yang kalah." Jelas Gavin, sembari tertawa kecil.
Pria paruh baya itu hanya mengelengkan kepalanya, menatap Gavin dengan tatapan heran.
"Sekali lagi hati-hati dalam berucap, kadang candaan bisa dianggap serius."
"Maaf pak."
"Jangan di ulangi!"
Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, memukul kecil jidat suaminya.
"Makanya lain kali hati-hati kalo ngomong."
"Lagian aku kesal banget yang, mana mereka sok polos, sok baik. Ngerendahin kamu lagi," terang Gavin.
Kenzie hanya tersenyum lebar, mengelus lembut rahang suaminya. Dengan tatapan tidak lepas dari manik hitam itu.
"Gak papa mereka ngerendahin aku, kalo kamu di pukul kian gimana?" Tanya Kenzei lembut.
Mengingat kepalan tangan, dan wajah emosi ayah Tiara menatap suaminya beberapa hari yang lalu.
"Yah gak papa, asal mereka gak ngerendahin kamu. Enak aja mereka ngomong yang aneh-aneh tentang kamu. Mereka pikir mereka siapa?"
"Iya-iya, gak usah marah-marah."
Gavin hanya mengerucutkan bibirnya, hingga bibir mungil itu mengecup sudut bibirnya.
"Kamu gemesin banget sih."
Sontak Gavin tersenyum smirk, sekali tarikan tubuh kecil itu sudah dibawah kuasa tubuh kekarnya. Lutut dan kedua siku nya menopang tubuhnya, agar tidak menimpa tubuh kecil itu sepenuhnya.
"Eh, mau ngapain?"
"Pelan-pelan kok yang."
"Gak bo–"
Ucapan Kenzie terpotong, bibir tebal itu lebih dulu menyatu dengan bibir mungilnya. Jemari besar itu menyelip masuk kedalam baju putihnya, mengelus lembut perut buncitnya dengan lembut.
Hingga tanpa sadar kemeja putihnya sudah terlepas dari tubuh kecilnya, bibir tebal itu melakukan tugasnya hingga Kenzie terbawa suasana.
Tepat Gavin pada intinya, terdengar suara pintu terbuka, detik berikutnya teriakan memenuhi ruangan.
"BANG GAVIN!" Teriak Kenzo.
______________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TERIMAKASIH JUGA UNTUK DUKUNGANNYA, KOMENTAR KALIAN PENYEMANGAT UNTUKKU 🍓
__ADS_1