
Bubar barisan, Kenzie langsung berlari kecil ke kamar mandi. Membasuh wajahnya yang terasa panas, dan menormalkan detakan jantungnya.
Bisa-bisanya senam jantung selama barisan berlangsung, hanya tatapan mata saja berdampak besar untuk kesehatan jantungnya.
"Untung udah jadi suami." Ucap Kenzei, tertawa kecil menertawakan kekonyolannya.
Merasa wajahnya sudah kering, Kenzie keluar dari kamar mandi. Bertepatan Gavin baru keluar dari kamar mandi pria, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sontak Kenzie menjulurkan lidahnya, bergegas melangkah meninggalkan kamar mandi. Dimana-mana ada Gavin, otaknya tidak bisa konsentrasi gara-gara pria yang satu itu.
Gavin hanya mengulum senyumnya, menatap punggung kecil itu berlalu menjauh. Arah nya ke ruang OSIS.
_________
Bel istirahat berbunyi, semua siswa langsung berhambur keluar dari ruangan. Berbeda dengan Kenzie dan Fani, memilih duduk di kelas.
"Fa, Dian mana?" Tanya Kenzie, sembari sibuk mencatat materi pelajaran yang sedikit tertinggal.
"Gak tau, gue kirim pesan gak di balas. Panggilan suara, gak diangkat. Gue jadi khawatir Ken."
"Sama."
"Pulang sekolah gue mampir ke sana, Lo mau ikut?"
"Pastiin aja dulu, kalo Dian di rumah hubungi gue."
"Lo mah gak seru."
Kenzie berdecak kecil, meletakkan pulpen yang sedari tadi di genggamannya.
"Bukan nya apa-apa Fa, suami gue lagi sakit. Gue gak tega."
"Gavin sakit?"
"Iya."
"Yaudah gak papa, biar gue sendiri aja."
"Tapi hubungi gue kalo Dian di rumah."
"Siap."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, kembali fokus dengan buku catatannya.
Hingga terdengar decitan sepatu, bersahutan dengan suara yang terdengar familiar.
"Dian mana?"
"Gak sekolah." Sahut Fani ketus.
Kenzie mengalihkan tatapannya kearah suara, ternyata Edo sahabat suaminya.
"Ngapain?"
"Cuman ngeliat Dian doang."
"Dian gak sekolah, kita gak tau kemana." Jelas Kenzie.
"Serius?"
"Iya."
"Yah, ayang gue kemana yah?" Lirih Edo lesu.
"Gavin mana?" Tanya Kenzie, tanpa memperdulikan wajah lesu Edo.
"Di kelas sama Angga. Yaudah gue pergi dulu."
Fani tertawa kecil, merasa terhibur melihat wajah Edo. Emang anak yang satu ini otaknya sedikit geser. Orang lagi galau, dia malah tertawa.
Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, hendak melanjutkan kegiatannya sebelum suara monitor mengalihkan perhatiannya.
"Berhubung hari Senin ujian pertengahan semester, untuk anak didik kami seluruhnya. Silahkan membersihkan ruangan masing-masing. Terimakasih."
Sontak kelas yang awalnya sepi terdengar riuh, semua berbagi tugas agar kegiatan cepat selesai. Karena mereka tau, setelah ini pulang. Hanya menunggu pembagian ruangan saja.
__ADS_1
"Ken, suami Lo didepan kelas tuh." Bisik Fani, yang kebetulan mengintip dari celah kaca jendela.
"Terus?"
"Gak, cuman kasih tau aja."
Kenzie hanya mengangkat bahunya, mengambil alih kain pel, ikut serta membersihkan ruangan. Hanya membutuhkan waktu yang singkat, ruangan bersih, pintu di tutup. Semua siswa di luar ruangan, menunggu instruksi selanjutnya.
Angga yang awalnya berdiri disamping Gavin, pindah dari tempatnya mengintruksi Kenzie pindah kesamping suaminya.
"Most wanted sekolah jadi pusat perhatian, nih." Bisik Kenzie kearah Gavin.
Semua mata tertuju kearah Gavin, manusia tampan yang paling banyak di gemari di lingkungan sekolah.
Apalagi Gavin sering ikut olimpiade matematika, membawa piala pulang membanggakan nama sekolah. Tapi sayangnya, sitampan tukang bolos.
"Cuman bilang cemburu apa susahnya?"
"Dih, kepedean."
"Jelas, suami ketua OSIS gitu."
"Iya-iya, suami ketua OSIS."
Gavin tertawa kecil, mengundang suara riuh para betina. Ada yang heboh, tersenyum-senyum malu ke arah Gavin, bahkan blak-blakan memuji ketampanannya.
Sayangnya siempunya malah risih, merapatkan tubuhnya dengan tubuh kecil gadisnya.
"Ck, teman-teman kamu centil-centil semua." Bisik Gavin.
"Namanya juga cewek Vin."
"Tapi kamu biasa aja, gak kayak mereka. Malah biasa aja ngeliat aku."
"Jelas, malah bosan. Tiap hari ngeliat kamu terus. Gak dirumah, di dapur, di kamar, ruang tamu, mobil, ruang BK, ruang OSIS, rumah bunda, bahkan gudang belakang sekolah. Kamu ada dimana-mana, jadi buat apa aku heran." Jelas Kenzie Panjang lebar.
Sontak Gavin melototkan matanya, menatap tajam kearah Kenzie. Punya bini gini amat. Masa ngeliat suami sendiri bosan. Di bu*tingin baru tau rasa.
Dengan kesal Gavin mengarahkan tatapannya kearah yang lain, takutnya malah kelepasan. Apalagi mereka masih di lingkungan sekolah, bukan di mobil, apalagi kamar.
"Kecuali kejadian semalam, apalagi saat kamu merem." Bisik Kenzie.
S*al Gavin butuh kamar saat ini. Apalagi Kenzie sengaja mengodanya, melilitkan lengan kecilnya dipinggangnya. Yang lebih parahnya tubuh mereka berdua ditengah-tengah Edo, Fani dan Angga.
Tidak bakalan ada yang melihat tingkah gadisnya, kecuali korban baperan nya. Gavin sendiri.
"Coba kamu ulangi yang semalam, pasti aku acungin jempol." bisik Kenzie semakin gencar menggodanya.
"Tidak segampang itu, harus ada pasangannya. Kamu mau jadi pasangannya?"
"Aku pikir-pikir dulu, soalnya takut ketahuan warga lagi." Bisik Kenzie, terkekeh geli.
Kejadian semalam, hal yang tidak akan bisa terlupakan bahkan tujuh turunan sekalipun. Hal memalukan dalam sejarah kehidupan Kenzie, sekaligus pengalaman pertama melakukan hal gila dalam hidupnya.
"Mau nya dimana? Hotel?" Goda Gavin.
"Gak, nilai UN kamu di atas rata-rata minimal B+."
Gavin berdecak kecil, tidak tertarik melanjutkan pembicaraan. Baru juga terbang ke awang-awang, malah dijatuhkan kedalam lautan yang paling dalam.
"Jadi gimana?"
"Gak minat."
"Masa? Padahal seru tau. Kamu bisa dapat tiap malam, tanpa izin dari aku."
Sontak Gavin melototkan matanya, menelan salivanya kasar. Hadiah yang paling menggiurkan, sepanjang sejarah kehidupannya.
"Siapa takut." Tantang Gavin.
"Oke, aku tunggu nilai UN kamu."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, pikirannya langsung berkeliaran kemana-kemana.
Padahal perjanjian yang Kenzie ucapkan, hanya sebatas penyemangat. Bagaimana pun juga, Gavin suaminya. Baik buruk nilai, bahkan perilaku Gavin. Dia ikut menanggung.
__ADS_1
Walaupun yang jadi pemimpin keluarga seharusnya Gavin, tapi apa salahnya Kenzei memperbaiki suami sendiri.
Lagian mereka berdua harus saling melengkapi, walau tak semudah yang dibayangkan.
"Vin, dipanggil bu Dora ke ruang BK." Ucap Alex ketua kelas Gavin.
Siempunya hanya mengangguk kan kepalanya, mengarahkan tatapannya kearah Kenzie.
"Pergi aja, kalo butuh bantuan kamu tinggal berdiri di luar. Nanti aku bantu." Bisik Kenzie, menyakinkan Gavin.
Karena jika sudah berurusan dengan Bu Dora, pasti masalah melanda. Apalagi selama ini, Gavin selalu berbuat ulah.
"Sana, kita di lihatin yang lain tau."
Gavin mengubah mimik wajahnya datar, dengan santainya melangkah kearah ruang BK.
Sebenarnya Gavin tidak masalah, malah biasa saja menghadapi Bu Dora. Hanya saja Gavin ingin melihat reaksi gadisnya, dan boleh juga.
"Suami Lo kenapa?" Bisik Fani.
"Gak tau." Balas Kenzie sendu.
Maniknya tidak lepas menatap punggung kekar itu, hingga berlalu masuk ke ruang BK. Tak menunggu lama, Gavin keluar dari ruang BK. Berdiri sebagai tanda instruksi yang Kenzie ucapkan.
"Doain gue Fa." Bisik Kenzie kearah Fani.
"Kenapa?"
"Gue mau keruang BK, bantuin suami gue dari Bu Dora."
"Gue bantu lewat doa, sana." Bisik Fani mendukung sahabatnya.
Kenzie mengehela napas panjang, melangkah kearah yang lain agar tidak ketahuan yang lain.
Dengan keberanian yang terkumpul, Kenzie masuk ke dalam. Kebetulan ada yang perlu dibicarakan dengan Bu Dora, semoga saja perhatian Bu Dora teralihkan.
"Permisi Bu."
"Iya, silahkan masuk."
Kenzie tersenyum manis kearah Bu Dora, duduk disamping Gavin di depan meja Bu Dora.
"Ada keperluan apa Kenzei?"
"Tentang Rapat semalam Bu." Ucap Kenzei serius. Kebetulan Bu Dora salah satu pembimbing anggota OSIS.
"Ibu juga pusing, coba ibu carikan dulu solusinya. Kalo boleh kamu bantu ibu yah."
"Iya Bu, saya usahakan."
Bu Dora mengehela napas panjang, beralih kearah Gavin.
"Tahun depan jangan di ulangi, absen berpengaruh besar terhadap kelulusan Gavin. Ingat!" Peringat Bu Dora.
"Iya Bu."
"Yaudah sana keluar."
Sontak Kenzie mengulum senyumnya, rencana jahatnya berhasil kedua kalinya. Demi suami, Kenzie rela berbuat yang tidak baik.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Gavin meraih jemari lentik itu. Mengusap lembut dengan wajah tanpa ekspresi.
"Terimakasih, Bu." Ucap Gavin, menekan kata Terimakasih. Karena itu ditunjukkan untuk gadisnya, bukan untuk Bu Dora.
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TERIMAKASIH JUGA ATAS DUKUNGAN KALIAN. SEMAKIN BANYAK DUKUNGAN, SAYA JUGA SEMAKIN BERSEMANGAT.
THANK YOU VERY MUCH:)
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
__ADS_1